Pada Langit Yang Tak Berbintang

Reads
2.5K
Votes
0
Parts
15
Vote
Report
pada langit yang tak berbintang
Pada Langit Yang Tak Berbintang
Penulis Petra Shandi

11. Pulang

BINTANG
Pagi yang lembap. Gue berdiri di salah satu sudut Singapore Botanical Garden, menatap hamparan berbagai jenis tanaman palem di Cool House. Berada di tempat ini menumbuhkan kerinduan gue sama temen-temen di Bandung. Gue pernah sesekali berekspedisi ke hutan Kalimantan bersama para aktivitas kampus. Menikmati kebebasan yang sepertinya sudah mulai terenggut dari hidup gue. Ya, empat tahun gue kudu ikuti aturan rumah sakit dengan segala keterbatasan ruang gerak gue. Gak boleh ini-gak boleh itu, dan yang paling memuakkan saat semua orang begitu over protective. Seakan gue ini manula yang kudu dijaga.
Gue kabur dari jadwal kemoterapi, semata gak mau menahan rasa sakit yang bakal gue derita nanti malam. Sungguh, bulan lalu gue nyaris pingin bunuh diri saking gak kuat menahan sakit di sekujur tubuh gue. Entah kapan derita ini gue lalui. Sempat sih tim dokter ngasih berita bagus kalau penyakit gue sudah melalui tahap remisi. Pengobatan gue tinggal menghilangkan tanda-tanda dan gejala leukemia di tubuh gue. Gak tahunya beberapa bulan kemudian penyakit gue kambuh lagi dengan rasa sakit yang lebih dahsyat. Imbasnya, limpa gue harus diangkat karena pembengkakkan yang bikin perut gue sakit gak ketulungan.
Sepanjang perjalanan di Holland Road, sengaja gue matikan ponsel. Biar saja Om Henri kelabakan cari gue. Namun pada akhirnya gue kabari dia setelah tersenyum geli membaca rentetan pesan pendek yang kayaknya hopeless mencari si anak hilang. Gue cuma bisa menghela napas panjang, gak ada tempat sembunyi buat menghindari dari siksaan rutin itu.
”Bin…” gue menoleh ke arah sumber suara. Benar saja, Om Henri datang seraya mengulum senyum. Salah satu sifat dia yang gue suka, gak pernah marah segimana bandelnya gue. “Kok kamu gak ajak-ajak Om ke sini sih?” ujarnya seraya menghampiriku. Dia menempel punggung tangannya ke dahi gue. “Jangan lama-lama ah di tempat ini. Dingin banget, nanti kamu demam lagi.”
Gue tersenyum sambil mengikuti lelaki itu keluar dari Cool House. “Om, aku pingin pulang ke Indonesia,” akhirnya terucap juga keinginan yang lama terpendam.
Om Henri menoleh. Dia menatapku serius. “Tunggulah sebentar lagi. Sampai kamu benar-benar pulih.”
“Di Indonesia banyak rumah sakit hebat sekelas Mount Elizabeth,” dalih gue.
“Tapi Papa yang pingin kamu dirawat di sini.”
“Om Henri bantu akulah. Aku gak betah terlalu lama di Singapura. Aku kangen keluarga sama…” mulut gue terkatup.
“Kirana?”
Gue hanya menunduk tepekur. Kenyataannya gue gak pernah kasih kabar apapun selama empat tahun. Namun berkat Petra, gue tahu kabar update soal Kirana yang kini pacaran dengan Langit. Baguslah, seenggaknya Kirana bisa lebih bahagia di samping si penyiar nockturnal itu. “Iya. Cuma pingin lihat dia sekali lagi dan mungkin untuk yang terakhir kali,” gumam gue tanpa sadar.
“Hei! Kok pesimis kayak gitu. Masih banyak waktu kamu bertemu dengan Kirana. Bukannya kita sepakat untuk tidak menyerah?”
