Chapter 2 Bertemu Kembali
Dua minggu berlalu sejak pertemuan kami di dermaga. Aku kembali ke rutinitas normal, yaitu sekolah, tugas, dan sesekali mengutuk mantan yang sudah bahagia dengan kehidupan barunya.
Setiap kali aku merasa galau, bayangan senyum Satria muncul, "Aku penasaran, apakah dia juga sering memikirkan pertemuan singkat itu?"
Saat istirahat di sekolah, aku dan sahabatku, Rara, lagi nongkrong di kantin.
Mataku tiba-tiba menangkap sosok yang familiar. Satria. Dia sedang duduk sendirian di pojok kantin sambil menggambar sesuatu di buku sketsanya.
"Ra, lihat deh. Itu Satria, cowok yang pernah aku ceritain," bisikku sambil menyenggol lengannya.
Rara melirik, "Oh, dia? Kok bisa satu sekolah sama kita?"
Aku mengangkat bahu, "Nggak tahu. Mungkin ini takdir?"
Rara mendengus, "Takdir apaan? Buruan samperin!"
Dengan jantung berdebar, aku memberanikan diri. Aku berjalan ke arahnya pura-pura mau mengambil minuman dari dispenser yang letaknya persis di sampingnya.
"Hai," sapaku.
Satria mendongak, matanya yang tadi fokus pada sketsanya kini menatapku. Senyumnya mengembang, "Gisel, kan? Nggak nyangka ketemu di sini. Dunia sempit, ya?"
Aku terkekeh, "Sempit banget. Lo sekolah di sini juga?"
"Ya. Gue anak multimedia," jawabnya, "Lo?"
"Aku anak IPS. Kenapa lo nggak pernah keliat sebelumnya?"
"Gue seringnya di studio multimedia sibuk sama tugas," katanya, "Makanya, nggak pernah keliatan di kantin."
Kami ngobrol santai. Aku baru tahu kalau Satria ini memang anak seni, dan lagi ngerjain tugas foto untuk majalah sekolah.
"Model gue yang kabur waktu itu akhirnya balik," katanya, "Tapi udah telanjur mager. Enakan gambar di sini."
Kami berbagi cerita tentang sekolah, guru yang galak, dan tugas yang menumpuk. Obrolan kami mengalir begitu saja, seolah kami sudah kenal lama.
Triiing!
Saat bel masuk berbunyi, aku merasa sedih. Rasanya waktu cepat banget berlalu.
"Gue balik duluan ya, Sat," kataku, "Senang ketemu lo."
"Gue juga," dia tersenyum tulus, "Nanti ke dermaga lagi, yuk? Siapa tahu, kita bisa buang sial bareng lagi."
Aku tertawa, "Boleh."
Setelah itu, dermaga bukan lagi tempat buang sial bagiku. Tempat itu kini menjadi sebuah janji.
Sebuah harapan. Setiap hari, aku menanti pesan darinya. Hingga akhirnya, pesan itu datang.
“Gue di dermaga. Lo mau ikut?”
Aku langsung melesat. Di ujung dermaga itu, Satria sudah menungguku.
Matahari senja kembali mewarnai langit menciptakan lukisan alam yang indah.
Kami duduk berdua, kali ini tidak ada lagi rasa galau yang menguasai.
Hanya ada tawa dan percakapan ringan yang mengisi sore.
"Gue udah nggak pusing lagi soal mantan," kataku tiba-tiba.
Satria menoleh, "Gue juga udah nggak pusing soal model yang kabur. Kayaknya pertemuan kita itu emang jodoh, ya?"
Aku tersenyum, pipiku memanas, "Jodoh buang sial?"
Dia tertawa, lalu menggenggam tanganku, "Jodoh yang bikin kita sadar, kalau ada yang lebih baik dari yang udah pergi."
Di ujung dermaga yang sama, tempat aku dulu membuang air mata, kini menemukan tawa dan genggaman yang hangat.
Mungkin, dermaga ini memang bukan tempat buangan.
Tapi tempat di mana takdir mempertemukan dua hati yang sama-sama terluka untuk akhirnya saling menyembuhkan.
Setiap kali aku merasa galau, bayangan senyum Satria muncul, "Aku penasaran, apakah dia juga sering memikirkan pertemuan singkat itu?"
Saat istirahat di sekolah, aku dan sahabatku, Rara, lagi nongkrong di kantin.
