Pelarian Arman
Malam itu Garut sunyi, tapi hati Rahayu tidak. Di warung Haji Darsa, sisa lampu petromak menebarkan bayangan yang menari-nari di dinding, membuat semua orang terlihat seperti hantu-hantu kecil. Bau kopi gosong dan aroma kue pisang hangat masih tersisa di udara, tapi suasana tidak lagi sehangat biasanya. Semua orang menahan napasnya, menunggu kabar tentang Arman yang sempat tertangkap di jembatan Cimanuk.
Di sisi lain desa, Arman berlari secepat mungkin, menembus gelapnya malam yang hanya diterangi bulan tipis. Nelayan yang menjadi temannya sejak lama menunggunya di pinggir sungai dengan perahu kecil. Dengan sigap mereka menyelundupkannya, memindahkannya dari satu sisi sungai ke sisi lain, melewati gelombang air yang dingin dan berbuih. Air menampar wajah Arman, membuatnya terengah-engah, tapi ada rasa lega karena berhasil lolos dari aparat yang sebelumnya mengincarnya.
Sambil menunduk agar tidak terlihat, Arman menoleh sesekali ke arah hutan di pinggir sungai. Pepohonan gelap seperti menatapnya, seolah bertanya kenapa manusia sebegitu nekatnya mengambil risiko demi sebuah idealisme. Arman tersenyum sendiri. “Ah, kalian pasti tidak akan mengerti kalau bukan karena kalian hidup di antara gelap dan cahaya malam seperti aku sekarang,” katanya sambil menepuk pundak satu pohon yang tampak paling tua dan lebat. Break the wall—iya, dia sengaja ngomong ke pohon, karena siapa juga yang bisa diajak bicara sekarang.
Setelah menyeberangi sungai, nelayan itu membawa Arman ke sebuah gudang kopi tua milik Haji Darsa yang memang sudah lama tidak digunakan. Gudang itu dipenuhi aroma biji kopi kering yang menguar di udara, berserakan di lantai kayu yang berderit setiap kali diinjak. Arman masuk perlahan, menahan napas setiap kali pintu kayu menimbulkan suara keras. Di dalam, ia menutup pintu rapat-rapat dan merosot ke lantai, merasakan dinginnya kayu dan bau kopi yang menenangkan. “Akhirnya, bisa duduk juga setelah lari-lari kayak kucing liar,” gumamnya sambil menepuk lututnya.
Di luar gudang, Garut masih bergolak. Suara teriakan, sirine, dan gesekan sepatu aparat di aspal terdengar samar, tapi Arman berusaha menenangkan dirinya. Ia menarik napas panjang, membiarkan aroma kopi mengisi paru-parunya, sambil menatap ke arah langit gelap. Dalam hati, ia tersenyum tipis. Ia tahu Rahayu pasti cemas setengah mati, tapi ia juga tahu gadis itu kuat. Rahayu selalu kuat.
Pikirannya melayang ke malam sebelumnya, saat semua orang berdoa di mushola. Ustaz Karna memimpin doa, suaranya tenang tapi penuh keteguhan, membuat semua yang hadir menitikkan air mata. Saat itu, Arman merasa ada sesuatu yang menyatukan semua orang, sesuatu yang lebih besar daripada ketakutan. Dan kini, saat ia bersembunyi di gudang kopi yang sunyi, ia tahu perjuangannya belum selesai, tapi ada secercah harapan yang membuatnya tersenyum.
Tiba-tiba ia mendengar suara gemerisik. Ia menegang, tangannya meraba-raba di lantai mencari benda apa saja untuk dijadikan senjata darurat. Dari balik tumpukan karung kopi, muncul seekor kucing kampung. Arman tersentak, lalu tertawa sendiri. “Hah, ini cuma kucing? Aku kira aparat lagi main sulap,” katanya sambil mengelus kepala kucing itu. Kucing itu mendengkur pelan, seolah ikut menemani pelarian Arman. Ia menamai kucing itu Kopi Hitam. Arman ngomong ke kucing seolah itu partner setia, karena memang dia butuh teman bicara.
Lalu, ia mulai berpikir bagaimana bisa keluar dari situasi ini. Gudang kopi aman untuk sementara, tapi ia tidak bisa tinggal diam selamanya. Arman berjalan mondar-mandir, mengamati setiap sudut gudang. Ada jendela kecil yang menghadap ke sawah, ada lubang ventilasi di atas, dan ada tumpukan karung kopi yang bisa dipanjat. Ia bahkan sempat melompat-lompat sambil mencoba membuka jendela, dan gagal beberapa kali sampai hampir jatuh. “Kalau aku ini atlet Olimpiade, mungkin sudah bisa lompat jauh dari sini,” gumamnya sambil menepuk-nepuk lutut.
