Warung Kopi Reformasi

Reads
3.2K
Votes
2
Parts
25
Vote
Report
Penulis TJOE 21

Warung Jadi Markas

Kalau kemarin kamu lihat bagaimana pasar hampir jadi medan tempur maka hari ini kamu bakal lebih kaget lagi karena warung kopi sederhana milik Haji Darsa yang biasanya cuma tempat nongkrong tukang becak pedagang dan nelayan mendadak berubah jadi markas semi resmi para pemuda desa untuk rapat strategi demo damai ya bayangkan warung kecil dengan papan kayu yang catnya sudah mengelupas sekarang jadi seolah kantor pusat revolusi meskipun di dalamnya masih penuh bau kopi dan gorengan

Pagi itu pemuda pemuda mulai berdatangan satu per satu mereka membawa kertas spidol bahkan ada yang bawa papan triplek untuk bikin spanduk suasana seperti kelas seni dadakan Kang Deden langsung ambil alih memimpin dengan gaya sok tegas padahal tulisannya saja masih miring miring ia berteriak “Ayo kawan kawan kita harus buat strategi biar suara kita jelas jangan lagi salah komando seperti kemarin”

Arman duduk di pojok dengan wajah serius ia memegang catatan kecil menulis beberapa poin penting tentang orasi damai tentang disiplin massa tentang tidak boleh terpancing provokasi meski wajahnya serius tapi kalau kamu perhatikan baik baik ia sesekali melirik ke arah Rahayu yang sibuk menyajikan kopi untuk semua pemuda di sana dan ya kamu bisa menebak hatinya bergetar lagi

Haji Darsa tentu saja awalnya marah besar ketika melihat warungnya mendadak penuh pemuda yang ribut soal demo ia berteriak “Ini warung bukan gedung DPR jangan bawa bawa politik ke sini” tapi anehnya meski mulutnya begitu tangannya tetap menyiapkan tambahan kursi dan mengatur posisi lampu petromak supaya lebih terang pembaca bisa bilang itu kontradiksi tapi begitulah cinta seorang ayah ia pura pura marah padahal diam diam mendukung

Suasana rapat makin ramai ada yang serius mencatat ada yang malah sibuk menggambar karikatur Soeharto di kertas koran lalu tertawa terbahak bahak ada juga yang berdebat soal slogan yang harus dipakai satu orang bilang “Turunkan harga cabe” yang lain bilang “Turunkan rezim” akhirnya mereka sepakat menulis “Reformasi damai” meski hurufnya ada yang ketukar jadi “Refomasi daim” dan itu malah jadi bahan ketawa seisi warung

Di tengah kegaduhan itu Rahayu menaruh secangkir kopi di depan Arman ia berbisik pelan “Jangan lupa jaga dirimu Kang jangan semua beban kau tanggung sendiri” Arman menatapnya dalam lalu mengangguk diam diam hati mereka saling bicara tanpa kata yang lain tahu kamu pasti mengerti maksudnya

Sementara itu Ustaz Karna duduk di kursi bambu sambil mengelus jenggot ia menambahkan nasihat bijak “Kalau kalian mau demo lakukan dengan adab jangan bawa amarah bawa doa jangan bawa batu bawa suara hati” semua pemuda manggut manggut meski sebagian masih bingung apa maksudnya tapi setidaknya suasana jadi lebih tenang

Nah pembaca disinilah komedi dan ketegangan bercampur lihat saja ketika seorang pemuda mencoba latihan orasi di depan semua orang ia teriak lantang “Hidup mahasiswa” tapi karena grogi suaranya pecah seperti ayam jantan baru belajar berkokok seisi warung langsung ngakak bahkan ayam kampung langganan yang suka nyelonong ke warung ikutan berkokok seolah mengejek si orator pemuda itu malu setengah mati menutup wajah dengan kertas

Arman lalu maju mencoba mencontohkan ia berdiri tegap suaranya jelas penuh keyakinan “Saudara saudara kita tidak melawan bangsa kita tidak melawan rakyat kita melawan ketidakadilan jadi mari kita tetap damai mari kita tetap kuat” kata kata itu membuat semua hening sebentar lalu bertepuk tangan bahkan Haji Darsa yang pura pura sibuk di dapur ikut melirik kagum meski ia tetap memasang wajah kaku

