The Truth

Reads
236
Votes
0
Parts
3
Vote
Report
Penulis Kurnia Alysia Aditianingrum

Chapter 1

Seminggu sebelumnya…
SETH BAKER mengumpat dalam hati atas pekerjaannya saat ini yang lebih menyerupai maling ketimbang jurnalis investigasi.Apa boleh buat, demi bukti otentik, pikirnya. Sudah hampir 4 jam ia membusuk menunggu petugas kepolisian Massachuttes, Rick Nelson, di dalam mobilnya namun lelaki bertubuh pendek dan gemuk itu sama sekali belum menunjukkan batang hidungnya.
Jika bukan demi mendapat bukti otentik—yang mana itu menentukan validitas berita—dari polisi itu, tema yang telah ia telusuri selama berbulan-bulan sudah bisa terbit di halaman depan pagi ini.
Sial!
Hawa panas mulai mengganggunya, terlebih dengan jendela tertutup seperti ini. Seth mendengus. Seandainya saja ia bukan menyelinap, tentunya kaca sialan ini akan bisa ia buka sesuka hati.
Ponselnya bergetar. Seth melihat layarnya, James yang menelepon. Dengan kesal ia me-reject panggilan itu. Kau tidak tahu apa yang aku alami saat ini, Pak Tua!
Saat yang dinanti akhirnya tiba. Rick membuka pintu kemudi mobilnya dan memasukinya dengan terburu-buru. Tak lama berselang, ia mengemudikan mobil itu. Seth masih bersembunyi di belakang supir sambil berjongkok di bawah agar tidak terlihat di kaca spion.
Sejak duduk di kursi kemudinya, Rick tak henti-hentinya menghubungi rekannya melalui ponselnya. Seth semakin kehilangan kesabaran. Si brengsek ini memiliki kuping baja, pikirnya, yang membuatnya tahan berbicara lama melalui ponselnya.
“Baik, baik, sebaiknya kau tetap di posisi. Jangan biarkan dia lolos. Jika lolos, akan sulit bagi kita menangkap kelas kakapnya,” Sampai disitu barulah Rick mematikan panggilannya.
Seth memosisikan dirinya hingga ia bisa duduk di kursi belakang, “Selamat pagi, Officer Nelson,” sapa Seth, tersenyum tenang.
Rick segera menekan pedal rem dan mobil berhenti mendadak hingga nyaris membuat mobil belakang menubruknya. Mobil di belakang membunyikan klakson berulang kali namun tak satu pun dari mereka menghiraukan itu.
“Seth?! Apa yang kau lakukan di sini?”
“Ups... maaf, Officer, aku terpaksa...” Seth mengangkat kedua tangannya. “editorku mengusirku karena reportaseku dianggap kurang valid dan aku sudah tidak mood lagi berdebat mengenai validitas reportaseku.”
“Lalu apa urusannya denganku?” bentak Rick sambil memukul setir. “Bukan salahku jika bosmu mempermasalahkan validitas reportasemu dan bukan kewajibanku juga untuk membantu pekerjaanmu!”
“Tidak ada, Sir. Dan kau benar,” Seth tertawa kecil, lanjutnya, “Hanya saja...mood seorang wartawan investigasi pastinya akan lebih baik jika berada di dekat polisi. Bukankah seperti itu, Rick?”
“Hei.... aku tidak punya berita apapun untukmu! Kalau kau ingin berita, seharusnya kau bersiap ke kantor walikota, disana ada...”
“Unjuk rasa gugatan pencemaran air di Savta Hills,” sambung Seth. “Aku sudah tahu itu. Itu sudah aku masukkan dalam daftar list liputanku. Tenang saja!”
Rick memalingkan muka sejenak, “Keberadaanmu di sini bisa mengacaukan operasiku. Pergilah! Jangan ganggu aku!!”
“Tenang, tenang, Rick! Aku tidak akan mengganggu pekerjaanmu. Aku janji.”
Rick mendengus. “Sejak kapan wartawan ‘tidak akan’ mengganggu polisi?”
Seth tertawa sinis, membuat Rick menatapnya penuh tanda tanya hingga alisnya bertemu. Seth berusaha mengendalikan dirinya untuk menjawab pertanyaan Rick, “Daripada kau sibuk memusingkan keberadaanku, sebaiknya kau kembali pada operasimu. Kau bisa bertanya padaku sambil mengejar mobil SUV itu. Bukankah itu yang tadi rekanmu katakan?” Seth menunjuk ke arah depan, dimana sebuah mobil SUV berwarna putih sedang melaju kencang, menjauhi posisi mobil mereka. Rick mengikuti arah yang ditunjuk oleh Seth lalu berbalik menatapnya kembali dengan tatapan tajam.
Seth mengangkat bahu. “Yah... aku penyimak dan pengingat yang sangat baik. Karena itulah aku menjadi jurnalis, hehe...”
“Oh fuck!” umpat Rick lalu kembali menekan pedal gas.Mobil polisi itu mengebut dan nekat menerobos kendaraan demi kendaraan. Rick tak peduli walau setiap mobil yang ia lewati membunyikan klaksonnya dengan sangat keras sebagai upaya protes akibat ulah Rick yang ugal-ugalan. Ia meyakini diri sendiri bahwa tindakannya benar—seorang polisi yang sedang menangkap target. Tak lama berselang, menyusul 2 mobil polisi lainnya, kali ini lengkap dengan sirinenya. Mobil SUV hitam yang menjadi target tersebut menyadari bahwa ia menjadi target buruan dan mempercepat lajunya. Sembari menyambar buruannya, Seth kembali melanjutkan wawancaranya.
“Osvaldo Morealez. Diakah targetmu?”
Rick bergeming, enggan menjawab pertanyaan Seth.
