Chapter 10 Jodoh Sebenarnya
Pagi itu, rumah Nyak penuh dengan kegembiraan. Nyak sibuk menyiapkan kopi, sementara tiga abang Alina sedang berdebat soal cincin tunangan. Alina dan Reihan duduk di teras, wajah mereka dipenuhi senyum.
Nyak datang dengan nampan berisi kopi, "Reihan, ini kopi buat kamu. Kopi bikinan Nyak ini beda, Nak. Ini kopi restu. Kalau kamu minum, dijamin rejeki lancar, jodoh langgeng, dan dapat aura yang bagus."
Reihan tertawa, "Makasih, Bu."
Tiba-tiba, tiga abang Alina datang. Rahmat membawa cincin terbuat dari perak, Ridwan membawa joran pancing, dan Rizky membawa sebotol parfum.
Rahmat, "Reihan, ini cincin dari gue. Biar lo sama Alina langgeng. Jangan kayak cincin gue, gampang karatan."
Ridwan, "Mas, ini joran pancing dari gue. Biar lo sama Alina sering-sering mancing bareng gue. Biar kita jadi satu tim."
Rizky, "Mas, ini parfum dari gue. Biar aura lo bagus. Nggak kayak aura gue, kata Nyak aura balsem."
Reihan tertawa terbahak-bahak. Ia mengambil semua barang itu dengan wajah bahagia. Alina hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Ibunya dan abang-abangnya memang aneh, tapi mereka juga yang paling peduli.
Nyak, "Alina, kamu lihat, kan? Jodoh kamu itu datang dari tempat yang nggak kamu duga. Nyak pikir dari durian, ternyata dari paket. Nyak pikir dari lele, ternyata dari... eh, bukan lele. Reihan. Ya, dari Reihan."
Alina tersenyum. Ia menatap Reihan, yang kini sedang mengobrol dengan abang-abangnya soal mancing.
Alina, "Nyak, Reihan itu bukan tukang paket biasa. Reihan itu tukang paket yang bisa bikin Alina ketawa."
Reihan menoleh, "Alina juga bukan sarjana biasa. Alina itu, sarjana yang bisa bikin tukang paket kayak saya pura-pura pingsan."
Mereka berdua tertawa bersama. Nyak dan abang-abangnya juga ikut tertawa.
Beberapa bulan kemudian, Alina dan Reihan menikah. Mereka tidak mengadakan pesta mewah. Mereka hanya mengundang keluarga dan teman-teman dekat. Alina memutuskan untuk tidak kembali ke Eropa. Ia membuka usaha sendiri di kampung, menjual jajanan kekinian yang bahan-bahannya dari tahu buatan Herman si Durian. Sementara Reihan, ia tetap menjadi kurir paket. Tapi, kini ia memiliki misi baru, yaitu mengantarkan kebahagiaan. Dan setiap hari, ia mengantarkan paket kebahagiaan itu ke rumah Nyak.
Nyak mengambil paket dari Reihan, "Nak, kamu tahu? Sebenarnya Nyak sudah tahu kalau kamu jodohnya Alina. Soalnya, setiap kamu datang, aura di rumah ini jadi lebih cerah."
Reihan tersenyum, "Iya, Bu. Soalnya, setiap saya datang, aura saya jadi aura cinta."
Alina yang mendengar, hanya bisa tersenyum. Ia tahu, jodoh itu memang tidak perlu dicari, karena kadang, jodoh yang terbaik adalah jodoh yang nyasar, datang dengan motor berisik dan sandal jepit yang bolong, tapi membawa kebahagiaan yang tak terduga.
****
Sore hari, setelah pernikahan. Nyak, Alina, dan Reihan duduk di teras. Rahmat, Ridwan, dan Rizky sedang sibuk main game di ruang keluarga. Tiba-tiba, Nyak memandang Reihan dengan serius.
Nyak, "Reihan, kamu sekarang sudah jadi menantu Nyak. Berarti kamu harus nurutin apa kata Nyak."
