Chapter 6
Minggu sore aku pulang ke Bandung. Mini Cooper-ku sudah siap di pelataran parkir apartemen Peter. Tadinya ia ingin mengantarkanku, namun aku menolak. Akan lebih baik untuk Peter berisitirahat sejenak, untuk memulihkan staminanya pasca pesta semalam. Lagi pula aku ingin menikmati perjalananku sendirian. Pasti menyenangkan.
Ponselku bergetar saat kendaraanku telah melaju. Aku merogoh benda itu di saku kanan.
“Ya, halo?” aku menerima panggilan tersebut dengan tangan kanan mengendalikan kemudi.
“Mr Perfect, kamu di mana? Aku tunggu kamu di shuttle Cipaganti daerah Pondok Indah. Bukannya mau pulang sekarang?”
Bagus, waktu yang tepat untuk menggangguku. Aku hanya bisa menggelengkan kepala.
“Aku bawa kendaraan. Kamu pulanglah sendiri,” timpalku.
“Wah, itu bagus. Berarti aku bisa menumpang ya?”
“Sorry, Nael. Aku tidak bisa.”
“Hm…” Nael bergumam. “Baiklah,” sambungan kami terputus.
Sepanjang perjalanan aku tidak bisa berkonsentrasi. Fokusku terpecah dua dengan Nael. Lelaki itu hanya mau menumpang pulang, bagaimana bisa aku menolaknya? Apakah aku keterlaluan. Sekali lagi aku menggelengkan kepala. Kukuh pada pendirianku. Tidak! Aku tidak kelewatan. Sebelum nantinya terlibat jauh dengan orang itu, batinku.
Terlibat apa? Dia hanya ingin menumpang pulang. Kamu saja yang berpikir kelewatan, sisi batinku yang lain menyanggahnya. Sepertinya ada pertarungan seru dalam kepala ini. Dan aku sungguh tak tahu apa yang seharusnya kulakukan.
Spontan aku memutar arah kendaraan dan segera melaju menuju Pondok Indah, sebelum nantinya aku berubah pikiran. Sungguh, aku tidak mau beralasan kenapa akhirnya memutuskan menghampiri Nael. Satu sisi hatiku mengatakan aku harus menghampirinya.
Aku bergegas turun di pelataran parkir jasa travel itu. Kuedarkan pandangan ke segala arah, berharap kutemukan lelaki bercirikan seorang Nael. Tapi hasilnya nihil! Aku tak bisa menemukannya. Hingga kurang lebih setengah jam aku terdiam di lobby pembayaran.
Mungkin lelaki itu sudah pergi, batinku. Dengan langkah lunglai aku beranjak menuju pelataran parkir.
Saat kuangkat wajah, nampak lelaki ganteng berkacamata hitam dengan ransel besar di pundaknya.
“Halo Mr Perfect… Still waiting for me?” lelaki kurang ajar itu malah tersenyum manis dan membuatku terpaku tak berdaya.
Sebisa mungkin aku tidak merespons senyumannya. “Ayo cepat, sudah hampir malam. Nanti terlambat tiba di Bandung,” aku bergegas pergi, seolah tidak peduli diikuti oleh Nael—bahkan aku bisa dengar tawanya di belakangku.
Perjalanan pun berlanjut. Nael duduk di jok sebelahku. Dengan santainya ia bersiul mengikuti alunan lagu yang terdengar di radio. “Thanks, kamu sudah mau menampungku,” ujarnya saat menoleh padaku. Saat itu pula ia melepas kacamata hitamnya lalu memperlihatkan lesung pipi dan gigi putihnya.
Damn! Can you stop smiling at me?
“Hm…” aku berpura-pura fokus pada kemudiku.
“Mobilmu bagus, pasti mahal ya?”
Aku tidak merespons. Entah kenapa kabin mobil ini terasa panas? Padahal aku telah menyalakan AC dengan volume maksimal.
