8. Seoraksan
Pesona Seoul seolah sudah menyatu dengan imajinasi Henri. Hari demi hari ia rangkai dengan indah lewat tarian pena yang tak henti-hentinya bergerak. Ia sendiri tak tahu, apakah ini benar karena keindahan Seoul semata? Atau karena kehadiran Kim Ha Neul dalam kehidupannya?
Tak terasa tiga minggu berlalu, melewati romantisnya musim gugur dengan warna-warni mencolok pohon red maple. Bulan Oktober adalah puncaknya autumn ketika seluruh dedaunan akan luruh berguguran. Seseorang menyarankan untuk berwisata naik gunung dan melihat hamparan pohon berwarna merah dari atas. Ya, siapa lagi kalau bukan Kim Ha Neul.
“Seoraksan?”
Ha Neul mengangguk mantap. “Iya, gunung empat musim. Kamu akan tercengang dengan pesona Seoraksan di setiap musimnya. Bukankah kamu suka melihat dedaunan berwarna-warni? Nah, inilah saat yang tepat. Dari atas gunung kamu akan melihat permadani berwarna merah dengan udara yang sangat sejuk.”
Henri mendengus. “Ah, lagakmu itu seperti pemandu wisata profesional,” katanya. Tapi memang benar juga. Ia ingin melihat pesona Korea Selatan yang belum tersentuh modernisasi. Perjalanan ini pasti akan menyenangkan, menulis di antara rimbunnya dedaunan dengan aroma khas autumn. “Kapan kita berangkat?” tak perlu banyak berpikir, karena akan ada suasana yang berbeda bagi Henri setelah beberapa hari hampir gila gara-gara kelakuan Kim Ha Neul.
“Yes!” serunya senang. “Besok lusa? Jadi, hari ini kita bersiap-siap saja untuk membeli keperluan yang dibutuhkan untuk ke sana.”
Henri menatap wajah Ha Neul yang sumringah. Terngiang satu pertanyaan bodoh. Sebenarnya siapa sih yang ingin berlibur? Aku atau kamu? Tapi itu tidak penting. Anggap saja sebagai kesempatan baik untuknya, melepas sejenak beban masalahnya. Beberapa hari ini ia mulai mengenal sosok Kim Ha Neul lebih dalam. Bagaimana perempuan itu terpisah dengan keluarganya sejak sepuluh tahun silam, kemudian berkelana ke Indonesia demi menyambung hidup, dan tentang Song Ji Hwan, lelaki yang tega meninggalkannya demi perempuan yang lebih kaya.
***
Henri membuka pintu untuk menyambut kedatangan Ha Neul. Rencananya mereka akan belanja ke Namdaemun. Sekedar membeli keperluan untuk naik gunung dan mencari makan tentunya. Pasar murah meriah itu pasti membawa inspirasi tertentu bagi lelaki itu.
Tapi apa yang terjadi? Ha Neul malah berdiri mematung di depannya. Ia seperti hendak menyampaikan sesuatu tetapi urung dilakukan. “Wae? Kok kamu kayak kebingungan begitu?”
Perlahan perempuan itu memasuki ruangan Henri dan duduk sejenak. Ha Neul berusaha menyembunyikan kegundahannya. “Sepertinya aku tidak bisa pergi denganmu. Ada sesuatu yang harus kulakukan hari ini.”
“Oh…,” reaksi Henri hambar. “Gwenchana, kamu gak usah gelisah seperti itu,” ia melayangkan sunggingan manis sekedar membuat Ha Neul tersenyum. Namun, jauh dalam hati sebenarnya Henri kecewa.
Ha Neul bangkit kembali. Seulas lengkungan manis tergambar di bibirnya. “Aku tidak akan membatalkan rencana naik gunung besok. Kamu siap-siap ya?”
Henri menganggukkan wajah tanda setuju. Namun perlahan ia mulai curiga, sepertinya ada sesuatu yang terjadi pada diri Ha Neul.
***
Rasanya tak cukup hanya sekedar menerka-nerka ke mana Ha Neul akan pergi hari ini. Henri benar-benar harus tahu semua hal tentang perempuan itu. Apa karena naskah novelnya? Bukan! Ini lebih dari sekedar mendalami karakter Ha Neul yang ada di novelnya.
