Chapter 13
Rasanya aku tak perlu memastikan lagi siapa Eka yang dimaksud Peter. Karena yang kutahu hanya ada satu Eka kawanku. Tidak ada lagi. Tapi sungguh, meski terngiang ribuan tanda tanya yang kuarahkan padanya, tak sedikitpun keinginan untuk menemui lelaki itu dan membuat pertengkaran baru. Dua orang saja sudah cukup, tak perlu lagi kusakiti diriku sendiri hanya karena si pengkhianat itu.
Rumah sepertinya tak selalu memberikan ketenangan yang kuinginkan. Ibu kerap bertanya akan perubahan sikapku yang di matanya sangat drastis. Entahlah apa reaksi beliau jika tahu aku putus dengan Peter, sumber pertengkaran kami tiga tahun silam. Rasanya aku tak mampu menegakkan kepala di hadapannya lagi.
Jadi, tidak ada pilihan lagi selain menghabiskan malam di Metropolis. Kegiatanku ini sudah menjadi rutinitas sejak dua minggu terakhir, lumayan bisa membebaskan amarahku dan membiarkan semuanya terderai oleh tawa akibat minuman beralkohol. Aku melakukannya tanpa Dimas, Bobby ataupun Chandra. Bukan karena mereka tidak peduli kepadaku, kenyataannya justru ada banyak puluhan miss called menanyakan keberadaanku saat ini. Ah, biarlah... aku hanya ingin menikmati kesedihan ini seorang diri.
“Diaz...”
Seseorang menepuk bahuku dari belakang. Sedikitpun aku tidak menoleh, paling pengunjung yang kebetulan mengenaliku. Ujung-ujungnya dia pasti duduk di sebelahku.
“Tenang saja sobat, aku tidak mabuk. Kamu pulang saja. Nanti aku pulang pakai jasa driver kok,” aku melambaikan tangan tanpa melihat siapa orang itu.
“Aku mencarimu ke mana-mana,” ujar lelaki itu.
Baru kali ini aku menoleh padanya yang telah berada di sampingku.
Sesaat aku tertegun, karena tebakanku ternyata salah. Lelaki yang sedang berbicara padaku adalah Nael.
“Lihat, siapa yang datang?” ujarku sinis.
Meski ragu, Nael tersenyum pada akhirnya. “Apa kabar, Az?”
Kubalas senyumannya dengan seringai. “Seperti yang kamu lihat, aku masih hidup,” timpalku asal bicara. “Tahu dari mana aku di sini?”
“Dari Dokter Dimas.”
“Mau apa? Disuruh Dimas buat bujuk aku pulang?” tebakku.
Nael menggeleng. “Aku hanya rindu kamu, Az.”
“Rindu?” aku mengerutkan dahi lalu tertawa melecehkan. “Tidak usah banyak basa-basi lah. Minum?” aku menawarinya satu shot minuman.
Nael menggelengkan kepalanya.
“Aneh saja. Kemarin kamu bilang aku bukan kawanmu. Eh, tiba-tiba sekarang datang,” kupandangi wajahnya. “Pakai bilang rindu, lagi.” Aku tertawa tak tertahan. “Kamu sadar tidak? Atau memang sedang mabuk juga?”
Nael tertunduk malu diserang dengan kalimatku barusan. “Sekalian aku ingin membuat pengakuan padamu. Rahasia ini tidak bisa aku simpan selamanya. Terlebih melihat keadaanmu saat ini. Hatiku sakit.”
“Sudahlah! Tak perlu panjang lebar. Pengakuan seperti apa yang akan kamu ungkapkan?”
“Ini tentang Peter.”
Kugarukkan kepala. “Kenapa? Lelaki itu bukan urusanku lagi. Apa... kamu tidur dengannya?” sindirku.
“Bukan seperti itu,” Nael menghela napas panjang. “Diaz, dengarkan aku!” dia meraih bahuku, meminta perhatian lebih.
“Ok. I listen to you,” baiklah, kuberi kesempatan lelaki itu mengungkapkan pengakuannya.
“Aku dan Eka bekerja sama memisahkan kamu dengan Peter.”
