People Like Us

Reads
2.4K
Votes
0
Parts
14
Vote
Report
Penulis Petra Shandi

Chapter 3

Masih lekat dalam ingatanku peristiwa itu. Saat aku dan Nael berkelahi di bawah rinai hujan. Sorot kebencian itu tak pernah bisa kulupakan, hingga pada akhirnya ia melepaskan tali persahabatan kami.
Lapangan basket di belakang sekolah menjadi saksi perkelahian kami. Setelah beradu mulut cukup panjang yang berujung pada perkelahian, aku masih memiliki sedikit harga diri untuk melayani tantangannya. Hingga pada akhirnya kami berdua terkulai tak berdaya.
“Aku sahabatmu!!!” teriak Nael mencoba melawan derasnya suara hujan. “Aku tidak mau kamu jadi gay dan aku tidak mau ikut-ikutan jadi gay!”
Sungguh, dia tak punya hati nurani berkata demikian. Di matanya aku seperti makhluk menjijikkan yang tak pantas memiliki teman.
“Sorry, kata-kataku menyakitimu,” katanya. “Tapi, ternyata aku tidak cukup baik untuk jadi sahabatmu.”
Aku menoleh ke arahnya dengan tatapan nanar. “Begitu beratnya kamu berkawan dengan seorang gay sepertiku? Aku juga manusia Nael,” kataku parau. “Dan tentunya aku tidak akan menjadikanmu seorang gay,” tambahku.
“Sudahlah, Az.” Nael menahan kata-kataku. “Aku sudah capek,” tambahnya. Meski tertatih, ia berusaha bangkit. “Please, jangan ganggu aku lagi!” ucapan itu menjadi kalimat terakhirnya padaku.
Nathanael melangkah jauh meninggalkan aku yang masih terbaring lemah di tanah. Dan aku tak berdaya menyaksikan semua harapanku pupus dalam sekejap. Nael takkan pernah menjadi sahabatku lagi.
***
Masih terngiang di telingaku ucapan Eka yang menyuruhku untuk melupakan Nael. Ya, aku sadar, sepuluh tahun segala sesuatunya pasti telah berubah. Aku mungkin masih mengingat-ingat masa lalu. Lain lagi halnya dengan Nael, mungkin kini dia telah memiliki kekasih—entah laki-laki atau perempuan. Sepuluh tahun cukup membuat banyak kenangan bagi Nael selain bersamaku. Dan sekarang aku telah mengetahui kabar lelaki itu, kupikir itu sudah cukup. Aku tidak perlu terlibat lagi dalam hidupnya. Fokusku seharusnya tertuju pada karier, dan tentunya Peter. Ia lebih pantas dan layak aku pikirkan, dialah yang selama ini di sampingku.
Aku tersadar dari lamunanku saat tak sengaja belasan missed call nampak di layar ponsel. Damn! Aku telah melupakan Peter. Aku harus menghubunginya! Aku tak mau dia berpikir macam-macam.
“Halo... Pete…”
“Morning... bagaimana pagi kamu?”
“Yeah sedikit pusing. Aku pulang larut malam gara-gara kumpul bersama Geng Setan.”
“Kamu mabuk semalam?”
Sial! aku salah bicara. “Hm...”
Terdengar derai tawa dari ujung sana. “Ya sudah, kamu minum obatlah. Apa rencana kamu hari ini? Langsung ke kantor baru kah?”
“Sepertinya begitu. Ada beberapa hal penting yang harus diurus,” timpalku. “Kamu sedang apa?” aku bangkit dari ranjang lalu menghampiri jendela. Dari atas terlihat rentetan kendaraan merayap pelan seperti semut.
“Aku baru beres sarapan. Eh, dapat telepon dari kamu. Senangnya hati ini...”
“Aku akan lebih seneng kalau kamu datang ke Bandung. Kangen rasanya, ingin cium kamu,” bisikku nakal.
