14. Hari-hari Terakhir Di Seoul
Perjalanan sudah lebih dari separuh waktu. Henri begitu antusias mendengarkan semua cerita Ji Hwan. Hingga pada akhirnya Ji Hwan kehilangan kata, bingung harus menceritakan apa lagi.
“Kamu belum melanjutkan ceritamu…” gerutu Henri.
Sementara Ji Hwan tertawa. “Sudahlah, cerita barusan sudah membuatku hampir menangis lagi.”
“Aku cuma ingin tahu, kapan kamu sadar Ha Neul adalah anak gadis Tuan Kim?”
“Ya, aku mendengar dari saudara-saudara Ha Neul yang lain. Mereka kehilangan jejak saudara perempuannya yang tinggal di Seoul. Dan ajaib! Ternyata perempuan yang dimaksud adalah Kim Ha Neul-ku.” ujar Ji Hwan seraya mengusap rambut kekasihnya. “Setelah itu, kamu tahu sendiri kan? Aku mencari keberadaan Ha Neul, dan akhirnya bertemu dengan seorang penulis terkenal, lalu berkelahi dengannya,” untuk bagian yang terakhir itu Henri hanya bisa tertawa lepas.
“Lihat, bekas pukulanmu belum hilang,” tukas Henri seraya memperlihatkan bekas luka di ujung bibirnya.
“Mau kita coba lagi?”
“Sialan! Kamu menantangku,” gumam Henri yang diikuti tawa Ha Neul. Lelaki itu menghela napas panjang. “Ngomong-ngomong… pabrik tempat kalian bekerja masih beroperasi di Indonesia?”
“Ahnio. Bukannya sudah kujelaskan, Pabrik itu ditutup karena banyak kendala. Seperti perizinan, biaya produksi yang tinggi, utang dan entahlah apa lagi,” kali ini Ha Neul yang menjawab pertanyaan Henri. “Tapi beberapa bulan yang lalu Han Syntetics Textile beroperasi lagi di Daegu. Aku pernah memasukkan lamaran, tapi mereka tak pernah menghubungiku.”
Dan mereka terdiam lagi. Tak terasa buku catatan lusuhnya telah mencapai lembaran terakhir. “Kisah kalian telah menghabiskan berlembar-lembar kertas jimatku,” ujar Henri seraya memperlihatkan benda itu.
“Percaya padaku. Tulisan-tulisan itu pasti bernilai uang, dan kamu bisa mengganti buku catatan kumalmu dengan buku catatan yang lebih layak,” canda Ha Neul. “Sebelum aku lupa. Aku ingin mengucapkan terima kasih,” kali ini dia berbicara sungguh-sungguh. “Tanpa bujukanmu tidak mungkin aku berada di sini sekarang,” Ha Neul melayangkan senyuman pada Henri. Raut wajah perempuan itu perlahan membaik. Meski terlihat gugup, namun dia tetap terlihat cantik—bahkan lebih cantik dari saat kali pertama bertemu. “Terima kasih, Henri,” ujarnya lalu meraih jemari Henri.
“Hei… ini bukan waktunya perpisahan. Aku masih tinggal tiga hari lagi,” canda Henri. Mereka berderai tawa di tengah kerumunan penumpang yang berdesak-desakan.
***
Ketiga orang itu tiba di Busan Central Bus Terminal tepat jam satu siang. Lalu dengan langkah terburu-buru mereka mendekati sebuah taksi di pelataran parkir. Kim Ha Neul sangat gugup. Ternyata selama ini Ha Neul tidak sungguh membenci ayahnya. Buktinya ia begitu khawatir akan keadaan ayahnya. Dia sangat menyayangi Tuan Kim. Henri tahu itu.
“Hei… kamu tidak apa-apa?” Ji Hwan meraih punggung jemari Ha Neul.
“Aku rindu Appa…” tak terbendung lagi butiran air mata meleleh di sana.
“Sabarlah, sebentar lagi kita sampai. Saudara-saudaramu sudah berkumpul semua. Mereka merawat Appa secara bergiliran,” lelaki itu membenamkan wajah Ha Neul di dadanya.
Tak ada yang bisa Henri lakukan selain tersenyum melihat kemesraan mereka. Ji Hwan yang selalu menguatkan kekasihnya. Dan untuk pertama kali seorang Ha Neul terlihat begitu manja di depan seorang lelaki. Seolah hanya Ji Hwan yang mengerti akan dirinya. Henri cemburu.