“Apa? Aku tidak mengerti,” dahiku mengerut. Aku yang terpancing oleh ucapan Nael akhirnya menghempas minumanku dan mencoba fokus mendengarkan.
“Eka adalah mantan kekasih Peter. Dia cemburu pada kalian. Itu sebabnya dia memperalatku agar mau memisahkan kalian. Dia bersedia membayarku 50 juta rupiah. Bodohnya, aku yang sedang gelap mata malah menyetujui kesepakatan itu.”
Tak terkira sakit yang kurasakan saat ini. Seketika itu aku langsung meraih botol minumanku dan meneguknya sekaligus.
“Diaz! Jangan seperti ini!” lelaki itu berusaha merebut botol minumanku. Hingga akhirnya benda itu terjatuh ke lantai.
“Bedebah!” aku menatap tajam lelaki di hadapanku. “Jadi selama ini kamu memandang aku sebagai tambang uangmu? Aku? Aku yang selalu memikirkan kamu. Orang yang selalu tulus padamu!!!”
Aku mendorong Nael hingga terjauh. “Bangun, brengsek! Hadapi aku, seperti kamu yang pernah menantangku berkelahi sepuluh tahun lalu! Kamu akan lihat sisi lain aku. Kamu kira aku akan selamanya menjadi lelaki yang pasrah dan menerima perlakuan tidak adil ini? Kamu salah, brengsek!” aku menarik ujung kerah kemeja Nael dan memukul wajahnya.
Berulang kali kutonjok wajah lelaki itu. Namun, tanpa ada satupun pukulan balasan darinya.
Aku lelah sendiri dan akhirnya terkulai jatuh bersamaan dengan tubuh Nael yang lemah.
Kupandang wajah Nael yang berlumuran darah. Ia menangis. “Pukul aku sekali lagi, Az. Sejak awal kusadari, aku memang lelaki tidak berguna. Melacurkan diri, bahkan menyakiti sahabat yang aku sayangi. Sungguh, aku tidak akan menyanggah diriku sendiri. Aku hanya ingin mati di tanganmu, Az!” pekiknya.
Akupun ingin mati, Nael.
***
Terasa baru kemarin aku menyelinap ke dalam hatimu lalu mencuri sebentuk cumbu dari bibir itu. Meski tak kausadari remah-remah cinta itu justru menuntunmu pada pertemuan ini. Tapi tak mengapa, walau terlambat aku tak menyesal. Setidaknya kamu mengakui... kamu pernah mencintaiku.
Sesungguhnya aku enggan membuka mata, namun suara-suara mengganggu itu cukup membuat tidurku tidak nyaman. Dan apalagi sekarang, seseorang pasti telah membuka gorden jendelaku. Aku merasakan sengatan hangat di wajah.
“Selamat pagi, Pangeran,” itu suara Bobby.
Benar juga tebakanku. Para setan rupanya sedang berkumpul di kamarku. Aku mencoba bangkit, namun efek mabuk semalam menyisakan pusing yang luar biasa di kepalaku.
“Kalian? Kalian bermalam di rumahku?” tunjukku pada mereka.
Bobby dan Chandra malah saling berpandangan, lalu tertawa kemudian.
“Sudah kubilang, bukan? Diaz takkan mengingat kejadian semalam,” simpul Chandra.
Aku mengerutkan dahi. Memangnya apa yang terjadi semalam? “Aku mabuk. Lalu...” Kugigit bibir bawahku seraya berpikir.
“Dan kamu habis menghajar si Nael habis-habisan!” lanjut Dimas.
“Nael? Mana Nael sekarang?” Astaga! Aku baru bisa mengingatnya. Lelaki itu pasti terluka parah.
“Semalam dia dilarikan ke rumah sakit. Kamu memukulnya terlalu keras,” canda Dimas. “Tapi sekarang dia sudah pulang ke rumahnya.”
Aku termangu. Kasihan lelaki itu. Seketika aku beranjak lalu meraih kunci mobil di atas nakas. “Aku mau ke tempat Nael sekarang!” seruku.
“Hei sabar, Brother. Lihat kondisimu sekarang. Memangnya kamu bisa nyetir dengan keadaan begini?” hadang Dimas.
“Bisa!” bantahku.