Gue menyunggingkan bibir. “Iya,” jawab gue bohong. Kenyataannya gue tahu kondisi terakhir penyakit gue lewat obrolan Om Henri dengan tim dokter yang lain. Katanya penyakit gue sudah ada di tahap akselerasi atau krisis blast, yang artinya kemungkinan untuk sembuh semakin menipis. Gue sempet baca di internet, pengidap leukemia yang memasuki krisis blast hanya bisa bertahan kurang lebih dua bulan. Atau bisa diperpanjang kalau kita rutin melakukan kemoterapi. Sialan! Berarti gue hidup cuma buat disiksa?
***
Tak terelakkan malam ini gue bener-bener gak berdaya saat sekujur tubuh gue terasa sakit luar biasa. Entah berapa kali gue harus bolak-balik ke toilet cuma buat muntah-muntah. Dan sepertinya penghuni apartemen sudah mulai terbiasa setiap kali beres kemoterapi akan ada teriakan-teriakan memilukan di kamar gue. Seperti sekarang, saat gue bener-bener gak mampu berbuat apa-apa. Gue banting semua barang-barang yang ada di kamar seraya berteriak tidak karuan.
“Bintang gak kuat, Om!” teriak gue. Sementara Om Henri terus merengkuh gue, khawatir gue menyakiti diri sendiri. “Mana Mama? Bintang mau ngomong sama Mama!” Begitulah gue. Ketika semua jalan tak bisa dilalui, gue selalu hubungi nyokap sebagai solusi akhir. Petuah-petuahnya cukup ampuh nenangin gue.
Segera kuterima ponsel yang telah terhubung dengan nyokap di Bandung. Gue harus adukan penderitaan ini. “Mama… bantu Bintang, Ma.” beberapa bulan ini kelakukan gue memang berubah 180 derajat. Persis seperti anak berumur 10 tahun yang ingin diperhatikan lebih oleh bokap nyokapnya.
“Kamu sabar, Sayang. Mama tahu kamu sanggup bertahan,” terdengar isakan tangis di sana. “Dengerin Mama ngaji, ya? Mama yakin abis dengerin Mama ngaji, kamu gak bakal merasakan sakitmu lagi.”
Maka, nyokap mulai menyenandungkan ayat suci Al-Quran. Gue seneng setiap kali denger beliau mengaji. Bikin hati gue tenang meski sakit yang gue rasakan gak berkurang sedikitpun. Dan satu lagi. Gue merasa nyokap ada di samping gue.
Tiga puluh menit berlalu setelah nyokap selesai dengan ayat terakhirnya. Gue akhirnya menemukan ketenangan yang gue cari. Berharap akan seperti ini untuk selamanya. “Ma, Bintang pingin pulang,” gumamku. “Bintang rindu Mama, Papa dan Lidya.”
“Hm... gimana kalo besok Mama main ke Singapura?” solusi nyokap.
“Nggak! Bintang maunya pulang ke Indonesia,” kali ini gue harus bisa yakini mereka untuk membiarkan anaknya balik ke tanah air.
***
Efek kemoterapi masih juga belum hilang sejak di hari pertama. Gue cuma bisa terdiam gak berdaya di ranjang dengan beberapa helai rambut yang mulai rontok bertebaran di ranjang. Sial! Padahal gue berharap rambut gue masih bisa bertahan seenggaknya saat pulang ke Bandung—berharap bisa menyempurnakan penyamaran gue kelak.
Sudah berkali-kali suster pribadi gue nyodorin makanan, tapi gue malah instruksiin buat jauhi itu makanan dari kamar. Aromanya memicu gue buat muntah lagi. Lagian sejak semalam, lidah gue mati rasa. Hambar.
“Makanlah sesuatu,” kali ini Om Henri yang membujuk gue.
Gue menggeleng. “Gak. Bintang cuma mau pulang.”
“Bin…” beliau mengusap rambut gue. “Sabar… sebentar lagi kamu bakal sembuh.”
“Bohong! Om tega bohong sama Bintang!” teriak gue.
“Apa maksud kamu?”
“Bintang sekarat! Penyakit ini sudah berada di stadium akhir. Memangnya Bintang gak ngerti apa surat hasil pemeriksaan kemarin!?”
“Bin…” Om Henri mencoba mendekap gue.