Setibanya di tujuan, mereka tergesa-gesa memasuki lobi rumah sakit, menerobos ratusan manusia yang hilir mudik di sepanjang area rumah sakit. Hingga akhirnya mereka temukan sebuah koridor tempat rawat inap pasien lalu memasukinya.
Ha Neul menghela napas panjang saat berdiri di depan mulut pintu kamar nomor dua puluh.
“Bukalah pintunya,” ujar Ji Hwan lembut.
Perlahan dibuka pintu itu. Tepat saat semua orang menoleh padanya.
“Noona[1]!” adik lelaki Ha Neul terperangah melihat sosok dirinya. Segera pemuda itu menyambut jemari sang kakak. Tak tertahankan luapan tangis Ha Neul terdengar seisi ruangan. Ia memeluk satu per satu keluarganya. Tak ketinggalan, mereka menyambut Ji Hwan seolah mengelukannya sebagai pahlawan karena berhasil membawa pulang Ha Neul.
Anggota keluarga Kim Ha Neul sempat melihat Henri lalu menyapa seadanya. Henri bisa memaklumi, faktor bahasa menyulitkan mereka beramah tamah. Yang pasti Henri bahagia menyaksikan langsung Ha Neul bersatu dengan keluarganya.
Ajaib, Tuan Kim sempat terbangun dan bicara beberapa patah kata saat sadar putri kesayangannya telah kembali. Keharuan menyelimuti ruangan itu. Meski tak tahu apa isi percakapan mereka, tapi Henri yakin Tuan Kim sangat bahagia bisa menyentuh jemari anak perempuannya.
Perlahan Henri mundur dari ruangan dan memutuskan menunggu di luar kamar, nuansa haru di ruangan itu membuat napasnya sesak. Beruntung ia temukan sebuah kursi panjang di lobby rumah sakit. Lebih baik ia duduk dan menenangkan hatinya yang ikut goyah.
Tak lama Ji Hwan menghampiri seraya membawakannya secangkir kopi. “Mengharukan, ya?”
Henri mengangguk seraya menerima kopi dari gelas kertas itu. “Berada di sana membuatku semakin gila,” lirih Henri.
“Wajar mereka sedramatis itu. Sepuluh tahun tidak bertemu. Kamu pun akan merasakan hal yang sama jika dalam posisi Ha Neul,” Ji Hwan menyesap kopinya. “Semuanya terasa sangat mudah karena kehadiranmu. Terima kasih, kawan,” kali ini dia menoleh ke arah Henri.
Henri mengulum senyum. “Kamu mengacaukan rencanaku. Kalau tak bertemu denganmu, mungkin sudah kubawa kabur Ha Neul ke Jakarta,” candanya.
Ji Hwan tertawa. “Aku tidak menyesal, asal dia bahagia. Kenapa tidak?”
“Dan kamu lihat sendiri, bukan? Kenyataannya dia lebih bahagia berada di sampingmu?” Henri tersenyum mantap. “Tak ada yang lebih melegakan selain menyaksikan orang yang kita cinta tersenyum bahagia tepat di depan mata,” terangnya. “Aku bahagia, Ji Hwan. Sungguh!” matanya mulai berembun saat mengatakan itu.
***
Ditemani Ji Hwan, Henri menikmati sisa harinya di Busan. Untuk sementara ia tak akan melibatkan Ha Neul. Waktu berharga ini harus dihabiskan bersama sang ayah. Sementara Henri sendiri tak bisa berlama-lama. Esok hari harus kembali ke Seoul, mengurus kepulangannya ke Jakarta.
Henri menghirup napas panjang di mulut Pantai Haeundae. Butiran pasir putihnya terasa hangat di tangannya. Sangat menenangkan dan menginspirasi. Walau sebenarnya dia akui pantai-pantai di Indonesia jauh lebih indah dibandingkan di sini.
“Coba saja kita datang saat musim panas. Pantai ini akan sangat ramai.”
“Benarkah? Banyak perempuan berbikini dong?” Henri cengegesan.
“Hmm… kamu boleh memilih salah satunya,” timpal Ji Hwan.