“Tenanglah sobat, kamu tidak perlu grogi begitu. Aku sedang tidak bekerja. Tidak akan menggerayangi badan kamu,” Nael malah tertawa kecil.
Spontan aku menoleh dan menatapnya tajam. Lelaki itu ingin mempermainkanku rupanya. Tenang, tenang. Kuhela napas panjang. Orang seperti Nael memang harus disikapi dengan hati yang sabar. Namun yang terjadi wajahku malah berkeringat tidak karuan. Semakin puaslah Nael mentertawakanku.
Tak lama ia menyerahkan selembat tissue padaku.
Dengan kasar aku menerima lalu segera membersihkan peluh di dahiku.
“Apa kabarmu sepuluh tahun terakhir ini?” aku mulai bicara.
“Seperti yang kamu lihat. Aku semakin ganteng, kan?”
Aku tak menggubris jawabannya. “Dulu, bukannya kamu sempat pacaran sama Naya? Ke mana dia sekarang?”
Nael tertawa. “Cinta Monyet,” gumamnya. “Aku tak tahu, mungkin sekarang dia sudah menikah.”
Kuanggukkan kepala. Sebenarnya sempat terbersit di kepalaku untuk mempertanyakan satu hal yang penting. Tentang bagaimana ceritanya hingga ia terjebak di dunia ini. Namun, entahlah. Aku masih punya hati nurani untuk tidak mengajukan pertanyaan sensitif itu secara langsung.
“Sepertinya kamu masih menyimpan satu pertanyaan lain, benar?” tebak Nael. “Kamu bersabarlah, belum saatnya aku bercerita.”
Aku mengulum senyum lalu menganggukkan kepala.
“Kemarin malam bagaimana ceritanya kamu bisa hadir di acaranya Peter? Kamu temani kawanmu? Atau…” aku tidak berani lanjutkan.
Kali ini Nael tertawa lepas. “Iya, aku diminta menemani lelaki tua itu. Lumayan lah tarifnya besar,” ujarnya. “Lima belas juta,” bisik Nael.
“Hah? Hanya menemaninya?” aku memberi tekanan suara pada kata terakhirku.
“Tentu saja tidak,” Nael mengibaskan tangannya. “Ditambah pelayanan plus-plus lainnya. Percaya tidak? Walaupun sudah renta, tapi permainannya di ranjang membuatku kewalahan.”
Untuk kalimatnya yang terakhir aku tidak mau dengar. Sungguh tidak mau dengar!
“Itu 15 juta masuk ke kantongmu semua?”
“Tidak. Semua yang atur Si Madam. Aku paling mendapat sebagiannya saja,” terang Nael. “Tapi jauh lebih besar daripada gaji kerjaan orang kantor biasa.”
“Kamu tidak berencana untuk meninggalkan pekerjaan ini dan cari pekerjaan yang lebih halal?” oh Tuhan, aku kebablasan bicara!
Nael membisu. Bisa jadi dia tersinggung dengan pertanyaanku. “Hanya pekerjaan ini yang bisa membuatku kaya dengan cepat,” ujarnya seraya menerawangi pemandangan di sisi jalan.
Aku tak berani berkata-kata lagi. Bisa-bisa ia menceritakan kisah pilu yang membuat pertahananku goyah. Lebih baik seperti ini. Aku fokus dengan kemudiku sementara kubiarkan Nael hingga ia tertidur sendiri.
Namun apa yang terjadi? Perlahan jemari lelaki itu menggerayangi pahaku. “Kalau kamu kesepian, kamu bisa mencariku,” lirihnya. “Kamu tidak perlu khawatir, akan kurahasiakan ini dari pacar tajirmu.”
Aku menghentikan kemudi secara spontan. “Aku tidak suka leluconmu! Kalau kamu masih mau tinggal. Sebaiknya tutup mulutmu!” ujarku kasar.
Nael tertawa. “Kamu ini mudah sekali digoda,” katanya. “Lagi pula si ganteng tajir itu sudah bisa memuaskan hasratmu, ya, dibanding lelaki seperti aku?” ia melanjutkan tawanya.