Lagi-lagi Peter tertawa. “Kalau aku kangen tidak tahan pingin...” dia tak melanjutkan kalimatnya. Hanya ada ledakan tawa sebagai pelengkap dari kalimatnya. “Yang pasti aku kangen. Sangat kangen kamu. Love you, Honey…” sungguh, itu kalimat termanis yang aku dapatkan di pagi buta seperti ini. “Jaga diri ya di sana. Bila urusan pekerjaan sudah selesai, aku akan weekend di Bandung.”
Selepas perbincangan itu, aku menggeliat. Rasanya ingin melanjutkan kembali tidurku dan bermimpi tentang… forget it! Sosok menawan seorang Nael masih juga merayuku. Sejenak kupandangi ranjang king size yang terbentang di hadapanku. Ah, Tuhan! rasanya aku tak percaya dengan apa yang kualami semalam. Tanpa sadar bibirku malah tersungging.
Ah, Nael… pesonanya tak lekang oleh waktu.
Bolehkan aku menemuinya sekali lagi? Ini memang terdengar gila. Tapi aku ingin menemuinya sebagai seorang teman. Mendengar kisahnya selama sepuluh tahun terakhir dan bagaimana ia bisa terlibat di dunia kelam itu pada akhirnya.
Nael is everywhere. Sepuluh tahun silam tak melarutkan bayangan tentangnya. Bahkan hingga saat ini, saat kami bertemu kembali dalam situasi yang sulit sekalipun.
***
Tak terasa seminggu telah berlalu dan aku senantiasa menikmati hari-hariku semaksimal mungkin. Seperti hari ini, pagi yang sempurna setelah bercakap-cakap mesra dengan kekasihku—yang telah menjadi rutinitas setiap fajar menjelang. Dan kini Mini Cooper yang kupesan sejak jauh hari telah terparkir di ground base apartemenku. Tentunya ini akan membuatku semakin bersemangat melenggang di jalanan Kota Bandung.
Kantorku tidak jauh, masih berada satu jalan yang sama dengan tempat tinggalku. Tentunya ini akan mempermudah akses ke berbagai tempat, tanpa harus terjebak macet. Meski sebenarnya aku rindu rumah masa kecilku. Saat masih tinggal bersama Ibu di kawasan Sarijadi.
Belum juga aku menginjak pedal gas, sekretarisku menghubungi. “Ya, Halo Sus?” ujarku dengan satu tangan memegang ponsel sementara tangan yang lain memegang kemudi.
“Pak, ada seorang tamu ingin menemui bapak. Katanya teman bapak, namanya Eka.”
Ah, kejutan! “Kamu minta Eka tunggu saja di ruanganku. Aku sedang di jalan menuju kantor. Layani dia, ya?” ujarku sumringah.
Benar-benar. Aku merindukan kawanku yang satu ini. Begitu sibuknya aku belum sempat bertemu dia sejak kepulanganku ke Bandung. Sahabatku inilah yang membuatku bertahan pasca pertengkaran dengan Nael sepuluh tahun silam. Dan entah dari mana dia bisa membaca orientasi seks-ku. Bisa jadi gay radarnya sangat berfungsi waktu itu.
Tiba di kantor aku tergesa-gesa menuju lobby. Begitu cepatnya aku hampir tidak menjawab sapaan salah seorang staf di meja resepsionis. Semoga saja senyuman barusan bisa mewakili jawabanku.
Sesaat setelah kubuka pintu ruanganku, nampak lelaki berpostur tinggi tengah menikmati secangkir kopi. Menyadari aku telah datang ia mengulum senyum lalu bangkit menghampiriku.
“Halo sobat! Maaf kita baru bisa bertemu sekarang,” aku menyambutnya dengan pelukan hangat.
“Aku bisa mengerti keadaanmu. Lagi pula aku baru kembali dari perjalanan bisnis semalam,” terangnya.