“Tunggu, Az! Biar aku ikut sama kamu!” kejar Dimas dari belakang. Aku tak menghiraukan suara mereka yang memanggil-manggil namaku. Saat ini aku hanya ingin bertemu Nael, masih ada pembicaraan yang belum tuntas dengannya.
Tuhan, apakah ini akhir dari kisah kami? Lalu kenapa semua harus tuntas namun tak memberikan sedikitpun keadilan untukku? Aku rela Kau memisahkan kami. Tapi tidak seperti ini. Setidaknya berikan sedikit kenangan manis untukku dan untuknya.
***
Pagi yang gigil, aku memaksakan diri berjalan di pekarangan rumah Nael yang luas. Apa yang harus kukatakan padanya? Meminta maaf? Lalu bagaimana kira-kira reaksi Angga setelah tahu kekasihnya baru kuhajar semalam. Ah, Tuhan. Sesungguhnya aku tak tahu apa tujuanku datang kemari. Logikanya Nael yang harus datang padaku dan mengiba maaf. Tanpa bisa menjawab pertanyaan itu bibirku malah tersenyum sinis. Tentu, Diaz yang dulu masih sama dengan yang sekarang. Dia takkan pernah bisa lepas dari bayangan seorang Nael. Meski bayangan lelaki itu berkali-kali melarikan diri.
“Bang Diaz?” Angga membuka pintu rumah setelah tiga kali aku mengetuknya.
Aku memaksakan diri tersenyum. “Nael, ada?” tanyaku ragu.
Saat pintu terbuka lebih lebar, nampak lelaki itu duduk lemah di sebuah sofa lipat. Nael dengan wajah kusutnya terperanjat saat menyadari aku telah berada di rumahnya. Untuk beberapa saat kami hanya berpandangan. Aku tahu, dari sorot matanya ada sebentuk kata yang ingin dia ungkapkan. Namun entahlah, Nael malah diam seribu bahasa.
“Maafkan aku, Nael...” lirihku lalu mendekatinya perlahan.
Saat kami berdekatan, spontan lelaki itu memelukku begitu erat. “Tidak, seharusnya aku yang meminta maaf kepadamu. Kamu tidak pantas datang kemari dan meminta maaf yang seharusnya kulakukan,” bisiknya.
Merasa tidak nyaman menjadi tontonan Angga di hadapan kami, aku segera melepaskan diri dari dekapan Nael.
“Ah... itu...” ujar Angga salah tingkah. “Aku berangkat kerja dulu ya, Bang? Sekarang kan ada Bang Diaz. Jadi aku bisa pergi dulu.”
“Kamu bilang kerja shift siang?” timpal Nael.
“Tidak begitu! Lawan shift-ku mendadak minta tukar jam kerja. Aku pergi sekarang, ya?”
“Ya sudahlah...” Nael tak bisa beradu argumen lagi.
“Seharusnya kamu tidak memelukku barusan,” ujarku selepas Angga meninggalkan rumah.
Nael menatapku ragu lalu tersenyum kemudian. “Kami sudah berpisah, Az.”
Aku memejamkan mata seraya menghela napas panjang. “Apa karena aku?”
“Entahlah, aku sendiri tidak tahu pasti apa yang ada di benak Angga saat ini. Dia hanya bilang akan pulang ke Medan dan menetap bersama keluarganya di sana.”
Aku mengangguk, mencoba memahami keadaan lelaki itu. “Lalu... apa rencanamu selanjutnya?”
Lelaki itu melangkah keluar menuju pekarangan rumah, lalu duduk di salah satu kursi taman di sana. “Aku sudah memikirkan matang-matang rencanaku.”
Kuikuti langkahnya hingga kami kembali berhadapan. “Maksudmu?”
“Aku pun akan pergi, Az.”
“Maksudmu, kamu akan pergi mengikuti Angga ke Medan?”
Ia malah mengibaskan jemarinya. “Kamu tahu sendiri rumah ini bukan milikku. Itu sebabnya aku putuskan membawa Ibu dan menetap bersama Paman di Surabaya. Mungkin dengan tinggal di sana, aku bisa memulai semuanya dari awal. Melanjutkan kuliah dan bekerja secara halal.”
“Kenapa harus jauh-jauh ke Surabaya? Di sini pun kamu bisa memulainya.”
