2. Ada Rasa Di Hati Denta
“Kenapa gue bisa sekelas sama makhluk-makhluk kaya gini, sih?” dengus Denta heran. Satu kata yang menggambarkan perasaannya saat itu; jenuh.
Bell pergantian jam pelajaran kedua sudah sejak dua puluh menit yang lalu menggaung. Namun tak nampak batang hidung Pak Fandi masuk kelas X-6. Biasanya guru berkacamata itu tidak pernah terlambat untuk mengajar, namun siang itu dia melakukannya. Alhasil, kelas berganti laksana pasar senggol. Ribut.
Denta duduk lesuh di deretan paling belakang seraya memedar mata. Sekalipun kelas ramai, namun tidak serta merta membuat ia senang. Satu per satu disisirnya setiap sudut ruangan itu. Tampak segerombolan cowok tengah asyik bercanda di barisan meja terdepan. Tak jauh dari mereka ada empat perempuan centil sibuk selfie. Sisanya pada asyik memukul meja laksana drum dan gendang, lengkap dengan nyanyian gak jelas, dan ada juga yang tidur di mejanya.
“Nika?” gumam Denta tatkala menoleh ke luar jendela—posisi duduknya di samping jendela. “Ngapain dia duduk di sana?” herannya lagi.
Berada di kelas yang “hancur” cuma membuat kepala Denta mumet. Pak Fandi pun tidak ada kabar beritanya setelah setengah jam dari pergantian pelajaran. Berlama-lama di antara orang-orang “aneh” bakal membuat dia kaya orang bodoh. Jadi aja Denta beranjak dari tempat duduk. Keluar kelas, dan berjalan menuju lapangan.
Di pertengahan anak tangga ia tak sengaja berpapasan dengan Hardi, cowok yang kemarin hari memalaknya. Perang tatapan pun tak terelakkan. Jelas senior itu tidak menyukainya. Pun dengan Denta yang tidak mau respect dengannya.
“Apa lo liat-liat?” sambar Hardi ketus.
Denta mencoba tak menggubris. Meladeni Hardi tidak ada artinya. Dia memilih melewatinya tanpa sepatah kata pun. Kalaupun mau, bisa saja cowok itu dilabraknya. Namun hari itu ia tengah malas ngeladeni orang yang dianggapnya gak penting macam Hardi.
Area lantai satu tampak lengang karena murid-murid berada di kelas masing-masing. Denta mempercepat jalannya. Takut-takut ada guru yang melihat ia kabur dari kelas di jam pelajaran. Bakal berabe kalau itu benar-benar terjadi.
Sesampainya di lapangan, Denta segera mendekati Nika yang tengah duduk di balik jajaran kursi di ujung lapangan. Mungkin tak ada seorang pun yang akan tahu keberadaan cowok itu di sana karena tertutupi kursi tinggi yang mana biasa para cewek menonton basket. Namun, dari jendela kelas X-6, Denta bisa melihat dengan jelas.
“Ngapain lo di sini?” sergap Denta agaknya mengejutkan Nika. “Lo bolos?” imbuhnya seraya ambil ancang-ancang untuk duduk di hadapannya.
Nika tersenyum getir. “Gue lagi males aja di kelas.”
Denta menarik alisnya tinggi. Heran.
“Terus rencana lo apa sekarang?” Denta memotong lamunan Nika.
Mendapati dirinya ditatap dengan tajam, Nika menjadi salah tingkah. Dia sendiri juga bingung mau apa sekarang. Sebenarnya ia ingin melakukan apapun, terkecuali kembali ke kelas.
“Yeh, ditanya malah bengong. Ati-ati suka sama gue nanti.”
“Sialan,” Nika begidig ngeri. “Gue juga bingung mau ngapain. Yang jelas, hari ini gue lagi gak mood di kelas!”
Sebenarnya apa yang dirasakan Nika sama persis yang sekarang dirasakan Denta. Males berada di kelas. Aroma kebebasan lebih mereka inginkan ketimbang terkungkung di kelas.
