Haji Darsa Marah Besar
Kalau kamu pikir hati yang bergetar itu bisa berjalan mulus begitu saja tanpa ada halangan maka jelas kamu belum pernah merasakan hidup di keluarga Sunda yang punya bapak keras kepala seperti Haji Darsa sebab begitu firasatnya menangkap adanya sesuatu antara Rahayu dan Arman maka seketika awan hitam turun menyelimuti warung kopi yang biasanya penuh tawa
Pagi itu suasana masih seperti biasa pelanggan datang silih berganti ada pedagang yang ribut soal harga cabe ada nelayan yang cerita soal perahu bocor ada ustaz Karna yang suka nyelipkan nasihat sambil ngopi tapi Rahayu pagi itu agak pucat sebab semalam ia tak bisa tidur memikirkan tatapan Arman dan lipatan kertas yang bikin jantungnya serasa terbang
Arman duduk di pojok lagi pura pura baca koran lagi padahal jelas jelas ia hanya menunggu kesempatan bisa bertemu tatapan dengan Rahayu lagi kamu pasti sudah paham pola ini seperti penonton sinetron yang sudah bisa nebak alurnya tapi tetap saja ikut baper nah begitulah
Tapi saat suasana mulai hangat pintu warung berderit terbuka masuklah Haji Darsa dengan wajah masam langkahnya berat sorot matanya tajam langsung menuju ke arah Arman kalau ini film kamu mungkin mendengar musik latar yang mencekam semacam drum berdebar dan biola yang menjerit tapi karena ini hanya kisah di warung kopi maka yang terdengar hanyalah suara ayam kampung yang berkokok tak tahu situasi
“Arman” suara Haji Darsa lantang membuat semua pelanggan terdiam bahkan sendok yang baru saja mengaduk teh berhenti di udara “Sejak kamu datang ke warung ini banyak masalah yang ikut mampir demo kemarin bikin rusuh orang orang jadi was was dan sekarang aku lihat kamu mulai dekat dekat dengan anakku jangan coba coba”
Rahayu menunduk wajahnya merah tangannya gemetar ia ingin bicara tapi lidahnya kelu Arman menatap Haji Darsa dengan tenang meski dadanya bergemuruh ia tahu saat ini bukan lagi soal dirinya saja tapi juga soal Rahayu dan keberanian untuk berdiri tegak
“Pak Haji saya tidak berniat bikin masalah” kata Arman suaranya berat tapi jelas “Saya hanya ingin membantu menyuarakan apa yang dirasakan rakyat kecil saya tidak ingin menyeret Rahayu ke dalam bahaya”
Haji Darsa menggeleng keras “Bahaya sudah datang sejak kamu singgah ke sini anak muda kamu mungkin merasa sedang berjuang tapi bagiku kamu hanya membawa onar Rahayu tidak boleh dekat denganmu titik”
Nah pembaca ini bagian di mana kamu bisa rasakan betapa kerasnya suara seorang ayah yang ingin melindungi anaknya tapi dengan cara yang kasar dan menakutkan padahal di baliknya ada kasih sayang besar yang tidak ia tahu bagaimana mengekspresikannya
Suasana warung makin tegang beberapa pelanggan menunduk pura pura sibuk dengan gelas mereka tapi sebenarnya mereka semua pasang telinga seperti penonton teater gratis Kang Deden bahkan tersenyum miring merasa punya kesempatan kalau Arman tersingkir tapi jangan salah sangka kesempatan belum tentu berarti kemenangan
Arman menarik napas dalam lalu berkata lagi “Pak Haji saya tahu saya bukan siapa siapa saya hanya mahasiswa perantau yang kebetulan singgah tapi izinkan saya berkata saya tidak akan mundur dari keyakinan saya dan soal Rahayu biar ia sendiri yang memilih jalan hatinya”
Deg wajah Rahayu makin panas hatinya bergetar mendengar Arman bicara setegas itu tapi di sisi lain ia takut ayahnya semakin marah dan benar saja Haji Darsa membanting gelas kosong ke meja suara dentumnya membuat ayam kampung yang lagi numpang tidur di pojok terloncat kaget dan semua pelanggan tercekat
“Cukup” bentak Haji Darsa “Kalau kamu masih berani mendekati anakku jangan harap bisa ngopi di sini lagi warung ini bukan markas politik apalagi tempat pacaran mahasiswa onar”
Hening sejenak hanya terdengar suara kipas bambu yang berderit dan detak jantung Rahayu yang entah kenapa bisa terdengar sampai ke halaman rumah pembaca
Rahayu akhirnya memberanikan diri ia mendekati ayahnya dengan suara lirih “Abah Rahayu mohon jangan terlalu keras Kang Arman bukan orang jahat ia tulus Abah”
