10. Terbiasa Mencintaimu
JANUARI 2014…
LANGIT
Cerita cinta ini serupa ujian panjang tak bertepi. Ratusan belukar tajam hampir saja mengoyak keyakinanku untuk bertahan. Seiring musim silih berganti selalu tersemat kisah memilukan yang sungguh ingin kulupakan. Dan aku hanya bisa kukuh bertahan pada satu jalan yang kuyakini. Berbekal keikhlasan hati, akhirnya sang pecinta mampu menjalani titian takdir hingga bersanding dengan belahan hatinya. Menetap sudah hati Kirana di sudut relung hatiku. Menabur kilau pada langit yang senantiasa tak berbintang.
Aku menatap refleksi diriku di hadapan cermin. Langit Putra Begawan, lelaki ini ternyata telah berubah. Tak sadar tersungging bibir serupa senyuman. Sudah lama sekali sejak kulepaskan kacamata berbingkai hitam lima tahun silam—tergantikan oleh frame yang sesuai dengan citraku sebagai lelaki dewasa. Aku, remaja yang pernah aktif mengudara di Dream FM.
Satu kenangan yang takkan pernah lekang oleh waktu, ketika berdiri di atas panggung membawakan acaraku sendiri dengan sorak histeris para mahasiswi yang membuatku merasa menjadi pemuda “penting” kala itu. Itulah masa lalu. Yang nampak sekarang, aku telah menjelma menjadi sosok lelaki dewasa, mapan, dengan karier yang menjanjikan sebagai seorang pengacara. Namun gambaran sempurna ini terasa tak berarti bila sang tercinta belum kumiliki utuh. Kurasa sudah saatnya aku melamar Kirana menjadi istriku, ibu dari anak-anakku kelak. Hal yang akan kulakukan dalam satu jam ke depan.
Jauh dalam hati, kusyukuri kegagalan kisah cinta Kirana dan Bintang. Entahlah, hingga kini aku tak pernah tahu apa yang terjadi dengan si brengsek itu di Singapura. Pun Bintang tak pernah tahu bagaimana Kirana mendulang derita akibat perbuatannya. Kirana merintih menahan luka dalam penantian yang sia-sia. Tanpa pesan, tanpa surat elektronik, bahkan sekedar salam sapa di sosial media. Perempuan itu tak pernah mendapatkan jawaban atas semua tanya yang berkelebat di hatinya. Maka, waktu yang menyembuhkan luka hatinya hingga butiran rindu terhempas perlahan, memaksakan diri untuk memahami bahwa cinta pertamanya telah kandas.
Kadang lucu juga, seandainya Kirana tahu akan seperti ini, mungkin kejadian memalukan di Petrapucino tak perlu terjadi. Aku tak perlu susah payah beradu mulut hingga bertengkar dan membuat perempuan itu kesulitan mendamaikan kami. Jika mau pergi. Maka pergilah—tanpa harus mengumbar percakapan mesra yang akhirnya terpaksa kudengar saat di kantor Petrapucino.
Aku pernah mempertanyakan arti keberadaanku bagi Kirana. Benarkah aku hanya sekedar pelarian akan cintanya yang menggantung. Tebak apa yang ia jawab?
“Kamu tahu? Sepasang matamu bagiku adalah langit. Ada kebahagiaan dan kesedihan yang turun dari keduanya. Dan seiring waktu berjalan, aku sadari semua itu adalah karenaku. Dari ribuan hari kebersamaan kita, membuatmu harus memikul beban derita dan amarah karena keegoisanku. Padahal aku sadari, tanpamu aku tiada. Mungkin kini sudah terbukti. Tiada Bintang aku masih selamat. Tapi tiada Langit? Mungkin aku akan mati.”
Gombal memang. Tapi aku suka melihat ekspresi wajahnya saat mengatakannya kemarin. Seperti memastikanku bahwa tak ada sedikitpun rasa yang tersisa untuk Bintang. Dan ia siap melepas beban yang membelenggu hatinya di masa lalu.
Date : January 4
From : Sang Perindu
To : Langit Putra Begawan
Subject : Semangat!