“Bagaimana penerbangan kamu dari Singapura? Tidak ada masalah?” tambahnya lagi.
“Berkat doamu aku selamat dan tiba di Indonesia,” aku tersenyum.
“Syukurlah kalau kamu baik-baik saja. Aku bisa melihat dari binar matamu. Sepertinya terjadi hal yang luar biasa beberapa hari ini,” lelaki itu memperlihatkan mimik merayu. Seperti tahu sesuatu.
“Ah… Eka, Eka. Kamu memang tahu banget aku, ya?”
“Aku kenal kamu bukan satu atau dua tahun,” timpal Eka.
“Tapi untuk yang satu ini, aku jamin kamu tidak tahu.”
“Just try me,” tantangnya.
Aku malah tertawa sendiri melihat mimik wajahnya yang seolah tahu segalanya. “This is about him,” bisikku pelan.
“Him… who?” lirih Eka seraya mendekat.
“You know who…” aku masih memberinya sedikit teka-teka.
Lelaki itu malah menggeleng dan akhirnya mengucap satu nama. “Nael, right?”
Sialan! Bagaimana bisa lelaki itu mengetahuinya?
“Dan jangan bilang kalau kalian telah melewati malam sempurna bersama?”
Pada akhirnya aku hanya bisa menelan ludah. Lelaki ini cenayang atau bukan sih?
Eka malah tertawa melihat raut wajahku yang kebingungan. “Seminggu yang lalu seseorang telepon aku minta alamat tempat tinggal kamu.”
Aku mendengarkan.
“Karena khawatir aku datangi apartemenmu. And… surprise! saat itu yang membuka pintu adalah Nael,” Eka kembali menyeruput kopinya. “Aku melihatmu tertidur nyenyak. Nampaknya si bodoh itu merawatmu dengan baik. Dia mengganti pakaianmu, lalu melap keringat yang membasahi wajahmu.”
Seolah menggodaku, Eka tersenyum nakal. “Sementara kamu tertidur pulas, kami berdua bicara. Dia terlihat begitu sedih. Sepertinya dia malu bertemu kamu di tempat yang salah. Namun pada akhirnya dia bisa berpikir jernih, bahwa pertemuan semalam mungkin lebih baik, daripada harus ditutup-tutupi.”
Aku bergeming. Ternyata itu tidak seperti yang kupikirkan. Nael justru merawatku yang sedang kepayahan. “Ka, kamu tahu alamat rumah Nael atau nomor ponselnya?”
“Tidak tahu, orang seperti dia mana boleh menyebarkan nomor ponsel ke sembarang orang.”
Aku mengangguk mulai memahami. “Aku harus bagaimana, Ka?”
“Lupakan Nael! Lelaki itu hanya membuat luka lama itu terbuka kembali. Ingat, kamu punya Peter! Dia sayang kamu, lebih baik, lebih mapan, dan dia bisa bantu karier kamu. Itu yang penting!” ujar Eka berapi-api.
“Bagaimana dengan perasaan aku?”
“Loh... kamu kan mencintai Peter. Iya kan? Kamu tidak mencintainya lagi?” pertanyaan itu sungguh menyudutkanku.
“Bukannya begitu, a….”
“Teman, dengarkan aku. Mulai saat ini jauhi Nael! Dia tidak bisa melakukan apa-apa untuk kamu. Ingat, derajat kalian berbeda sekarang!”
Dalam diam aku berusaha mencari celah untuk melarikan diri dari bayangan Nael. Tapi sungguh. Yang terjadi saat ini, refleksi dirinya malah semakin jelas melekat dalam ingatan.
***
Seminggu sudah aku berkutat dengan pekerjaan. Sungguh, kepalaku mulai penat dengan berbagai kontrak yang harus kupelajari. Dan sialnya lagi para Geng Setan sepertinya tenggelam dengan aktivitasnya masing-masing, mereka sama sekali tidak menghubungiku sekedar untuk makan siang bersama. Lalu Bagaimana dengan Eka? Sebagai seorang wartawan, bisa kubayangkan bagaimana sibuknya dia mencari berita ke sana-kemari. Meski sebenarnya ia selalu menyempatkan untuk bicara setiap kali aku menghubunginya.