“Manusia idiot!” cibirku.
“Nael…” gumamku setelah beberapa saat. Namun aku malah mengurungkan pertanyaanku.
Nael menoleh. “Hm…” sepertinya dia mulai mengantuk.
“Forget it!” kubatalkan pertanyaanku.
“Bertanya saja. Aku tak akan meminta tarif dari pertanyaanmu, kok,” ujarnya seraya menggeliat kecil.
“Sejak kapan kamu menjadi gay? Atau ini semata demi pekerjaan saja?”
Nael menggeleng. “Kamu ini. Sudah kukatakan lambat laun pasti akan kuceritakan. Rupanya kamu masih bawel seperti dulu.”
Aku tersenyum tipis. “Maaf, kamu tidak harus menjawabnya kok.”
“Iya. Aku gay.”
Apa? Dia sungguh sakit sepertiku? Rasanya ingin kutimpali dengan pertanyaan lainnya, tapi kuurungkan. Aku tetap bertahan dengan kemudiku.
“Aku bingung harus memulai dari mana kisah ini.”
Baru, kali ini aku menoleh. Ada raut bimbang di wajahnya. Sama seperti saat kuakui rahasiaku pada Ibu.
Kuhela napas panjang lalu menyunggingkan bibirku sedikit. “Aku mendengarkan.” Perlahan kutepikan kendaraan di kawasan rest area.
“Mungkin kamu pikir aku marah saat kejadian sepuluh tahun silam,” Nael membuka percakapan. “Tapi yang sebenarnya terjadi adalah aku takut. Mungkin lebih tepatnya bingung dengan apa yang kurasakan. Dan sungguh, satu sisi dalam diriku seolah berontak. Aku harus melawannya!” Nael mendorong pintu mobil lalu beranjak keluar. Ia menghirup udara dalam-dalam lalu merogoh Marlboro di saku celana jeans-nya.
Perlahan aku pun mengikuti dan berdiri bersandar di depan mobil di samping Nael.
“Aku mati-matian menghindari perasaan aneh ini. Di dalam hati terus kuyakini bahwa kamu adalah sahabatku. Tidak boleh ada perasaan yang lain,” ia menyalakan rokoknya untuk sejenak. “Tapi kenyataannya apa? Ternyata kamu merasakan apa yang aku rasakan. Mungkin yang membedakan kamu lebih agresif dibanding aku,” Nael tersenyum. “Aku takut dengan apa yang kurasakan. Itulah kenapa kuputuskan untuk menjauhimu. Namun pada akhirnya justru aku yang harus menelan penyesalan ini sekali lagi. Apalagi saat itu kamu mulai berteman dengan si Eka. Bisa kubaca, kalian memiliki keterikatan satu sama lain. Saat itu pula kusadari, aku tidak bisa meraihmu lagi.”
Apa yang baru saja kudengar? Aku seperti berhalusinasi seakan kami kembali ke masa sepuluh tahun silam. Dan saat ini Nael sedang menyatakan cinta padaku. Dasar bodoh! Coba saja pertengkaran itu tak pernah ada. Mungkin situasinya akan berbeda dengan saat ini.
Pada akhirnya aku hanya bisa menghela napas panjang lalu memberi seulas senyum padanya.
“Maafkan aku Nael. Seandainya waktu itu aku tidak gegabah menciummu, persahabatan kita akan berjalan tanpa masalah,” lirihku. ” Dan seandainya saja aku tak pernah mengekspresikan perasaanku padamu, kamu tetap dengan jalanmu sehingga kita bisa berteman tanpa terbebani rasa yang lain.”
“Tidak begitu, Az,” bantah Nael. “Ada maupun tidak ada kamu. Aku akan tetap seperti ini. Rasa yang sudah ada jauh sebelum aku mengenalmu.”
“Lalu Naya? Kamu memacari Naya dengan maksud menyembunyikan identitasmu?” tebakku.