“Terlalu banyak kenangan buruk di kota ini,” sanggah Nael.
“Termasuk kenangan masa lalu kita?” Sial! Bagaimana bisa bibirku mengucap kalimat itu dengan mudahnya.
“Apa kamu tidak bosan dibayangi kenangan tentang cerita kita?” Nael mengalihkan tatapannya ke arah lain.
“Maksudku...” aku mencoba menjelaskan kalimatku sebelumnya.
Satu telunjuk Nael menutup bibirku. “Aku mengerti apa yang akan kamu katakan. Hanya saja kadang aku bertanya pada diri sendiri. Mau sampai kapan kita seperti ini? Cinta begini tak bisa memberikan kebahagiaan yang abadi. Kamu masih ingat pembicaraan kita tempo hari tentang ketidaksempurnaan manusia? Kupikir sudah saatnya kita untuk mengendalikan ketidaksempurnaan ini. Meski sulit, kita bisa memulainya dari sekarang.”
“Maksudmu kita harus berpura-pura dan menafikan perasaan kita sendiri?”
Nael terdiam. “Bila itu tak mungkin, setidaknya kita tak menyimpang terlalu jauh. Hanya mencoba untuk jalani hidup sebaik-baiknya.”
“...”
“Aku menyayangimu, Diaz,” lirihnya. “Namun aku cukup tahu diri untuk tidak lagi menyakitimu. Kamu harus bahagia dan lepas dari lingkaran ini!” senyuman itu kembali menghiasi bibirnya. “Kamu tahu? Akhir-akhir ini aku sering berdoa untukmu, malaikatku.”
“Ah, mana ada malaikat gay,” aku merespons kalimatnya dengan canda.
“You’re not gay. You’re just special. Seseorang yang spesial itu harus mendapatkan yang spesial juga. Aku berdoa pada Tuhan agar malaikatku diturunkan seorang dewi untuk mendampinginya. Saat itu kamu akan merasakan bagaimana jatuh cinta untuk yang pertama kali. Jauh seperti rasamu untukku saat SMA, bahkan sama sekali tidak seperti cintamu pada Peter.”
Saat itu pula aku termangu. Hanya air mata yang mulai menganak sungai di pipi. Doa terindah yang diucapkan seseorang untukku.
“Kamu terharu, bukan?” goda Nael.
Aku segera menghapus air mata. “Kamu memang jagonya bikin orang Ge er,” kutepuk bahunya.
Waktu tak pernah meleraikan ikatan batin ini. Seperti yang kurasakan sekarang. Senyumnya, gairahnya, dan semangatnya masih sama dengan lelaki yang pernah kucintai sepuluh tahun silam. Dan ternyata aku pun masih rela menjadi bagian dari kebodohannya. Seperti dia mengacak-acak rambutku, menertawakan kekonyolanku, bahkan ruang yang kosong di hatinya masih dia sediakan untukku.
Namun tak serampangan itu dia ada. Aku sadar, karenanya hidupku mulai berubah haluan. Seperti menemukan kembali sepercik bahagia yang sempat menguap. Dan karena tuntunannya aku bisa menelusuri jalan pulang. Kembali kepada bahagia, kepada Ibu, dan kepada mereka yang tulus mencintaiku sepenuh hati.
Other Stories
Melepasmu Dalam Senja
Cinta penuh makna, tak hanya bahagia tapi juga luka dan pengorbanan. Pada hari pernikahan ...
Broken Wings
Bermimpi menjadi seorang ballerina bukan hanya tentang gerakan indah, tapi juga tentang ke ...
Cinta Di 7 Keajaiban Dunia
Malam yang sunyi aku duduk seorang diri. Duduk terdiam tanpa teman di hati. Kuterdiam me ...
Petualangan Di Negri Awan
seorang anak kecil menemukan negeri ajaib di balik awan dan berusaha menyelamatkan dari ke ...
DARAH NAGA
Handoyo, harus menjaga portal yang terbuka agar mahkluk dunia fantasy tidak masuk ke bumi. ...
Kehidupan Yang Sebelumnya
Aku menunggu kereta yang akan membawaku pulang. Masih lama sepertinya. Udara dingin yang b ...