“Gimana kalau kita keluar aja? Gue juga sebenarnya jenuh di sini. Otak gue lagi error banget.”
“Sekarang?” tanya Nika.
Denta hening untuk berpikir. “Kalau sekarang gak bisa, pasti gerbang dijaga satpam. Kita tunggu sampai jam istirahat.”
Nika mengangguk seakan mengerti.
***
Sejam kemudian dering bell istirahat bunyi.
Denta dan Nika yang sedari tadi sudah menunggu di tempat parkir segera melaju menuju gerbang sekolah. Terlihat Pak Doli—satpam sekolah—agak terkejut mendapati motor besar sudah ada di depannya. Belum lagi klakson yang meraung-raung membuat laki-laki berbadan tegap itu jantungan.
“Kalian mau ke mana?” tanya Pak Doli.
“Keluar bentar, Pak. Ada urusan,” jelas Denta.
“Jangan lama-lama. Pokoknya kalian harus sudah kembali sebelum bell masuk bunyi!”
“Siap, komandan!” Denta mengacungkan jempolnya. Tinggi.
Gerbang besar ditarik keras. Denta langsung menarik tuas gas manakala melihat ada sedikit celah, dan meninggalkan sekolah. Tidak ada tujuan pasti ke mana mereka akan pergi. Intinya, dua cowok itu mau terlepas dari segala hiruk pikuk sekolah.
Denta membawa motor gede hitamnya mengarah Jalan Tuparev. Tak lama berbelok ke Jalan Cipto. Masuk ke area Cirebon Super Blok (CSB)—salah satu mall besar di Cirebon. Memarkirkan motornya di lantai dasar. Setelah melepaskan helm, dan menggantungnya di stang motor, mereka berjalan menuju tempat karaoke.
“Ngapain kita ke sini?” Nika tampak heran.
Denta tersenyum sinis, “Katanya tadi lo bilang jenuh. Ya, ini gue bawa lo ke tempat yang tepat. Kita senang-senang sekarang.”
“Tapi—“
“Udah, gak usah banyak cingcong. Ikut aja!” terang Denta seraya berjalan masuk ke tempat karaoke itu.
Nika ngekor di belakangnya.
Di dalam lobi, Denta meminta Nika untuk duduk di kursi selagi ia booking room. Terlihat sang kasir menjelaskan terkait apa yang ditanyakan Denta. Ada secuil senyum tipis pada bibir cewek itu.
Nika melihat Denta mengambil dompetnya dari saku belakang celana. Membuka, dan mengambil beberapa lembar uang berwarna biru. Sejurus kemudian menyerahkannya ke sang kasir.
“Nik,” panggil Denta, “Yuk…” ajaknya kemudian.
Nika beranjak dari kursi, dan mendekati Denta. Keduanya mengikuti seorang pelayan cewek yang sengaja dipanggil sang kasir. Padahal sih mereka bisa sendiri mencari ruangannya, namun atas nama memberikan pelayanan terbaik maka dibiarkanlah cewek itu bekerja sebagaimana mestinya.
“Silakan,” begitu yang diucapkan sang pelayan setelah membuka pintu bilik, dan mempersilakan tamunya untuk masuk.
“Terima kasih.”
Denta segera menolak pelayan itu manakala ia menawarkan bantuan lagi. Alhasil, sang cewek buru-buru meninggalkan keduanya selepas menutup pintu.
***
Selepas karaoke, Denta dan Nika kembali ke sekolah. Kalau saja di jam terakhir kelas X-3 tidak ada ulangan hari itu, tentunya mereka akan memilih bersenang-senang sampai sore hari untuk mengobati rasa jenuh.
Sesampainya memarkirkan motor, keduanya berniat kembali ke kelas masing-masing. Baru juga beberapa kali melangkah, Nika melihat Denta mematung di belakangnya. Sepasang matanya mengarah ke tepi lapangan. Entah apa yang tengah ia lihat.
“Ta?” Nika sedikit berteriak, mengejutkan Denta. “Ada apa?”