“Gue mau balik, sialan!” gue hempaskan lengan Om Henri. “Gue gak bakal nyerah sampai lo balikin gue ke rumah!” tunjuk gue kasar. Dengan emosi yang tak terbendung, gue banting televisi 14 inch di kamar gue. “Balikin gue! Atau gua hancurkan barang-barang di rumah ini!”
Begitulah. Sikap gue semakin gak bersahabat pada Om Henri. Sampai beliau bener-bener nurutin apa mau gue. Jujur aja. Gue gak ada alasan untuk membenci beliau. Tapi cuma ini caranya supaya Om Henri bisa ngertiin gue. Gue mau mati di rumah. Di samping bokap, nyokap dan Lidya.
***
Mereka akhirnya mengizinkan gue balik. Mungkin karena nyokap gak tega liat gue yang semakin gak berdaya pas kemarin main ke Singapura. Dan syukurlah bokap mulai melunak dengan keputusannya. Beliau setuju gue lanjutin pengobatan di Indonesia. Lagipula saat ini yang gue butuhin bukan pengobatan. Tapi waktu yang efektif bersama orang-orang yang gue sayang. Sebelum akhirnya bener-bener siap tinggalin mereka.
Gue menyunggingkan senyum saat nyokap meremas-remas jemari. Rasanya gak percaya saat ini gue sudah berdiri di Bandara Sukarno Hatta. Membangkitkan kembali khayalan gue di masa lalu. Tentang Angkasa Band, aksi panggung di Petrapucino, dan Kirana.
Jujur aja. Sanggup gak sanggup gue harus ketemu Kirana. Gue datangi dia bukan berharap untuk kembali. Namun semata hanya ingin menebus kesalahan atas ratusan email yang gak pernah gue balas. Bagaimanapun gue harus berterima kasih sama si penyiar nocturnal itu. Dia menjaga Kirana sebaik dia merawat dirinya sendiri. Bahkan saat tahu pada akhirnya Langit jadian sama Kirana. Separuh dosa gue rasanya terangkat. Dosa di mana gue pernah merebut kebersamaan mereka lima tahun silam. Langit mampu mencintai Kirana melebihi cara gue mencintainya.
Seketika langkah gue terhenti, saat sosok cowok putih berperawakan tinggi nampak di depan mata. Ragu-ragu ia tersenyum lalu memberanikan diri dekati gue.
“Hei… apa kabar, Bro?” Petra mendekap gue hangat. Kami berpelukan cukup lama. Cowok ini yang selama empat tahun jadi tempat curhatan gue. Gak tanggung-tanggung gue limpahin semuanya. Sampai suatu ketika dia sengaja kirim video mengungkapkan kesedihannya akan kondisi gue. Sungguh, air mata gue gak bisa terbendung saat melihat Petra menangisi sahabatnya yang menderita. Tak lama ia melepaskan diri. Gue tahu dia berusaha gak mewek, namun wajahnya yang memerah tak bisa menyembunyikan itu.
“Hm… lo tampak…” dia tidak melanjutkan kalimatnya. “…berbeda.”
“Bilang aja gue jelek sekarang. Kurus dan botak,” canda gue. Tapi dia gak tertawa. Malah terkesan gak suka sama banyolan gue. “Gimana kabar anak-anak? Kalian masih manggung? Udah punya vokalis pengganti dong ya?” gue alihkan pembicaraan.
“Kami gak pernah manggung lagi. Anak-anak udah jadi pegawai kantoran. Udah gak ada waktu mikirin band.”
Gue menggangguk. “Bener juga, ya,” ucap gue. “Tapi gak nutup kemungkinan kita reunian dong, trus manggung barang 2-3 lagu di Petrapucino?”
“Why not? Bisa kita atur. Anak-anak pasti seneng.”
Kami melanjutkan perbincangan di kamar gue. Tadinya kami berencana nongkrong di Petrapucino. Tapi nyokap ngelarang gue pergi ke mana-mana dulu. It’s ok. yang penting gue sudah balik, berada di antara orang-orang yang sayang sama gue.
“Gimana café lo? Makin laris aja dong ya?” ujar gue seraya menukar kemeja dengan t-shirt tipis.