“Pantai ini mengingatkanku pada film dahsyat yang pernah kutonton. Haeundae, kamu tahu kan film itu?” ia menoleh pada Ji Hwan.
Lelaki itu mengangguk. “Kamu tahu banyak tentang dunia hiburan Korea ya?”
Henri malah tertawa. “Jangan ditanya. Warga Indonesia sedang tergila-gila dengan semua hal yang berbau Hallyu Wave. Seperti yang kulakukan sekarang, mau tidak mau aku pun ikut-ikutan membuat novel bertema Korea.”
“Hiburan drama Korea memang menjual banyak mimpi,” gumam Ji Hwan. “Semoga novelmu bisa diterbitkan di sini, aku tidak sabar menunggunya.”
“Ya. Asal kamu mau menerjemahkannya dalam bahasa Korea dan tulisan Hangeul,” canda Henri. “Tapi bagaimanapun, aku telah menemukan banyak hal dari perjalanan ini. Bukan semata untuk masalah pekerjaan. Ada pelajaran berharga yang tak akan pernah kulupa. Tentang kisah hidup Kim Ha Neul, percintaannya, persahabatanku dengan penghuni hostel, dan tentang perjuanganmu, Hyung,” Henri melangkah mendekati garis pantai lalu memainkan airnya. “Perjalanan cinta memang rumit dan berliku, ya? Tapi keyakinan dan perjuangan melabuhkan kita pada dermaga itu. Meski terlambat… bukan, hampir terlambat. Seperti kamu dan Ha Neul. Pada akhirnya kalian bersama lagi.”
“Jujur saja. Aku tak pernah bermimpi ini terjadi, berkhayal pun tidak. Yang ada di benakku, Ha Neul harus bahagia. Bagaimanapun caranya. Dan aku ikhlas seandainya dia bahagia dengan orang lain.”
“Kamu memang orang baik, Song Ji Hwan,” Henri tersenyum tulus.
***
Henri pulang. Enam minggu terasa begitu cepat, padahal masih banyak tempat yang ingin ia kunjungi. Pencarian kisahnya tak mau berhenti sampai di sini, seolah berontak ingin menulis kelanjutan perjalanan kisahnya di Negeri Han. Baru lelaki itu menyadari kedatangannya di negeri ini telah menyelesaikan dua misi sekaligus. Menemukan kisahnya dan pencarian kebahagiaan dari seorang gadis yang tersesat.
“Hei… kamu baik-baik saja?” Tae Joon menemukan Henri melamun di ruang tengah.
Lelaki itu menyunggingkan senyum. “Besok aku pulang,” gumamnya. “Kamu tahu, rasanya berat. Ada banyak perasaan yang kutinggalkan di sini. Senang, sedih, marah, kesal, bahkan jatuh cinta. Aku mendapatkannya hanya dalam waktu enam minggu.”
“Aku juga akan kehilanganmu, sobat. Kamu tahu? Kamu adalah penghuni hostel terlama di Banana Backpacker. Membuat hostel ini makmur,” lelaki itu cengengesan. “Kita sudah seperti sahabat,” lanjutnya lagi.
“Sejak awal kita memang bersahabat, bukan? Bersama Bryan, Ethan dan Alice, kita habiskan waktu bersama.”
“Seandainya kita bisa berkumpul lagi,” harap Tae Joon.
“Harus! Kali ini kalian yang harus datang ke Jakarta. Indonesia sama hebatnya kok dengan Korea Selatan.”
“Pasti,” timpal Tae Joon. “Hm… apa kabar Ha Neul dan Ji Hwan? Mereka sudah pulang ke Busan, ya?”
“Iya. Akhirnya pasangan itu menemukan kebahagiaannya.”
“Begitupun dirimu. Siapa tahu mantanmu yang bernama Laura itu kembali lagi.”
Laura? Sudah cukup lama Henri tak menggumamkan nama itu di kepalanya. “Ah, sudahlah. Laura sudah bahagia dengan orang itu,” Henri mengulum senyum.
***
Pagi ini Henri berkemas di kamar. Beberapa jam lagi ia akan terbang meninggalkan Korea Selatan. Sejujurnya ia enggan meninggalkan para sahabatnya. Tae Joon, orang pertama yang menyambutnya dengan hangat. Tidak segan-segan menemani Henri mengenal Kota Seoul di setiap sudut jalannya, dan pastinya selalu membuat kegilaan setiap hari. Juga teman-teman dari Kanada yang membuatnya merasa seperti di rumah sendiri.
