Pada Langit Yang Tak Berbintang

Reads
2.5K
Votes
0
Parts
15
Vote
Report
pada langit yang tak berbintang
Pada Langit Yang Tak Berbintang
Penulis Petra Shandi

7. Cinta Masih Ada Disini

LANGIT
Move on! Itu tepatnya yang harus kulakukan. Setelah setahun berlalu dalam keputusasaan. Kurasa sudah saatnya kubuka mata dan hati bahwa dia bukan milikku. Meski jauh dalam hati aku selalu menyanggah, semua hal yang Bintang lakukan tak pernah sebaik aku melakukannya pada Kirana. I can love her more than that! Namun ternyata cinta Bintang sudah cukup membuat Kirana bahagia. Satu hal yang patut kusyukuri. Kirana tak pernah menjauh, yang terjadi justru hubungan pertemanan aku dan Bintang semakin akrab. Seakrab persahabatannya dengan lelaki pemilik Petrapucino itu.
Kini aku lebih fokus ke kuliah dan siaran. Senang rasanya kuliah tinggal dua semester lagi, yang artinya kesibukanku di kampus tak sepadat semester sebelumnya. Tinggal beberapa SKS dan persiapan untuk penyusunan skripsi. Tentu saja waktu luang itu kumanfaatkan dengan mengisi program lain di Dream FM.
Lalu bagaimana dengan Sang Perindu? Benar juga, ternyata dia bisa menjadi kawan yang enak diajak curhat. Entah berapa topik yang sudah kami bahas via inbox, bahkan tak jarang kami chatting di Yahoo Massenger. Lama-kelamaan aku mulai tahu seperti apa kepribadiannya dari semua pemikiran yang pernah ia bagi padaku. Yeah I like her—or him karena aku tak pernah tahu jenis kelaminnya. Secara tidak langsung, bisa jadi Sang Perindu yang membantuku untuk keluar dari ‘kontroversi hati’ yang selama ini selalu membuatku lemah sebagai lelaki.
“Lo sama sekali gak penasaran siapa sebenernya si ‘Sang Perindu’?” celoteh Rangga.
“Hm… penasaran juga sih sebenernya. Tapi selama itu nggak jadi masalah buat aku, jadi ya jalani aja. Itung-itung temen curhat pas lagi galau.”
“Serius?? Kalo ternyata dia itu adalah orang yang ada di sekitar lo, gimana? Kirana, misalkan.”
Aku terdiam. Bisa jadi sih. Kalo iya, berarti selama ini Kirana tahu bagaimana perasaan aku selama ini ke dia. “Nggaklah, aku tahu betul itu cewek. Dia gak doyan email-email-an sama orang. Kalaupun iya? Apa coba tujuannya? Naksir aku aja nggak,” timpalku dalam balutan tawa.
“Geli aja gue kalo ternyata itu orang ternyata berjenis kelamin cowok. Jadi selama ini lo cuma jadi fantasi seorang cowok sakit.”
“Sialan…” rutukku. Tapi seketika itu aku terdiam. Ada benernya omongan sahabatku itu. Bagaimana kalau ternyata “Sang Perindu” adalah kawan dekatku sendiri.
***
Date : June 10
From : Sang Perindu
To : Langit Putra Begawan
Subject : Re: Sebenarnya kamu siapa sih?
Dear, Langit
Lang… kamu gak usah khawatir soal identitasku. Percaya, aku bukan salah satu kawan yang ada di sekitarmu. Ya walau sesekali aku akui kita pernah bertemu. Tapi aku yakin kamu gak akan bisa menebaknya. Lalu soal genderku? Halo? Kenapa masih dipermasalahkan? Bukannya tahun lalu kamu gak peduli siapa aku selama tak bikin kamu terganggu?
Sekarang gini aja. Kamu merasa terganggu nggak dengan pertemanan kita yang seperti ini? Kalo iya aku gak bakal ganggu kamu lagi. Kalau sebaliknya, aku bakal ganggu kamu terus :D
Lagian aku yakin kamu butuh aku buat curhatin soal Kirana, betul gak? Ngaku aja deehh…!
Salam,
Sang Perindu
Date : June 10
From : Langit Putra Begawan
To : Sang Perindu
Subject : Re: Re: Sebenarnya kamu siapa sih?
Yaelaahhh…
Satu petunjuk baru, ternyata Sang Perindu orangnya PD banget ya? Pake sok-sok dibutuhin gitu hahahha… Tapi bener juga sih. Aku seneng berbagi cerita sama kamu—especially about Kirana. Karena aku gak mungkin cerita ke si Rangga yang rada tulalit kalau masalah beginian.
Ya seenggaknya kamu kasih tau dong gender kamu. Kalau aku terlanjur jatuh cinta dan ternyata kamu laki gimana? Harga diri dong! Hahaha…
Well, I think someday I’ll know everything about who you are. Next, kamu yang harus cerita tentang kehidupan kamu, ok?
Langit
Date : June 10
From : Sang Perindu
To : Langit Putra Begawan
Subject : Re: Re: Re: Sebenarnya kamu siapa sih?
Jatuh cinta sama aku? Hahahha…. Aku gak yakin kamu bisa lupain Kirana begitu saja. Tapi kalau memang kejadian, kenapa nggak? Yang penting kan kasih sayang LOL… (aku yakin kamu pingin muntah! Hahahha)
Udah ah ni lappy dari pagi nyala mulu. Mau di charge dulu. Sampai ketemu nanti malam yaa! Aku pasti request lagu lagi J
Salam,
Sang Perindu