Rasa penasarannya semakin menjadi-jadi. Akhirnya Henri mengendap-mengendap untuk membuntuti Ha Neul. Perempuan itu berjalan menuju arah rumahnya. Ia menelusuri jalanan Insadong-gil yang masih lengang, melewati beberapa blok jalan, Duksung University, lalu Istana Unhyeong. Hingga langkahnya terhenti di sebuah kafe kecil dekat Kuil Yeogya.
Apa dia akan menemui kekasihnya? Ah, tak mungkin, Ha Neul tidak pernah bercerita kalau dia tengah dekat dengan seseorang. Kegelisahan Henri mulai memuncak seiring untaian pertanyaan yang bergelayut di kepalanya
Sosok lelaki bertubuh sedang yang duduk di teras kafe itu yang menjadi tujuan Ha Neul. Dia memakai kaos putih yang dibalut rompi berwarna merah muda. Terlihat aneh, tetapi memang lelaki Korea sama modisnya dengan perempuan. Saat Ha Neul mendekat, keduanya hanya saling melihat dan tampak kaku seperti kawan yang sudah lama tidak bertemu. Henri menebak-nebak kalau lelaki itu adalah teman lama Ha Neul. Tetapi, benarkah seperti itu? Beberapa saat kemudian, lelaki itu meraih jemari Ha Neul tanpa ragu. Meskipun dengan jelas Ha Neul berusaha menolak kontak fisik dengannya.
Tanpa bosan Henri terus mengamati keduanya. Mereka terlibat dalam sebuah percakapan serius. Sesekali Ha Neul memperlihatkan wajah kesalnya—persis seperti yang pernah dia lakukan pada Henri waktu itu. Lama-kelamaan ketegangan di antara mereka mulai mencair. Ha Neul menyunggingkan senyumnya pada lelaki itu.
Mereka berbincang dalam waktu yang cukup lama, membuat Henri semakin penasaran dengan apa yang mereka perbincangkan. Pada akhirnya ia menggelengkan kepala. Kenapa sampai ikut campur urusan orang lain? Hanya membuatnya pusing sendiri. Perlahan Henri mundur dan berbalik menuju hostel. Sepanjang perjalanan ia terus bertanya-tanya tentang siapa gerangan lelaki itu. Apakah dia mantan kekasih Ha Neul yang pernah diceritakan padanya? Tapi untuk apa dia menemui Ha Neul? Bukankah dia sudah menikah? Berbagai pertanyaan berkelebat dalam kepala Henri.
Lelaki itu menghela napas panjang. Pada akhirnya dia harus bisa mengenyahkan tanda tanya itu dari tempurung kepalanya. Masih ada yang harus dia pikirkan, draft naskahnya. Akhirnya Henri telah menyelesaikan cerita sebanyak tiga ratus halaman. Walaupun Ha Neul sempat memintanya untuk menghapus draft-nya tempo hari, beruntung naskah itu masih tersimpan manis di recycle bin. Akan segera ia teliti bagian-bagian yang kurang apik lalu dikirim kepada Harry untuk persetujuannya. Sudah hampir satu bulan berada di Korea, tetapi Harry tidak pernah menghubunginya. Rainbow terlalu banyak menuntut Henri tanpa tahu bagaimana kondisinya di sini.
***
Firasat Henri benar. Kim Ha Neul tidak datang hari ini. Pagi tadi dia mengirimkan pesan singkat. Ada urusan yang harus dia selesaikan, katanya.
Lelaki itu hanya memberengut tidak jelas lalu melempar ponsel ke arah sofa. Ha Neul yang merencanakan dan dia juga yang membatalkan. Sungguh hatinya kecewa pada Ha Neul. Terpaksa ia tetap berangkat ke Seoraksan seorang diri.
Muncul ide untuk mengajak Tae Joon dan teman-teman dari Kanada! Pasti menyenangkan berekreasi dengan orang-orang gila seperti mereka.
“Teman-teman, besok kalian ada acara tidak?” Henri menghampiri mereka yang sedang asyik berbincang di ruang tengah.
“Tidak,” terdengar suara Bryan membalas pertanyaan Henri. “Kami sedang bersiap-siap untuk pulang ke Kanada tiga hari lagi.”
“Kalau kamu, Hyung?” tanyanya pada Tae Joon.
“Besok aku tidak ada shift. Kenapa memang?”
Henri melebarkan senyum. “Ayo kita rekreasi! Hitung-hitung perpisahan sebelum kalian kembali ke Kanada.”
“Rekreasi?” Tae Joon memicingkan matanya yang sudah sipit. “Ke mana?”
“Seoraksan!” ujarnya riang.
