Pada Langit Yang Tak Berbintang

Reads
2.5K
Votes
0
Parts
15
Vote
Report
pada langit yang tak berbintang
Pada Langit Yang Tak Berbintang
Penulis Petra Shandi

1. Kamu Dan Aku Adalah Ilusi

JANUARI 2009…
LANGIT
“Langiiiitt!! Kamu di mana sih?” untuk ketiga kalinya Mbak Rossa—salah satu penyiar senior di Dream FM—menghubungiku.
“Iya. Maaf, Mbak. Sebentar lagi Langit nyampe. Ban motor meletus barusan,” Sekenanya aku memberi alasan. Kacau! Semuanya berantakan. Gara-gara birthday party semalam, kawan-kawan memaksaku buat bikin pesta kecil-kecilan di kafe biasa kami nongkrong. Padahal jelas-jelas aku menolak dengan alasan ada job ngemsi besok pagi. Tapi, masa iya sih aku tidak menghargai usaha mereka menyenangkanku? Apalagi semalam Kirana ikut bergabung dengan membawa kue tart buatan Mamanya. Sayang sekali kan buat ditolak?
“Udah sabar. Bentar lagi juga nyampe Gasibu kok,” celoteh Rangga di balik kemudinya. “Tuh, kan Bandung lagi baik-baiknya sama lo. Tumben banget jalanan lengang kayak gini?”
Aku mendengus. “Aku gak yakin kalau di simpang jalanan bakal sepi.”
Eh, Rangga malah tertawa. “Taruhan? Lo ntar traktir gue gado-gado ya, kalo tebakan lo salah.”
“Gak cukup apa traktiran semalam?” aku memperbaiki posisi duduk seraya bercermin di kaca spion sisi kiriku. Kulepas kacamata lalu melapnya dengan kain lembut. “Eh, wajahku gak pucet kan? Masih kelihatan kayak bangun tidur gak?” seketika kualihkan pandangan pada Rangga.
“Don’t worry Bro, Langit Putra Begawan kan terkenal gara-gara suaranya. Bukan tampangnya.”
“Ah, kamu ini ditanya serius,” kupasang kembali kacamata.
“Yaelah. Sensi amat pagi-pagi. Ntar kece lo ilang loh!” Rangga menepuk bahuku. “Gue denger band-nya Si Bintang lolos ke putaran final ya?”
“Hm…” aku tak begitu menghiraukan pertanyaan Rangga, malah sibuk memainkan ponsel. Sebenarnya aku malas membicarakan si anak band itu. Lelaki paling populer di fakultas Hukum UNPAD. Bukannya cemburu sih, toh aku juga memiliki beberapa ‘fans’—tentunya semenjak jadi penyiar paruh waktu di Dream FM. Hanya saja, perasaanku selalu tidak nyaman bila bersinggungan dengan Kirana. Loh? Kenapa malah Kirana yang disangkutpautkan?
Jadi begini ceritanya. Sebulan yang lalu saat babak penyisihan kompetisi Dream Band 2009. Untuk pertama kali aku ditawari menjadi MC di acara tahunan Dream FM tersebut. Sebagai penyiar pemula, tentunya aku bangga ditawari job berskala besar itu. Lumayan, penghasilanku bisa bertambah untuk bantu-bantu ayah bayar kuliah.
Ada satu band yang sudah tiga kali berturut-turut ikut kompetisi Dream Band. Angkasa Band, yang digawangi Bintang Praja Nugraha. Kebetulan dia teman satu jurusan di Fakultas Hukum, Unpad. Hanya saja, kesibukan masing-masing membuat intensitas kami main bareng sangat terbatas. Aku tahu bagaimana obsesinya untuk memenangkan kompetisi itu. Tapi setidaknya, dia sudah mendapat hasil dari jerih payah selama ini. Saking seringnya naik turun panggung di berbagai kompetisi, band mereka semakin terkenal seantero Bandung. Bahkan sempat kudengar mereka menjadi pengisi acara rutin di Petrapucino –salah satu café terkenal—setiap malam Minggu. Bisa jadi menang di Dream Band menjadi satu-satunya impian mereka, terlepas dari kontrak dengan label mayor tentunya.
Minggu pagi yang sangat panas. Lapangan Gasibu menjelma menjadi lautan anak muda, semua datang dengan berbagai gaya dan karakternya masing-masing. Tentunya anak muda Bandung selalu kreatif kalau masalah fashion. Aku ingat Kirana datang dengan kamera SLR tergantung di lehernya. Kejutan! Sepertinya dia ingin melihat pertunjukan pertamaku di depan umum. Meski sebenarnya kedatangan dia membuat nervous-ku semakin bertambah. Dari kejauhan, Kirana melambaikan tangannya padaku. Kuhampiri perempuan yang rambutnya digelung tidak beraturan itu. Damn! Dia tampak cantik dengan t-shirt Sabrina berwarna biru muda dipadu dengan celana jins pendek yang memperlihatkan tungkainya yang mulus dan jenjang.