“Bila diam berarti kuasumsikan ‘ya’. Baiklah, apakah dia memegang kontak beberapa aparat yang membelot?”
Rick tetap diam, namun ia semakin menambah kecepatannya dan menyentakkan Seth di kursinya akibat membelokkan setir. “Shitt, Rick!! Jawab saja lewat mulutmu!!”
“Ya, dia yang memegang kontaknya. Sial!!!” jawab Rick, tanpa melirik Seth di spion tengah setelah melewati 3 mobil. Lanjutnya, “Jika saja komisaris lebih mendengarkanku untuk mengawasi si bangsat itu, sekarang aku tak perlu repot-repot seperti ini!”
“Dia tidak mendengarkanmu?”
“Bukti memang belum cukup kuat. Tapi suara di telepon itu aku masih mengingatnya—walau penelepon itu tidak menyebut identitas aslinya.”
“Kau menyadap telepon Morealez?”
“Ya. Jika aku tidak nekat melakukannya, transaksi di Miami tidak bisa digagalkan.”
“Kau selalu lihai, Man.”
“Trims. Tapi tidak menurut bosku yang keparat itu.”
Seth tertawa. “Hampir semua bos seperti itu. Bosku juga tidak jauh berbeda.”
Mobil melaju melewati mobil sedan Ford di depannya dan membuat mobil yang dikendarai Rick hanya berjarak satu mobil lagi ke targetnya. Rick mendahului ketika sebuah minibus berada di arah berlawanan juga melaju dengan kecepatan tinggi.
“Oh sial, Rick!!!” teriak Seth.
Namun Rick tak memedulikan teriak ketakutan Seth. Ia tidak berniat mengalah pada mobil dari arah berlawanan itu. Seth semakin ketakutan, “Kau gila, Rick!! Aku masih belum mau mati!!”
“Suruh siapa kau menyelinap mobil polisi?!” Rick tetap fokus mengejar buruannya. Beberapa detik kemudian, ia telah melewati mobil lainnya dan telah sejajar dengan targetnya. Ia memepeti mobil terget hingga akhirnya berhasil menghentikan mobil itu.
Seth masih sangat ketakutan akibat gaya mengemudi Rick tadi. Sebelum menoleh pada Seth, Rick bergumam lirih tapi masih terdengar jelas, “Kali ini habis kau, Boffin!” lalu ia melepas sabuk pengamannya dan berbalik ke arah Seth, “Lain kali jangan nekat menyelinap mobil polisi!”
Rick turun lalu menangkap seorang pria Hispanik yang berada di dalam mobil SUV hitam itu. Dari balik kacanya, Seth melihat Osvaldo Moreales dipaksa keluar dari mobil sebelum akhirnya diberondong ke kendaraan polisi.
Ketika Rick menyambar ruang kemudinya, Seth sudah bersikap tenang dan sedikit angkuh seperti biasanya.
“Kali ini kau memiliki alasan untuk menahan Neil Boffin,” kata Seth.
“Hmm. Aku hampir membunuh diriku sendiri karena sudah berbulan-bulan lamanya dia selalu bersilat lidah denganku. Bahkan komisaris membelanya.”
“Yah... maklum saja. Dia nyaris menjadi kandidat anak emas kepolisian Quincy. Lulusan terbaik dari akademi kepolisian Massachuttes.”
“Aku muak mengungkit hal itu. Salah satu kenyataan pahit mengapa awalnya aku sulit mendapat dukungan untuk penyelidikan ini.”
“Tapi setidaknya, sekarang kau berhasil, Man.”
“Yah.”
Mereka terdiam. Namun, diamnya suasana ini membuat Rick menaikkan alisnya. Ia mulai menyadari situasinya. Saat berbalik, Seth menyeringai puas.
“Terima kasih untuk klarifikasinya, Kapten Rick Nelson,” Seth mengangkat pen rec miliknya setinggi dagunya. “Senang bekerja sama dengan Anda dan... semoga sukses, Sir.”
“Seth... jangan....”
Seth bergegas membuka pintu dan berlari sekencang-kencangnya meninggalkan mobil Rick. Dengan gesit Seth menghindari kendaraan yang lalu-lalang di jalan. Teriakan Rick yang memanggil namanya tak ia hiraukan lagi. Seth mantan atlet maraton dan menjadi juara 3 kali berturut-turut dalam perlombaan Marathon di Quincy. Laju larinya ditambah kelincahannya menyelinap membuat ia sulit ditangkap. Sambil berlari, ia menelepon editornya, “Halo James. Sudah dikonfirmasi. Artikel siap terbit.”
James tertawa. “Baik, dude. Ini hari keberuntunganmu.”
Seth berlari dan menyunggingkan tawa di sudut mulutnya. Tawa bahagia itu seolah ia sedang memenangkan lomba maratonnya.
Keesokan harinya, koran Dawn Times terbit dengan berita utama di kolom FOCUS, ‘Skandal narkoba aparat penegak hukum’. ­
***
Kathy Spencer melirik arloji yang melekat di tangan kirinya setelah membaca surat kabar Dawn Times dengan artikel Focus edisi pagi ini.
Tiga puluh menit lagi.
Tiga puluh menit lagi ia akan tiba di gedung Dawn Times yang telah dialihkan kepemilikannya menjadi bagian dari Spencer Group. Kathy menarik napas panjang dan menghembuskannya pelan-pelan, lalu mengalihkan pandangannya ke luar jendela mobil. Menenangkan diri di saat kau mengetahui bahwa arena bertarungmu sudah dekat adalah hal yang mustahil.
“Pagi ini, kau dijadwalkan untuk bertemu dengan Mr. Josh Rubent,” kata Marry Hunt, asistennya. Ia menaikkan kacamata bacanya hingga menyenggol rambut keriting pendeknya di sekitar pelipis. “Josh Rubent adalah pimpinan Dawn Times sejak tahun 1995. Setelah itu Anda menemui James Clarkson, eksekutif editor.”