Mataku tiba-tiba menangkap sosok yang familiar. Satria. Dia sedang duduk sendirian di pojok kantin sambil menggambar sesuatu di buku sketsanya.
"Ra, lihat deh. Itu Satria, cowok yang pernah aku ceritain," bisikku sambil menyenggol lengannya.
Rara melirik, "Oh, dia? Kok bisa satu sekolah sama kita?"
Aku mengangkat bahu, "Nggak tahu. Mungkin ini takdir?"
Rara mendengus, "Takdir apaan? Buruan samperin!"
Dengan jantung berdebar, aku memberanikan diri. Aku berjalan ke arahnya pura-pura mau mengambil minuman dari dispenser yang letaknya persis di sampingnya.
"Hai," sapaku.
Satria mendongak, matanya yang tadi fokus pada sketsanya kini menatapku. Senyumnya mengembang, "Gisel, kan? Nggak nyangka ketemu di sini. Dunia sempit, ya?"
Aku terkekeh, "Sempit banget. Lo sekolah di sini juga?"
"Ya. Gue anak multimedia," jawabnya, "Lo?"
"Aku anak IPS. Kenapa lo nggak pernah keliat sebelumnya?"
"Gue seringnya di studio multimedia sibuk sama tugas," katanya, "Makanya, nggak pernah keliatan di kantin."
Kami ngobrol santai. Aku baru tahu kalau Satria ini memang anak seni, dan lagi ngerjain tugas foto untuk majalah sekolah.
"Model gue yang kabur waktu itu akhirnya balik," katanya, "Tapi udah telanjur mager. Enakan gambar di sini."
Kami berbagi cerita tentang sekolah, guru yang galak, dan tugas yang menumpuk. Obrolan kami mengalir begitu saja, seolah kami sudah kenal lama.
Triiing!
Saat bel masuk berbunyi, aku merasa sedih. Rasanya waktu cepat banget berlalu.
"Gue balik duluan ya, Sat," kataku, "Senang ketemu lo."
"Gue juga," dia tersenyum tulus, "Nanti ke dermaga lagi, yuk? Siapa tahu, kita bisa buang sial bareng lagi."
Aku tertawa, "Boleh."
Setelah itu, dermaga bukan lagi tempat buang sial bagiku. Tempat itu kini menjadi sebuah janji.
Sebuah harapan. Setiap hari, aku menanti pesan darinya. Hingga akhirnya, pesan itu datang.
“Gue di dermaga. Lo mau ikut?”
Aku langsung melesat. Di ujung dermaga itu, Satria sudah menungguku.
Matahari senja kembali mewarnai langit menciptakan lukisan alam yang indah.
Kami duduk berdua, kali ini tidak ada lagi rasa galau yang menguasai.
Hanya ada tawa dan percakapan ringan yang mengisi sore.
"Gue udah nggak pusing lagi soal mantan," kataku tiba-tiba.
Satria menoleh, "Gue juga udah nggak pusing soal model yang kabur. Kayaknya pertemuan kita itu emang jodoh, ya?"
Aku tersenyum, pipiku memanas, "Jodoh buang sial?"
Dia tertawa, lalu menggenggam tanganku, "Jodoh yang bikin kita sadar, kalau ada yang lebih baik dari yang udah pergi."
Di ujung dermaga yang sama, tempat aku dulu membuang air mata, kini menemukan tawa dan genggaman yang hangat.
Mungkin, dermaga ini memang bukan tempat buangan.
Tapi tempat di mana takdir mempertemukan dua hati yang sama-sama terluka untuk akhirnya saling menyembuhkan.
Other Stories
Jam Dinding
Setelah kematian mendadak adiknya, Joni selalu dihantui mimpi buruk yang sama secara berul ...
Diary Anak Pertama
Sejak ibunya meninggal saat usianya baru menginjak delapan tahun, Alira harus mengurus adi ...
Menantimu
Sejak dikhianati Beno, ia memilih jalan kelam menjajakan tubuh demi pelarian. Hingga Raka ...
Waktu Tambahan
Seorang mantan pesepakbola tua yang karirnya sudah redup, berkesempatan untuk melatih seke ...
Liburan Ke Rumah Nenek
Affandi, remaja gaul berusia 18 tahun tak dapat berlibur ke lain tempat seperti biasa. Lib ...
Di Bawah Langit Al-ihya
Tertulis kisah ini dengan melafazkan nama-Mu juga terbingkailah namanya. Berharap mega t ...