Rahayu di sudut tersenyum bangga ia tahu lelaki itu berbeda bukan hanya berani tapi juga tulus ia makin yakin perasaannya tidak salah

Siang menjelang warung makin penuh orang orang luar kampung yang mendengar kabar juga ikut datang mereka penasaran kenapa warung kopi bisa berubah jadi markas politik dadakan ada pedagang yang nyelutuk “Luar biasa ini warung kecil bisa kalahkan gedung DPR” yang lain ketawa dan menambahkan “Bedanya di sini kalau panas tinggal minum es jeruk”

Rapat berlanjut sampai sore spanduk selesai ditulis meski hurufnya tidak rapi ada yang kebalik ada yang kepanjangan tapi semangatnya jelas Arman lalu mengusulkan rute demo kecil di alun alun Garut kali ini dengan lebih tertib ia juga menekankan agar tidak ada yang membawa benda berbahaya cukup bawa suara hati dan doa semua setuju meski beberapa masih ragu

Tiba tiba radio di pojok warung kembali menyala berita dari Jakarta makin panas makin banyak mahasiswa turun jalan makin banyak bentrokan warga yang mendengar kabar itu jadi makin bersemangat sebagian langsung bersorak “Kita tidak boleh kalah semangat” sebagian lain mulai cemas tapi Arman menenangkan “Kita bukan perusuh kita hanya ingin menyampaikan suara dengan damai”

Menjelang malam warung semakin padat lampu petromak menyala terang orang orang berkumpul sambil terus berdiskusi ada yang tetap melucu ada yang serius merancang ada yang cuma ikut nimbrung biar tidak ketinggalan cerita

Dan pembaca jangan kira semua ini tanpa risiko karena ada beberapa mata mata aparat yang diam diam memperhatikan mereka dari jauh menatap tajam mencatat siapa saja yang masuk ke warung seolah sudah menandai bahwa warung Haji Darsa kini bukan sekadar warung kopi tapi tempat berkumpulnya api perubahan

Tapi untuk malam itu suasana lebih mirip hajatan ketimbang rapat revolusi ada tawa ada canda ada romansa terselip di sudut mata Rahayu yang tak bisa lepas dari Arman ada kebanggaan yang mulai tumbuh di hati Haji Darsa meski ia masih keras kepala dan ada semangat yang menyala di dada para pemuda

Sebelum bubar Arman berdiri sekali lagi ia berkata tegas “Ingat kawan kawan besok kita turun dengan damai jangan ada yang rusuh jangan ada yang terbawa amarah kita tunjukkan bahwa suara rakyat kecil juga bisa bermartabat” semua serempak menjawab dengan semangat “Setuju”

Rahayu menatapnya lama dari balik meja hatinya berdegup kencang ia tahu perjalanan mereka tidak akan mudah tapi ia juga tahu cinta dan perjuangan kadang lahir di tempat sederhana seperti warung kopi ini

Dan kamu pembaca mungkin tersenyum menyadari bahwa revolusi besar kadang memang dimulai dari meja kayu tua secangkir kopi hitam dan sekelompok anak muda yang berani bermimpi

Other Stories
Warung Kopi Reformasi

Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...

Bukan Cinta Sempurna

Pesona kepintarannya terpancar dengan jelas, rambut sebahunya yang biasanya dikucir ekor ...

Mewarnai

ini adalah contoh uplot buku ...

Mr. Boros Vs Mrs. Perhitungan

Rani berjuang demi adiknya yang depresi hingga akhirnya terpaksa bekerja sama dengan Radit ...

Tersesat

Tak dipungkiri, Qiran memang suka hal-hal baru. Dia suka mencari apa pun yang sekiranya bi ...

Mobil Kodok, Mobil Monyet

Seorang kakek yang ingin memperbaiki hubungan dengan anaknya yang telah lama memusuhinya. ...

Download Titik & Koma