“Aku mengerti,” jawab Kathy, pendek. Tidak ada komentar apapun darinya.
Marry yang masih menatapya dan mendesahkan napas panjang. “Kuharap kau benar-benar memahami, Kate,” kata Marry. “Ini mungkin kelihatannya sederhana. Tapi... ini tidak mudah. Bagaimanapun, Dawn Times adalah batu loncatanmu untuk bisa mengalahkan Tony.”
Kathy yang memang pendiam tidak menanggapinya dan hanya membatin. Seandainya ia bukan seorang Spencer, tentunya ia sudah bisa seperti gadis biasa yang hidup bersahaja atau gadis pewaris yang hanya hidup bersenang-senang; menikmati hasil sirkulasi keuangan perusahaan-perusahaan keluarga dan mencari pria mapan untuk sandaran hidupnya. Sayangnya, ini tidak berlaku baginya. Sejak meninggalnya sang nenek, ia resmi menjadi yatim-piatu—karena kedua orang tua Kathy sudah lama meninggal. Keluarganya yang tersisa—sepupu-sepupunya, terutama Tony, sangat mengincar seluruh warisan Spencer Group. Walau Kathy lebih berhak mendapat warisan karena ia putri sulung keluarga Spencer, namun Tony tidak akan membuat hal itu menjadi mudah.
Dengan menebar desas-desus bahwa dirinya minim pengalaman, kemampuannya sempat diragukan para pemegang saham Spencer Group dan wasiat neneknya tidak akan berguna. Dawn Times—media cetak berupa surat kabar lokal Quincy—bukanlah harta karun baginya, melainkan medan pertempuran. Ia sengaja tidak memilih Star Channel, media televisi di Boston—yang sudah sukses dikelola Tony beserta keempat saudara sepupunya, sebagai batu pijakannya karena ia tahu di sana pusat kekuasaan Tony.
Marry adalah asisten neneknya yang sudah bekerja selama lebih dari 30 tahun. Sejak Neneknya meninggal 2 tahun yang lalu, Marry-lah yang mengambil alih tugasnya sebagai pengganti orang tua Kathy. Bagi Kathy, Marry sudah seperti ibunya karena kedekatan mereka sejak Neneknya masih hidup. Marry memahami betul kondisi Kathy dan menjadi penasihat utamanya untuk hal apapun dalam hidupnya.
“Walau aku berharap kau bisa memenangkan batu loncatanmu,” lanjut Marry setelah terdiam sejenak berusaha memahami jawaban Kathy. “Kuharap kau tetap membuka hatimu di sini.”
Terutama tentang cinta.
***
Di sebuah kamar apartemen berukuran 6x6 meter, alarm dari jam weker berbunyi nyaring. Suara jam weker itu bergema ke seantero kamar yang dihiasi foto-foto hitam putih yang sebagian besar bertema people. Seluruh hasil foto itu adalah karya Seth sendiri.
Seth terbangun. Dengan cepat Seth mematikan alarmnya tanpa melihat jam. Walau udara pagi terasa sejuk, Seth terbangun dengan keringat mengucur deras akibat mimpi buruk itu. Seth meletakkan tangan di dahinya dengan sikut bersandar pada pahanya setelah menyisir rambut dengan jemarinya. Mimpi itu masih saja terasa nyata.
Suara-suara itu... bergema....
“Tolong....!! Toloong....!! Tolong kami!!!”
Seth buru-buru bangun ke meja rias di depan ranjangnya. Perasaan takut, sedih, dan tertekan akibat suara-suara itu....
Ia mencari obat penenangnya. Sial! Tidak tersisa sedikitpun. Ia melempar botol kosong itu. Lalu meremas rambutnya sekuat tenaga.
“Tolong kami...... kau sudah berjanji....” teriakan itu terdengar nyaring. Membuat napasnya kian cepat dan jantungnya seolah hendak meledak di rongga dadanya. Suara itu... benaknya tak mampu menghapus kilas balik mengerikan itu.
“Seth!!” panggil Mike menyentakkan Seth kembali ke alam nyata.
Seth menoleh ke asal suara itu. Dilihatnya Mike menghampirinya sambil menggenggam surat kabar. Sahabatnya tampak khawatir memandangnya. Sudah pasti Mike bereaksi seperti itu karena saat ini tampangnya sangat kacau. Ditambah dengan rambut gondrong dan kumis dilengkapi dengan berewoknya.
“Kau baik-baik saja?” tanya Mike.
Napas Seth masih terengah-engah. Ia menyisir rambut gondrongnya ke belakang. Tentu saja tidak, bodoh.
“Masih memimpikan kejadian itu?”
Seth mengangguk sambil menarik napas. “Masih sangat jelas. Seolah mengikutiku kemanapun aku pergi.”
Mike sudah tahu penyebabnya. Botol obat penenang tergeletak di dekat ranjang Seth. “Kau sudah kunjungi psikiater?”
“Psikiater hanya memberiku obat. Terapi hipnosis masih belum memberiku kemajuan.”
Mike menepuk pundak Seth, menyampaikan keprihatinannya sekaligus dukungannya.
Tak lama berselang, Miguel datang bersama Sandra. Kedatangan mereka mendatangkan keceriaan. “Halooo, pagi guys....”
