Pertemuan Yang Tak Biasa
Kalau kamu kira pertemuan pertama Rahayu dan Arman tadi hanya soal jari yang hampir bersentuhan ketika menaruh gelas kopi, maka bersiaplah. Itu baru pemanasan. Pertemuan sesungguhnya baru dimulai sekarang, dan tentu saja penuh salah paham yang akan membuatmu senyum senyum sendiri meski hatimu tahu ada badai besar menunggu.
Coba bayangkan situasinya. Warung Haji Darsa sudah agak sepi setelah aparat tadi pergi. Pelanggan pelan pelan bubar, hanya tersisa beberapa bapak yang masih sibuk main catur dan anak kecil yang mengintip dari pintu. Malam mulai turun, lampu petromak digantung di langit langit, cahayanya berkelip seperti bintang kecil yang kelelahan.
Arman masih duduk di pojok, menunduk sambil menggambar garis garis tak jelas di buku catatannya. Sebenarnya ia ingin cepat pergi, tapi kakinya seperti lengket di kursi. Entah karena rasa lelah atau karena tatapan Rahayu yang sesekali jatuh ke arahnya. Kamu mungkin sudah bisa menebak jawabannya.
Rahayu, di sisi lain, merasa hatinya berdebar aneh. Ia sering melayani banyak orang di warung, dari nelayan yang cerewet sampai pedagang yang suka menawar harga kopi, tapi pemuda ini berbeda. Ada sesuatu di matanya, campuran lelah dan berani, seakan ia membawa cerita besar yang belum sempat terucap.
Dan di sinilah salah paham bermula.
Ketika Rahayu datang untuk mengambil gelas kosong, ia melihat buku catatan Arman. Dari jarak dekat terlihat halaman penuh coretan. Ada kata kata besar seperti “Reformasi” “Rakyat” dan “Turunkan”. Rahayu kaget, karena ia sendiri suka menulis puisi, tapi belum pernah berani menulis kata kata seberani itu.
Tanpa sadar ia berkata lirih, “Kang… ini tulisan siapa”
Arman langsung panik. Ia pikir Rahayu membocorkan rahasianya. Ia buru buru menutup buku, wajahnya pucat. “Jangan bilang siapa siapa ya Neng. Kalau ada yang tahu saya bisa habis.”
Rahayu terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil. “Tenang Kang, saya juga suka nulis. Tapi paling banter cuma puisi buat angin sawah. Tidak sehebat ini.”
Arman menatapnya bingung. Ia baru saja menegakkan tembok pertahanan, tapi lawannya ternyata tidak ingin menyerang, malah mengulurkan tangan. Dan kamu tahu kan, sering kali cinta lahir bukan dari momen manis sempurna, melainkan dari salah paham yang berakhir dengan senyum.
Namun tunggu dulu, salah paham belum selesai.
Tiba tiba pintu warung kembali terbuka. Masuklah Kang Deden, pemuda kampung yang sejak lama diam diam menaruh hati pada Rahayu. Ia membawa seikat sayur dari pasar, niatnya memberi hadiah kecil. Begitu melihat Rahayu berbincang akrab dengan Arman, wajahnya langsung memerah.
“Rahayu, ini siapa” suaranya ketus, matanya menatap Arman seperti menatap maling ayam.
Rahayu gugup, Arman makin bingung. “Ini… eh… pelanggan, Kang. Baru mampir.”
Tapi Kang Deden tidak puas. Ia mendekat, berdiri di depan meja. “Pelanggan kok mesra begitu. Buku apa itu, jangan jangan orang ini bawa masalah.”
Arman berdiri, mencoba tenang. “Saya cuma numpang istirahat. Tidak ada yang aneh.”
Kamu pasti bisa merasakan tegangnya suasana. Dua pemuda berdiri berhadapan, satu dengan ransel lusuh dan wajah lelah, satu lagi dengan dada membusung dan gengsi kampung. Kalau ini film action, mungkin musik dramatis sudah mengiringi. Tapi karena ini warung kopi, yang terdengar malah suara ayam berkokok malam dan panci jatuh di dapur.
Rahayu buru buru melerai. “Sudah Kang Deden, jangan ribut di warung. Ayah bisa marah.”
Namun Deden tidak mudah berhenti. “Saya cuma jaga kamu, Rahayu. Zaman begini banyak orang aneh. Apalagi mahasiswa. Bisa bikin gara gara.”
Arman terdiam, kata kata itu menusuk. Tapi justru Rahayu yang angkat bicara, dan ini membuat semua orang kaget. “Kalau mahasiswa itu berjuang untuk rakyat, apa salahnya. Justru mereka yang berani bersuara.”
Hening sejenak. Bahkan Kang Deden terdiam, tidak menyangka Rahayu yang biasanya lembut bisa bicara sekeras itu. Dan kamu tentu paham, kadang kalimat sederhana bisa jadi pedang yang menebas gengsi orang.