Di luar gudang, beberapa pemuda desa datang diam-diam membawa makanan dan selimut. Mereka menyerahkan secara pelan, takut ketahuan aparat. Arman menyambut mereka dengan senyum lega. Mereka berbagi secangkir kopi hangat, meski tercium aroma kebakaran dan debu dari kota. Suasana menjadi hangat meski di luar sana dunia kacau. Ia melihat satu pemuda membawa radio tua, menyalakannya perlahan. Suara penyiar membacakan berita tentang kerusuhan di Jakarta dan kota besar lain membuat Arman menunduk. Ada rasa takut tapi juga semangat yang membara. Ia tahu perjuangan tidak mudah, tapi ia yakin rakyat kecil seperti mereka punya peran besar.
Di tengah malam, Arman menulis surat untuk Rahayu. Ia menuliskan semuanya, dari rasa bersalah karena membuat gadis itu cemas, hingga harapan dan janji perjuangan. Tangannya bergerak cepat, tinta mengalir di kertas, kata demi kata. Ia berhenti sesekali untuk menatap kucing Kopi Hitam yang duduk di sampingnya. “Kamu harus jaga ini, ya. Jangan sampai hilang,” katanya sambil tersenyum. Break the wall lagi iya, dia ngomong ke kucing seolah itu kurir rahasia cintanya.
Tiba-tiba terdengar suara pintu gudang diketuk pelan. Arman menahan napas, meraba karung kopi terdekat. Tapi ternyata Haji Darsa datang membawa segelas teh manis hangat. “Ini buat kamu, nak. Minum dulu biar kuat,” katanya sambil meletakkan gelas di lantai. Arman tersenyum lega. Ayah Rahayu itu memang keras di luar, tapi hatinya besar dan selalu peduli pada pemuda yang punya semangat. Mereka duduk berdua di lantai, menikmati teh hangat dan mendengar cerita-cerita ringan tentang desa. Haji Darsa bahkan sempat menertawakan Arman karena gagal membuka jendela gudang.
Waktu terus berjalan, gelap perlahan digantikan fajar tipis. Cahaya matahari menembus celah-celah gudang, membuat debu beterbangan seperti bintang kecil. Arman menatap keluar jendela, melihat sawah dan gunung di kejauhan, merasakan udara segar pagi. Ia tersenyum sambil menatap langit. Ia tahu, perjuangan masih panjang, tapi ada cinta, tawa, dan harapan yang membuatnya tetap kuat. Ia bahkan sempat berbicara sendiri ke udara: “Aku akan kembali ke warung itu. Aku akan bertemu Rahayu lagi. Dan kita akan melewati semuanya bersama-sama.”
Kucing Kopi Hitam menggesekkan badannya ke kaki Arman, seolah mengiyakan semua kata-kata itu. Arman tertawa. Ia tahu perjalanan ini penuh risiko, tapi ia tidak akan menyerah. Gudang kopi menjadi saksi pelarian, saksi keberanian, dan saksi cinta yang tumbuh di tengah sejarah yang bergolak.
Matahari naik sepenuhnya, memantulkan cahaya ke biji kopi yang berderet di lantai. Arman menatap semuanya dan tersenyum. Ia siap menghadapi dunia, menghadapi aparat, menghadapi ketakutan, tapi yang paling penting, ia siap menjaga cinta dan harapan yang tumbuh di hatinya. Ia bahkan bicara sendiri ke kucing Kopi Hitam: “Kita akan membuat warung itu kembali ramai dengan tawa, dengan cinta, dan dengan secangkir kopi hangat.”
Di luar gudang, Garut masih bergejolak, tapi di dalam hati Arman ada kedamaian. Ia tahu pelarian hanyalah awal dari perjuangan yang lebih besar, dan setiap langkah yang diambilnya membawa makna, bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk Rahayu, Haji Darsa, dan semua orang yang percaya pada perubahan.
Maka di gudang kopi tua itu, di bawah aroma biji kopi dan suara ayam kampung yang mulai bersahut-sahutan, Arman duduk termenung tapi tegar. Ia tersenyum, menulis lagi surat untuk Rahayu, menyesap teh hangat, dan memikirkan cara kembali ke warung yang kini menjadi simbol persatuan dan harapan. Break the wall terakhir iya, ia berbicara ke udara, ke kucing, dan ke pembaca: “Kalau kalian di luar sana, jangan takut bermimpi. Karena bahkan di tengah gelap dan bahaya, ada secangkir kopi dan secercah cinta yang menunggu.”