“Lumayan bikin pusing. Apalagi sekarang ada café baru yang buka gak jauh dari lokasi Petrapucino. Sialan banget tuh orang!” gerutunya.
Gue cuma tertawa. “Alah… cuma masalah gituan doang. Bokap lo aja mampu buat Petrapucino sebesar sekarang. Masa lo gak mampu cuma gara-gara ada kompetitor di depan.”
“Lo bisa ngomong gitu soalnya gak turun langsung di Petrapucino,” timpal Petra.
“Eh, gimana kabar Bianca? Lo masih jalan kan sama dia?”
Petra menganggukkan kepala. “Dua bulan lagi kita berencana buat tunangan,” terang lelaki itu. “Untung lo udah balik, jadi bisa ikut nyaksiin acara gue.”
Iya, kalo gue masih idup, batin gue.
***
Gue berdiri di hadapan cermin. Baru saja gue pasang rambut palsu dengan model Textured Perm pemberian adik gue. Persis seperti penampakan rambut asli gue sebelum dikutuk kena leukemia. Gue tersenyum geli. Lidya emang tahu apa yang abangnya butuhkan, batin gue. Mungkin dengan sedikit make up di wajah bisa mengurangi efek pucat. Dan gue yakin Lidya mau bantu nge-make over tampang gue yang kayak mayat hidup ini.
“Gimana, Bang?” ujarnya setelah setengah jam Lidya mengutak-atik wajah gue.
Gue memperhatikan refleksi diri di cermin. Tak lama gue menyunggingkan senyum pertanda puas. Wajah gue lebih merona kali ini. “Kamu hebat kalo soal dandanin orang,” puji gue.
“Tapi, Bang. Gak bijak kalo terus-terusan bohongin Kirana. Dia harus tahu keadaan Abang yang sebenarnya.”
Aku menoleh pada Lidya. Adik gue emang bener. Seharusnya dengan gentle gue kasih tahu kalo selama ini gue juga menderita. Tapi, ah buat apa juga? Itu cuma bikin doi patah hati. Apalagi sekarang keadaannya sudah berubah. Kirana milik Langit. Gue gak mau Langit kecewa buat yang kedua kali.
“Pelan-pelan Abang bakal cerita kok. Abang juga butuh persiapan hati buat ungkapin ini ke Kirana,” alasan gue.
Sepanjang perjalanan menuju rumah Kirana, gue terus berpikir keras tentang apa yang harus gue sampaikan. Kalimat pembuka apa yang kira-kira pantas dan tidak membuat kami canggung.
“Di sini Mas, rumahnya?” suara sopir menyadarkan lamunan gue. Gue turun dan langsung membayar sejumlah nominal uang ke sopir taksi tersebut.
Aroma khas rumah Kirana dapat gue terka melalui semerbak bunga melati di pekarangan yang penuh bebungaan. Selangkah demi selangkah gue tapaki seiring rapal doa yang terucap di dalam hati. Tuhan. Semoga Kirana gak membenci gue. Hingga pada akhirnya langkah kakiku terhenti tepat di hadapan pintu utama rumah itu. Penuh keraguan, gue tekan tombol bel di sisi kanan atas pintu itu. Tak lama pintu itu tersibak.
Dia. Perempuan bergaun merah nampak cantik dengan rambut yang tergerai alami. Ia sempat tersenyum manis, mengira orang yang bertamu adalah seseorang yang ia nanti. Namun sadar bahwa itu adalah aku, mendadak senyumannya luruh. Begitu terkejutnya hingga ia tak mampu berkata-kata selama beberapa saat. Kami menatap satu sama lain dengan bulir air mata yang berjatuhan di sudut matanya.
“Kamu… kapan kamu kembali?” sekuat tenaga Kirana mengucap kata.
“Tiga hari yang lalu,” balas gue. “Maaf, aku datang tiba-tiba. Sepertinya kamu hendak pergi.”
“…” Kirana tak menjawab. Hingga pada akhirnya suara ponsel memecahkan keheningan di antara kami. Perempuan itu melangkah menjauh, membiarkan aku yang masih berdiri kaku di depan pintu.
