Chapter 4 Liontin Jangkar
Waktu cepat berlalu, membawa Gisel dan Satria dalam petualangan baru adalah membangun hubungan.
Mereka tidak lagi sekadar dua orang yang saling berbagi cerita sedih di dermaga. Mereka kini menjadi satu, saling melengkapi.
Satria, dengan ketenangannya bisa meredam emosi Gisel yang kadang meledak-ledak. Sebaliknya, Gisel dengan keceriaannya berhasil membuat Satria lebih terbuka dan sering tersenyum.
Suatu sore, mereka kembali ke dermaga. Ini sudah jadi tradisi mereka. Satria meletakkan tas kameranya di samping dan duduk di sebelah Gisel. Mereka tidak banyak bicara hanya menikmati suara ombak dan angin.
"Gue masih nggak percaya kita bisa sejauh ini," ucap Gisel memecah keheningan, "Awalnya, cuma gara-gara mantan."
Satria menoleh, matanya berbinar, "Gue juga. Dulu, dermaga ini cuma tempat buat gue kabur dari kerjaan. Sekarang, ini jadi tempat favorit gue."
Ia mengeluarkan sesuatu dari tasnya, yaitu sebuah kotak kecil berwarna cokelat. Gisel menatapnya bingung.
"Ini... bukan cincin, kan?" candanya, membuat Satria tertawa.
"Bukan. Lo belum lulus SMA," jawab Satria sambil menyerahkan kotak itu, lalu berkata, "Tapi ini sesuatu yang lebih penting dari cincin."
Gisel membuka kotak itu perlahan. Di dalamnya, ada sebuah kalung perak dengan liontin berbentuk jangkar.
"Kenapa jangkar?" tanya Gisel, menatap Satria.
"Karena jangkar yang menahan kapal biar nggak terbawa arus. Lo itu jangkar gue, Gisel," ucap Satria tulus, "Lo yang menahan gue, bikin gue sadar kalau hidup nggak melulu soal kerjaan. Ada hal lain yang penting. Kayak lo."
Gisel tidak bisa menahan senyumnya, "Jadi, gue bukan lagi cuma tempat buang sial?"
"Bukan," jawab Satria. Ia mengambil kalung itu, lalu membantu Gisel memakainya, lalu berkata, "Lo tempat gue berlabuh. Di hati gue."
Gisel merasakan jantungnya berdetak kencang. Ia tidak menyangka, di ujung dermaga ini yang dulunya penuh dengan kesedihan dan air mata, ia menemukan seseorang yang bisa menjadi rumah baginya.
Seorang lelaki yang tidak hanya melihat luka di hatinya, tapi juga bersedia menjadi pelabuhannya.
Mereka menatap matahari terbenam. Kali ini, Gisel tidak lagi melihat pantulan bayangan mantan. Ia melihat bayangan mereka berdua saling menggenggam tangan dengan harapan yang membentang jauh di depan.
Jodoh memang seperti ombak. Kadang ia menghilang, kadang datang lagi.
Tapi jika sudah saatnya, ia akan berlabuh di tempat yang tepat. Dan untuk Gisel, tempat itu adalah di ujung dermaga ini, bersama Satria.
Mereka tidak lagi sekadar dua orang yang saling berbagi cerita sedih di dermaga. Mereka kini menjadi satu, saling melengkapi.
Satria, dengan ketenangannya bisa meredam emosi Gisel yang kadang meledak-ledak. Sebaliknya, Gisel dengan keceriaannya berhasil membuat Satria lebih terbuka dan sering tersenyum.
Suatu sore, mereka kembali ke dermaga. Ini sudah jadi tradisi mereka. Satria meletakkan tas kameranya di samping dan duduk di sebelah Gisel. Mereka tidak banyak bicara hanya menikmati suara ombak dan angin.
"Gue masih nggak percaya kita bisa sejauh ini," ucap Gisel memecah keheningan, "Awalnya, cuma gara-gara mantan."
Satria menoleh, matanya berbinar, "Gue juga. Dulu, dermaga ini cuma tempat buat gue kabur dari kerjaan. Sekarang, ini jadi tempat favorit gue."
Ia mengeluarkan sesuatu dari tasnya, yaitu sebuah kotak kecil berwarna cokelat. Gisel menatapnya bingung.
"Ini... bukan cincin, kan?" candanya, membuat Satria tertawa.
"Bukan. Lo belum lulus SMA," jawab Satria sambil menyerahkan kotak itu, lalu berkata, "Tapi ini sesuatu yang lebih penting dari cincin."
Gisel membuka kotak itu perlahan. Di dalamnya, ada sebuah kalung perak dengan liontin berbentuk jangkar.
"Kenapa jangkar?" tanya Gisel, menatap Satria.
"Karena jangkar yang menahan kapal biar nggak terbawa arus. Lo itu jangkar gue, Gisel," ucap Satria tulus, "Lo yang menahan gue, bikin gue sadar kalau hidup nggak melulu soal kerjaan. Ada hal lain yang penting. Kayak lo."
Gisel tidak bisa menahan senyumnya, "Jadi, gue bukan lagi cuma tempat buang sial?"
"Bukan," jawab Satria. Ia mengambil kalung itu, lalu membantu Gisel memakainya, lalu berkata, "Lo tempat gue berlabuh. Di hati gue."
Gisel merasakan jantungnya berdetak kencang. Ia tidak menyangka, di ujung dermaga ini yang dulunya penuh dengan kesedihan dan air mata, ia menemukan seseorang yang bisa menjadi rumah baginya.
Seorang lelaki yang tidak hanya melihat luka di hatinya, tapi juga bersedia menjadi pelabuhannya.
Mereka menatap matahari terbenam. Kali ini, Gisel tidak lagi melihat pantulan bayangan mantan. Ia melihat bayangan mereka berdua saling menggenggam tangan dengan harapan yang membentang jauh di depan.
Jodoh memang seperti ombak. Kadang ia menghilang, kadang datang lagi.
Tapi jika sudah saatnya, ia akan berlabuh di tempat yang tepat. Dan untuk Gisel, tempat itu adalah di ujung dermaga ini, bersama Satria.
Other Stories
Hujan Yang Tak Dirindukan
Mereka perempuan-perempuan kekar negeri ini. Bertudung kain lusuh, berbalut baju penuh n ...
Conclusion
Liburan Dara ke kota Sapporo di Hokkaido Jepang membawanya pada hal yang tak terduga. Masa ...
Rembulan Digenggam Malam
Pernah nggak kamu kamu membayangkan suatu hari kamu bangun di 1 Januari, terus kamu diberi ...
Harapan Dalam Sisa Senja
Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...
Sonata Laut
Di antara riak ombak dan bisikan angin, musik lahir dari kedalaman laut. Piano yang terdam ...
Haura
Laki-laki itu teringat masa kecil Haura yang berbakat, berprestasi, dan gemar berpuisi, na ...