Dear Langit…
Gimana persiapannya? Udah mantab kan semuanya? Jangan lupa pastikan lagi reservasi di restoran yang kemarin aku rekomendasiin. Dijamin suasana di sana bikin Kirana gak perlu mikir panjang buat bilang, “Yes, I do.” :D
Sang Perindu
Aku tersenyum sendiri membaca pesan email dari tablet-ku. Akhirnya aku memiliki petunjuk lain tentang identitas Sang perindu. Yup, dia seorang perempuan dengan nama asli yang hingga kini masih juga tak terungkap. Memalukan memang, lima tahun kami berkawan dan aku hanya tahu perihal gendernya saja. Namun ajaibnya. Persahabatan ini nampaknya berjalan baik-baik saja. Tanpa harus memaksakan diri mencari tahu keberadaan Sang Perindu yang sebenarnya.
Date : January 4
From : Langit Putra Begawan
To : Sang Perindu
Subject : Re : Semangat!
Cukup tegang juga. Sampai-sampai aku lupa di mana menaruh cincin yang kubeli kemarin. Dan kamu tahu? Kotak perhiasannya terjatuh di tong sampah. Untung Si Mbok belum sempat beres-beres di kamar. Kalau sudah? Gak bisa dibayangkan apa yang bakal terjadi.
Menurutmu ini firasat jelek bukan, sih? Kok tiba-tiba feelingku jadi gak enak kayak gini ya?
Langit
Aku merogoh kotak perhiasan berbalut beludru merah itu. Kupastikan takkan hilang lagi. Sungguh, kejadian barusan membuatku takut setengah mati. Hembusan napas panjang kuhela sekedar untuk menenangkan diri. Perlahan jemariku meraih bingkai foto di atas nakas. Kudapati gambar diriku dan Kirana berpose mesra. Tak ada rangkaian kata yang bisa kuungkapkan saat senyumku dan senyumnya beradu, seakan menyimpul kasih di antara kami.
Baiklah kurasa semua telah sesuai rencana. Tinggal memastikan persiapan orang-orang di restoran yang kupesan tempatnya. “Halo selamat malam. Saya Langit Putra Begawan, mau memastikan reservasi meja apakah sudah disiapkan?” ujarku setelah tersambung ke restoran Sky Romantic. “Lalu soal permintaan saya itu? Kalian bisa sanggupi kan?” kakiku melangkah menyusuri loteng dari lantai atas. “Hm… iya di lantai dua. Menunya? Lalu pemain musik yang saya pesan, mereka sudah stand by di tempat?” seolah belum puas aku terus berkoar sepanjang perjalanan ke garasi.
Cerewet memang, karena aku sangat berharap semuanya berjalan sempurna. Aku harus membuat kekasihku terpukau dengan hadiah kecil yang kusiapkan malam ini. Lucu, seharian ini aku didera rasa panik yang berlebihan. Persis seperti Pak Ridwan, masih ingat kan bosku saat masih di Dream FM? Beliau pasti uring-uringan setiap menjelang perhelatan akbar “Dream Band” yang rutin diadakan setiap tahun. Tapi kupikir semua lelaki yang sedang dalam posisiku pasti mengerti. Masa iya cuek seolah tak peduli, padahal sebentar lagi ia akan meminang sang kekasih untuk hidup bersama seumur hidup. Pasti harap-harap cemas, khawatir semua rencana tak terealisasi.
Belum juga kutancapkan pedal gas. Lagi-lagi tablet-ku berbunyi pertanda satu email masuk.
Date : January 4
From : Sang Perindu
To : Langit Putra Begawan
Subject : Re :Re: Semangat!
Hah kok bisa? Untung cuma cincin. Gimana kalo Kirana kamu ilangin? Bisa berabe kan? Hahahha… Btw, udah mau pergi ya? Good luck ya? Semoga Kirana terima lamaran kamu. Aamiin..
NB: Kasih kabar ya nanti malam J
Sang Perindu
Hah! Ada-ada saja perempuan ini. But, it’s oke. Banyolannya cukup membuat aku sedikit relax. Aku tersenyum dengan mengemudi berkecepatan rendah. Tenang sekali menatap gemintang malam ditemani cahaya rembulan. Membangkitkan khayal yang berkelebat luar biasa di dalam benakku.
“Kir, kamu sudah siap? Aku sedang dalam perjalanan ke tempatmu,” ujarku saat menghubunginya via ponsel.