“Cinta tak di sini lagi, meski kucoba untuk memahami dan memaksa diri untuk runtuhkan keangkuhan hati. Semua berubah. Membuatku tak mampu bersenggama dengan angkasa yang kurindu. Kepada langit yang tak berbintang, datanglah kembali. Yakinkan bahwa cinta telah pergi sejak kemarin,” Seusai membaca pesan dari Sang Perindu, entah kenapa tulisan itu mewakili perasaanku pada Kirana. Atau memang sengaja ia merangkai kalimat itu untukku.
“Tetap semangat ya Sang Perindu, masih ada kesempatan kamu buat bersenggama dengan langit yang tak berbintang. Berharap saja besok malam ia datang spesial buat kamu. Sebuah lagu lama yang sepertinya pas dengan perasaan Sang Perindu. Langit akan putar buat Dream Lover semua. Love Ain’t Here Anymore by Take That.”
Love ain’t here anymore…
Love aint’t here anymore…
It’s gone away, to a town called yesterday
Love ain’t here anymore…
(Love Ain’t Here Anymore-Take That)
***
“Hei! Akhirnya Bintang yang jarang nongol datang juga ke kampus,” ujarku ceria saat sadar sosok Bintang nampak di perpustakaan.
Perlahan lelaki itu menoleh. Dari raut wajahnya terlihat ia tidak begitu bersemangat. “Hei, Bro. Kayaknya gue banyak ketinggalan materi kuliah.”
“Gampang, kamu bisa pinjam catatanku. Ke mana aja sih? Sibuk nge-band atau pacaran?” kami sama-sama melangkah keluar melalui tangga ke lantai satu setelah Bintang mendapatkan bukunya.
“Kayak gak kenal gue aja,” timpal Bintang.
“Gimana kesehatan kamu? Gue denger dari Kirana kamu sakit. Udah ke dokter?”
Bintang malah menatapku dan itu sungguh membuatku salah tingkah. Tak lama ia tersenyum juga. “Gue baik-baik aja. Seneng banget punya temen perhatian kayak lo,” entah kenapa ucapannya terdengar sinis di telingaku. “Gue cuma kecapean aja. Gak tau kapan urusan manggung band gue yang gak kelar-kelar itu. Bikin gue pingin hengkang aja dari itu band.”
“Hei! Relax Dude,” ujarku. “All you need is take a rest. Nanti-nanti juga semua urusan akan kelar dengan sendirinya.”
“Hm... coba aja. Gue gak yakin masalah gue bisa teratasi dengan cuma sekedar molor di kamar,” lelaki itu melengos lalu meninggalkanku yang masih keheranan dengan tingkahnya hari ini.
Blackberry-ku bergetar di saku kanan. Aku merogohnya dan kudapati satu nama di sana.
“Lang, aku habis bertengkar sama Bintang. Bisa ketemu nggak?” terdengar serak suaranya seperti sedang menangis. Aku menggelengkan kepala. Bukannya barusan Bintang lagi bareng sama aku? Kapan berantemnya? Pada akhirnya aku hanya bisa menghela napas panjang. Bikin ulah apa lagi anak itu? batinku.
“Kamu ini di mana? Masih di kampus?”
“Iya,” jawab Kirana pendek.
“Ya udah aku langsung cabut ke Maranatha kalau gitu,” timpalku cepat. Tak mengulur waktu aku menuju pelataran parkir mengambil motorku.
Setengah jam yang terasa pendek. Mungkin kepalaku penuh tanda tanya akan masalah Kirana. Mereka bertengkar? Rasanya baru kali ini kudengar mereka bertengkar sampai-sampai Kirana menangis seperti barusan.
Benar juga. Kirana sudah nampak di halte depan kampusnya. Wajahnya terlihat memerah—mungkin karena menangis. Aku menepikan Kawasaki Ninja-ku tepat di sampingnya. “Mau nongkrong di mana?” tanyaku. Perempuan itu malah tak menjawab. “Mau makan di Pondok Bambu?” setahuku food court di samping kampus Maranatha itu selalu menjadi tempat favorit Kirana untuk nongkrong sekedar menunggu jadwal kuliah.
Namun kali ini ia malah menggelengkan kepala. “Aku cuma mau pulang,” rengeknya.
‘Loh, katanya kamu mau curhat? Ke rumahku aja yuk? Kita ngobrol di balkon kamar. Gimana?”
Aku tahu dia pasti menyetujuinya. Karena kutahu Kirana betah sekali tinggal di kamarku. Hal yang membuatku takjub, sepanjang perjalanan lengan itu memeluk perutku erat sekali. Seolah ia sandarkan hidupnya padaku. Lagi-lagi jantungku berdesir. Kulit halusnya ternyata masih memberi sensasi, menembus pori-pori kulit langsung menuju jantungku hingga akhirnya debarannya tak karuan seperti sekarang.
Cinta masih ada di sini ternyata.

Other Stories
Separuh Dzrah

Saat salam terakhir dalam salat mulai terdengar, di sana juga akan mulai terdengar suar ...

Teka-teki Surat Merah

Seorang gadis pekerja klub malam ditemukan tewas dalam kantong plastik di taman kota, meng ...

Senja Terakhir Bunda

Sejak suaminya pergi merantau, Siska harus bertahan sendiri. Surat dan kiriman uang sempat ...

Devil's Bait

Dari permainan kartu tarot, Lanasha meramal lima temannya akan mengalami kejadian aneh hin ...

Sinopsis

hdhjjfdseetyyygfd ...

Cinta Di 7 Keajaiban Dunia

Malam yang sunyi aku duduk seorang diri. Duduk terdiam tanpa teman di hati. Kuterdiam me ...

Download Titik & Koma