Seperti dejavu. Gue pernah mengalami saat-saat seperti ini. Ketika kami bersama, tiba-tiba seseorang menghubunginya. Benar juga kan tebakan gue. Pelaku penelepon itu masih orang yang sama.
“Langit?” tebak gue saat Kirana menutup sambungan ponselnya.
Kirana masih tak bersuara. Ia hanya menganggukkan kepala sebagai reaksi dari pertanyaan gue. “Duduklah, Bin…” akhirnya Kirana mempersilakan gue duduk di kursi teras.
“Kudengar kalian pacaran?” tanpa bersikap menuduh gue tersenyum tulus. “Senang akhirnya kalian bisa bersama. Aku bahagia mendengarnya. Kamu tahu? Waktu itu saat aku nembak kamu pake lagu Owner of My Heart di Petrapucino, dia yang memilihkan lagu itu. Terus… saat memilihkan kado buat ulang tahun kamu, Langit juga yang bantu milihin. Juga saat…”
“Cukup!” gertak Kirana. “Aku tahu! Aku tahu! Kamu gak perlu jelaskan semuanya! Bahkan untuk mencintaiku kamu butuh seorang Langit!”
“Maaf…” gue menunduk tepekur.
“Kamu gagal, Bin,” lirihnya. “Kamu gagal memperjuangkan cinta kita. Bahkan saat tahu aku menjalin cinta dengan Langit, kamu gak bereaksi apa-apa.”
“Maaf…” lagi-lagi gue bergumam kata yang sama.
“Katakan sesuatu, Bin! Aku tahu kedatanganmu kemari bukan sekedar untuk mengucap kata maaf.”
“Memang…” gue membuka mulut. “Kedatanganku ini sekedar untuk mengadu maaf atas ratusan email yang tak pernah kubalas, atas pesan yang kausemat di jejaring sosial media, dan atas bulir air mata yang terlanjur berjatuhan di pipi.”
Kirana menatap nanar ke arah gue. “Ini gak adil, Bin. Di luar sana kamu tahu semua hal tentang aku. Tapi aku di sini? Aku kayak orang bego menunggu seseorang yang tak pernah peduli!” gertaknya. “Aku bahkan sempat berpikir seorang Bintang telah mati ditelan bumi!”
Gue tersenyum pahit atas tebakan jitu Kirana. “Aku memang salah, dan kupikir sudah sejak lama aku mati ditelan bumi. Meski ragaku masih nampak, perlahan aku akan menghilang seiring berlalunya kisah kita,” mata gue mulai terasa penuh. Mungkin sebaiknya gue kudu cepet-cepet cabut dari sini. “Kurasa aku akan pergi sekarang. Tujuanku datang kemari telah kusampaikan. Menghaturkan maaf padamu,” gue bangkit tanpa berani menatap kedalaman matanya.
“Kamu lelaki paling pengecut yang pernah kukenal!” teriak Kirana di belakangku. “Kamu gak bisa datang dan pergi begitu saja lalu tiba-tiba bilang maaf seakan semua bisa kautebus.”
Kamu bebas memakiku. Meski sakit merajam hati, aku bisa menanggungnya. Kamu pasti bisa memahaminya suatu hari nanti. Bahwa kulakukan ini semua demi kamu.

Other Stories
Dante Fair Tale

Dante, bocah kesepian berusia 9 tahun, membuat perjanjian dengan peri terkurung dalam bola ...

7 Misteri Korea

Saat liputan di Korea, pemandu Dimas dan Devi terbunuh, dan mereka jadi tertuduh. Bisakah ...

Dua Bintang

Bintang memang selalu setia. Namun, hujan yang selalu turun membuatku tak menyadari keha ...

Mak Comblang Jatuh Cinta

Miko jatuh cinta pada sahabatnya sejak SD, Gladys. Namun, Gladys justru menyukai Vino, kak ...

The Fault

Sebuah pertemuan selalu berakhir dengan perpisahan. Sebuah awalan selalu memiliki akhiran. ...

Liburan Ke Rumah Nenek

Affandi, remaja gaul berusia 18 tahun tak dapat berlibur ke lain tempat seperti biasa. Lib ...

Download Titik & Koma