“Aku belum telat kan, Lang?” tanya Kirana seraya menyapu keringat di dahinya dengan saputangan.
“Belum. Acaranya satu jam lagi,” aku menyerahkan satu botol air mineral dingin. “Teduhan yuk?” Kirana mengangguk lalu mengikutiku menuju tenda khusus kru.
“Wow, baju kamu keren,” komentar Kirana setelah memperhatikanku yang memakai kemeja slim fit berwarna biru. Beberapa kancingnya kubiarkan terbuka hingga t-shirt putihku terlihat sebagian.
“Kacamata gak dilepas?”
“Emang jelek ya?” sedikit tidak percaya diri aku melepas kacamata Oakley yang selalu melekat di wajahku sejak SMP.
“Nggak. Kamu seksi kok pake kacamata berbingkai item ini. Klasik,” lirihnya. “Heran deh, kenapa sih kamu ini gaya-gayanya jadul melulu? Sampe acara pun bawain lagu-lagu jadul.”
“Hey… biar jadul tapi ngangenin tau! Buktinya banyak tuh pendengar setiaku yang request lagu-lagu jadul,” belaku.
Tapi ada benarnya juga gumaman Kirana. Someday i have to change my style. Lepas kacamata mungkin? Lihat saja nanti. Karena selama ini aku baik-baik saja dengan kacamataku.
How about my show? Apa perlu kuubah juga? Ya nggak gitu juga lah. Waktu itu Robby ngasih kebebasan untuk membuat program yang pas di jam tengah malam. Lalu aku pikir, pasti menyenangkan memutar lagu lama favorit kita, seraya mengingat kenangan di baliknya. And it work! Setelah tiga bulan mengudara. Siapa sih yang tidak kenal Langit Putra Begawan? Yang bawain My Vintage Song di Dream FM? So, tidak ada alasan untuk mengubah acaraku.
“Lang, kamu tau kan alasan aku bawa-bawa kamera segala?”
“Buat foto aku?” jawabku sekenanya setelah menyeruput sedotan teh botol kotak. Aku tahu dia aktif di majalah kampus. Tapi setahuku tugas dia cuma sekedar membuat artikel.
“Itu mah pake kamera HP juga bisa, Ujanggg!” serunya gemas seraya mencubit hidungku. Dan aku meringis dibuatnya. “Aku dapat tugas nih wawancara si Bintang, vokalisnya Angkasa Band.”
Aku mendelik. “Hah? Ngapain? Kayak gak ada seleb aja. Mending wawancara bintang tamunya aja. Ada Geisha sama Armada Band.”
“Ya maunya redaksi emang dia. Simbol semangat anak muda Bandung. Mereka ternyata bisa menginpirasi para remaja untuk tetap berkarya. Buktinya Angkasa Band masih bertahan mengikuti festival ini, walaupun tiga tahun berturut-turut gagal masuk final.”
“Pimpinan redaksi kamu cewek ya?”
“Kenapa gitu? sungutnya.
Ketebak. Iyalah, perempuan mana sih yang tidak tergila-gila sama tampang ganteng si vokalis. Pake alasan menginspirasi kaum muda segala. Bilang saja mau minta nomor ponselnya. Jelas kan?
“Jadi mau bantu, nggak?”
“Bantu? Bantu gimana?” aku berlagak tidak peduli.
“Kamu kan satu kampus sama dia. Jadi mau dong kenalin aku sama Bintang?” aku tidak berkomentar. “Mau ya, Lang?” sekali lagi dia membujuk. “Langiiitt!! Mau dong!” kali ini dia menggoyang-goyangkan bahuku setelah beberapa kali tak kuhiraukan.
“Ih… apaan sih? Iya mau, cerewet!” gumamku setengah kesal, seraya merapikan kembali kemejaku. “Tapi inget, kamu utang traktir di Petrapucino, ya?” peringatku seraya menunjuk.
Setengah menggeleng akhirnya Kirana mengiyakan.
Dan begitulah. Berkat andilku mereka akhirnya bertemu. Hal yang pada akhirnya kusesali di kemudian hari.
***
Aku tergopoh-gopoh menuju backstage tempat para kru berkumpul. Mati aku, Pak Ridwan—pimpinan redaksi Dream FM pasti marah besar. Dan tentunya akan diikuti oleh untaian ceramah dari Mbak Rossa yang akan menemaniku menjadi MC.
“Nah… ini dia orangnya udah dateng,” seru Robby.
“Maaf semuanya. Tadi sempat ban bocor ditambah jalanan macet banget,” aku tahu mereka tak sepenuhnya percaya padaku.
“Hm…” dengus Mbak Rossa.
“Ya Sudah. Karena sudah berkumpul semua, kita briefing dulu untuk kelancaran hari ini,” akhirnya aku bisa mengelus dada. Mbak Rossa hampir saja akan melancarkan aksinya, namun didahului oleh Pak Ridwan yang nampaknya tak mau kehilangan waktu percuma lagi.