Kang Deden akhirnya pergi dengan wajah muram, meninggalkan seikat sayurnya di meja. Rahayu menghela napas, Arman hanya bisa menatap penuh kagum. Ia tidak menyangka gadis desa ini punya keberanian seperti itu.
“Terima kasih Neng,” katanya pelan.
Rahayu menunduk, pura pura sibuk merapikan meja, padahal pipinya merona. “Sudah lah Kang, saya cuma bilang apa yang saya rasa.”
Nah sekarang kamu pasti tersenyum, karena inilah momen sebenarnya. Pertemuan yang tadinya penuh salah paham berubah jadi titik awal kedekatan. Arman merasa menemukan teman bicara yang mengerti, sementara Rahayu menemukan seseorang yang membuat puisinya punya arah baru.
Malam makin larut, pelanggan tinggal segelintir. Arman akhirnya memberanikan diri. “Neng… kalau tidak keberatan, boleh saya tahu namamu”
Rahayu tersenyum, matanya berbinar di bawah cahaya petromak. “Rahayu.”
Arman mengulang pelan, seolah takut lupa. “Rahayu… indah sekali.”
Dan di detik itu, meski dunia di luar masih panas oleh krisis dan aparat berkeliaran, di dalam warung kopi sederhana lahir sebuah kisah yang tidak bisa dihalangi siapa pun.
Kamu yang membaca mungkin ingin mengingatkan mereka, hati hati, cinta di masa genting bisa berbahaya. Tapi coba akui, bukankah justru di tengah badai kita paling butuh kehangatan.
Malam itu berakhir dengan senyum. Arman tidur di bangku panjang warung, Rahayu diam diam menutupinya dengan kain tipis agar tidak kedinginan. Dan kamu tahu, kisah cinta yang besar sering kali berawal dari hal kecil yang nyaris tidak terlihat.
Itulah pertemuan yang tak biasa. Salah paham, sedikit drama, sedikit cemburu, tapi manis dan hangat. Dan dari sinilah cerita kita akan makin bergejolak, karena cinta yang lahir di bawah bayang bayang aparat tidak pernah berjalan mulus.
Coba bayangkan situasinya. Warung Haji Darsa sudah agak sepi setelah aparat tadi pergi. Pelanggan pelan pelan bubar, hanya tersisa beberapa bapak yang masih sibuk main catur dan anak kecil yang mengintip dari pintu. Malam mulai turun, lampu petromak digantung di langit langit, cahayanya berkelip seperti bintang kecil yang kelelahan.
Arman masih duduk di pojok, menunduk sambil menggambar garis garis tak jelas di buku catatannya. Sebenarnya ia ingin cepat pergi, tapi kakinya seperti lengket di kursi. Entah karena rasa lelah atau karena tatapan Rahayu yang sesekali jatuh ke arahnya. Kamu mungkin sudah bisa menebak jawabannya.
Rahayu, di sisi lain, merasa hatinya berdebar aneh. Ia sering melayani banyak orang di warung, dari nelayan yang cerewet sampai pedagang yang suka menawar harga kopi, tapi pemuda ini berbeda. Ada sesuatu di matanya, campuran lelah dan berani, seakan ia membawa cerita besar yang belum sempat terucap.
Dan di sinilah salah paham bermula.
Ketika Rahayu datang untuk mengambil gelas kosong, ia melihat buku catatan Arman. Dari jarak dekat terlihat halaman penuh coretan. Ada kata kata besar seperti “Reformasi” “Rakyat” dan “Turunkan”. Rahayu kaget, karena ia sendiri suka menulis puisi, tapi belum pernah berani menulis kata kata seberani itu.
Tanpa sadar ia berkata lirih, “Kang… ini tulisan siapa”
Arman langsung panik. Ia pikir Rahayu membocorkan rahasianya. Ia buru buru menutup buku, wajahnya pucat. “Jangan bilang siapa siapa ya Neng. Kalau ada yang tahu saya bisa habis.”
Rahayu terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil. “Tenang Kang, saya juga suka nulis. Tapi paling banter cuma puisi buat angin sawah. Tidak sehebat ini.”
Arman menatapnya bingung. Ia baru saja menegakkan tembok pertahanan, tapi lawannya ternyata tidak ingin menyerang, malah mengulurkan tangan. Dan kamu tahu kan, sering kali cinta lahir bukan dari momen manis sempurna, melainkan dari salah paham yang berakhir dengan senyum.
Namun tunggu dulu, salah paham belum selesai.
Tiba tiba pintu warung kembali terbuka. Masuklah Kang Deden, pemuda kampung yang sejak lama diam diam menaruh hati pada Rahayu. Ia membawa seikat sayur dari pasar, niatnya memberi hadiah kecil. Begitu melihat Rahayu berbincang akrab dengan Arman, wajahnya langsung memerah.