Puji Syukur! Akhirnya Peter akan mengunjungi Bandung akhir pekan ini. Sepertinya ia tahu betapa tersiksanya aku melewati malam dengan lembaran dokumen sisa pekerjaan yang kubawa dari kantor. Dan tentunya dia pasti memahami dari rengekanku yang kutulis setiap malam di WhatsApp, berharap ia berbaik hati untuk menemaniku walau hanya semalam. Tidak, aku berharap dia akan sering menghubungiku. Sungguh. Aku tidak sabar ingin memeluknya.
Ponselku berdering tepat saat aku memarkirkan Mini Cooper-ku di pelataran parkir apartemen.
“Halo?”
“Hei, Az…” itu suara Bobby.
Akhirnya masih ada anggota Geng Setan yang ingat padaku. “Hei, Bro...” jawabku seraya membuka pintu mobilku.
“Kamu masih marah, ya? Sorry. Aku tidak tahu akan seperti kemarin keadaannya. Kami hanya ingin menyambutmu. Aku pikir bersenang-senang seperti kemarin akan membuatmu betah,” terang Bobby panjang lebar.
Aku tertawa seraya menekan tombol di depan pintu lift. “Iya, bukan salah kamu sih. Waktu itu aku memang sedang banyak pikiran, bawaannya cepat emosi,” ujarku beralasan.
“Susah payah aku sewa si Heaven. Kamu tidak tahu, dia itu salah satu kucing mahal,” ujar Bobby.
“Mahal? Kok bisa?” aku mengerutkan dahi lalu memasuki lift saat pintunya mulai terbuka.
“Bayarannya sepuluh jutaan.”
“Astaga, banyak sekali!” seruku tak percaya.
“Itu dia, saat kamu pergi kemarin, aku meminta Heaven untuk mengejarmu. Maksudnya supaya bisa temani kamu,” lelaki itu malah tertawa.
Aku mengerti sekarang. Jadi saat dia mengajakku minum dan mengantarkanku pulang, itu semata-mata karena profesi.
“Wei! Kok diem?”
Aku tersadar. “Ya sudah, nanti aku ganti uang kamu,” aku merasa tidak enak dengan setan yang satu ini.
“Itu tidak penting. Aku hanya mau memastikan kamu tidak marah lagi. That’s all.”
Aku tertawa. “Tentu saja tidak. Tidak sama sekali.\"
“Ya sudah, besok kita renang yuk sama setan yang lain?” Bobby membelokkan arah perbincangan.
“Sepertinya aku tidak bisa ikut, Peter akan datang malam ini.”
“Oya? Asyik yeuuhh,” rayu Bobby.
Tepat saat pintu terbuka, nampak sosok yang kukenal berdiri di depan pintu apartemen. Seorang lelaki berkulit putih. Ia memiliki sepasang mata sipit dengan alis tebal yang nampak menyatu di kedua sisinya. Seketika itu bibirku tersungging. “Bro, aku tutup sekarang ya? Peter ada di depan pintu.”
“Ok, salamin ya?”
“Iya,” ujarku lalu segera menutup sambungan.
“Peter!” seruku. Yang dipanggil akhirnya menoleh lalu memberiku seulas senyum.
“Sepertinya aku gagal memberimu kejutan,” nampak raut kecewa di wajahnya yang bening.
“Tidak juga. Aku memang terkejut. Kukira kamu akan tiba satu atau dua jam ke depan.”
“Iya. Aku sengaja selesaikan pekerjaan lebih cepat. Jadi aku bisa berangkat lebih awal.” “Pantes dandannya seadanya banget,” Bagaimana tidak? Ia hanya memakai kaos oblong dengan celana pendek berwarna krim dan sepasang sandal.
“Alah… ke pacar sendiri juga.”
