Jodoh Nyasar Alina

Reads
1.2K
Votes
0
Parts
10
Vote
Report
Penulis Moycha Zia

Chapter 2 Kencan Buta Durian

Pagi harinya, jam 7 kurang lima menit. Alina sudah rapi dengan baju terbaiknya. Ia duduk di teras dengan wajah kusut, sementara Nyak mondar-mandir kegirangan seperti mau menjemput menantu presiden.

Nyak, "Alina, duduknya yang manis! Jangan kayak orang nahan berak gitu! Nanti calon kamu kaget."

Alina, "Nyak, ini kencan buta, bukan mau wawancara kerja. Lagian, kenapa sih harus jam 7 pagi? Herman ini mau kerja atau mau ngapel?"

Nyak, "Kerja! Dia kerja di pabrik tahu, jadi jam segini udah kelar. Itu namanya pekerja keras! Lihat, calonmu sudah datang!"

Dari kejauhan, terlihat seorang pria kurus menuntun gerobak dorong. Gerobaknya penuh dengan tumpukan durian. Pria itu memakai kaus oblong bergambar singa, celana jeans belel, dan sandal jepit.

Nyak menyambut calon mantu, "Alhamdulillah, Herman! Sini, Nak! Itu beneran bawa durian segitu banyaknya?"

Herman tersenyum lebar, "Iya, Bu. Kata Bapak, kalau mau ngapel ke rumah gadis harus bawa yang terbaik. Biar kayak filosofi durian, Bu. Aromanya nusuk, rasanya manis. Kayak saya, Bu."

Alina menahan tawa. Dalam hati, ia membatin, Lebih kayak filosofi durian, aromanya nusuk hidung, bikin pusing, lalu muntah.

Nyak melirik ke arah Alina, "Wah, mantap! Alina, kamu dengerin, tuh!"

Herman langsung menyodorkan sebuah durian yang paling besar kepada Alina.

Herman, "Ini, Nona. Ini durian terbaik. Namanya Durian Cinta. Kalau Nona makan ini, dijamin langsung jatuh cinta sama saya."

Alina membeo, "Durian Cinta? Itu kan nama martabak manis di gang sebelah."

Herman tertawa canggung, "Itu kan cuma nama, Nona. Yang penting, isinya. Nah, Nona mau nyobain?"

Herman mengambil pisau, lalu dengan cekatan membelah durian itu. Baunya langsung menyeruak ke seluruh teras, sehingga menusuk hidung Alina.

Alina mengipas-ngipas hidungnya, "Eh, Herman, ini..."

Herman, "Kenapa, Nona? Enggak suka durian? Enggak apa-apa! Saya siap berubah demi Nona. Nona suka apa? Duku? Rambutan? Saya bisa bawa satu truk kalau Nona mau!"

Alina memaksakan senyum, "Enggak, bukan gitu. Saya itu alergi."

Herman, "Alergi? Ya ampun, kok bisa? Tenang, Nona. Saya punya solusi! Kalau alergi durian, kita bisa pake cara lain."

Herman tiba-tiba mengeluarkan sebuah botol kecil berisi cairan kental berwarna hijau. Baunya mirip minyak angin dicampur balsem.

Herman mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, "Ini obat alergi turun-temurun dari nenek saya. Tinggal dioles di belakang telinga, langsung sembuh. Saya jamin! Nenek saya dulu mau mati karena alergi, tapi pakai ini langsung hidup lagi."

Alina membelalakkan mata. Ia membayangkan dirinya mengoleskan cairan aneh itu di telinganya.

Alina, "Herman, makasih banyak. Tapi saya alergi akut. Saya kalau kena durian, muka saya langsung meledak."

Herman langsung panik, "M-meledak? Serius?!"

Alina, "Iya. Kalau saya nggak pergi sekarang, muka saya bisa jadi kayak martabak gosong. Herman, saya harus pergi. Makasih ya, udah datang."

Alina langsung bangkit dari kursinya dan pura-pura lari ke dalam rumah. Ia melirik Nyak, berharap mengerti.

Tapi Nyak malah menatapnya dengan tatapan tajam, "Awas ya, nanti kalau kamu udah masuk. Nyak, cekek kamu!"

Nyak segera mendekati Herman, "Herman, maafin anak saya. Dia emang suka dramatis. Dia emang alergi durian, tapi dia juga alergi sama cowok yang terlalu durian."

Herman mengangguk-angguk, wajahnya pucat. Dia lalu mendorong gerobak duriannya keluar, meninggalkan teras Nyak yang kini dipenuhi aroma durian dan balsem.

Alina yang mengintip dari balik tirai menghela napas lega. Misi kencan buta durian berhasil digagalkan.

****

Alina masih mengintip dari balik gorden, napasnya tersengal-sengal. Nyak masuk ke dalam rumah, menatap Alina dengan tatapan tajam.

Nyak, "Alina, keluar kamu sekarang! Mau jadi Spider-Man? Ngumpet di balik tirai kayak mau nyerang musuh aja!"

