Cjapter 7 Reihan Dan Rahasia Jalan Pulang
Sore hari, setelah kencan buta yang berakhir dengan tragedi lele, Alina duduk sendirian di warung kopi depan gang. Ia memesan es teh manis dan hanya bisa menghela napas panjang. Tiba-tiba, sebuah motor berisik berhenti di depannya. Reihan, sang kurir, tersenyum.
Reihan, "Mbak Alina? Kok sendirian? Nggak jadi mancing lele?"
Alina, "Mancing? Itu sudah selesai. Aku rasa yang dimancing sama ibuku sendiri. Buat dijodoh-jodohin."
Reihan tertawa, "Saya denger ceritanya dari Pak RT. Katanya calonnya kabur gara-gara digigit lele."
Alina, "Iya. Semuanya aneh. Ada yang bawa durian, ada yang nyasar, ada yang kesurupan ikan. Aku capek, Reihan."
Reihan duduk di kursi kosong di depannya. Ia memesan kopi susu.
Reihan, "Mbak Alina capek kenapa? Capek dicariin jodoh, atau capek dapet jodoh yang aneh?"
Alina, "Dua-duanya. Aku cuma pengen kerja. Aku pengen punya karier. Aku udah susah-susah sekolah di luar negeri, tapi ibuku cuma mikirin aku nikah."
Reihan, "Jadi, Mbak Alina mau balik lagi ke luar negeri?"
Alina, "Pengennya sih begitu. Tapi, aku juga nggak bisa ninggalin ibuku."
Reihan menyeruput kopinya. Ia menatap Alina dengan mata yang serius.
Reihan, "Mbak tahu nggak? Kita itu kalau cari jalan nggak selalu harus lurus. Kadang, kita harus belok. Kadang, kita harus muter. Tapi yang penting, kita tahu di mana jalan pulang kita."
Alina mengerutkan dahi, "Jalan pulang? Maksudnya?"
Reihan, "Iya. Jalan pulang itu bukan cuma rumah, Mbak. Jalan pulang itu bisa jadi orang. Atau bisa jadi tempat di mana kita ngerasa nyaman. Mbak Alina kan sekolah jauh-jauh. Itu juga jalan pulang, Mbak Alina. Begitu juga Mbak Alina sekarang. Mbak mungkin nggak sadar, tapi Mbak lagi di jalan pulang."
Alina terdiam. Kata-kata Reihan terasa sederhana, tapi begitu dalam.
Alina menggelengkan kepala, "Aku nggak ngerti."
Reihan menjelaskan, "Gini deh. Mbak Alina sekolah di luar negeri, terus sekarang balik ke rumah. Itu kan jalan pulang Mbak. Nah, sekarang Nyak mau jodohin Mbak. Mungkin itu bukan jalan Mbak. Tapi, Mbak ketemu sama saya. Mungkin itu jalan lain. Tapi tetap, tujuannya sama. Pulang."
Reihan tersenyum. Alina tidak bisa menahan senyumnya. Untuk pertama kalinya, ia merasa ada orang yang mengerti perasaannya, tanpa harus menghakiminya.
Alina tersenyum, "Makasih, Reihan."
Reihan, "Sama-sama. Saya juga makasih sama Mbak. Gara-gara Mbak, saya jadi tahu kalau lele itu bisa gigit orang."
Keduanya tertawa. Di tengah tawa itu, Alina menyadari sesuatu. Mungkin, jalan pulang yang sebenarnya tidak perlu dicari dengan kencan buta yang konyol. Mungkin, jalan pulangitu sudah ada di depannya. Datang setiap hari dengan mengantar paket dan senyum.
Reihan, "Mbak Alina? Kok sendirian? Nggak jadi mancing lele?"
Alina, "Mancing? Itu sudah selesai. Aku rasa yang dimancing sama ibuku sendiri. Buat dijodoh-jodohin."
