Pengorbanan Haji Darsa
Malam itu angin dari pegunungan Garut bertiup pelan membawa hawa dingin yang menusuk sampai tulang. Rahayu duduk di bangku kayu warung sambil menggenggam surat dari Arman yang tadi sore berhasil sampai ke tangannya. Ia belum berani membacanya keras keras di depan siapa pun. Surat itu ia sembunyikan di lipatan kain jarik agar tidak ketahuan ayahnya. Tapi wajahnya tidak bisa bohong, setiap kali ia menunduk ada senyum kecil yang muncul lalu hilang lagi karena bayangan amarah Haji Darsa. Di sisi lain Haji Darsa tengah sibuk merapikan gelas gelas kopi yang baru saja selesai dicuci, matanya lelah tetapi dalam hatinya masih bergolak. Semenjak keributan yang makin panas di alun alun Garut dan berita dari Jakarta tentang mahasiswa yang jatuh korban, ia tahu situasi tidak akan sama lagi.
Haji Darsa adalah lelaki keras kepala. Selama ini ia selalu menganggap apa yang dilakukan Arman dan kawan kawannya hanya bikin onar, hanya bikin dagangan sepi. Tapi hari hari terakhir membuatnya berpikir lebih jauh. Warung yang ia bangun puluhan tahun ini tidak pernah sepi dari tawa dan canda orang kecil. Dari nelayan, pedagang, tukang becak sampai mahasiswa perantau. Semua datang dengan keresahan masing masing dan secangkir kopi pahit jadi teman curhat mereka. Haji Darsa sadar, justru di warungnya lah obrolan tentang perubahan selalu tumbuh. Seperti biji kopi yang disangrai, suara suara rakyat kecil itu semakin harum bila dibakar bersama.
Pagi berikutnya, warung kembali ramai. Para pelanggan ribut soal harga beras yang melonjak, tentang minyak tanah yang makin sulit, sampai soal gosip pejabat yang katanya punya istri muda di Jakarta. Obrolan itu berbaur dengan tawa, namun di sela sela itu ada rasa takut. Beberapa pemuda desa datang dengan wajah tegang, menceritakan kabar bentrokan di pasar baru yang menimbulkan korban. Rahayu menyimak diam diam, sementara ayahnya hanya menghela napas panjang.
Di tengah riuh itu, seorang pemuda dengan wajah lebam masuk. Ia adalah kawan Arman, diseret aparat semalam dan baru dilepas. Ia lemas, duduk di kursi dekat pintu. Semua terdiam menatapnya. Rahayu segera mengambil air hangat dan kain bersih. Tanpa banyak kata ia membersihkan luka di pelipis pemuda itu. Di mata Haji Darsa, pemandangan itu menampar keras hatinya. Ia melihat putrinya bukan sekadar gadis penjual kopi, tapi gadis yang punya hati besar untuk orang lain. Dan di balik mata gadisnya, ia melihat bayangan Arman, pemuda yang selama ini ia anggap biang masalah.
Ketika malam menjelang, listrik kembali padam. Hanya lampu petromak yang menerangi ruangan. Para pelanggan tetap bertahan, enggan pulang, mungkin karena suasana lebih hangat bila bersama. Ustaz Karna memimpin doa singkat memohon keselamatan negeri. Suara doa bergema, disusul isak kecil beberapa ibu yang duduk di pojok. Haji Darsa menunduk, hatinya semakin bergejolak.
Selepas doa, salah satu mahasiswa berdiri, suaranya serak tetapi tegas. Ia bercerita tentang temannya yang gugur di Jakarta. Tentang perjuangan yang belum selesai. Tentang harapan bahwa kelak bangsa ini tidak lagi dikendalikan oleh ketakutan. Warung hening mendengarnya. Dan Haji Darsa, untuk pertama kalinya sejak lama, merasa dadanya panas seperti bara.
Malam itu ia tidak bisa tidur. Ia teringat masa mudanya ketika ikut turun ke jalan menentang kenaikan pajak pasar, meski dulu perjuangannya hanya sebatas harga cabe dan retribusi gerobak. Ia ingat bagaimana rasanya ditangkap aparat, bagaimana rasanya dikejar ketika sedang berjualan. Ia menatap wajah istrinya yang sudah almarhum seolah mendengar bisikan lembut. Seakan istrinya berkata jangan takut berpihak pada kebenaran.
Keesokan harinya Haji Darsa mengambil keputusan besar. Ia berdiri di depan pintu warung dengan suara lantang. Mulai hari ini siapa saja mahasiswa dan korban kerusuhan boleh makan dan minum di sini tanpa bayar. Semua tertegun. Beberapa pedagang pasar saling pandang, ada yang terharu, ada yang khawatir. Rahayu menahan napas, tidak percaya ayahnya yang keras itu bisa berkata seperti itu.