***
Baiklah, tidak ada yang menghalangi Henri untuk menikmati indahnya suasana pegunungan itu. Meski ini semua berbeda dengan rencana semula, tetapi ia tak mempermasalahkannya. Ia pikir bersantai dengan teman-teman baru juga akan sangat menyenangkan. Lalu Henri mulai menyiapkan pakaian santai seadanya. Urusan makanan akan mereka beli di perjalanan saja.
Hari yang cerah seolah mengizinkan mereka untuk bersantai di Taman Nasional Seoraksan. Meskipun bukan akhir pekan, nampak cukup banyak pengunjung yang datang, terutama para ahjumma dan ahjussi[1] yang telah berumur sekitar 60 tahunan. Henri sendiri sempat terkagum-kagum, fisik mereka ternyata masih kuat, bahkan mereka terlihat lebih muda dengan setelan pakaian olahraga yang sesuai dengan tren saat ini. Ternyata tampil gaya berlaku untuk semua umur di Korea.
Di Taman Nasional Seoraksan, setiap tahun selalu diadakan sebuah perayaan bernama Chuseok. Sayangnya, perayaan ini baru saja berlalu. Andaikan Henri bisa hadir pada perayaan tahunan itu, tentunya tempat ini menjadi salah satu tujuan rekreasi yang paling ramai.
Sebuah bebatuan besar menarik perhatian mereka saat memasuki gerbang masuk, tepatnya di lembah Cheonbuldong. Orang-orang Korea menyebutnya ‘lembah seribu Buddha’. Memang benar karena terlihat bebatuannya berbentuk lancip, persis seperti figur Buddha yang tercipta secara alami. Ternyata tidak hanya Henri dan kawan-kawan yang tertarik dengan tempat ini. Di sekeliling mereka, banyak turis yang singgah sekedar untuk menikmati berbagai situs yang indah lalu berfoto bersama.
Ada yang menarik sekaligus melelahkan saat mereka mendaki gugusan bebatuan di Ulsanbawi. Di sana mereka terpukau saat melihat formasi batu unik yang didaki dengan menyusuri 800 buah anak kaki untuk mencapai puncaknya. Sungguh melelahkan dan menyenangkan. Tentunya berkat semangat membara, akhirnya mereka berhasil mencapai puncaknya. Mereka pun sempat mencoba mendorong batu Heundeul setinggi lima meter yang konon bisa dipindahkan dengan sedikit menguras tenaga. Hasilnya? Mereka menyerah!
Langit Seoul begitu bersahabat. Meskipun udara cukup dingin, setidaknya Henri masih mampu bertahan. Lelaki itu duduk pada sebuah bongkahan batu besar seraya memandang hamparan pegunungan di depan mata. Indah sekali. Seperti yang dituturkan Ha Neul, hamparan permadani merah terlihat begitu memukau dari atas. Seandainya Indonesia mengalami perubahan empat musim dalam setahun, Henri tak perlu jauh-jauh ke Korea untuk menikmati musim gugur. Namun, tetap saja ia merasa ada yang kurang. Tanpa Ha Neul semua nampak tidak sempurna.
Indahmu seperti hamparan red maple di Seoraksan dan autumn kali ini terlukis jelas bayanganmu di sana. Tanpa sadar ia menulis kalimat itu di buku catatannya.
Huh, sialan! Apa yang baru saja kupikirkan? Henri menepuk dahinya. Menyalahkan kepalanya yang selalu memuji perempuan itu. Toh, saat ini perempuan itu tak berada di sampingnya.
***
Terlalu lama bersenang-senang membuat mereka pulang kemalaman. Sungguh sebuah perjalanan dan perpisahan yang amat seru bersama teman-teman sesama wisatawan dari Banana Backpacker. Kelak Henri tidak bisa lagi berkumpul bersama dengan orang-orang Kanada itu. Namun, setidaknya ada kenangan indah yang bisa diingat tentang mereka. Kebersamaan ini cukup mengobati kekecewaannya pada Kim Ha Neul. Entah sedang apa dia saat ini.
Mereka tiba di hostel pada pukul delapan malam. Tampak seseorang tengah berdiri di lobi Banana Backpackers. Kim Ha Neul?
Perempuan itu mengulum senyum saat Henri melangkah mendekatinya. Entah apa yang ia rasakan. Antara senang dan kesal yang bercampur aduk. Apalagi ketika para sahabatnya mencoba menggoda Henri, membuatnya malu sendiri. Henri Segera mengendalikan diri saat sadar penampilan Ha Neul begitu kusut, tidak seperti biasanya. Perempuan itu baru saja melalui sebuah hari yang berat. “Ha Neul Ssi, kamu sudah lama di sini?”