Di sisi lain desa, Arman berlari secepat mungkin, menembus gelapnya malam yang hanya diterangi bulan tipis. Nelayan yang menjadi temannya sejak lama menunggunya di pinggir sungai dengan perahu kecil. Dengan sigap mereka menyelundupkannya, memindahkannya dari satu sisi sungai ke sisi lain, melewati gelombang air yang dingin dan berbuih. Air menampar wajah Arman, membuatnya terengah-engah, tapi ada rasa lega karena berhasil lolos dari aparat yang sebelumnya mengincarnya.
Sambil menunduk agar tidak terlihat, Arman menoleh sesekali ke arah hutan di pinggir sungai. Pepohonan gelap seperti menatapnya, seolah bertanya kenapa manusia sebegitu nekatnya mengambil risiko demi sebuah idealisme. Arman tersenyum sendiri. “Ah, kalian pasti tidak akan mengerti kalau bukan karena kalian hidup di antara gelap dan cahaya malam seperti aku sekarang,” katanya sambil menepuk pundak satu pohon yang tampak paling tua dan lebat. Break the wall—iya, dia sengaja ngomong ke pohon, karena siapa juga yang bisa diajak bicara sekarang.
Setelah menyeberangi sungai, nelayan itu membawa Arman ke sebuah gudang kopi tua milik Haji Darsa yang memang sudah lama tidak digunakan. Gudang itu dipenuhi aroma biji kopi kering yang menguar di udara, berserakan di lantai kayu yang berderit setiap kali diinjak. Arman masuk perlahan, menahan napas setiap kali pintu kayu menimbulkan suara keras. Di dalam, ia menutup pintu rapat-rapat dan merosot ke lantai, merasakan dinginnya kayu dan bau kopi yang menenangkan. “Akhirnya, bisa duduk juga setelah lari-lari kayak kucing liar,” gumamnya sambil menepuk lututnya.
Di luar gudang, Garut masih bergolak. Suara teriakan, sirine, dan gesekan sepatu aparat di aspal terdengar samar, tapi Arman berusaha menenangkan dirinya. Ia menarik napas panjang, membiarkan aroma kopi mengisi paru-parunya, sambil menatap ke arah langit gelap. Dalam hati, ia tersenyum tipis. Ia tahu Rahayu pasti cemas setengah mati, tapi ia juga tahu gadis itu kuat. Rahayu selalu kuat.
Pikirannya melayang ke malam sebelumnya, saat semua orang berdoa di mushola. Ustaz Karna memimpin doa, suaranya tenang tapi penuh keteguhan, membuat semua yang hadir menitikkan air mata. Saat itu, Arman merasa ada sesuatu yang menyatukan semua orang, sesuatu yang lebih besar daripada ketakutan. Dan kini, saat ia bersembunyi di gudang kopi yang sunyi, ia tahu perjuangannya belum selesai, tapi ada secercah harapan yang membuatnya tersenyum.
Tiba-tiba ia mendengar suara gemerisik. Ia menegang, tangannya meraba-raba di lantai mencari benda apa saja untuk dijadikan senjata darurat. Dari balik tumpukan karung kopi, muncul seekor kucing kampung. Arman tersentak, lalu tertawa sendiri. “Hah, ini cuma kucing? Aku kira aparat lagi main sulap,” katanya sambil mengelus kepala kucing itu. Kucing itu mendengkur pelan, seolah ikut menemani pelarian Arman. Ia menamai kucing itu Kopi Hitam. Arman ngomong ke kucing seolah itu partner setia, karena memang dia butuh teman bicara.
Lalu, ia mulai berpikir bagaimana bisa keluar dari situasi ini. Gudang kopi aman untuk sementara, tapi ia tidak bisa tinggal diam selamanya. Arman berjalan mondar-mandir, mengamati setiap sudut gudang. Ada jendela kecil yang menghadap ke sawah, ada lubang ventilasi di atas, dan ada tumpukan karung kopi yang bisa dipanjat. Ia bahkan sempat melompat-lompat sambil mencoba membuka jendela, dan gagal beberapa kali sampai hampir jatuh. “Kalau aku ini atlet Olimpiade, mungkin sudah bisa lompat jauh dari sini,” gumamnya sambil menepuk-nepuk lutut.
Di luar gudang, beberapa pemuda desa datang diam-diam membawa makanan dan selimut. Mereka menyerahkan secara pelan, takut ketahuan aparat. Arman menyambut mereka dengan senyum lega. Mereka berbagi secangkir kopi hangat, meski tercium aroma kebakaran dan debu dari kota. Suasana menjadi hangat meski di luar sana dunia kacau. Ia melihat satu pemuda membawa radio tua, menyalakannya perlahan. Suara penyiar membacakan berita tentang kerusuhan di Jakarta dan kota besar lain membuat Arman menunduk. Ada rasa takut tapi juga semangat yang membara. Ia tahu perjuangan tidak mudah, tapi ia yakin rakyat kecil seperti mereka punya peran besar.