Reihan meneguk ludah, "Aduh, iya, Bu. Apa itu?"
Nyak menatap Reihan dengan serius, "Kamu harus sering-sering pulang ke rumah. Jangan sampai nginep di luar."
Reihan, "Ya, Bu. Saya kan juga tinggal di sini."
Nyak melotot, "Pokoknya Nyak nggak mau tahu. Kalau kamu pulang telat, Nyak akan suruh Rahmat, Ridwan, sama Rizky ngejar kamu pakai motor mereka."
Alina, "Nyak! Jangan aneh-aneh! Reihan itu capek, Nyak. Kasihan."
Nyak protes, "Halah! Palingan capek angkat paket doang! Mana ada. Reihan itu kuat, kok. Ya kan, Nak?"
Reihan hanya bisa tersenyum kaku. Tiba-tiba, dari dalam rumah, terdengar suara tawa Rizky.
Rizky, "Wah, gila! Reihan, lo lihat ini! Ada video lo pura-pura pingsan pas dilamar sama Nyak! Viral, Mas!"
Reihan langsung bangkit. Ia mengambil ponsel Rizky, dan melihat sebuah video yang kini sudah ditonton ribuan orang. Video itu menampilkan adegan Reihan yang tiba-tiba pura-pura pingsan. Komentar-komentar di bawah video itu juga kocak.
Reihan kaget, "Ya ampun! Siapa yang upload?!"
Rizky terkekeh, "Gue! Hehehe! Kata orang-orang lo keren, Mas. Pura-pura pingsannya totalitas."
Alina dan Nyak melihat video itu. Nyak langsung sumringah.
Nyak, "Reihan, kamu lihat, kan? Kamu itu jodohnya Alina. Buktinya, kamu juga bisa bikin Nyak terkenal. Nyak jadi selebgram!"
Alina tersenyum kecut, "Nyak, itu aib!"
Nyak, "Aib apaan? Ini namanya viral! Reihan, besok kamu harus pura-pura pingsan lagi, ya! Nyak mau videoin lagi. Biar followers Nyak nambah."
Reihan hanya bisa pasrah. Ia tahu, hidupnya akan dipenuhi dengan drama. Tapi, ia tidak masalah. Karena, di tengah drama itu, ada Alina, gadis yang ia cintai. Dan di tengah drama itu, ia menemukan jalan pulang yang sebenarnya.
Beberapa bulan kemudian, Alina dan Reihan hidup bahagia. Alina membuka usaha kerajinan tangan, dan Reihan tetap menjadi kurir. Setiap kali Reihan mengantar paket, ia selalu pura-pura pingsan jika ada kamera. Nyak menjadi selebgram dadakan, dan tiga abang Alina menjadi manajer pribadinya.
Suatu hari, Nyak mengumpulkan Alina, Reihan, dan abang-abangnya.
Nyak, "Kalian tahu? Nyak itu sebenarnya nggak salah. Reihan memang jodohnya Alina. Nyak yang jodohin, kok."
Alina protes, "Nyak! Alina sama Reihan jodohnya dari Tuhan!"
Nyak, "Iya, Nyak tahu. Tapi Nyak yang bantu kasih jalan. Kalau Nyak nggak cariin kamu calon mantu, kamu nggak bakal ketemu Reihan. Jadi, Nyak ini mediator jodoh. Nyak ini malaikatnya."
Reihan dan Alina hanya bisa tertawa. Nyak memang lucu, tapi ia benar. Tanpa konyolnya Nyak, tanpa drama-drama itu, Reihan tidak akan pernah bertemu dengan Alina. Dan mereka tahu, kisah mereka adalah kisah tentang jodoh yang nyasar, tapi menemukan jalan pulang yang sebenarnya.
_TAMAT_
Nyak datang dengan nampan berisi kopi, "Reihan, ini kopi buat kamu. Kopi bikinan Nyak ini beda, Nak. Ini kopi restu. Kalau kamu minum, dijamin rejeki lancar, jodoh langgeng, dan dapat aura yang bagus."