Reihan tertawa, "Saya denger ceritanya dari Pak RT. Katanya calonnya kabur gara-gara digigit lele."
Alina, "Iya. Semuanya aneh. Ada yang bawa durian, ada yang nyasar, ada yang kesurupan ikan. Aku capek, Reihan."
Reihan duduk di kursi kosong di depannya. Ia memesan kopi susu.
Reihan, "Mbak Alina capek kenapa? Capek dicariin jodoh, atau capek dapet jodoh yang aneh?"
Alina, "Dua-duanya. Aku cuma pengen kerja. Aku pengen punya karier. Aku udah susah-susah sekolah di luar negeri, tapi ibuku cuma mikirin aku nikah."
Reihan, "Jadi, Mbak Alina mau balik lagi ke luar negeri?"
Alina, "Pengennya sih begitu. Tapi, aku juga nggak bisa ninggalin ibuku."
Reihan menyeruput kopinya. Ia menatap Alina dengan mata yang serius.
Reihan, "Mbak tahu nggak? Kita itu kalau cari jalan nggak selalu harus lurus. Kadang, kita harus belok. Kadang, kita harus muter. Tapi yang penting, kita tahu di mana jalan pulang kita."
Alina mengerutkan dahi, "Jalan pulang? Maksudnya?"
Reihan, "Iya. Jalan pulang itu bukan cuma rumah, Mbak. Jalan pulang itu bisa jadi orang. Atau bisa jadi tempat di mana kita ngerasa nyaman. Mbak Alina kan sekolah jauh-jauh. Itu juga jalan pulang, Mbak Alina. Begitu juga Mbak Alina sekarang. Mbak mungkin nggak sadar, tapi Mbak lagi di jalan pulang."
Alina terdiam. Kata-kata Reihan terasa sederhana, tapi begitu dalam.
Alina menggelengkan kepala, "Aku nggak ngerti."
Reihan menjelaskan, "Gini deh. Mbak Alina sekolah di luar negeri, terus sekarang balik ke rumah. Itu kan jalan pulang Mbak. Nah, sekarang Nyak mau jodohin Mbak. Mungkin itu bukan jalan Mbak. Tapi, Mbak ketemu sama saya. Mungkin itu jalan lain. Tapi tetap, tujuannya sama. Pulang."
Reihan tersenyum. Alina tidak bisa menahan senyumnya. Untuk pertama kalinya, ia merasa ada orang yang mengerti perasaannya, tanpa harus menghakiminya.
Alina tersenyum, "Makasih, Reihan."
Reihan, "Sama-sama. Saya juga makasih sama Mbak. Gara-gara Mbak, saya jadi tahu kalau lele itu bisa gigit orang."
Keduanya tertawa. Di tengah tawa itu, Alina menyadari sesuatu. Mungkin, jalan pulang yang sebenarnya tidak perlu dicari dengan kencan buta yang konyol. Mungkin, jalan pulangitu sudah ada di depannya. Datang setiap hari dengan mengantar paket dan senyum.
Other Stories
Hujan Yang Tak Dirindukan
Mereka perempuan-perempuan kekar negeri ini. Bertudung kain lusuh, berbalut baju penuh n ...
Melupakan
Agatha Zahra gadis jangkung berwajah manis tengah memandang hujan dari balik kaca kamarn ...
Cinta Satu Paket
Renata ingin pasangan kaya demi mengangkat derajat dirinya dan ibunya. Berbeda dari sahaba ...
Aku Pamit Mencari Jati Diri??
Seorang anak kecil yang pernah mengalami perlakuan tidak mengenakan dalam hidupnya. Akibat ...
Bad Close Friend
Denta, siswa SMA 91 Cirebon yang urakan dan suka tawuran, tak pernah merasa cocok berteman ...
Suara Cinta Gadis Bisu
Suara cambukan menggema di mansion mewah itu, menusuk hingga ke relung hati seorang gadis ...