November Kelabu

Reads
1.7K
Votes
0
Parts
11
Vote
Report
November kelabu
November Kelabu
Penulis Moycha Zia

Chapter 1 Bayangan Di Rumah Sendiri

Di rumah megah dengan taman yang terawat sempurna, Veya hanyalah bayangan.

Gadis itu berjalan melewati ruang tamu yang luas, tempat foto-foto keluarga terpajang rapi, tapi tak ada satu pun yang menunjukkan keberadaannya. Ia hanya ada di dalam bingkai-bingkai yang berisi senyum sang ayah, Hendra, dan kakak perempuannya, Rania.

Foto ibunya yang telah tiada selalu ia simpan di dalam laci meja belajarnya menjadi satu-satunya pengingat akan cinta yang pernah ia rasakan.

Sejak ibunya meninggal dua tahun lalu, rumah ini terasa seperti neraka yang dingin.

Tawa Rania dan ayah yang hangat hanya ditujukan untuk satu sama lain.

Veya dengan seragam sekolah yang rapi dan ransel di bahu hanya lewat berharap ada yang menoleh dan bertanya, "Bagaimana sekolahmu, Veya?" Tapi kata-kata itu tak pernah keluar.

"Rania, jangan lupa nanti malam kita makan di luar, ya. Ayah sudah pesan tempat di restoran favoritmu," suara Ayah menggema dari ruang makan, hangat dan penuh kasih.

Veya yang baru saja melangkah ke dapur, menunduk. Ia meraih segelas air dan meminumnya dengan cepat. Rania yang sedang sibuk memilih tas, bahkan tak meliriknya, "Ayah, Rania ke atas dulu mau siap-siap."

Veya memandang punggung kakaknya yang melangkah menjauh. Ia mencoba memanggil, "Kak Rania ..." tapi suara itu terlalu pelan, seperti bisikan yang tertelan oleh keheningan.

Suatu sore, Veya pulang dengan senyum tipis di wajahnya. Di tangannya, selembar kertas bertuliskan Juara 1 Lomba Sains Tingkat Kabupaten tampak berkilau.

Ia membayangkan Ayah akan bangga dan akhirnya melihat usahanya.

"Ayah... lihat ini," Veya menyodorkan kertas itu dengan tangan gemetar.

Hendra, sang Ayah, menoleh sekilas dari laptopnya. "Bagus, Veya. Simpan saja," ucapnya tanpa ekspresi, lalu kembali fokus pada layar.

Hati Veya mencelos. Ia menoleh ke arah Rania yang sedang tertawa sambil menonton televisi. "Kak Rania, aku menang lomba," ujarnya, mencoba lagi.

"Oh ya?" Rania menoleh sejenak, lalu kembali ke layar, "Hebat. Lain kali jangan ganggu kalau lagi nonton, ya."

Veya berdiri terpaku di tengah ruangan sambil memegang erat kertas prestasinya.

Kertas itu seolah menjadi ejekan baginya. Air mata menggenang di pelupuk matanya. Ia menyadari, tak peduli seberapa keras ia berusaha, maka akan selalu menjadi bayangan yang tak dianggap.

Di rumahnya sendiri, Veya merasa paling kesepian. Ia meremas kertas itu, lalu berlari kembali ke kamarnya memeluk bingkai foto ibunya dan menangis dalam diam, kamar yang sepi.

Veya memeluk bingkai foto ibunya. Foto itu adalah satu-satunya jembatan yang menghubungkannya dengan masa lalu, masa di mana ia pernah merasa dicintai dan utuh.

Wajah sang ibu tersenyum hangat, senyum yang kini hanya bisa ia kenang. "Ibu... kenapa Ibu pergi?" bisik Veya dengan suara parau.

Tes! Tes! Tes!

Air matanya jatuh, membasahi kaca bingkai.
Ia teringat masa kecilnya. Ibunya selalu menjadi orang pertama yang merayakan setiap prestasi kecil Veya.

Ayah memang sibuk, tapi ibunya selalu memastikan ia merasa spesial. Namun, semuanya berubah setelah ibunya meninggal karena penyakit yang tak pernah dijelaskan secara rinci.

Ayah berubah menjadi sosok asing yang dingin, dan Rania—kakak yang dulu pernah dekat dengannya—kini melihatnya seolah Veya adalah beban.

Veya menoleh ke arah jendela, menatap taman yang diterangi lampu-lampu. Ia melihat ayahnya dan Rania duduk bersama di teras.

Terdengar tawa riang Rania, dan senyum Ayah yang Veya dambakan. Mereka tampak seperti keluarga bahagia yang lengkap. Sebuah pemandangan yang menyakitkan, seolah Veya memang tidak pernah ada dalam cerita mereka.

Veya kembali menunduk, menatap kertas prestasi yang kini sudah kusut di tangannya. Ia ingin berteriak, dan bertanya, "Mengapa harus diperlakukan seperti ini? Apa kesalahannya? Apakah memang tidak diinginkan?"

Dengan tangan gemetar, Veya bangkit. Ia mengambil gunting dari laci mejanya, dan dengan hati hancur, ia memotong kertas prestasinya menjadi potongan-potongan kecil.

Potongan-potongan itu jatuh seperti kepingan-kepingan harapan yang hancur. Ia tidak butuh pengakuan dari mereka lagi. Ia sudah lelah. Ia hanya ingin merasakan cinta yang hilang.

Malam itu, Veya tidur dalam balutan air mata dan kekecewaan. Ia memeluk erat foto ibunya berharap bisa terbangun dan kembali ke masa lalu, di mana ia tidak pernah menjadi bayangan di rumahnya sendiri.

****
Pagi menjelang, dan Veya bangkit dari tempat tidurnya dengan mata bengkak. Ia menatap pantulan dirinya di cermin, mencoba menutupi jejak air mata semalaman.

Veya menarik napas panjang, menguatkan diri. Ia harus pergi ke sekolah. Mungkin di sana, ia bisa sejenak melupakan semua rasa sakit ini.

Di meja makan, Ayah dan Rania sudah duduk. Rania sedang tertawa lepas sambil menunjukkan foto di ponselnya kepada Ayah. Veya meraih selembar roti dan selai, lalu bersiap untuk pergi tanpa sepatah kata pun.

"Veya," panggil Ayah, suaranya terdengar datar.

Veya menoleh, ada secercah harapan yang muncul, "Ya, Ayah?"

"Nanti sepulang sekolah, kamu bersihkan gudang. Jangan lupa tumpukan buku-buku di pojok itu dipindahkan ke garasi," perintah Ayah, tanpa menatap matanya.

Harapan yang baru saja muncul di hati Veya langsung musnah. Ia hanya mengangguk pelan, kemudian melangkah keluar. Pintu rumah yang tertutup di belakangnya seolah mengunci semua rasa sakit dan kesepian di dalam.


Other Stories
Hujan Yang Tak Dirindukan

Mereka perempuan-perempuan kekar negeri ini. Bertudung kain lusuh, berbalut baju penuh n ...

Di Bawah Panji Dipenogoro

Damar, adalah seorang petani yang terpanggil untuk berjuang bersama mengusir penjajah Bela ...

Dante Fair Tale

Dante, bocah kesepian berusia 9 tahun, membuat perjanjian dengan peri terkurung dalam bola ...

Way Back To Love

Karena cinta, kebahagiaan, dan kesedihan  datang silih berganti mewarnai langkah hidup ki ...

Horor

horor ...

Cahaya Menembus Senesta

Manusia tidak akan mampu hidup sendiri, mereka membutuhkan teman. Sebab dengan pertemanan, ...

Download Titik & Koma