Ha Neul, perempuan yang awalnya menyebalkan namun sukses membuatnya jatuh cinta. Banyak saksi bisu kebersamaan mereka. Jalanan di Insadong, Itaewon, pojangmacha dekat Banana Backpacker, Sungai Hangang, dan tempat indah lainnya. Di sana dia limpahkan amarah, gembira, sedih, dan cintanya. Henri tak akan pernah lupakan itu.
Ji Hwan. Ah, sayangnya waktu mereka hanya dihabiskan dengan perseteruan yang tidak penting. Bersikap kekanak-kanakan yang pada akhirnya merepotkan Ha Neul sendiri. Tapi sungguh, baru sekarang Henri dapati seorang lelaki berhati besar seperti dia. Bahkan, demi cintanya mampu melakukan apa saja, termasuk membawa kekasihnya ke pangkuan sang ayah.
Seseorang mengetuk pintu kamar. Tae Joon kah? batin Henri. Segera ia melangkahkan kaki menuju pintu. Kejutan! Henri terkesiap saat pasangan yang sedang ia pikirkan muncul di depan mata. “Kalian? Kok bisa ada di sini?”
“Baboo! Kamu pikir kami akan segampang itu melepasmu pergi?” Ha Neul menepuk bahu Henri dengan gemas. “Tentunya aku ingin mengantarmu ke bandara.”
Lelaki itu hanya menggeleng-gelengkan kepala, takjub. “Jauh-jauh dari Busan hanya untuk mengantarku ke bandara? Ada Tae Joon kok,” gumamnya.
“Oh... jadi cuma Tae Joon ya kawanmu?” sindir Ji Hwan.
“Bukan! Maksudku…” sial! Tak ada kata yang tepat untuk menimpali sindiran Ji Hwan. Henri menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal.
“Sudah, gak usah banyak bicara! Sini aku bantu berkemas!” Ha Neul dengan seenaknya menerobos pintu menuju kamarnya yang masih berantakan. Henri tersenyum melihat tingkah laku teman-temannya.
***
Mereka berdiri di balkon kamar hostel mencoba menghirup udara Seoul di bulan Oktober. Henri berharap ini bukan yang terakhir kali bisa menikmati autumn yang telah ia rindukan sejak lama. Kelak ia pasti kembali dengan membawa misi yang lain.
“Gamsahamnida…” lirihnya. “Kalian membawa kisah yang hebat untukku.”
“Jangan lupakan kami!” Ha Neul mulai terbawa emosi. Dia mendekap Henri erat lalu diikuti Ji Hwan, membuat air matanya mengalir perlahan. Berharap momen ini takkan lekang oleh waktu. “Kami menyayangimu…”
Beberapa daun red maple jatuh menerpa wajah Henri. Daun yang berasal dari pohon sebelah gedung itu pun seolah ingin memberikan kenangan indah di musim gugur ini. Ia meraih daun itu lalu menyelipkannya di buku catatannya. Henri menengadah ke langit. Gumpalan-gumpalan awan serupa gulali itu mungkin langit terakhir yang bisa ia lihat di Seoul.
Selamat tinggal Seoul, selamat tinggal autumn, selamat tinggal red maple dan selamat tinggal sahabat-sahabatku.
[1] Panggilan untuk kakak perempuan
Other Stories
Hati Yang Beku
Jasmine menatap hamparan metropolitan dari lantai tiga kostannya. Kerlap-kerlip ibukota ...
Death Cafe
Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...
Wajah Tak Dikenal
Ketika Mahesa mengungkapkan bahwa ia mengidap prosopagnosia, ketidakmampuan mengenali waja ...
Dari 0 Hingga 0
Tentang Rima dan Faldi yang menikah ketika baru saja lulus sekolah dengan komitmen ingin m ...
Jatuh Untuk Tumbuh
Layaknya pohon yang meranggas saat kemarau panjang, daunnya perlahan jatuh, terinjak, bahk ...
Bekasi Dulu, Bali Nanti
Tersesat dari Bali ke Bekasi, seorang chef-vlogger berdarah campuran mengubah aturan no-ca ...