“Huss!!” aku mengedarkan pandangan ke semua arah, berharap tidak ada yang mendengar perbincangan kami. Sementara Peter hanya terkekeh melihat raut gelisahku. Dia hanya menggerakkan bibirnya membentuk kalimat “I miss you.” Aku tersenyum lalu membalas dengan jawaban “Me too” tanpa mengeluarkan suara.
Aku membantu menjinjing ransel milik Peter. Sungguh, aku belum menyiapkan apa-apa untuk menyambut kekasihku. Seandainya saja aku bisa melakukan sesuatu. Masak? Aku tidak bisa. Mengucapkan kata-kata romantis? Apalagi itu.
Saat tak sengaja kulihat cover DVD drama asing, tiba-tiba aku teringat salah satu dialog dari drama tv Queer As Folk. Ketika itu Bryan merayu Justin—pacarnya yang berondong.
Aku suka dialognya. Apa patut kucoba?
Let see…
Aku mematikan sebagian lampu hingga meremang. Kubuat suasana seromantis mungkin. Perlahan kutanggalkan baju, lalu memakai topi cowboy yang tergantung di kapstok belakang pintu. Kuseret kakiku melangkah menuju badannya.
“So, are you coming or going? Or, coming and then going? Or, coming and staying?” lirihku saat napas kami beradu menjadi satu.
Melihat kelakuanku, Peter tetawa kecil, tapi dia ikuti permainanku. Aku meraih dadanya. Topiku aku pasang di kepalanya. Aku dekatkan mulutku di telinganya dan kumainkan telinganya dengan lidahku.
“Kamu belum menjawab pertanyaanku,” bisikku.
“Of course the third one,” timpalnya. Bagus, malam ini berakhir dengan indah sesuai keinginanku.
Tiga puluh menit telah berlalu, kami masih bermalas-malasan di ranjang. Perlahan Peter mengubah posisinya, sehingga kami bisa menatap satu sama lain. Ia tersenyum manis, lalu mencium keningku.
“Tidak disangka. Kita sudah bersama hampir tiga tahun,” Peter membuka percakapan.
“Kalau pasangan normal mungkin kita sudah menikah,” timpalku seraya mengusap rambutnya yang halus.
‘Loh, barusan kan sudah?” candanya. Sementara aku hanya menyeringai. “I hope you are the last one for me,” bisiknya.
Aku mengulum senyum sambil menganggukkan kepala. “Kamu tidak berniat menikah dengan seorang perempuan? Seperti yang Ibumu minta,” aku tahu itu pertanyaan sensitif. Sungguh, kalimat itu keluar begitu saja. Sama halnya ketika Ibu menyuruhku segera menikah saat tahu penyimpangan yang kualami. Dan itu yang membuat hubungan kami tidak harmonis lagi hingga sekarang.
“Kamu tahu? pertanyaan itu sangat sulit. Aku yakin kamu pun tak bisa menjawabnya.”
“I’m sorry,” lirihku.
“Honey, I’m hungry…”
Hadeuh, Peter tidak bisa menjaga suasana romantis ini. Aku menatapnya, lalu tertawa kecil. “Maaf, aku malah lupa kita belum makan malam.”
“Kamu sudah kenyang, ya barusan?”
Kupukul pelan bahunya, malu. “Mau delivery service atau kita makan di luar?”
“Hm… aku mau makan malam yang hebat malam ini,” katanya setelah berpikir beberapa saat.
“Makan malam yang hebat? Di mana? aku kurang begitu hafal restoran bagus di Bandung,” Memalukan. Sebagai tuan rumah seharusnya aku bisa mereferensikan satu tempat hebat seperti yang Peter inginkan.
“Aku tahu,” Peter menjentikkan jarinya.