“Aku…” lirihnya. “Kamu pergilah langsung ke Sky Romantic. Aku ada sedikit urusan yang belum selesai. Janji, setelah selesai, aku segera menyusul ke sana.”
“Kenapa begitu? Bukannya sudah kubilang malam ini ada hal khusus yang ingin kusampaikan padamu. Kamu gak bisa selesaikan urusanmu nanti?”
“Sudah tanggung, Lang. Gak lama kok. Sebentar lagi juga selesai.”
“Ya sudah, aku bisa ke tempat kamu dan menunggu untuk sesaat,” timpalku tak mau kalah.
“Langit, beneran aku kudu selesaikan ini segera. Kalo kamu maksa dateng, nantinya malah semakin lama kelarnya,” hah! Alasan apa itu? Segitu terganggunyakah dengan kehadiranku?
“Ya sudahlah…” dengan perasaan sedikit kesal aku menutup sambungan. Dalam beberapa hal Kirana terkadang egois. Menomorduakan aku dari semua waktu yang ia punya. Dan aku terlalu kebal untuk kecewa setelah diperlakukan begini bertahun-tahun lamanya. It’s ok, selama ia masih milikku.
Terrano hitamku melaju kencang. Entah kenapa mood-ku menjadi tidak terkendali gara-gara sikap Kirana barusan. Jujur saja. Aku kecewa, dia mengacaukan sedikit rencanaku malam ini. Tadinya aku berharap kami bisa berbincang santai selama perjalanan menuju Sky Romantic. Hitung-hitung pemanasan sebelum akhirnya bisa mengucapkan kalimat sakti itu kelak.
Hanya butuh waktu tiga puluh menit menuju Sky Romantic di Jalan Setiabudi. Sengaja kupilih rute melalui Jalan Geger Kalong yang jaraknya lebih dekat dengan rumahku di Sarijadi.
“Selamat datang…” aku disambut dengan ramah saat memasuki teras Sky romantic. “Selamat malam, Pak Langit,” rupanya lelaki ini yang sempat berbicara panjang lebar denganku kemarin. Sebagian besar ide dari lamaran malam ini memang berasal darinya. Seraya berbincang santai, ia memanduku menuju lantai dua. Di mana keseluruhan ruangan sengaja aku sewa demi tercipta privasi bagi kami berdua. “Pak Langit, silakan periksa kembali. Bila ada yang kurang berkenan, akan kami perbaiki segera.”
Aku menghela napas panjang seraya melangkah memperhatikan setiap detail dekorasi yang mereka siapkan untukku. Ruangan ini menjelma menjadi sebuah taman mawar, dengan tebaran bebungaan di setiap sudut yang menciptakan aroma mawar yang khas. Sebuah Piano nampak anggun bersanding dengan vas bunga yang terisi setangkai mawar merah. Aku tersenyum pada pianis yang nampaknya telah siap dengan konser mini yang akan ia suguhkan kelak.
“Good, aku suka pekerjaan kalian,” ujarku puas. “Sebentar lagi Kirana akan datang, mungkin kalian bisa menyiapkan semuanya,” aku tersenyum seraya memasukkan lembaran uang berwarna merah pada saku kanan karyawan tersebut. “Thanks buat semuanya,” aku mengedipkan mata. Lelaki itu tersenyum lalu mengantarkanku pada meja yang akan aku pakai bersama Kirana. Di sana telah tersedia satu botol sampanye lengkap dengan pot berisi bongkahan es batu.
Aku kembali merunut waktu hingga akhirnya tersadar 45 menit sudah berlalu dalam keheningan. Sang pianis yang nampaknya paham dengan gelagat gelisahku mulai memainkan sebuah alunan nada lembut. Namun, itu tak membantu sama sekali. Aku hanya ingin Kirana muncul di pelupuk mata!
Ada apa gerangan? Kenapa dia bisa terlambat seperti ini? Berulang kali kuhubungi ponselnya namun ia urung menjawab. Hingga pada akhirnya terdengar suara high heel yang mengetuk-ngetuk lantai marmer restoran ini. Suaranya yang berangsur jelas pertanda langkah kaki itu tak lama lagi mendekat. Benar saja, bayangan serupa Kirana akhirnya muncul dengan anggunnya.