“Eh…gak kok. Gak pa-pa,” jawabnya agak kikuk. Perhatiannya kembali ke lapangan.
Melihat kelakuan Denta yang aneh membuat Nika penasaran. Ia mengikuti ke mana mata cowok itu terarah. Dan barulah diketahui objek yang dilihatnya.
“Ganteng yah, Ta?”
Denta tersentak. “Maksud lo?”
“Tuh cowok yang ada di lapangan?” Nika menyeringai seraya menunjuk dagu ke seorang siswa yang tengah main basket.
“Sialan… lo kira gue maho?” Denta nampak sewot.
Nika tak bisa menyembunyikan gelak tawanya manakala melihat ekspresi temannya yang tampak gak terima.
“Gue kira dari tadi lo merhatiin dia.”
“Sialan lo!” umpatnya. Denta sekali lagi melongok ke lapangan. Bukan… bukan untuk melihat cowok yang tengah men-dribble bola yang disebutkan Nika, melainkan kepada seorang cewek pendiam yang duduk menonton permainan basket di antara cewek lainnya yang histeris menyebut nama Gagan.
“Lo liat cewek berbandana biru itu?” tunjuk Denta.
Nika menajamkan pengelihatannya. Tak lama kepalanya mengangguk. “Iya, gue lihat.”
“Dia cantik, ‘kan?”
Kepala Nika beralih menoleh Denta, matanya mengembung. “Suka lo sama tuh cewek?”
Denta tak menjawab. Ada ukiran senyum terkembang. Jelas. Sekalipun tidak diucapkan dengan kata-kata, namun Nika seolah mengerti bahwa Denta tertarik dengan cewek itu.
“Kalo lo emang suka, kenapa gak dikejar aja?”
Sebelum Nika memberi saran, sejujurnya Denta ingin melakukannya. Namun yang menjadi kendala adalah bagaimana caranya ia mendekati cewek bernama Aira Palupi itu. Sedangkan dirinya begitu lemah dalam persoalan cewek. Berbeda dengan urusan berantem, pasti tidak ada kata gentar sedikit pun di hatinya.
“Gue gak berani deketin dia.”
Seorang Denta yang gemar adu hantam punya rasa tidak berani juga dalam mengejar cewek? Nika ternganga. Kaget.
“Lo serius?”
Denta mengangguk.
Nika tertawa lebar. “Katanya preman, tapi cupu juga lo ternyata.”
Gelak tawa Nika semakin menjadi. Terkesan mengejek. Kalau boleh jujur, Denta tidak suka kalo ada orang lain yang menertawakannya. Sekalipun ini tidak lebih dari bercanda, namun ngeselin juga lama-lama.
“Apaan sih lo?!” bentak Denta seraya ngeloyor pergi.
Nika mengejar langkah Denta dengan sedikit tawa yang tersisa. Setelah berhasil mengimbangi jalannya, Nika merangkul punggung Denta. “Tenang, gue bakal bantu lo untuk dapetin tuh cewek. Oke!”
Denta gak menghiraukan omongan Nika. Ia memilih mempercepat ayunan kakinya hingga meninggalkan cowok itu di belakang sana.
“Gitu aja sewot lo. Udah kaya perawan yang gagal kawin aja,” goda Nika.
Denta gak peduli. Tetap berjalan. Ia mengudarakan jari tengahnya tinggi. Nika terpingkal melihatnya dengan berkacak pinggang.
***
Other Stories
Horor
horor ...
The Museum
Mario Tongghost, penangkap hantu asal Medan, menjadi penjaga malam di Museum Bamboe Kuning ...
Ablasa
Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan berubah mencekam saat mereka tersada ...
Petualangan Di Negri Awan
seorang anak kecil menemukan negeri ajaib di balik awan dan berusaha menyelamatkan dari ke ...
Dari 0 Hingga 0
Tentang Rima dan Faldi yang menikah ketika baru saja lulus sekolah dengan komitmen ingin m ...
Mereka Yang Tak Terlihat
Saras, anak indigo yang tak dipahami ibunya, hidup dalam pertentangan dan kehilangan. Saat ...