Chapter 10 Akhir Sebuah Teror
Di tengah kegelapan dan teror yang mencekam, Mario teringat sesuatu. Di buku harian kakek Saretha, ada catatan kecil di halaman terakhir yang ia baca sekilas yang ia pikir tidak penting.
Tulisannya berbunyi: "Satu-satunya jalan, adalah dengan kembali ke akar."
"Saretha! Akar! Kita harus kembali ke awal!" seru Mario. Ia menarik Saretha yang masih ketakutan, menunjuk ke arah kursi goyang itu.
Saretha hanya bisa mengangguk yang masih gemetar. Nenek Gayatri melayang semakin dekat, tangannya menggapai-gapai ke arah Saretha, siap mengambilnya.
Mario melepaskan pelukan Saretha dan berlari ke arah kursi goyang itu. Ia mengabaikan hawa dingin yang menusuk, mengabaikan teriakan marah Nenek Gayatri. Ia mencari di bawah kursi, di sandaran, di mana saja.
Saretha, yang melihat Mario dalam bahaya, berteriak, "Mario! Jangan!"
Namun, Mario tidak peduli. Ia terus mencari, dan akhirnya, tangannya menyentuh sesuatu yang kecil dan keras di bawah bantal beludru. Itu adalah sebuah jimat kecil yang diukir dengan simbol kuno.
Mungkin ini yang dimaksud kakek Saretha dengan akar. Jimat itu terasa dingin, tapi tidak dingin yang menusuk seperti kursi itu. Ini adalah dingin yang damai.
"Ini! Nenek, ini yang kau cari!" teriak Mario, mengangkat jimat itu ke udara.
Seketika, Nenek Gayatri berhenti bergerak. Sorot matanya yang merah meredup. Ia tidak lagi marah, tapi terlihat putus asa. Ia menatap jimat di tangan Mario, lalu menatap kursi goyang di belakangnya. Tampaknya, jimat itu adalah kunci yang bisa mengendalikan atau bahkan mengikatnya.
"Jimat ini akan mengembalikanmu ke tempatmu!" teriak Mario.
Dengan berani, Mario melemparkan jimat itu ke arah kursi goyang.
Pluk!
Begitu jimat itu menyentuh bantal, kursi itu langsung bersinar terang. Sinar itu sangat menyilaukan mata memaksa Mario dan Saretha menutup mata mereka.
"ARRRGGGHH!"
Nenek Gayatri menjerit nyaring. Jeritannya bukan lagi jeritan amarah, melainkan jeritan kesakitan dan kekalahan. Tubuhnya yang samar-samar mulai menyusut, tertarik ke dalam kursi.
Duk! Duk!
Kursi itu bergoyang hebat, seolah ada badai yang bersembunyi di dalamnya.
Saat sinar itu meredup, suara jeritan itu pun menghilang. Kursi goyang itu berhenti bergoyang.
Seketika, api biru kecil muncul di bawah kursi, lalu merambat cepat, membakar seluruh kursi goyang itu hingga menjadi abu. Api itu tidak membakar apa pun di sekitarnya hanya membakar kursi itu sampai tak bersisa.
Saat api padam, keheningan kembali datang.
Kegelapan di ruang tamu terasa normal. Hawa dingin yang menusuk tidak lagi ada.
Mario dan Saretha saling berpandangan, air mata haru mengalir di pipi mereka.
Mereka berhasil. Mereka memeluk satu sama lain erat-erat, tidak peduli dengan debu kursi yang baru saja terbakar.
"Sudah berakhir, Yang," bisik Mario, mengecup kening Saretha.
"Iya, sudah berakhir," jawab Saretha, "Akhirnya."
Rumah itu kini terasa damai, benar-benar damai.
Mereka tidak lagi takut. Teror itu telah usai, dan kini, mereka bisa memulai hidup baru di rumah ini tanpa bayangan kelam masa lalu yang menghantui.
TAMAT
Tulisannya berbunyi: "Satu-satunya jalan, adalah dengan kembali ke akar."
"Saretha! Akar! Kita harus kembali ke awal!" seru Mario. Ia menarik Saretha yang masih ketakutan, menunjuk ke arah kursi goyang itu.
