Bad Close Friend

Reads
483
Votes
0
Parts
5
Vote
Report
Penulis Nidhom

4. Sebuah Pertemuan

Kurang dari satu jam, acara makan malam bersama keluarga Denta pun berakhir. Nika yang notabene bukanlah bagian dari mereka merasa canggung harus satu meja dengan orang-orang yang baru dikenalinya. Seperti Ayah Darman, Mimi Pegi, dan Dira. Semula ia hanya ingin mengetahui rumah temannya itu ketika Denta mengajaknya sedari pulang sekolah.
Tapi, keberadaannya seakan disambut hangat oleh Pegi—Mamanya Denta yang biasa dipanggil Mimi oleh anak-anaknya. Hingga hari berganti malam pun ia masih berada di sana.
“Kamu mau mangga, Nika?” tawar Mimi seraya melirik. Diambilnya satu dari keranjang berukuran cukup besar yang dipenuhi oleh macam-macam buah, “Mimi kupasin, yah.”
Nika yang saat itu tengah minum agaknya kaget hingga membuatnya tersedak. Buru-buru ia mengusap bagian bawah wajahnya. “Tidak usah, Tante, terima kasih,” katanya dengan senyum terkembang.
“Malu tuh, Mi, Mas Nika,” Dira menyahut.
Mimi, Denta, dan ayah melirih nyaris bersamaan. Nika yang mendapati dirinya dilihat banyak orang menjadi salah tingkah. Dira sukses membuatnya kikuk.
“Lo punya rasa malu juga?” ledek Denta.
Dira ikut terkekeh.
“Si-siapa juga yang malu?” rengut Nika ketus.
Mimi yang sudah selesai mengupas mangga pun ikut ambil suara, “Aduh, Nik, gak usah pakai malu-maluan segala. Lagian kaya sama siapa aja.”
Nika tersenyum berat mendengar ucapan Mimi. “I-iya, Tante,” jawabnya.
Perempuan berusia kepala empat itu berhenti memotong mangga, matanya mengarah ke Nika. “Panggil ‘Mimi’ aja, Nik, biar samaan kaya Denta. Lagian, kedengarannya lebih enak daripada kamu nyebutnya ‘Tante’.”
“Iya… Mi,” Nika meluruskan. Sekalipun rasanya aneh baginya.
Mimi meletakkan piring berisi irisan mangga di tengah meja. Tujuannya agar semua orang bisa mengambilnya dengan mudah. Sekalipun sudah susah payah mengupas, namun buah itu tak disentuh sedikit pun oleh yang lain.
“Ayah mau Mimi ambilin mangga?” tawar Mimi.
Laki-laki berperawakan tegap itu menggeleng pelan. Mulutnya sibuk mengunyah buah jeruk. Dira pun ditawari, namun menolak dengan alasan sudah kenyang. Mimi tak menawari Denta, karena ia tahu bahwa putranya tidak suka dengan mangga sejak dulu. Alhasil, Mimi mengambil beberapa potong dan memakannya sendiri.
“Nika, itu mangganya sudah Mimi potong. Ayo dimakan.”
Sejujurnya Nika sudah merasa cukup kenyang, namun untuk menghormati Mimi akhirnya ia terpaksa memungutnya. Lantas memakan mangga itu dengan tenang. Sesekali ia memperhatikan orang-orang yang ada di depan meja makan. Sekalipun ini adalah kali pertama cowok itu main ke rumah Denta, namun ia sedikit bisa menilai mereka semua.
Nika meyakini jika ayahnya Denta adalah sosok yang pendiam. Itu terlihat dari jarangnya ia berbicara. Laki-laki berkacamata itu akan membuka suara jika diperlukan. Namun lebih sering menanggapinya dengan gerakan tangan atau matanya tatkala yang lain bertanya atau menawarkan sesuatu.
Lain lagi dengan Mimi. Perempuan berbadan mungil itu adalah pribadi yang lembut, pengasih, dan agak sedikit rame. Sedari dimulainya makan malam, Mimi sudah cerewet menawari dan mengambilkan makanan untuk semua anggota keluarganya. Sepanjang menyantap makanan pun suara Mimi yang paling mendominasi suasana.
Dan terakhir, ada Dira. Bocah berumur 13 tahun itu yang mulutnya gak mau diem. Ngoceh terus sudah kaya beo. Dia tidak bisa tenang, terkecuali ketika tengah makan. Keberadaannya bak sebuah “hiburan” di rumah itu.
“Dira, bantu Mimi beresin ini semua, yah,” pinta ayah.
“Iya, Yah,” Dira menimpali.
Ayah meninggalkan meja makan, dan kembali ke ruang kerja. Mimi dan Dira mulai memberesi peralatan makan. Denta beranjak, dan berjalan menuju teras depan rumah. Nika mengekori setelahnya dengan membawa sepiring mangga. Mimi memaksanya untuk menghabiskan mangga itu, dan Nika cuma nurut tanpa mencoba menolak.
Di depan teras rumah, Denta dan Nika duduk di sebuah kursi jati yang menghadap ke gerbang depan. Keduanya menyandarkan badan, seraya mencari posisi santai. Mata-mata mereka menatap langit lepas yang saat itu tengah terang akan cahaya bintang dan bulan.
“Lo belum menepati janji,” begitu Nika membuka obrolan.
“Janji?”
“Lo ‘kan udah kalah dalam adu lempar koin tadi siang. Hukumannya ya lo harus cerita tentang masalah lo itu.”
Mata Denta jatuh ke lantai di depannya. Semenit kemudian beralih ke Nika. Beberapa saat kemudian keduanya saling adu pandang. Lemah.
“Lo ada masalah?” tanya Nika sekali lagi.