Tapi Haji Darsa menoleh tajam matanya seperti kilatan petir “Rahayu kamu anakku satu satunya jangan sampai kau terseret masalah besar cukup aku saja yang pusing memikirkan harga gula jangan tambahkan lagi dengan pusing memikirkan aparat datang ke rumah”
Dan di situ air mata Rahayu hampir tumpah ia ingin berteriak bahwa hatinya sudah terlanjur jatuh bahwa ia tidak bisa pura pura lagi tapi bibirnya terkatup rapat oleh rasa takut
Lucunya di tengah suasana serius ustaz Karna tiba tiba nyeletuk pelan tapi cukup terdengar “Pak Haji kalau jodoh mah tidak bisa dilarang yang bisa dilarang itu hutang di warung”
Pelanggan langsung menahan tawa beberapa sampai batuk batuk menutup mulutnya bahkan Arman tersenyum kecut Haji Darsa melotot tapi akhirnya tak bisa menahan sedikit senyum sinis meski cepat cepat ia hapus
Arman berdiri menatap Haji Darsa sekali lagi “Kalau begitu Pak Haji saya pamit dulu tapi saya akan tetap berjuang bukan untuk melawan Abah tapi untuk masa depan termasuk masa depan Rahayu”
Lalu ia melangkah keluar meninggalkan warung dengan langkah tegas Rahayu hanya bisa menatap punggungnya dari balik jendela hatinya penuh rasa takut tapi juga kagum pelanggan satu per satu mulai berbisik membicarakan apa yang baru saja terjadi
Dan kamu pembaca jangan berpikir ini hanya drama keluarga biasa karena di balik amarah Haji Darsa ada pergulatan batin yang besar ia tahu Arman punya nyali ia tahu anak muda itu tidak sembarangan tapi sebagai ayah ia juga tahu dunia ini kejam dan cinta saja tidak cukup untuk melawan semua itu
Maka begitulah bab ini ditutup bukan dengan tawa ayam kampung bukan dengan aroma kopi tapi dengan dentum amarah seorang ayah dan getaran hati seorang gadis yang semakin yakin bahwa hatinya sudah memilih meski jalan ke depan akan penuh badai
Dan jangan pura pura kamu tidak ikut deg degan karena aku tahu di lubuk hatimu kamu juga pernah merasakan melawan restu demi sesuatu yang kau yakini
Pagi itu suasana masih seperti biasa pelanggan datang silih berganti ada pedagang yang ribut soal harga cabe ada nelayan yang cerita soal perahu bocor ada ustaz Karna yang suka nyelipkan nasihat sambil ngopi tapi Rahayu pagi itu agak pucat sebab semalam ia tak bisa tidur memikirkan tatapan Arman dan lipatan kertas yang bikin jantungnya serasa terbang
Arman duduk di pojok lagi pura pura baca koran lagi padahal jelas jelas ia hanya menunggu kesempatan bisa bertemu tatapan dengan Rahayu lagi kamu pasti sudah paham pola ini seperti penonton sinetron yang sudah bisa nebak alurnya tapi tetap saja ikut baper nah begitulah
Tapi saat suasana mulai hangat pintu warung berderit terbuka masuklah Haji Darsa dengan wajah masam langkahnya berat sorot matanya tajam langsung menuju ke arah Arman kalau ini film kamu mungkin mendengar musik latar yang mencekam semacam drum berdebar dan biola yang menjerit tapi karena ini hanya kisah di warung kopi maka yang terdengar hanyalah suara ayam kampung yang berkokok tak tahu situasi
“Arman” suara Haji Darsa lantang membuat semua pelanggan terdiam bahkan sendok yang baru saja mengaduk teh berhenti di udara “Sejak kamu datang ke warung ini banyak masalah yang ikut mampir demo kemarin bikin rusuh orang orang jadi was was dan sekarang aku lihat kamu mulai dekat dekat dengan anakku jangan coba coba”
Rahayu menunduk wajahnya merah tangannya gemetar ia ingin bicara tapi lidahnya kelu Arman menatap Haji Darsa dengan tenang meski dadanya bergemuruh ia tahu saat ini bukan lagi soal dirinya saja tapi juga soal Rahayu dan keberanian untuk berdiri tegak
“Pak Haji saya tidak berniat bikin masalah” kata Arman suaranya berat tapi jelas “Saya hanya ingin membantu menyuarakan apa yang dirasakan rakyat kecil saya tidak ingin menyeret Rahayu ke dalam bahaya”
Haji Darsa menggeleng keras “Bahaya sudah datang sejak kamu singgah ke sini anak muda kamu mungkin merasa sedang berjuang tapi bagiku kamu hanya membawa onar Rahayu tidak boleh dekat denganmu titik”