Alina berjalan keluar, pura-pura batuk, "Nyak, hidung Alina gatal. Efek alergi. Parah, Nyak. Bisa-bisa hidung Alina melar kayak hidung babi."

Nyak melipat tangan di dada, "Halah! Paling kamu cuma drama! Herman itu calon mantu idaman! Udah ganteng, sopan, pinter bikin durian jadi durian Cinta lagi."

Alina, "Nyak, itu cuma Herman yang kasih nama! Lagian, dia aneh! Siapa coba yang datang kencan buta bawa gerobak durian? Kayak mau jualan, Nyak! Terus, lagi-lagi Nyak bilang dia ganteng. Nyak, dia itu mirip tokoh di serial upin-ipin yang suka pakai peci miring-miring itu!"

Nyak, "Hah? Siapa? Jarwo?"

Alina, "Bukan, Nyak! Ya pokoknya mirip lah. Alina nggak mau nikah sama dia."

Nyak, "Pokoknya Nyak nggak mau tahu! Nyak udah bikin janji sama ibunya Herman. Nanti kalau Nyak batalin, Nyak nggak bisa dapet diskon beli tahu lagi!"

Alina terbelalak, "Astaga, Nyak! Jadi ini semua demi diskon tahu?! Nyak korbanin Alina demi tahu?!"

Nyak panik, "Ya, nggak gitu juga sih. Tapi lumayan kan, nak? Bisa ngirit uang belanja. Terus, Nyak juga udah janji sama Herman, kalau dia sukses bikin kamu jatuh cinta, dia bakal kasih Nyak durian gratis seumur hidup."

Alina, "Nyak, itu suap namanya!"

Nyak, "Bukan suap! Ini namanya perjanjian dagang yang menguntungkan kedua belah pihak."


Tok! Tok!


Tiba-tiba, dari luar terdengar suara ketukan pintu. Nyak dan Alina saling pandang. Nyak langsung sumringah.

Nyak, "Itu pasti Herman. Mungkin dia mau kasih durian lagi. Ayah calon mantu Nyak emang pengertian."

Nyak membuka pintu dengan senyum lebar, tapi senyumnya langsung luntur saat melihat siapa yang datang. Itu Pak RT, tetangga Nyak.

Pak RT, "Nyak, ini gimana? Tadi Herman lari-lari kayak dikejar anjing, terus gerobak duriannya nyangkut di pos ronda. Bikin jalanan macet."

Nyak, "Ya ampun! Gerobak nyangkut? Terus duriannya gimana, Pak RT?"

Pak RT, "Meledak! Ada satu durian yang meledak kena batu. Baunya kayak bau surga, Nyak. Anak-anak kecil di gang pada berebut durian, terus nangis-nangis karena ketiban durian."

Nyak memijat pelipis. Alina menahan tawa, tapi air matanya sudah keluar.
Nyak, "Ya ampun. Maafin anak saya ya, Pak RT. Dia memang alergi, jadi agak lebay."

Alina berteriak dari dalam rumah, "NYAK! ALINA MAU PULANG AJA KE EROPA! ADA PESAWAT JAM 10 PAGI!"

Nyak berbisik ke Pak RT, "Pak RT, kalau ada calon mantu lagi, jangan suruh dia bawa durian. Mending bawa singkong aja, lebih aman."

Pak RT hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil pergi. Nyak kembali masuk, menatap Alina dengan wajah pasrah.

Nyak, "Alina, kamu lihat, kan? Ini semua salah kamu. Gara-gara kamu, gerobak Herman nyangkut, duriannya meledak, Nyak malu di depan Pak RT! Pokoknya kamu harus dapet jodoh! Titik!"

Alina, "Nyak, Alina bukan boneka yang bisa Nyak jodoh-jodohin! Alina punya hati, Nyak! Alina mau cari jodoh yang bisa bikin Alina ketawa, bukan yang bikin perut Alina sakit karena kebanyakan makan durian!"

Nyak hanya terdiam. Dia memandang Alina, lalu memandang koper besar di pojok ruangan.

Dia mulai berpikir, mungkin jodoh Alina tidak akan pernah datang dengan gerobak durian. Tapi, mungkin datang dengan cara lain yang lebih aneh.


Other Stories
Mauren, Lupakan Masa Lalu

“Nico bangun Sayang ... kita mulai semuanya dari awal anggap kita mengenal pribadi ya ...

Menantimu

“Belum tidur Zani?” “Belum. Ngak bisa tidur.” “Hehe. Pasti ada yang dipikirin ...

Hafidz Cerdik

Adnan bersyukur masih ada acara bermanfaat seperti *Hafidz Cilik Indonesia*, tempat ia dan ...

Egler

Anton, anak tunggal yang kesepian karena orang tuanya sibuk, melarikan diri ke dunia game ...

Dua Bintang

Bintang memang selalu setia. Namun, hujan yang selalu turun membuatku tak menyadari keha ...

Pertemuan Di Ujung Kopi

Dari secangkir kopi yang tumpah, Aira tak pernah tahu bahwa hidupnya akan berpapasan kemba ...

Download Titik & Koma