***
Di sinilah akhirnya kami berada, restoran yang berada di puncak Bukit Dago. Suasana dingin tetap terasa hangat dengan hiasan lampu di setiap sudut-sudut ruangan. Dan yang membuatku suka adalah nuansa vintage melalui benda-benda klasik yang ter-display di ruang utama, serta beberapa pigura bergambarkan Kota Bandung tempo dulu. Suasananya menjadi begitu klasik dan romantis. Apalagi Peter berada di sampingku. Sempurna.
“Bagaimana? kamu suka?” tanya Peter seraya membuka satu kemasan rokok yang akan dia isap.
“Ya, aku suka,” jawabku seadanya.
Tiba-tiba kata-kataku terpotong saat tak sengaja melihat seseorang di meja depan. Ada dua orang lelaki tengah berbincang-bincang. Salah satu lelaki itu adalah… Nael!
“Kamu kenapa Az?” tanya Peter.
“Tidak, tidak apa-apa,” aku kembali fokus pada lelaki di hadapanku.
Sialnya di kejauhan Nael menatapku. Tak terhindari untuk sesaat kami beradu pandang.
“Kamu melihat siapa sih?” akhirnya Peter penasaran berbalik melihat arah pandanganku barusan.
“Oh, kamu kenal dia?” ia menengok Nael hanya sesaat, seakan bukan sesuatu yang penting.
Aku menggelengkan kepala.
“Kenapa? Tampan ya?” Peter malah tertawa. Dia mendekatkan wajahnya padaku, “Itu Heaven, seorang `kucing`,” bisiknya.
Aku mengernyitkan dahi. Bagaimana bisa Peter tahu identitas Heaven?
“Dia hebat beberapa tahun yang lalu, orang bilang dia lelaki panggilan dengan bayaran tertinggi,” terangnya.
“Oya?” aku pura-pura terkejut. “Lalu sekarang?”
“Sekarang popularitasnya sudah turun. Mungkin karena sudah tua, usianya sepertinya sama dengan kamu.”
“Di Jakarta dia terkenal, ya?”
“Di mana-mana. Sampai Bali pun dia terkenal.”
Aku hanya menganggukkan kepala.
“Kok kamu tertarik banget sama orang itu?” Peter mulai curiga.
“Nggaklah. Cuma iseng pingin tahu aja,” aku berusaha bersikap tenang agar Peter tak berpikir macam-macam.
***
Malam ini aku tidak bisa memejamkan mata. Pikiranku masih melayang memikirkan Nael atau Heaven. Apalagi percakapan kami seputar aktivitasnya sebagai pelacur kelas atas. Sungguh, Nathanael menyisakan tanda tanya yang harus kucari tahu jawabannya. Sejauh itukah dia berada di dunia hitam? Dan apa yang membuat Nael nekat melakukannya?
Aku hanya bisa mengusap wajahku sendiri. Jawaban dari pertanyaanku takkan bisa terjawab malam ini juga. Sejenak aku menoleh menatap Peter. Seketika itu senyumku mengembang. Dia sangat manis saat tertidur.
Maafkan aku, kebersamaan kita terganggu oleh kehadiran Nael di kepalaku.
Baiklah. Malam ini hanya ada aku dan Peter. Tidak boleh ada yang mengganggu kebersamaan kami.

Other Stories
Melepasmu Dalam Senja

Cinta penuh makna, tak hanya bahagia tapi juga luka dan pengorbanan. Pada hari pernikahan ...

Ablasa

Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan menjadi menyeramkan setelah mereka t ...

Wajah Tak Dikenal

Ketika Mahesa mengungkapkan bahwa ia mengidap prosopagnosia, ketidakmampuan mengenali waja ...

Kau Bisa Bahagia

Airin Septiana terlahir sebagai wanita penyandang disabilitas. Meski keadaannya demikian, ...

Hellend (noni Belanda)

Pak Kasman berkali-kali bermimpi tentang hantu perempuan bergaun kolonial yang seolah memb ...

Hantu Kos Receh

Mahera akhirnya diterima di kampus impiannya! Demi mengejar cita-cita, ia rela meninggalka ...

Download Titik & Koma