Prolog
Malam yang tidak biasa. Ketika taburan bintang raib entah ke mana, tergantikan hembusan angin yang menderu kencang di Jalan Wastukencana. Aku meresleting jaket hingga ke leher, karena dinginnya ternyata menembus celah-celah di ruang siaran. Sesekali kudengar gemuruh petir dari langit. Semoga saja tidak lekas turun hujan, batinku. Tak rela rasanya jika sampai harus menginap di studio Dream FM untuk ke sekian kali. Bertahan sajalah, toh waktu telah menunjuk ke angka 01.50. Berarti siaranku tinggal sepuluh menit lagi. Nampaknya Robby, sang Music Director mulai terkantuk-kantuk dengan cangkir kopi yang telah kosong di samping kanannya. Sungguh, melihat tampang lelaki itu membuat kantukku sedikit menghilang, tergantikan oleh seulas senyum geli.
“Ok, Dream lover masih ada satu email yang masuk. Sepertinya akan menjadi email terakhir kita malam ini. Let see, this is from Sang Perindu,” lagi-lagi nama samaran, batinku.
“Apa yang harus kulakukan saat mulai merapal rindu? Meski aku tak pernah yakin siapa gerangan yang menanam benih ini, dan membuatku terpedaya oleh perasaan sendiri. Yang teryakini hanya damai batinku saat raga bersentuhan dengannya. Mungkinkah saat itu dia menebar serbuk rindu di ladang hatiku, yang kini tumbuh subur di dalamnya? Tentu. Aku harus mencari jawaban atas semua kegilaan ini. Padanya, pada langit yang tak berbintang,” kubacakan untaian kata itu seromantis mungkin.
Sejenak aku tersenyum sendiri. Lucu juga. Gini hari, masih ada orang yang gombal-gombalan? “Hmm... it sound romantic. Kamu pasti jago bener ngegombal ya? Tapi langit yang kamu maksud bukan Langit Putra Begawan ‘kan?” candaku. “Yang pasti thanks sudah ikut berpartisipasi dan ungkapin perasaanmu di sini. Next, kamu musti kasih tau siapa gerangan penebar benih rindu itu. Biar pesanmu tepat sasaran.”
Seketika itu Robby memberi isyarat lewat kibasan tangannya, pertanda waktu siaran kami tinggal beberapa menit lagi. “Ok. Sebagai lagu terakhir, Langit puter lagu asyik dari Hoobastank, The Reason. Specially for ‘Langit yang tak berbintang’ yang barusan diminta sama Sang Perindu—well, that’s your real name?” aku terkekeh. “So, Langit Putra Begawan pamit dulu. See you next time. Off course in my show ‘My Vintage Song’ Jadul tapi ngangenin,” ujarku manis. “Be Happy and giving inspiration to around you. Bye!” aku mengenyahkan diri dari corong microphone seraya melepas headphone yang selama lebih dari dua jam mendera kepalaku.
Done! Pekerjaanku sudah selesai. Sejenak kuhela napas panjang. Selalu ada kepuasan tersendiri setiap kali berhasil melewati aktivitas melelahkan seharian. Sungguh, aku belum sempat istirahat sejak ngampus tadi pagi. Menghadapi dua UTS yang bermodalkan sistem kebut semalam. Whatever! Yang penting semua telah berlalu. Dan aku bisa tidur sepuas mungkin malam ini.
Ponselku berpendar sejak beberapa menit yang lalu. Baru sekarang aku bisa memeriksa siapa gerangan yang mengirim SMS tengah malam begini. Perlahan aku tersenyum. Tidak salah lagi. Kirana. As always.
“Masih siaran, Lang? Bête nih, aku susah tidur. Pingin curhat.”
Kirana Naila Pratista selalu manja kalau sedang uring-uringan. Aku tahu, ia pasti ingin mengungkit topik yang sama. Tentang si anak band yang satu kampus denganku. Dan aku? Si bodoh ini hanya bisa mendengarkan curhatan tidak penting itu, seolah mampu menjawab semua risau yang berkelebat di hatinya.
Kirana sendiri seolah tidak peka, bahwa aku juga seorang lelaki. Lelaki yang tentunya memiliki alasan mendekatinya sejak tiga tahun yang lalu. Tapi tetap saja, ia bercerita tanpa peduli gejolak yang kurasakan setiap kali ia menyebut nama Bintang Praja Nugraha.
Other Stories
Kepentok Kacung Kampret
Renata bagai langit yang sulit digapai karena kekayaan dan kehormatan yang melingkupi diri ...
7 Misteri Korea
Saat liputan di Korea, pemandu Dimas dan Devi terbunuh, dan mereka jadi tertuduh. Bisakah ...
Separuh Dzarah
Saat salam terakhir dalam salat mulai terdengar, di sana juga akan mulai terdengar suara ...
Coincidence Twist
Kejadian sederhana yang tak pernah terpikirkan sedikitpun oleh Sera menyeretnya pada hal-h ...
Bunga Untuk Istriku (21+)
Laras merasa pernikahannya dengan Rendra telah mencapai titik jenuh yang aman namun hambar ...
Nona Manis ( Halusinada )
Dia berjalan ke arah lemari. Hatinya mengatakan ada sebuah petunjuk di lemari ini. Benar s ...