Sebenarnya aku dan Mbak Rossa sudah mempersiapkan materi apa saja yang ingin disampaikan di atas panggung. Game-game lucu apa yang bisa membuat penonton terhibur saat proses penjurian berlangsung. Dan antisipasi apa saja yang diperlukan jika terjadi hal-hal di luar dugaan saat di panggung. Sejauh ini tak masalah buatku. Yang jadi masalah adalah hatiku. Saat kulihat Kirana bersama teman-temannya begitu riuh sambil membentangkan spanduk bertuliskan “Angkasa Band juaraku!” Hah! Membuat semangatku terganggu.
Setelah menghela napas panjang, aku memasuki lorong panggung dan mulai bergaya ceria. “Halo… halo Dream lover! Selamat siang! Siap kita bersenang-senang hari ini?” teriakku seraya mengarahkan microfon ke arah lautan penonton yang didominasi perempuan. Luar biasa. Kau tak tahu bagaimana rasanya bila disoraki oleh mereka yang memuja kita. Mungkin seperti itu yang dirasakan para artis bila sedang di atas panggung. Merasa disayang, dihargai dan dikagumi. Padahal aku sadar, animo mereka bukan ditujukan untukku semata. Tapi sebagai bagian dari acara, semangat mereka membuatku terpacu untuk membuat pertunjukan yang spektakuler.
“Sudah siap dengan band favorit kalian?” tanpa perlu mengarahkan microfon, teriakan mereka sudah sangat menggelora. “Wow! Luar biasa. Hari ini sampai sore nanti kita akan lihat siapa yang berhasil memberikan penampilan terbaiknya untuk menjadi juara Dream Band 2009!”
“Benar banget, Lang. Aku lihat cewek-cewek di sini gak sabar pingin nyaksiin penampilan Bintang dari Angkasa Band, Bima dari Victoria, Anton dari Gerhana, atau yang lain mungkin?” ujarnya pada riuh penonton. Maka disebutlah nama personil dari masing-masing band peserta.
Bintang lagi, Bintang lagi, batinku. Aku tetap melebarkan senyum. “Tapi tentunya ada juga yang pingin lihat Langit Putra Begawan ‘kan?” candaku dibalas sorak yang begitu ramai. Khususnya di kubu penonton sebelah kanan—karena mereka adalah kawan-kawan kampusku. “Langit… i love you!!” Hah! Siapa yang itu barusan? Tak ayal lagi, teriakan itu dibalas dengan teriakan “Huuuuu!!” dari penonton yang lain. Sialan!
Seperti yang diperkirakan, pertunjukan yang berjalan hampir tiga jam ini. Menuai hasil yang memuaskan. Apa lagi kalau bukan keberhasilan band yang sebelumnya susah menang itu? Yeah, Congratulation dah! Entah kenapa si Bintang beberapa hari ini selalu beruntung? Dekat dengan Kirana, ditambah kemenangan yang mereka tunggu-tunggu sejak lama.
Dan entah kenapa juga justru kali ini aku yang merana? Dimarahi oleh Pak Ridwan—rupanya beliau masih mempermasalahkan keterlambatanku itu. Ditambah sikap Kirana yang sungguh keterlaluan. Dia pergi begitu saja dengan geng Angkasa Band tanpa sempat melihatku, walau sekedar say hello.
Hari mulai berangsur senja. Aku masih terduduk di sisi tangga lapangan Gasibu ditemani sekaleng Pocari Sweat, menyaksikan puing-puing panggung yang telah diruntuhkan. Mengembalikan pemandangan Gasibu seperti sebelumnya; lapangan luas yang berlatarkan gedung sate lengkap dengan rerimbunan pohon di sisi kanan dan kirinya.
Apa aku harus menyerah? Menghentikan langkah meski itu di luar kehendakku. Lalu bagaimana dengan asaku selama ini? Aku tak mungkin menghempaskannya dalam bayangku. Cinta itu melenakan, memungkiri takdirku yang sebenarnya. Kenyataan bahwa aku dan dia tak pernah ada. Kami adalah ilusi!
Aku bangkit, menghabiskan sisa minumanku lalu melemparkannya jauh. Seperti mengenyahkan semua harapanku. Pupus. Tak bersisa.

Other Stories
Kepentok Kacung Kampret

Renata bagai langit yang sulit digapai karena kekayaan dan kehormatan yang melingkupi diri ...

My Love

Sandi dan Teresa menunda pernikahan karena Teresa harus mengajar di Timor Leste. Lama tak ...

Deska

Perlahan keadaan mulai berubah. Pertemuan-pertemuan sederhana, duduk berdekatan , atau sek ...

Suffer Alone In Emptiness

Shiona Prameswari, siswi pendiam kelas XI IPA 3, tampak polos dan penyendiri. Namun tiap p ...

Free Mind

“Free Mind” bercerita tentang cinta yang tak bisa dimiliki di dunia nyata, hanya tersi ...

Hikayat Cinta

Irna tumbuh dalam keyakinan bahwa cinta adalah sesuatu yang harus ditemukan—pada seseora ...

Download Titik & Koma