Nah pembaca ini bagian di mana kamu bisa rasakan betapa kerasnya suara seorang ayah yang ingin melindungi anaknya tapi dengan cara yang kasar dan menakutkan padahal di baliknya ada kasih sayang besar yang tidak ia tahu bagaimana mengekspresikannya
Suasana warung makin tegang beberapa pelanggan menunduk pura pura sibuk dengan gelas mereka tapi sebenarnya mereka semua pasang telinga seperti penonton teater gratis Kang Deden bahkan tersenyum miring merasa punya kesempatan kalau Arman tersingkir tapi jangan salah sangka kesempatan belum tentu berarti kemenangan
Arman menarik napas dalam lalu berkata lagi “Pak Haji saya tahu saya bukan siapa siapa saya hanya mahasiswa perantau yang kebetulan singgah tapi izinkan saya berkata saya tidak akan mundur dari keyakinan saya dan soal Rahayu biar ia sendiri yang memilih jalan hatinya”
Deg wajah Rahayu makin panas hatinya bergetar mendengar Arman bicara setegas itu tapi di sisi lain ia takut ayahnya semakin marah dan benar saja Haji Darsa membanting gelas kosong ke meja suara dentumnya membuat ayam kampung yang lagi numpang tidur di pojok terloncat kaget dan semua pelanggan tercekat
“Cukup” bentak Haji Darsa “Kalau kamu masih berani mendekati anakku jangan harap bisa ngopi di sini lagi warung ini bukan markas politik apalagi tempat pacaran mahasiswa onar”
Hening sejenak hanya terdengar suara kipas bambu yang berderit dan detak jantung Rahayu yang entah kenapa bisa terdengar sampai ke halaman rumah pembaca
Rahayu akhirnya memberanikan diri ia mendekati ayahnya dengan suara lirih “Abah Rahayu mohon jangan terlalu keras Kang Arman bukan orang jahat ia tulus Abah”
Tapi Haji Darsa menoleh tajam matanya seperti kilatan petir “Rahayu kamu anakku satu satunya jangan sampai kau terseret masalah besar cukup aku saja yang pusing memikirkan harga gula jangan tambahkan lagi dengan pusing memikirkan aparat datang ke rumah”
Dan di situ air mata Rahayu hampir tumpah ia ingin berteriak bahwa hatinya sudah terlanjur jatuh bahwa ia tidak bisa pura pura lagi tapi bibirnya terkatup rapat oleh rasa takut
Lucunya di tengah suasana serius ustaz Karna tiba tiba nyeletuk pelan tapi cukup terdengar “Pak Haji kalau jodoh mah tidak bisa dilarang yang bisa dilarang itu hutang di warung”
Pelanggan langsung menahan tawa beberapa sampai batuk batuk menutup mulutnya bahkan Arman tersenyum kecut Haji Darsa melotot tapi akhirnya tak bisa menahan sedikit senyum sinis meski cepat cepat ia hapus
Arman berdiri menatap Haji Darsa sekali lagi “Kalau begitu Pak Haji saya pamit dulu tapi saya akan tetap berjuang bukan untuk melawan Abah tapi untuk masa depan termasuk masa depan Rahayu”
Lalu ia melangkah keluar meninggalkan warung dengan langkah tegas Rahayu hanya bisa menatap punggungnya dari balik jendela hatinya penuh rasa takut tapi juga kagum pelanggan satu per satu mulai berbisik membicarakan apa yang baru saja terjadi
Dan kamu pembaca jangan berpikir ini hanya drama keluarga biasa karena di balik amarah Haji Darsa ada pergulatan batin yang besar ia tahu Arman punya nyali ia tahu anak muda itu tidak sembarangan tapi sebagai ayah ia juga tahu dunia ini kejam dan cinta saja tidak cukup untuk melawan semua itu
Maka begitulah bab ini ditutup bukan dengan tawa ayam kampung bukan dengan aroma kopi tapi dengan dentum amarah seorang ayah dan getaran hati seorang gadis yang semakin yakin bahwa hatinya sudah memilih meski jalan ke depan akan penuh badai
Dan jangan pura pura kamu tidak ikut deg degan karena aku tahu di lubuk hatimu kamu juga pernah merasakan melawan restu demi sesuatu yang kau yakini
Other Stories
Mewarnai
ini adalah contoh uplot buku ...
Love Of The Death
Cowok itu tak berani menatap wajah gadis di sampingnya. Pandangannya masih menatap pada ...
Harapan Dalam Sisa Senja
Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...
Cinta Rasa Kopi
Kesalahan langkah Joylin dalam membina bahtera rumah tangga menjadi titik kulminasi bagi t ...
Jaki & Centong Nasi Mamak
Jaki, pria 27 tahun. Setiap hari harus menerima pentungan centong nasi di kepalanya gara-g ...
Egler
Anton mengempaskan tas ke atas kasur. Ia melirik jarum pendek jam dinding yang berada di ...