Chapter 3 Kursi Itu Berbeda
Sejak kursi goyang mewah itu menempati sudut ruang tamu, suasana di dalam rumah terasa berubah. Bukannya lebih hidup, Mario justru merasa ada aura aneh yang menyelimuti.
Saretha, sebaliknya, masih takjub. Ia sering duduk di kursi itu, membaca buku, atau sekadar melamun.
"Enak banget lho, Yang. Punggungku jadi nggak sakit," kata Saretha suatu sore sambil mengayunkan kakinya santai.
Mario hanya mengangguk sambil pura-pura sibuk dengan laptopnya. Setiap kali ia mendekati kursi itu hawa dingin yang aneh kembali terasa.
Dinginnya bukan seperti dinginnya AC, tapi dingin yang menusuk sampai ke tulang, seolah ada energi tak kasat mata yang terpancar dari sana. Mario mencoba mengabaikan berpikir itu cuma perasaannya saja.
Namun, keanehan tak berhenti di situ. Malamnya, saat Saretha sudah tidur pulas, Mario masih terjaga di ruang tamu sedang menonton film. Entah kenapa, pandangannya selalu kembali ke kursi goyang itu.
Tiba-tiba, ia melihat bantal beludru merah di kursi itu sedikit bergeser, seolah ada yang baru saja duduk di sana dan beranjak pergi. Mario terkesiap, jantungnya berdegup kencang. Ia mencoba berpikir logis. Mungkin tadi ia yang menyentuh bantal itu saat lewat.
Ia kembali fokus pada filmnya, tapi rasa gelisah tak hilang. Ia merasa bulu kuduknya merinding. Udara di ruang tamu terasa lebih dingin dari biasanya.
Mario mengambil selimut dan melilitkannya di tubuh mencoba menenangkan diri. Namun, saat ia melirik ke arah kursi goyang itu lagi, ia melihat bayangan samar di balik jendela, tepat di belakang kursi.
Bayangan itu sangat mirip dengan sosok nenek-nenek tua. Mario menelan ludah merasa takut. Ia memicingkan mata, tapi bayangan itu sudah hilang.
Bip!
Mario buru-buru mematikan TV dan laptopnya. Ia naik ke kamar, berbaring di samping Saretha yang tertidur pulas. Ia tidak berani menceritakan apa yang ia rasakan pada Saretha, takut istrinya itu malah ketakutan dan membujuknya untuk membuang kursi itu.
Padahal, jauh di lubuk hatinya, Mario tahu, kursi itu bukan sekadar kursi. Ada sesuatu yang tak beres, dan ia harus mencari tahu apa itu sebelum keanehan ini semakin menjadi.
Saretha, sebaliknya, masih takjub. Ia sering duduk di kursi itu, membaca buku, atau sekadar melamun.
"Enak banget lho, Yang. Punggungku jadi nggak sakit," kata Saretha suatu sore sambil mengayunkan kakinya santai.
Mario hanya mengangguk sambil pura-pura sibuk dengan laptopnya. Setiap kali ia mendekati kursi itu hawa dingin yang aneh kembali terasa.
Dinginnya bukan seperti dinginnya AC, tapi dingin yang menusuk sampai ke tulang, seolah ada energi tak kasat mata yang terpancar dari sana. Mario mencoba mengabaikan berpikir itu cuma perasaannya saja.
Namun, keanehan tak berhenti di situ. Malamnya, saat Saretha sudah tidur pulas, Mario masih terjaga di ruang tamu sedang menonton film. Entah kenapa, pandangannya selalu kembali ke kursi goyang itu.
Tiba-tiba, ia melihat bantal beludru merah di kursi itu sedikit bergeser, seolah ada yang baru saja duduk di sana dan beranjak pergi. Mario terkesiap, jantungnya berdegup kencang. Ia mencoba berpikir logis. Mungkin tadi ia yang menyentuh bantal itu saat lewat.
Ia kembali fokus pada filmnya, tapi rasa gelisah tak hilang. Ia merasa bulu kuduknya merinding. Udara di ruang tamu terasa lebih dingin dari biasanya.
Mario mengambil selimut dan melilitkannya di tubuh mencoba menenangkan diri. Namun, saat ia melirik ke arah kursi goyang itu lagi, ia melihat bayangan samar di balik jendela, tepat di belakang kursi.
Bayangan itu sangat mirip dengan sosok nenek-nenek tua. Mario menelan ludah merasa takut. Ia memicingkan mata, tapi bayangan itu sudah hilang.
Bip!
Mario buru-buru mematikan TV dan laptopnya. Ia naik ke kamar, berbaring di samping Saretha yang tertidur pulas. Ia tidak berani menceritakan apa yang ia rasakan pada Saretha, takut istrinya itu malah ketakutan dan membujuknya untuk membuang kursi itu.
Padahal, jauh di lubuk hatinya, Mario tahu, kursi itu bukan sekadar kursi. Ada sesuatu yang tak beres, dan ia harus mencari tahu apa itu sebelum keanehan ini semakin menjadi.
Other Stories
Hati Yang Terbatas
Kinanti mempertahankan cintanya meski hanya membawa bahagia sesaat, ketakutan, dan luka. I ...
Ibu, Kuizinkan Engkau Jadi Egois Malam Ini
Setiap akhir tahun, ia pulang dengan harapan ibunya ada di rumah. Yang berulang justru dap ...
Erase
Devi, seorang majikan santun yang selalu menghargai orang lain, menenangkan diri di ruang ...
Diary Superhero
lanjutan cerita kisah cinta superhero. dari sudut pandang Sefia. superhero berkekuatan tel ...
My 19 Story
Di usia sembilan belas, Liora dikhianati dan melarikan diri ke Jakarta, tempat seorang pri ...
Cinta Harus Bahagia
Seorang kakak yang harus membesarkan adiknya karena kematian mendadak kedua orangtuanya, b ...