Mike tampak riang menyambut kedatangan Sandra dan langsung memeluknya. Sandra menangkap wajah Seth yang pucat. Sandra tidak bertanya lebih lanjut, tapi ia tetap memeluk Seth sebagai bentuk dukungannya. Dengan semangat “pagi” Sandra bercerita bahwa ia bertemu Miguel ketika ia sedang jogging. Mereka berlima—termasuk Roger dan Travis, bersahabat sejak SMA. Persahabatan mereka terjalin begitu lama walau mereka sempat terpisah ketika di bangku kuliah—kecuali Travis, yang memisahkan diri sejak ketahuan menjalin hubungan dengan Monica.
Sandra masih mengamati Seth. “Tampaknya kau belum sepenuhnya pulih.” “Hei, dia akan pulih kalau dia sudah benar-benar move on dari sosok Monica.” Miguel tertawa terbahak-bahak. Sayangnya lelucon Miguel hanya dibalas dengan tatapan tajam Sandra juga sikutan pelan ke rusuknya.
“Hei.... itu tidak ada hubungannya!” tegas Seth.
“Oh, tidak salah lagi, sayangnya,” sambung Sandra yang hanya dibalas Seth dengan mengangkat tangan. Ia malas berdebat panjang-lebar soal mantannya.
“Oiya, ngomong-ngomong…” sela Mike. “Aku ingin mengucapkan selamat padamu, Seth. Artikelmu sudah terbit pagi ini.”
Mendengar ini, ekspresi Seth berubah. Seringai kebahagiaan mulai terlihat di wajah berewoknya. Ia lantas mengambil surat kabar itu dari tangan Mike.
“Akhirnya perjuanganmu selama setahun belakangan ini terbayar sudah,” puji Miguel.
Seth mengangguk senang. “Yah... lumayan, biarpun untuk itu aku harus menguntiti polisi seperti pencuri dan nyaris tewas tertembak pengedar narkoba.”
“Setidaknya tahun ini keberuntunganmu, dude.” kata Sandra. “Awal tahun kau mendapat penghargaan liputan perang Afrika, sekarang artikel ini terbit akibat penelusuranmu selama berbulan-bulan.”
Mereka tertawa. Suasana hati Seth menjadi lebih baik sejak ketiga sahabatnya berkumpul. Baginya tidak ada obat yang lebih baik selain sahabat dan orang-orang yang dicintainya. Namun, mengingat ‘yang dicintainya’ seperti membangkitkan rasa sakit yang telah lama mereda. Seth kembali melihat surat kabar Dawn Times yang ia pegang. Ia sudah membulatkan tekad untuk fokus pada kariernya. Pembicaraan mereka lambat laun beralih pada rencana liburan musim panas bersama demi merayakan kembalinya Seth.
“Hei guys!!” seru Mike yang tiba-tiba memotong pembicaraan menyenangkan mereka. Ia memutar arloji di tangannya agar teman-temannya dapat melihatnya. “Sekarang sudah jam 9 pagi, dude, kau sudah terlambat. Roger sudah berangkat sejak tadi.”
“Oh sial!!!” umpat Seth yang segera melesat mengambil handuk dan mandi. Setelah itu bersiap dengan kemeja biru dan celana semi jins yang berwarna sama. Tak lupa ia mengenakan jaket jins cokelat kesayangannya. Dengan cekatan ia mengambil tas dan pen rec-nya. Dirinya mematung ketika mengambil pen rec. Matanya terpaku pada foto berukuran 10R yang dibalut bingkai berwarna perak. Foto dirinya bersama Monica Frank yang diambilnya 6 tahun yang lalu, ketika mereka sama-sama mengenyam bangku kuliah. Melihat foto itu membuatnya mual akan kenangan menyakitkan yang ditorehkan gadis itu.
Sepuluh tahun sudah berlalu. Seth paham bahwa tidak ada gunanya mengenangkan peristiwa yang sudah lama terlewati—enam tahun lamanya. Dengan mantap ia buang foto itu ke tong sampah yang berada tepat di bawah meja riasnya.
***
Seth mengendarai motor sport 1000 CC dengan kecepatan 200 km/jam. Setibanya di kantor Dawn Times, Seth berlari terhuyung-huyung melintasi lobby.
Beberapa temannya yang berpapasan dengannya menyapanya, tapi tidak ia hiraukan, karena ia sedang terburu-buru mengejar absen. Dirinya menyumpah dan ingin sekali mencekik desainer tolol gedung Dawn Times ini yang meletakkan ruang administrasi begitu jauh dari lobi. Entah karena dia belum sarapan atau karena energinya terkuras akibat mimpi buruk tadi, ia merasa larinya sangat lambat dan belum apa-apa sudah kehabisan napas.
Seth meyakinkan dirinya sendiri untuk tidak mudah menyerah hari ini karena hari ini adalah hari keburuntungannya. Artikelnya terbit, membuat kejutan bagi semua orang. Dan ia juga tidak akan membiarkan hari ini si tua James memarahinya soal absen lagi. Ketika berbelok, Seth merasakan lantai itu begitu licin. Lantai itu memang baru dipel tepat 2 menit sebelum kedatangan Seth. Ia nyaris terpeleset ketika berbelok. Tapi ia tidak punya waktu lagi untuk memperlambat laju. Kini ruang administrasi terlihat jelas, jaraknya kurang dari 1 meter. Seth tahu, semakin dekat dengan tujuan, ia semakin tidak boleh menyerah. Dengan sekali tarikan napas, ia kembali berlari lebih cepat. Namun sayangnya, licinnya lantai mengalahkan karet sepatunya sehingga ia tidak bisa mengendalikan laju larinya. Dirinya hanya meluncur secara tidak terkendali menjelang ruang administrasi.