Nael menyunggingkan senyum. “Aku egois ya, Az? Tapi, apa salah aku mencoba sesuatu yang benar? Aku sangat berusaha untuk melepaskan diri dari belenggu itu, Az. Hingga akhirnya aku sadar. Ini takkan pernah adil untuk Naya.”
Perasaanku semakin tidak karuan, hingga akhirnya aku meminta sebatang rokok dari Nael.
“Bagaimana kalau kita mencari tempat yang enak untuk minum?” tawar Nael.
Tawaran yang menggiurkan. Namun aku sadar, ini bukan waktu yang tepat untuk bersantai di suatu tempat. Kami dikejar waktu untuk kembali ke Bandung. “Maaf, aku menyetir. Lagi pula aku harus cepat kembali. Besok pekerjaanku menumpuk.”
Yang sebenarnya kuhiraukan adalah aku takut terjadi sesuatu yang tak diinginkan di antara kami. Apalagi suasana hati Nael sedang tidak bagus. Bagaimana kalau kami mabuk? Lalu melakukan kesalahan yang sama seperti tempo hari?
***
Kendaraanku baru saja keluar dari Tol Pasteur. Bandung menyambut kami dalam keheningan yang dibalut hembusan angin yang menggigil. Di sebelahku, Nael nampak tertidur pulas.
“Nael, kita sudah tiba,” lirihku seraya mengusap lengannya.
Nael menggeliat. “Kita sudah sampai?” masih dengan mata tertutup.
“Di mana rumahmu? Biar kuantar langsung ke rumahmu,” lirih namun jelas dia menggumamkan satu daerah pemukiman di kawasan Setiabudi.
Suasana seperti ini mengingatkanku pada malam itu. Malam sial yang membuat persahabatanku hancur berkeping-keping, hanya karena sebuah cumbuan yang kucuri dari bibirnya yang indah. Dan sekarang, Nael tertidur persis sama seperti waktu itu. Terlelap seperti bayi, dengan mulut sedikit terbuka. Aku tersenyum. Dalam keadaan apapun, Nael selalu terlihat tampan.
Kami tiba di perumahan tempat tinggal Nael di kawasan Setiabudi. Kutepikan kendaraanku tepat di sebuah rumah mungil bercat Putih. Nael meraih ranselnya di jok belakang. Lalu perlahan keluar dari mobil.
“Teman, terima kasih, ya.”
Aku menghampirinya.
“Terima kasih untuk semua kebaikanmu. Dan membiarkan aku kembali masuk dalam kehidupanmu,” lelaki itu menyalamiku. “Meski kutahu keadaannya tidak akan pernah sama lagi.”
“Kamu akan selalu menjadi sahabatku,” lirihku tulus.
Spontan Nael memelukku. Aku yang terkejut hanya bisa membiarkan apapun yang ia lakukan. Hingga akhirnya aku merasa tidak nyaman. “Nael, sudah malam. Aku harus pulang,” bisikku.
“Sabarlah sebentar. Aku hanya ingin bersandar di bahumu. Aku merindukan saat-saat ini. Ketika aku mendekapmu setiap kali kita berangkat ke sekolah.”
Aku dan Nael tetap berpelukan. Hangat. Sehangat persahabatan kami sepuluh tahun silam.
Other Stories
Kenangan Indah Bersama
tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...
Dia Bukan Dia
Sebuah pengkhianatan yang jauh lebih gelap dari perselingkuhan biasa. Malam itu, di tengah ...
Kucing Emas
Suasana kelas 11 IPA SMA Kartini, Jakarta senin pagi cukup kondusif. Berhubung ada rapat ...
Cinta Bukan Ramalan Bintang
Dengan membaca ramalan bintang seakan menentukan hidup seorang Narian akan bahagia atau ti ...
Konselor
Musonif, 45 tahun, seorang pemilik kios tindik, hidup dalam penantian hampa dan duka yang ...
Di Bawah Langit Al-ihya
Meski jarak dan waktu memisahkan, Amri dan Vara tetap dikuatkan cinta dan doa di bawah lan ...