Ha Neul menggeleng. “Aku baru saja tiba. Aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja dan tidak marah padaku,” senyuman Ha Neul seolah memulihkan lelah lelaki itu. “Hei, kalian akhirnya berangkat ke Seoraksan?” ia bisa menebak lewat pakaian yang Henri dan kawan-kawannya kenakan.
“Daripada sebal sendiri di sini, lebih baik aku pergi bersama teman-teman. Kamu berhasil membuatku penasaran dengan pesona keindahan Seoraksan. Akhirnya, aku mengajak mereka untuk ke sana. Anggap saja sebuah perpisahan dengan Bryan, Alice, dan Ethan. Besok lusa mereka akan kembali ke Kanada,” terang Henri.
Perempuan itu tertawa kecil. “Maafkan aku. Aku janji besok-besok akan kutemani ke mana pun kamu mau.”
“Hmm… tidak perlu menunggu besok. Mulai malam ini saja,” tiba-tiba lelaki itu teringat sesuatu. “Temani aku makan bulgogi dan minum soju.”
“Asyiikkk… kebetulan aku lapar sekali!” kata Ha Neul riang. Ya, sikap Ha Neul seperti inilah yang dikenal Henri. Perempuan itu tetap tersenyum meski merangkul beban berat di bahunya.
Lagi-lagi mereka menikmati malam di sebuah pojangmacha di jalanan sekitar Insadong. Mencoba menghangatkan badan dengan segelas soju diselingi suapan bulgogi yang lezatnya bukan main. “Kamu ada acara apa hari ini sampai-sampai membatalkan janji denganku?” Henri mulai memancing obrolan, sekedar ingin tahu ada apa gerangan hingga Ha Neul tak bisa menemuinya.
“Aku bertemu dengan si brengsek itu,” lirihnya.
“Siapa?” dahi lelaki itu mengerut. “Song Ji Hwan?”
Ha Neul mengangguk perlahan. “Dia menawariku pekerjaan di kafe tempatnya bekerja,” ujarnya sambil memainkan gelas soju.
Mendengar cerita Ha Neul, kepala Henri rasanya semakin panas saja. Tidak mungkin karena pengaruh soju. Namun, yang pasti sejak nama itu disebut, perasaannya menjadi gelisah dan tidak menentu.
“Oh… bagus itu,” katanya berusaha tenang, meskipun Henri tak tahu apakah Ha Neul bisa menangkap kegelisahannya.
“Mungkin mulai besok aku berhenti mendampingi menjadi tour guide-mu.”
Baru, kali ini Henri terperangah hingga sumpitnya terlepas dari genggaman. “Hah! Secepat itu?”
Ha Neul hanya menunduk seolah mengiyakan pertanyaan Henri. “Baiklah kalau itu memang keputusanmu,” Henri berhasil mengendalikan diri seolah tidak peduli. Padahal jauh dalam hati, dia mengumpat keberhasilan Ji Hwan meraih hati perempuan itu kembali.
“Kamu jangan khawatir, Henri. Aku akan sering menemuimu di sela-sela pekerjaanku.”
Lelaki itu hanya tersenyum kecut. Ia biarkan tatapan itu mengarah padanya, memberi isyarat tentang kekecewaannya atas keputusan yang Ha Neul ambil. Bodohnya, Ha Neul sama sekali tak bisa melihat hal itu.
[1] Paman/Lelaki yang sudah tua
Other Stories
Di Bawah Langit Al-ihya
Tertulis kisah ini dengan melafazkan nama-Mu juga terbingkailah namanya. Berharap mega t ...
Aku Versi Nanti
Mikha, mahasiswa design semester 7 yang sedang menjalani program magang di sebuah Agency t ...
Kenangan Indah Bersama
tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...
Dari 0 Hingga 0
Tentang Rima dan Faldi yang menikah ketika baru saja lulus sekolah dengan komitmen ingin m ...
Kala Kisah Menjadi Cahaya
seorang anak bernama Kala Putri Senja, ia anak yatim piatu sejak bayi dan dibesarkan oleh ...
Bahagiakan Ibu
Ibu Faiz merasakan ketenteraman dan kebahagiaan mendalam ketika menyaksikan putranya mampu ...