Astaga! Cantik sekali dia malam ini. Sepertinya dia tahu konsep kencan kami malam ini, lewat balutan gaun berwarna merah yang berpadu serasi dengan kulit putih serupa mutiara. Perempuan itu berdiri terpaku tepat tiga meter di hadapanku. Tak nampak senyum merekah di bibirnya yang ranum. Yang kulihat justru ia memaksakan senyum yang terasa hambar.
“Ada apa Kirana?” aku menghampirinya.
Ditanya seperti itu Kirana malah menunduk tepekur. Sungguh membuat perasaanku tidak nyaman. “Bicaralah…”
“Bintang telah kembali,” lirihnya.
***
Tuhan, sebenarnya apa yang Kau rencanakan untuk hidupku? Sesaat aku dilambungkan begitu tinggi, seolah mimpi terhebat dalam hidupku bisa kuraih, namun seketika itu Kau menjatuhkanku kembali dalam lembah putus asa. Membuatku tersesat untuk kembali ke jalan pulang. Dan si brengsek itu? Atas dasar apa ia berani menampakkan diri di hadapan Kirana. Setelah limpahan derita yang ia berikan pada kekasihku.
Tak ada perbincangan istimewa malam ini. Melihat mood-nya yang turun drastis, membuatku enggan untuk melanjutkan lamaranku. Akan lebih baik bila kusampaikan nanti, saat emosi kami berdua mereda seperti sediakala.
“Lalu apa rencana kamu selanjutnya?” aku berusaha tegar seraya menatap di kedalaman matanya.
“Aku…”
“Kamu milikku!” sanggahku. “Aku gak mungkin melakukan kebodohan yang kedua kali. Melepasmu demi lelaki yang hanya bisa membuatmu menderita.”
Kirana masih tak bereaksi. Dan itu sungguh membuatku khawatir. Bisa saja pertahanannya goyah yang membuatnya kembali ke pelukan Bintang. “Kumohon. Kir. Pikirkan aku. Empat tahun kita arungi ini bersama. Suka dan duka kita lalui. Kamu lihat? Kamu selamat! Kamu telah kembali menjadi Kirana yang dulu.”
“Jangan ingatkan aku tentang masa lalu, Lang. Aku sadari aku takkan bisa melalui hari sebaik ini tanpamu. Andilmu sangat besar dalam hidupku. Dan aku cukup tahu diri untuk tidak membuatmu menderita untuk yang ke sekian kali.”
“Jangan mengibaku, Sayang. Aku hanya butuh kata cinta dari bibirmu. Katakan kamu cinta aku. Dan aku bisa tidur lelap malam ini,” kugenggam erat jemari Kirana.
“Aku…” suaranya parau. “Aku gak mungkin sakiti kamu, Lang.”
“So? Please say that words…” tantangku pelan.
“Langit…”
“Cukup!” aku bangkit. “Aku tahu kamu gak ingin menyakitiku. Itu berarti kamu mencintaiku,” perih hatiku bersikap seolah semua baik-baik saja. “Sebaiknya kita pulang saja. Kamu terlihat lelah sekali,” kupaksakan bibirku tersungging. Saat Kirana bangkit, sontak aku memeluknya erat. “Aku cinta kamu. Aku telah terbiasa mencintaimu. Jangan patahkan hatiku untuk yang ke sekian kali,” bisikku pelan di telinganya.
Lama aku mencarimu
Cinta yang selalu kudamba
Jangan pernah lepas, berpaling lagi
Karena ku telah terbiasa
Mencintaimu…
(Telah Terbiasa, Rita Effendi)
Other Stories
Akibat Salah Gaul
Kringgg…! Bunyi nyaring jam weker yang ada di kamar membuat Taufiq melompat kaget. I ...
Melepasmu Dalam Senja
Cinta pertama yang melukis warna Namun, mengapa ada warna-warna kelabu yang mengikuti? M ...
Kado Dari Dunia Lain
Kamu pasti pernah lelah akan kehidupan? Bahkan sampai di titik ingin mengakhirinya? Sepert ...
Rumah Rahasia Reza
Di balik rumah-rumah rahasia Reza, satu pintu belum pernah dibuka. Sampai sekarang. ...
Impianku
ini adalah sebuah cerita tentang impianku yang tertunda selama 10 tahun ...
Sang Maestro
Mari kita sambut seorang pelukis jenius kita. Seorang perempuan yang cantik, kaya dan berb ...