Denta melempar tatapannya ke arah pekarangan depan rumah. Diam. Tiba-tiba ia teringat dengan ucapan Braga dan temannya di kamar mandi siang tadi. Kalau saja mereka tidak menyebutkan nama Aira Palupi, mungkin hatinya tak serisau ini. Gundah pun tak bakal memasung ketenangannya.
“Lo inget sama cewek berbandana merah yang kita lihat di lapangan tempo hari?” Denta mulai bercerita.
Nika tergugu. Matanya mengerjip beberapa kali seraya mengingat-ingat. Dengan agak sedikit ragu, mulutnya bergerak, “A-ai…”
“Aira!” potong Denta telak. “Ada orang lain yang suka sama Aira,” jelas Denta membuat Nika tersedak memakan mangga.
“Siapa?” tanya Nika, kalem.
Denta tak lekas menjawab. Tangan kanannya tiba-tiba mengepal. Sejurus kemudian kepalan tangan itu memukul pahanya seperti seorang hakim yang melakukan pukul palu di persidangan.
“Braga!” ucap Denta, “Braga Wisnu nama panjangnya.”
Agaknya Nika tidak terlalu asing dengan nama yang baru saja disebutkan oleh Denta. Beberapa kali ia pernah mendengar nama itu. Tapi tidak ingat siapa yang menyebutnya.
“Dia anak sekolah kita juga?” Nika ingin memastikan lagi. Takut perkiraannya salah.
Denta mengangguk. Pelan. “Dia kelas XI, senior kita.”
“Dari mana lo tahu kalo dia suka Aira?”
“Gue denger sendiri di kamar mandi tadi. Dia bilang suka dan ngincer Aira,” Denta menegakkan tubuhnya.
Nika bisa menangkap keresahan Denta. Ia begitu serius manakala menyebut nama Braga dan Aira. Seakan ketidaksukaan terhadap niat senior itu untuk mendekati cewek yang disukainya, terpancar jelas.
“Selagi komitmen belum ada di antara mereka, lo masih ada kesempatan untuk dapetin Aira,” begitu Nika mengompori.
Denta kembali melirik Nika. Dalam.
“Selagi Aira masih sendiri, semua orang punya peluang besar untuk menjadi pacarnya. Termasuk lo, Ta.”
Setiap kata yang keluar dari mulut Nika coba Denta resapi. Sepertinya ia setuju dengan pendapat itu. Selagi Aira belum berkomitmen dengan siapapun, maka kesempatan untuk menjadikan cewek itu pacar masih terbuka lebar. Sedangkan Braga sendiri pun belum menyatakan perasaannya. Masih mendekatinya, bukan mendapatkannya.
***
Jam 9 malam, Nika meninggalkan rumah Denta. Ia memesan ojek online untuk mengantarkannya pulang ke kosan yang berada di daerah Ciwaringin. Namun di pertengahan jalan, ia minta sang driver untuk berhenti di minimarket. Ada sesuatu yang harus dibelinya.
Sekeluarnya dari minimarket, Nika berjalan menuju motor kembali. Ketika hendak naik, tak sengaja ia melihat seorang pria keluar dari ATM yang berada di depan rumah sakit Sumber Waras yang berseberangan dengan dirinya. Sosok itu sangat ia kenali, namun ada sedikit keraguan dengan apa yang dilihatnya karena jarak di antara keduanya cukup jauh.
Nika terus memperhatikan laki-laki di seberang jalan sana. Terlihat orang yang dilihatnya tengah berdiri di samping antrean orang-orang yang hendak masuk ke dalam ATM.
“Bisa jalan sekarang?” suara teguran driver terdengar mengejutkan Nika.
Dengan tanpa menoleh sedikit pun, Nika meminta sang supir untuk menunggunya.
“Itu kaya Bapak…” batin Nika dengan mata terus melihat orang di sana, sekalipun ragu-ragu. Rasa penasaran membuat ia mendekatinya. Namun sayang, laki-laki dewasa berkemeja warna merah itu buru-buru berjalan ke sebuah mobil hitam yang terparkir tak jauh dari tempat ATM. Sejurus kemudian masuk ke dalamnya.
“Pak-Bapak…” teriak Nika mencoba memanggil. Dia mengejar di seberang jalan.
Mobil itu melaju, dan kecepatannya semakin kencang. Nika berlari mengikutinya dari belakang. Namun seakan sia-sia saja. Larinya tak bisa menyamakan dengan laju kendaran beroda empat tersebut.
“Gue yakin, itu Bapak.”
Nika membungkuk. Deru napasnya kasar. Sepasang matanya menatap jalanan. Mobil itu sudah tak nampak lagi. Hilang. Ia gagal memastikan jika laki-laki itu memang bapaknya atau bukan. Kalau benar orang itu adalah bapak yang dicarinya selama ini, Nika pasti akan mengejarnya sampai dapat. Bagaimanapun caranya.
***

Other Stories
Nona Manis ( Halusinada )

Dia berjalan ke arah lemari. Hatinya mengatakan ada sebuah petunjuk di lemari ini. Benar s ...

Percobaan

percobaan ...

Test

Test ...

Institut Tambal Sains

Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...

Dante Fairy Tale

“Dante! Ayo bangun, Sayang. Kamu bisa terlambat ke sekolah!” kata seorang wanita gemu ...

Aku Bukan Pilihan

Cukup lama Rama menyendiri selepas hubungannya dengan Santi kandas, kini rasa cinta itu da ...

Download Titik & Koma