Di saat yang sama, pintu ruang administrasi terbuka. Kathy keluar dari sana dengan ditemani Marry dan Josh, lalu diikuti oleh kedua pengawalnya. Seth tersentak kaget melihat kehadiran mereka. Jika perhitungan matematika larinya benar, maka posisi mereka akan sangat rawan bertabrakan dengan dirinya.
“Awasss....awassss....!!!” teriak Seth, memperingatkan mereka.
Akan tetapi mereka tidak menyadari peringatan Seth. Pengawal Kathy pun terlambat menghalau. Dan beberapa saat kemudian, terdengar teriakan Marry. Kathy pun berbalik ke arahnya dengan ekspresi keterkejutannya ketika Seth berusaha mengendalikan laju larinya. Dalam jarak yang semakin dekat, ia menyaksikan wanita itu perlahan memejamkan matanya....
Tubrukan tidak dapat dihindari lagi!
Dalam sekejap ia menangkup tubuh Kathy dan terhenti ketika nyaris menubruk dinding. Tangan kiri Seth refleks menahan ke dinding, sementara tangan lainnya menangkup bahu Kathy agar gadis itu tidak terhantam ke dinding.
Seth terpaku menatap wajah yang kini berada dalam jarak yang amat sangat dekat dengannya. Gadis itu masih menutup mata, dan sekujur tubuhnya bergetar dalam dekapan Seth.
Cantik sekali!
Itulah teriakan dari hati Seth untuk pertama kalinya setelah Monica mencampakkannya 6 tahun yang lalu. Teriakan ini bukan sekedar teriakan hati biasa karena teriakan ini pula yang memicu jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Berada dalam jarak sedekat ini dengan Kathy, Seth bisa merasakan aroma tubuh Kathy yang membuatnya mabuk.
Tidak! Tidak!! Wanita itu ketakutan karena dirimu, brengsek!
“Hei...” panggil Seth, berbisik. Lidahnya mendadak kelu dan suaranya serak berada di dekat wanita itu sedekat ini. “Kau... tidak apa-apa?”
Kathy membuka matanya secara perlahan, sorot matanya kini bertemu dengan mata Seth, hidung mereka berdempetan hingga dapat saling merasakan napas. Seth hanya terpaku menatap mata wanita itu lalu secara bergantian ke bibir ranumnya. Kathy pun bereaksi sama. Dalam dekapan Seth, ia bahkan tidak bisa bernapas.
Seth memaksakan diri menelan air liurnya melihat dua mata hazel yang indah itu, hidung yang kecil dan mancung serta bibirnya yang merah dan sangat mengundang untuk disentuh. Seth hampir saja menyentuh bibir wanita itu dengan bibirnya jika saja pengawal itu tidak menyentakkan lengan kirinya.
“Singkirkan dirimu!!”
Pengawal yang satunya mendekati Kathy. “Anda tidak apa-apa, Miss. Spencer?”
Kathy hanya menjawabnya dengan gelengan kepala sambil merapikan blezer-nya dan mengatur napasnya.
Marry yang juga mengkhawatirkan Kathy segera mendekati Kathy dan melontarkan pertanyaan bertubi-tubi akan keadaannya, seolah ia anak kecil. Setelah memastikan bahwa Kathy baik-baik saja, Marry mengalihkan pandangannya ke Seth yang masih tampak berusaha mengontrol diri. “Siapa namamu, Bung?” ia memelototi Seth seolah ia ancaman.
Mendengar nada intimidasi, kedua pengawal Kathy ikut maju menghadang Seth. Seth menyumpah jika saja tidak di lingkungan kantor, ia akan meladeni dua pengawal bodoh ini untuk bertarung. Josh segera menengahi pengawal dan Seth.
“Tenang, semuanya! Dia adalah jurnalis di sini,” kata Josh.
“Seth Baker,” menunjukkan ID Card dan kartu persnya. “Divisi Focus Investigation.”
Kathy menatapnya, membuat tatapan Seth juga tertarik untuk menatapnya. Setelah saling menatap sejenak, Kathy yang nampak jengah mengalihkan pandangannya ke arah lain. Membuat Seth tersadar bahwa ia membuat wanita itu tidak nyaman. Tapi, siapa wanita itu? Tanyanya dalam hati.
“Maaf, tadi... aku terburu-buru dan kebetulan sepatuku tidak bisa aku kendalikan.”
“Lain kali kau harus berhati-hati, Bung, atau...”
“Mrs. Hunt,” sela Kathy tiba-tiba. Suaranya lembut namun penuh wibawa. Membuat pria manapun terhipnotis karenanya. “Ayo kita lanjutkan. Masih banyak yang harus kita kerjakan.”
Kathy bersama Josh, Marry, dan kedua pengawalnya pergi meninggalkan Seth. Sambil menyaksikan mereka berlalu, entah kenapa Seth tidak bisa mengalihkan padangannya ketika melihat Kathy.
Mungkin dia adalah narasumber kolom portrait minggu ini.
Seth kembali fokus. Ia absen dengan sidik jari. Dan peringatanpun berbunyi.
Sial! Seandainya saja tadi tidak terpaku bodoh menatap gadis itu, mungkin tanda peringatan ini tidak berbunyi.
Seth kembali berlari untuk mencapai lift. Ketika pintu lift hampir ditutup, Seth menekan tombolnya, sehingga lift tidak jadi tertutup. Pintu terbuka lebar, ia bertemu rombongan Kathy lagi. Kali ini wanita itu tidak menatapnya—bahkan terkesan menghindarinya.
“Kau lagi,” tukas Josh. “Cepat masuk! Kau membuat kami terlambat!”
Seth menurut dengan gumaman yang tidak jelas. Ia begitu membenci direktur Josh. Direktur itu hanya tahu gaji buta.