Reihan tertawa, "Makasih, Bu."
Tiba-tiba, tiga abang Alina datang. Rahmat membawa cincin terbuat dari perak, Ridwan membawa joran pancing, dan Rizky membawa sebotol parfum.
Rahmat, "Reihan, ini cincin dari gue. Biar lo sama Alina langgeng. Jangan kayak cincin gue, gampang karatan."
Ridwan, "Mas, ini joran pancing dari gue. Biar lo sama Alina sering-sering mancing bareng gue. Biar kita jadi satu tim."
Rizky, "Mas, ini parfum dari gue. Biar aura lo bagus. Nggak kayak aura gue, kata Nyak aura balsem."
Reihan tertawa terbahak-bahak. Ia mengambil semua barang itu dengan wajah bahagia. Alina hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Ibunya dan abang-abangnya memang aneh, tapi mereka juga yang paling peduli.
Nyak, "Alina, kamu lihat, kan? Jodoh kamu itu datang dari tempat yang nggak kamu duga. Nyak pikir dari durian, ternyata dari paket. Nyak pikir dari lele, ternyata dari... eh, bukan lele. Reihan. Ya, dari Reihan."
Alina tersenyum. Ia menatap Reihan, yang kini sedang mengobrol dengan abang-abangnya soal mancing.
Alina, "Nyak, Reihan itu bukan tukang paket biasa. Reihan itu tukang paket yang bisa bikin Alina ketawa."
Reihan menoleh, "Alina juga bukan sarjana biasa. Alina itu, sarjana yang bisa bikin tukang paket kayak saya pura-pura pingsan."
Mereka berdua tertawa bersama. Nyak dan abang-abangnya juga ikut tertawa.
Beberapa bulan kemudian, Alina dan Reihan menikah. Mereka tidak mengadakan pesta mewah. Mereka hanya mengundang keluarga dan teman-teman dekat. Alina memutuskan untuk tidak kembali ke Eropa. Ia membuka usaha sendiri di kampung, menjual jajanan kekinian yang bahan-bahannya dari tahu buatan Herman si Durian. Sementara Reihan, ia tetap menjadi kurir paket. Tapi, kini ia memiliki misi baru, yaitu mengantarkan kebahagiaan. Dan setiap hari, ia mengantarkan paket kebahagiaan itu ke rumah Nyak.
Nyak mengambil paket dari Reihan, "Nak, kamu tahu? Sebenarnya Nyak sudah tahu kalau kamu jodohnya Alina. Soalnya, setiap kamu datang, aura di rumah ini jadi lebih cerah."
Reihan tersenyum, "Iya, Bu. Soalnya, setiap saya datang, aura saya jadi aura cinta."
Alina yang mendengar, hanya bisa tersenyum. Ia tahu, jodoh itu memang tidak perlu dicari, karena kadang, jodoh yang terbaik adalah jodoh yang nyasar, datang dengan motor berisik dan sandal jepit yang bolong, tapi membawa kebahagiaan yang tak terduga.
****
Sore hari, setelah pernikahan. Nyak, Alina, dan Reihan duduk di teras. Rahmat, Ridwan, dan Rizky sedang sibuk main game di ruang keluarga. Tiba-tiba, Nyak memandang Reihan dengan serius.
Nyak, "Reihan, kamu sekarang sudah jadi menantu Nyak. Berarti kamu harus nurutin apa kata Nyak."
Reihan meneguk ludah, "Aduh, iya, Bu. Apa itu?"
Nyak menatap Reihan dengan serius, "Kamu harus sering-sering pulang ke rumah. Jangan sampai nginep di luar."
Reihan, "Ya, Bu. Saya kan juga tinggal di sini."
Nyak melotot, "Pokoknya Nyak nggak mau tahu. Kalau kamu pulang telat, Nyak akan suruh Rahmat, Ridwan, sama Rizky ngejar kamu pakai motor mereka."