“Rahayu, ini siapa” suaranya ketus, matanya menatap Arman seperti menatap maling ayam.
Rahayu gugup, Arman makin bingung. “Ini… eh… pelanggan, Kang. Baru mampir.”
Tapi Kang Deden tidak puas. Ia mendekat, berdiri di depan meja. “Pelanggan kok mesra begitu. Buku apa itu, jangan jangan orang ini bawa masalah.”
Arman berdiri, mencoba tenang. “Saya cuma numpang istirahat. Tidak ada yang aneh.”
Kamu pasti bisa merasakan tegangnya suasana. Dua pemuda berdiri berhadapan, satu dengan ransel lusuh dan wajah lelah, satu lagi dengan dada membusung dan gengsi kampung. Kalau ini film action, mungkin musik dramatis sudah mengiringi. Tapi karena ini warung kopi, yang terdengar malah suara ayam berkokok malam dan panci jatuh di dapur.
Rahayu buru buru melerai. “Sudah Kang Deden, jangan ribut di warung. Ayah bisa marah.”
Namun Deden tidak mudah berhenti. “Saya cuma jaga kamu, Rahayu. Zaman begini banyak orang aneh. Apalagi mahasiswa. Bisa bikin gara gara.”
Arman terdiam, kata kata itu menusuk. Tapi justru Rahayu yang angkat bicara, dan ini membuat semua orang kaget. “Kalau mahasiswa itu berjuang untuk rakyat, apa salahnya. Justru mereka yang berani bersuara.”
Hening sejenak. Bahkan Kang Deden terdiam, tidak menyangka Rahayu yang biasanya lembut bisa bicara sekeras itu. Dan kamu tentu paham, kadang kalimat sederhana bisa jadi pedang yang menebas gengsi orang.
Kang Deden akhirnya pergi dengan wajah muram, meninggalkan seikat sayurnya di meja. Rahayu menghela napas, Arman hanya bisa menatap penuh kagum. Ia tidak menyangka gadis desa ini punya keberanian seperti itu.
“Terima kasih Neng,” katanya pelan.
Rahayu menunduk, pura pura sibuk merapikan meja, padahal pipinya merona. “Sudah lah Kang, saya cuma bilang apa yang saya rasa.”
Nah sekarang kamu pasti tersenyum, karena inilah momen sebenarnya. Pertemuan yang tadinya penuh salah paham berubah jadi titik awal kedekatan. Arman merasa menemukan teman bicara yang mengerti, sementara Rahayu menemukan seseorang yang membuat puisinya punya arah baru.
Malam makin larut, pelanggan tinggal segelintir. Arman akhirnya memberanikan diri. “Neng… kalau tidak keberatan, boleh saya tahu namamu”
Rahayu tersenyum, matanya berbinar di bawah cahaya petromak. “Rahayu.”
Arman mengulang pelan, seolah takut lupa. “Rahayu… indah sekali.”
Dan di detik itu, meski dunia di luar masih panas oleh krisis dan aparat berkeliaran, di dalam warung kopi sederhana lahir sebuah kisah yang tidak bisa dihalangi siapa pun.
Kamu yang membaca mungkin ingin mengingatkan mereka, hati hati, cinta di masa genting bisa berbahaya. Tapi coba akui, bukankah justru di tengah badai kita paling butuh kehangatan.
Malam itu berakhir dengan senyum. Arman tidur di bangku panjang warung, Rahayu diam diam menutupinya dengan kain tipis agar tidak kedinginan. Dan kamu tahu, kisah cinta yang besar sering kali berawal dari hal kecil yang nyaris tidak terlihat.
Itulah pertemuan yang tak biasa. Salah paham, sedikit drama, sedikit cemburu, tapi manis dan hangat. Dan dari sinilah cerita kita akan makin bergejolak, karena cinta yang lahir di bawah bayang bayang aparat tidak pernah berjalan mulus.
Other Stories
Death Cafe
Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...
Devil's Bait
Dari permainan kartu tarot, Lanasha meramal lima temannya akan mengalami kejadian aneh hin ...
Free Mind
KITA j e d a .... sepertinya waktu tak akan pernah berpihak pada kita lagi setelah aku ...
Awan Favorit Mamah
Mamah sejak kecil sudah ditempa kehidupan yang keras, harus bekerja untuk bisa sekolah, tu ...
Cinta Di 7 Keajaiban Dunia
Malam yang sunyi aku duduk seorang diri. Duduk terdiam tanpa teman di hati. Kuterdiam me ...
Nyanyian Hati Seruni
Begitu banyak peristiwa telah ia lalui dalam mendampingi suaminya yang seorang prajurit, p ...