Berada satu lift dengan Kathy entah kenapa membuat mood-nya terasa senang. Berkali-kali Seth mencoba melihat Kathy melalui pantulan di pintu aluminium lift. Namun mata gadis itu hanya terpaku pada satu titik yaitu garis pertemuan antara dua pintu lift. Sial, apa dia patung?
Ketika tampilan digital lift menunjukkan angka 3, pintu lift terbuka. Seth segera keluar dari lift. Namun langkahnya terhenti sesaat hanya demi berbalik sejenak dan melihat wajah Kathy. Dan kali ini mata hazel itu membalas tatapannya.
“Seth!!!” teriak Pat dan Roger bersamaan.
Roger berlari ke arahnya. “Selamat kawan! Kau berhasil lagi kali ini!” ia meraih tangan Seth lalu mereka berpelukan sejenak.
“Tahun ini kau dapat dua jackpot, dude,” kata Pat. “Journalist of the year dan....”
“....kemungkinan teror dari polisi,” sambung Virginia. Dan seluruh tim Focus Investigation tertawa. James yang tadinya hanya duduk sambil melihat keceriaan anak buahnya, kini tergoda untuk bergabung dengan mereka.
“Hei.... bila aku diteror, aku akan meminta James untuk memberikan setengah apartemennya untukku. Benar kan, James?”
“Kau selalu seenaknya sendiri,” sahut James. “Kau pikir aku akan memberikannya untukmu?”
“Aah.... mana mungkin kau tidak memberikannya pada anak sulungmu ini, James?”
“Tentu dia akan berikan…” sambung Roger. “Asal kau beri dia bokongmu,” semua orang kembali tertawa, bahkan seluruh divisi yang ada di lantai 3 ikut tertawa. Lenny White, editor divisi Headline juga bergabung dan langsung memeluk Seth. Ia mengucapkan selamat atas penghargaan yang baru saja dimenangkan Seth. Akan tetapi ia tidak menyinggung liputan Seth yang baru saja dimuat dalam koran pagi ini. Lenny sedikit marah karena Seth mengupas tuntas beritanya tanpa memberi kesempatan pada kolom Headline.
“Ou...ou...ou...heii.... tenang semua.... tenang!!!” kata James sambil mengangkat tangan menyuruh rekan-rekannya di divisi Focus Investigation dan di divisi lain untuk diam. “Ssst...pertama-tama aku...”
“Hei, Pak Tua James,” sela Seth dengan posisi kedua tangannya terlipat di dada. “Ini di luar pekerjaan. Santailah sedikit.”
“Aah.... anak muda, aku belum selesai! Ini bukan soal pekerjaan,” James berdeham. “Oke, pertama-tama... aku ingin mengucapkan selamat datang kembali bagi rekanku, anak buahku, putra sulungku ketemu besar....”
Seth tersenyum sambil menundukkan kepala sejenak. Roger merangkul pundaknya lalu menepuknya lembut dan tersenyum.
James melanjutkan. “Seth Baker. Kuharap istirahatmu selama beberapa bulan ini sudah sepenuhnya memulihkanmu, Nak, dan kau berhasil menyelesaikan satu liputan menarik yang membuktikan bahwa kau benar-benar kembali,” James mendekatinya lalu memeluknya. Seth juga balas memeluknya. James menepuk-nepuk punggungnya bagai putranya sendiri. Banyak yang terharu menyaksikan Seth dan James berpelukan bagai ayah dan anak. Yah, Seth tidak punya sosok ayah dalam hidupnya—walau ada, tapi ia memiliki James yang selalu setia menjadi mentor sekaligus penasihat bagi kehidupannya. Adegan ini membuat Virginia menangis haru, begitupula dengan Lenny.
“Sudah, sudah, Pak Tua! Lihatlah, kau membuat banyak orang menangis pagi ini,” Seth melepas pelukan James. Dengan ibu jarinya ia menyingkirkan air matanya yang hendak mengalir.
James tertawa kecil sambil menghapus air matanya. Setelah melepas pelukannya ia menepuk bahu Seth. “Selamat bekerja kembali, sobat.”
“Terima kasih, senior.”
Semuanya bertepuk tangan menyambut Seth. Pat dan beberapa reporter dari divisi lain menebarkan pernak-pernik. Pat sendiri meniupkan terompet tiga kali.
“Oiya, kau sudah dengar kabar burung?” tanya James.
“Kabar burung?” ulang Seth. Tidak mengerti maksud James.
“Dawn Times sudah berganti kepemilikan.” sambung Roger.
“Sejak kapan?”
“Tiga bulan yang lalu.”
“Siapa pemiliknya sekarang?” tanya Seth.
“Spencer Group,” jawab James. Ia menaikkan sebelah alisnya lalu mengangguk-angguk.
“Hei, guys… kembali ke meja kalian!” kata Bryan, setelah berlari terhuyung-huyung.
Seth terkejut dengan pemandangan yang dilihatnya. Tak seperti biasanya. Kali ini, semua orang di lantai 3 segera kembali ke mejanya masing-masing, lalu hening seketika. Mereka langsung bekerja.
Melihat Seth mengernyitkan alis menyaksikan pemandangan itu, James menjelaskan, “Pemilik yang baru akan turun langsung dalam pengoperasian perusahaan ini. Dan.... menurut kabar yang beredar, pemilik yang baru ini orangnya kejam, dingin, dan...” James mengangkat bahu.
Seth mengangguk.
Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki beberapa orang yang memasuki lantai 3. James mendorong Seth untuk kembali ke mejanya, begitupula dirinya.