Saretha hanya bisa mengangguk yang masih gemetar. Nenek Gayatri melayang semakin dekat, tangannya menggapai-gapai ke arah Saretha, siap mengambilnya.
Mario melepaskan pelukan Saretha dan berlari ke arah kursi goyang itu. Ia mengabaikan hawa dingin yang menusuk, mengabaikan teriakan marah Nenek Gayatri. Ia mencari di bawah kursi, di sandaran, di mana saja.
Saretha, yang melihat Mario dalam bahaya, berteriak, "Mario! Jangan!"
Namun, Mario tidak peduli. Ia terus mencari, dan akhirnya, tangannya menyentuh sesuatu yang kecil dan keras di bawah bantal beludru. Itu adalah sebuah jimat kecil yang diukir dengan simbol kuno.
Mungkin ini yang dimaksud kakek Saretha dengan akar. Jimat itu terasa dingin, tapi tidak dingin yang menusuk seperti kursi itu. Ini adalah dingin yang damai.
"Ini! Nenek, ini yang kau cari!" teriak Mario, mengangkat jimat itu ke udara.
Seketika, Nenek Gayatri berhenti bergerak. Sorot matanya yang merah meredup. Ia tidak lagi marah, tapi terlihat putus asa. Ia menatap jimat di tangan Mario, lalu menatap kursi goyang di belakangnya. Tampaknya, jimat itu adalah kunci yang bisa mengendalikan atau bahkan mengikatnya.
"Jimat ini akan mengembalikanmu ke tempatmu!" teriak Mario.
Dengan berani, Mario melemparkan jimat itu ke arah kursi goyang.
Pluk!
Begitu jimat itu menyentuh bantal, kursi itu langsung bersinar terang. Sinar itu sangat menyilaukan mata memaksa Mario dan Saretha menutup mata mereka.
"ARRRGGGHH!"
Nenek Gayatri menjerit nyaring. Jeritannya bukan lagi jeritan amarah, melainkan jeritan kesakitan dan kekalahan. Tubuhnya yang samar-samar mulai menyusut, tertarik ke dalam kursi.
Duk! Duk!
Kursi itu bergoyang hebat, seolah ada badai yang bersembunyi di dalamnya.
Saat sinar itu meredup, suara jeritan itu pun menghilang. Kursi goyang itu berhenti bergoyang.
Seketika, api biru kecil muncul di bawah kursi, lalu merambat cepat, membakar seluruh kursi goyang itu hingga menjadi abu. Api itu tidak membakar apa pun di sekitarnya hanya membakar kursi itu sampai tak bersisa.
Saat api padam, keheningan kembali datang.
Kegelapan di ruang tamu terasa normal. Hawa dingin yang menusuk tidak lagi ada.
Mario dan Saretha saling berpandangan, air mata haru mengalir di pipi mereka.
Mereka berhasil. Mereka memeluk satu sama lain erat-erat, tidak peduli dengan debu kursi yang baru saja terbakar.
"Sudah berakhir, Yang," bisik Mario, mengecup kening Saretha.
"Iya, sudah berakhir," jawab Saretha, "Akhirnya."
Rumah itu kini terasa damai, benar-benar damai.
Mereka tidak lagi takut. Teror itu telah usai, dan kini, mereka bisa memulai hidup baru di rumah ini tanpa bayangan kelam masa lalu yang menghantui.
TAMAT
Other Stories
Death Cafe
Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...
Penulis Misterius
Risma, 24 tahun, masih sulit move on dari mantan kekasihnya, Bastian, yang kini dijodohkan ...
The Pavilion
35 siswa 12 IPA 3 dan 4 guru mereka, sudah bersiap untuk berangkat guna liburan bersama ke ...
Aku Bukan Pilihan
Cukup lama Rama menyendiri selepas hubungannya dengan Santi kandas, kini rasa cinta itu da ...
Arti Yang Tak Pernah Usai
Siapa sangka liburan akhir tahun beberapa mahasiswa ini membawa dua insan menyelesaikan se ...
Keluarga Baru
Surya masih belum bisa memaafkan ayahnya karena telah meninggalkannya sejak kecil, disaat ...