Di tengah malam, Arman menulis surat untuk Rahayu. Ia menuliskan semuanya, dari rasa bersalah karena membuat gadis itu cemas, hingga harapan dan janji perjuangan. Tangannya bergerak cepat, tinta mengalir di kertas, kata demi kata. Ia berhenti sesekali untuk menatap kucing Kopi Hitam yang duduk di sampingnya. “Kamu harus jaga ini, ya. Jangan sampai hilang,” katanya sambil tersenyum. Break the wall lagi iya, dia ngomong ke kucing seolah itu kurir rahasia cintanya.
Tiba-tiba terdengar suara pintu gudang diketuk pelan. Arman menahan napas, meraba karung kopi terdekat. Tapi ternyata Haji Darsa datang membawa segelas teh manis hangat. “Ini buat kamu, nak. Minum dulu biar kuat,” katanya sambil meletakkan gelas di lantai. Arman tersenyum lega. Ayah Rahayu itu memang keras di luar, tapi hatinya besar dan selalu peduli pada pemuda yang punya semangat. Mereka duduk berdua di lantai, menikmati teh hangat dan mendengar cerita-cerita ringan tentang desa. Haji Darsa bahkan sempat menertawakan Arman karena gagal membuka jendela gudang.
Waktu terus berjalan, gelap perlahan digantikan fajar tipis. Cahaya matahari menembus celah-celah gudang, membuat debu beterbangan seperti bintang kecil. Arman menatap keluar jendela, melihat sawah dan gunung di kejauhan, merasakan udara segar pagi. Ia tersenyum sambil menatap langit. Ia tahu, perjuangan masih panjang, tapi ada cinta, tawa, dan harapan yang membuatnya tetap kuat. Ia bahkan sempat berbicara sendiri ke udara: “Aku akan kembali ke warung itu. Aku akan bertemu Rahayu lagi. Dan kita akan melewati semuanya bersama-sama.”
Kucing Kopi Hitam menggesekkan badannya ke kaki Arman, seolah mengiyakan semua kata-kata itu. Arman tertawa. Ia tahu perjalanan ini penuh risiko, tapi ia tidak akan menyerah. Gudang kopi menjadi saksi pelarian, saksi keberanian, dan saksi cinta yang tumbuh di tengah sejarah yang bergolak.
Matahari naik sepenuhnya, memantulkan cahaya ke biji kopi yang berderet di lantai. Arman menatap semuanya dan tersenyum. Ia siap menghadapi dunia, menghadapi aparat, menghadapi ketakutan, tapi yang paling penting, ia siap menjaga cinta dan harapan yang tumbuh di hatinya. Ia bahkan bicara sendiri ke kucing Kopi Hitam: “Kita akan membuat warung itu kembali ramai dengan tawa, dengan cinta, dan dengan secangkir kopi hangat.”
Di luar gudang, Garut masih bergejolak, tapi di dalam hati Arman ada kedamaian. Ia tahu pelarian hanyalah awal dari perjuangan yang lebih besar, dan setiap langkah yang diambilnya membawa makna, bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk Rahayu, Haji Darsa, dan semua orang yang percaya pada perubahan.
Maka di gudang kopi tua itu, di bawah aroma biji kopi dan suara ayam kampung yang mulai bersahut-sahutan, Arman duduk termenung tapi tegar. Ia tersenyum, menulis lagi surat untuk Rahayu, menyesap teh hangat, dan memikirkan cara kembali ke warung yang kini menjadi simbol persatuan dan harapan. Break the wall terakhir iya, ia berbicara ke udara, ke kucing, dan ke pembaca: “Kalau kalian di luar sana, jangan takut bermimpi. Karena bahkan di tengah gelap dan bahaya, ada secangkir kopi dan secercah cinta yang menunggu.”
Other Stories
Melupakan
Dion merasa hidupnya lebih berarti sejak mengenal Agatha, namun ia tak berani mengungkapka ...
Nyanyian Hati Seruni
Awalnya ragu dan kesal dengan aturan ketat sebagai istri prajurit TNI AD, ia justru belaja ...
Cinta Satu Paket
Namanya Renata Mutiara, secantik dan selembut mutiara. Kelas sebelas dan usianya yang te ...
Bad Close Friend
Denta, siswa SMA 91 Cirebon yang urakan dan suka tawuran, tak pernah merasa cocok berteman ...
Boneka Sempurna
Bagi Abrian, hidup adalah penjara tanpa jeruji. Selama bertahun-tahun, ia adalah korbam ta ...
Viral
Nayla, mantan juara 1 yang terkena PHK, terpaksa berjualan donat demi bertahan. Saat video ...