Seth baru saja membuka laptopnya ketika Kathy, John, dan Marry berjalan di lantai 3, berkeliling dan mengunjungi setiap divisi. Setelah mengenalkan divisi humanitarian dan headline, Josh memanggil James. James menghampirinya. Mereka melakukan pembicaraan singkat. Seth berusaha curi-curi pandang lagi ke Kathy di atas sekat meja. Beberapa kali Kathy juga menatap Seth, walaupun ia berusaha menghindarinya.
“Guys, kemarilah!” panggil James pada tim Focus Investigation.
Keempat anak buahnya menuruti perintah atasan mereka. Seth berusaha memandang Kathy sebentar, kemudian ia alihkan.
“Guys, euu...”
“Biar aku saja, James,” sela John sambil mengangkat tangan, membuat sinyal agar James berhenti bicara. “Begini Miss. Spencer, mereka adalah anggota divisi Focus Investigation. Divisi yang selama tiga tahun ini sedang naik daun karena liputan investigasinya menyaingi Spotlight,” John memperkenalkan Virginia, Roger, Pat, dan terakhir Seth. Begitu nama Seth disebut, Kathy dan Seth saling menatap. “Mr. Barker ini baru saja memenangkan penghargaan Journalist of The Year tahun ini. Dia membuat Massachuttes gempar karena mengalahkan jurnalis-jurnalissenior lainnya di nominasinya.”
Seth mengangguk dan tersenyum. Tapi Kathy bersikap datar dan Seth sedikit kecewa.
“Kau sangat hebat,” kata Kathy—pada akhirnya, yang untuk pertama kalinya ia ucapkan pada Seth. Kali ini ia tersenyum anggun, perasaan membuncah dan bangga mulai membuat perut Seth bergelenyar karenanya. “Pertahankan prestasi Anda, Mr. Barker.”
“Trims, Miss Spencer.”
Seth dan Pat sengaja diperbantukan untuk divisi Headline meliput unjuk rasa warga Savta Hills di depan kantor walikota. Siang ini, matahari bersinar terang dengan panas yang luar biasa menyengat. Seth menghabiskan satu botol air mineralnya lalu menunaikan tugasnya dengan berpencar ke para pengunjuk rasa, sementara Pat fokus pada walikota.
Gema para pengunjuk rasa terdengar nyaring ke seantero gedung walikota, “Kami menuntut ganti rugi bagi kami pada Rooney Paint Industry!” teriak sang provokator. “Mereka menjalankan usaha mereka tanpa memedulikan kami!”
“Dan dengan kejam membuat kami semua keracunan!” sahut demonstran yang lain. Para demonstran itu selain menggunakan suara, juga menggunakan spanduk dan ikat kepala. Ada yang bertuliskan, ‘Save Savta Hills’, ‘Save our children’, ‘Kill the Rooney Paint Industry’, …..
“Tegakkan keadilan!! Hukum Rooney Paint Industry!!!” teriak yang lainnya.
“Hukum! Hukum! Hukum!!!”
Seth bergerak, menyelinap dan mendatangi demonstran. Ia mengambil sampel narasumber secara acak namun dengan konteks yang sama, yaitu warga Rooney Paint Industry, baik tua-muda maupun pria-wanita. Dengan cepat ia menyalakan pen rec yang ia sematkan di kantong kemejanya. Seth mendongak, menoleh ke kiri. Sekali melirik, matanya menangkap pria paruh baya. Ia mengenakan setelan jins dengan kain jins yang robek dan kaos navy. Kepalanya yang botak di bagian depan ditutupinya dengan ikat kepala bertuliskan ‘Save Savta Hills’.
Seth menyapa pria itu dengan ramah lalu menjabat tangannya yang juga disambut dengan jabat tangan pria itu. Setelah saling memperkenalkan diri, Seth meminta izin untuk mewawancarainya. Pria bernama Ted Sullivan itu bersedia untuk diwawancarai.
“Oke, Ted Sullivan, apakah Anda tinggal di Savta Hills?”
“Ya.”
“Bisa Anda jelaskan sedikit apa yang terjadi di sana dan apa maksud dari unjuk rasa ini?”
“Ya, saya bersama orang-orang disini, penduduk asli Savta Hills. Kami hidup tenang selama bertahun-tahun sampai akhirnya pabrik itu dibangun.”
“Maaf, eu.... pabrik apa?”
“Rooney Paint Industry, pabrik tekstil. Mereka beroperasi disana sejak 10 tahun yang lalu. Dan kami mulai merasakan dampak perbuatan mereka sekarang.”
“Dampak apa yang kalian rasakan?”
Ted menceritakan bahwa kebanyakan dari mereka menderita gagal ginjal, tumor, dan beberapa di antaranya menderita disfungsi hati. Mulanya mereka tidak tanggap. Namun, setelah salah seorang dari mereka memeriksakan diri ke dokter, mereka menemukan dugaan penyebab penyakit-penyakit yang mereka derita.
“Pencemaran air akibat kromium,” tegas Ted. “Kami juga sudah berkonsultasi dengan organisasi lingkungan hidup. Mereka menindaklanjuti laporan kami dengan melakukan observasi. Dan hasilnya, mereka menemukan zat cemar.”
Sambil mencatat, Seth mendengar penuturan Ted bahwa warga Savta Hills yang dibantu organisasi lingkungan hidup berusaha mengajukan keluhan pada walikota untuk memproses keluhan mereka.
Selanjutnya, Seth mewawancarai wanita nyentrik bertubuh kurus. Wanita keturunan Hispanik itu berusia sekitar 40 tahun.