Alina, "Nyak! Jangan aneh-aneh! Reihan itu capek, Nyak. Kasihan."
Nyak protes, "Halah! Palingan capek angkat paket doang! Mana ada. Reihan itu kuat, kok. Ya kan, Nak?"
Reihan hanya bisa tersenyum kaku. Tiba-tiba, dari dalam rumah, terdengar suara tawa Rizky.
Rizky, "Wah, gila! Reihan, lo lihat ini! Ada video lo pura-pura pingsan pas dilamar sama Nyak! Viral, Mas!"
Reihan langsung bangkit. Ia mengambil ponsel Rizky, dan melihat sebuah video yang kini sudah ditonton ribuan orang. Video itu menampilkan adegan Reihan yang tiba-tiba pura-pura pingsan. Komentar-komentar di bawah video itu juga kocak.
Reihan kaget, "Ya ampun! Siapa yang upload?!"
Rizky terkekeh, "Gue! Hehehe! Kata orang-orang lo keren, Mas. Pura-pura pingsannya totalitas."
Alina dan Nyak melihat video itu. Nyak langsung sumringah.
Nyak, "Reihan, kamu lihat, kan? Kamu itu jodohnya Alina. Buktinya, kamu juga bisa bikin Nyak terkenal. Nyak jadi selebgram!"
Alina tersenyum kecut, "Nyak, itu aib!"
Nyak, "Aib apaan? Ini namanya viral! Reihan, besok kamu harus pura-pura pingsan lagi, ya! Nyak mau videoin lagi. Biar followers Nyak nambah."
Reihan hanya bisa pasrah. Ia tahu, hidupnya akan dipenuhi dengan drama. Tapi, ia tidak masalah. Karena, di tengah drama itu, ada Alina, gadis yang ia cintai. Dan di tengah drama itu, ia menemukan jalan pulang yang sebenarnya.
Beberapa bulan kemudian, Alina dan Reihan hidup bahagia. Alina membuka usaha kerajinan tangan, dan Reihan tetap menjadi kurir. Setiap kali Reihan mengantar paket, ia selalu pura-pura pingsan jika ada kamera. Nyak menjadi selebgram dadakan, dan tiga abang Alina menjadi manajer pribadinya.
Suatu hari, Nyak mengumpulkan Alina, Reihan, dan abang-abangnya.
Nyak, "Kalian tahu? Nyak itu sebenarnya nggak salah. Reihan memang jodohnya Alina. Nyak yang jodohin, kok."
Alina protes, "Nyak! Alina sama Reihan jodohnya dari Tuhan!"
Nyak, "Iya, Nyak tahu. Tapi Nyak yang bantu kasih jalan. Kalau Nyak nggak cariin kamu calon mantu, kamu nggak bakal ketemu Reihan. Jadi, Nyak ini mediator jodoh. Nyak ini malaikatnya."
Reihan dan Alina hanya bisa tertawa. Nyak memang lucu, tapi ia benar. Tanpa konyolnya Nyak, tanpa drama-drama itu, Reihan tidak akan pernah bertemu dengan Alina. Dan mereka tahu, kisah mereka adalah kisah tentang jodoh yang nyasar, tapi menemukan jalan pulang yang sebenarnya.
_TAMAT_
Other Stories
Testing
testing ...
Kepentok Kacung Kampret
Renata bagai langit yang sulit digapai karena kekayaan dan kehormatan yang melingkupi diri ...
Test
Test ...
Hidup Sebatang Rokok
Suratemu tumbuh dalam belenggu cinta Ibu yang otoriter, nyaris menjadi kelinci percobaan d ...
Kelabu
Kulihat Annisa tengah duduk di sebuah batu besar di pinggir sungai bersama seorang anak ...
Bukan Cinta Sempurna
Pesona kepintarannya terpancar dengan jelas, rambut sebahunya yang biasanya dikucir ekor ...