“Aku Veronica Martinez. Di sini aku memperjuangkan keadilan bagi anakku yang baru berusia 5 tahun, tetapi gara-gara perbuatan mereka, dia harus menderita kanker hati.”
“Kanker hati? Apakah Anda yakin bahwa penyakit itu disebabkan oleh pencemaran?” tanya Seth. “Menurut kabar yang beredar, penyakit itu bukankah bisa saja karena faktor keturunan?”
“Saya mungkin akan memilih meyakini pilihan kedua apabila tidak banyak warga menderita penyakit yang sama di satu tempat, Sir.”
Di sisi lain, Pat berusaha mendekati Walikota Edward Jason Smith yang sedang dikerubungi wartawan, sementara pengawalnya kelimpungan dengan tekanan pers. Dengan banyaknya wartawan dan warga yang mendesak walikota, Pat nyaris tidak bisa mendekatinya. Namun Pat yang bertubuh gemuk berhasil menyingkirkan lawannya satu per satu.
“Permisi, Pak, apa tindak lanjut pemerintah untuk menangani Savta Hills?” tanya Pat setelah berhasil berdiri dalam jarak cukup dekat. Persetan baginya harus memperkenalkan diri terlebih dahulu di saat seperti ini.
“Untuk sementara, semua masih dalam penyelidikan,” jawab Walikota Smith. “Kami belum bisa berspekulasi apapun sebelum ada laporan dari tim khusus kami di lapangan. Namun jika perusahaan Rooney Paint Industry terbukti bersalah, maka kami akan mengajukan gugatan peradilan.”
“Lalu sementara ini, bagaimana dengan keluhan warga?” tanya Pat. “Menunggu proses penyelidikan membuat mereka semakin tersiksa, bukan?”
“Untuk sementara ini, tim medis palang merah sudah tiba di sana. Tim medis ini juga dibantu oleh pihak Rooney Industry,” jawab Walikota Smith.
***
Seth merenung sejenak sambil membolak-balikkan buku catatannya usai mendapat 5 narasumber untuk liputan unjuk rasa di depan kantor walikota. Berita ini sepertinya lebih layak dimasukkan ke kolom Focus Investigation, pikirnya. Sambil berpikir keras, Seth merasakan seseorang menepuk ringan pundaknya. Seth menoleh ke tepukan itu dan berbalik.
Pria ini lagi...
Seth mengernyitkan alis.
“Seth, aku perlu bicara denganmu.”
“Aku sibuk! Aku masih bekerja,” jawab Seth ketus sambil menutup catatannya dan memasukkannya ke kantong jaket. Daripada bicara denganmu, lebih baik kupatahkan dulu lehermu!
“Tidak, Seth. Sekarang!”
“Silakan kau pergi dari sini sebelum aku merusak pipimu yang halus, Mr. Bell.”
“Seth, ini penting! Kau harus tahu. Ini tentang Savta Hills.”
Seth terdiam sesaat meski dengan tatapan tajam. Pikirannya masih larut dalam misinya untuk melayangkan tinju ke wajah pria berkacamata ini. Tidak! Tidak!! Ini menyangkut Savta Hills, ia terpaksa mengurungkan niatnya demi pekerjaannya.
“Nevada Café,” jawab Seth.
***
Seth menghembuskan rokok ketika pelayan meletakkan 2 gelas cappucino di atas meja. Travis Bell, pria elegan dan berkacamata yang telah merebut Monica dari sisinya 6 tahun yang lalu kini duduk diseberangnya. Seth berusaha menikmati smooking time-nya, berupaya menekan perasaan ingin membunuh pria itu.
Melihat sikap Seth yang acuh tak acuh, Travis sedikit bergidik. Ia menyeruput cappucino-nya lalu memulai pembicaraan.
“Bagaimana kabarmu, Seth?”
“Menurutmu?” ketus Seth. Ia menghembuskan asap rokoknya lagi kemudian mematikannya dengan menyucukkan batang rokok ke asbak. Travis terdiam dan suasana berubah canggung. Seth menilik arlojinya yang menunjukkan pukul dua. “Kau menyuruhku kemari pasti ada urusan bukan? Sebaiknya percepat saja! Aku masih banyak pekerjaan.”
“Kau yang menyuruhku kesini, Seth.”
Seth mendengus. “Memang aku yang merekomendasikan kemari. Tapi pertemuan ini kau yang minta, oke? Apa perlu aku putar hasil pen rec-ku?!” nada ketus dan cenderung tinggi membuat pengunjung kafe memperhatikan Seth.
“Oke, oke... tenanglah, Seth! Kau membuat pengunjung kafe ini tidak nyaman!” sergah Travis.
“Kau yang membuatku naik pitam, Mr. Bell!”
Travis menaikkan kedua lengannya, mengalah. “Maaf mengganggu waktumu. Tapi.... soal Rooney Paint Industry tidak sepenuhnya benar. Karena....”
“Maaf?”
“Apa yang dituduhkan pengunjuk rasa itu tidak sepenuhnya benar.”

Other Stories
Bahagiakan Ibu

Ibu Faiz merasakan ketenteraman dan kebahagiaan mendalam ketika menyaksikan putranya mampu ...

Kuntilanak Gaul

Rasa cemburu membuat Lydia benci kepada Reisha. Dia tidak bisa terima saat Edward, cowok y ...

Balada Cinta Kamaliah

Badannya jungkir balik di udara dan akhirnya menyentuh tanah. Sebuah bambu ukuran satu m ...

Melepasmu Untuk Sementara

Perjalanan meraih tujuan tidaklah mudah, penuh rintangan dan cobaan yang hampir membuat me ...

Death Cafe

Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...

Itsbat Cinta

Hayati memulai pagi dengan senyum, mencoba mengusir jenuh dan resah yang menghinggapi hati ...

Download Titik & Koma