Keputusan itu segera menyebar. Warung kopi Haji Darsa jadi ramai luar biasa. Mahasiswa yang biasanya hanya berani lewat kini singgah dengan lega. Mereka bisa minum kopi, makan gorengan, dan berdiskusi tanpa takut diusir. Beberapa korban kerusuhan dari pasar yang kehilangan lapak ikut duduk. Warung jadi seperti markas besar persaudaraan. Tentu saja suasana kadang berubah lucu. Ada pemuda salah sebut jargon, yang harusnya teriak reformasi malah teriak renovasi. Semua tertawa hingga perut sakit. Ada pula bapak bapak yang minta tambah kopi gratis sampai tiga kali, bikin Rahayu melotot kesal sambil berkata bapak ini korban kerusuhan apa korban ngantuk.
Namun di balik tawa itu, Haji Darsa tahu beban besar menanti. Persediaan beras dan gula cepat habis. Uang tabungan warung terkuras. Tapi anehnya ia merasa ringan. Setiap kali melihat wajah wajah lelah itu tersenyum kembali setelah makan sepiring nasi, ia merasa usahanya tidak sia sia. Ia merasa warung kecilnya menjadi saksi lahirnya sesuatu yang besar.
Suatu sore, Arman yang masih bersembunyi diam diam datang menemui Rahayu di dapur. Pertemuan itu berlangsung singkat karena ia tidak boleh terlihat banyak orang. Rahayu nyaris menjatuhkan nampan saking gugupnya. Arman menggenggam tangannya sebentar, berbisik terima kasih karena ayahmu jauh lebih berani dari yang kukira. Rahayu tersenyum, matanya berkaca kaca. Haji Darsa ternyata sempat melihat dari jauh, namun ia tidak lagi marah. Ia hanya menarik napas panjang, merasakan betapa cepat anak gadisnya tumbuh.
Malam berikutnya, warung kembali padam oleh listrik yang sering mati. Tapi kali ini berbeda. Ada semangat baru di sana. Mahasiswa menyanyi dengan gitar butut, bapak bapak menepuk meja mengikuti irama, ibu ibu tertawa melihat tingkah anak muda yang salah kunci lagu. Rahayu melayani dengan wajah bahagia, sementara Haji Darsa duduk di kursinya, menatap semua itu dengan mata berbinar.
Ia tahu mungkin warungnya tidak akan kaya raya. Ia tahu mungkin besok ia harus berhutang demi beli beras lagi. Tapi ia juga tahu, inilah pengorbanan yang harus ia lakukan. Bukan hanya untuk putrinya, bukan hanya untuk Arman, tetapi untuk sesuatu yang lebih besar, untuk harapan yang baru lahir dari tangis dan tawa rakyat kecil.
Dan di malam penuh nyala lampu petromak itu, Haji Darsa berbisik pada dirinya sendiri. Kalau warung kopi ini bisa jadi saksi perubahan, maka biarlah ia habis habisan. Asal kelak anak cucu bisa duduk di sini dengan tenang, minum kopi tanpa rasa takut, bercanda tanpa rasa cemas, ia rela. Rahayu mendengar bisikan itu, hatinya terenyuh. Ia menggenggam tangan ayahnya, senyum mengembang, seakan berkata pengorbananmu tidak akan sia sia.
Haji Darsa adalah lelaki keras kepala. Selama ini ia selalu menganggap apa yang dilakukan Arman dan kawan kawannya hanya bikin onar, hanya bikin dagangan sepi. Tapi hari hari terakhir membuatnya berpikir lebih jauh. Warung yang ia bangun puluhan tahun ini tidak pernah sepi dari tawa dan canda orang kecil. Dari nelayan, pedagang, tukang becak sampai mahasiswa perantau. Semua datang dengan keresahan masing masing dan secangkir kopi pahit jadi teman curhat mereka. Haji Darsa sadar, justru di warungnya lah obrolan tentang perubahan selalu tumbuh. Seperti biji kopi yang disangrai, suara suara rakyat kecil itu semakin harum bila dibakar bersama.
Pagi berikutnya, warung kembali ramai. Para pelanggan ribut soal harga beras yang melonjak, tentang minyak tanah yang makin sulit, sampai soal gosip pejabat yang katanya punya istri muda di Jakarta. Obrolan itu berbaur dengan tawa, namun di sela sela itu ada rasa takut. Beberapa pemuda desa datang dengan wajah tegang, menceritakan kabar bentrokan di pasar baru yang menimbulkan korban. Rahayu menyimak diam diam, sementara ayahnya hanya menghela napas panjang.
Di tengah riuh itu, seorang pemuda dengan wajah lebam masuk. Ia adalah kawan Arman, diseret aparat semalam dan baru dilepas. Ia lemas, duduk di kursi dekat pintu. Semua terdiam menatapnya. Rahayu segera mengambil air hangat dan kain bersih. Tanpa banyak kata ia membersihkan luka di pelipis pemuda itu. Di mata Haji Darsa, pemandangan itu menampar keras hatinya. Ia melihat putrinya bukan sekadar gadis penjual kopi, tapi gadis yang punya hati besar untuk orang lain. Dan di balik mata gadisnya, ia melihat bayangan Arman, pemuda yang selama ini ia anggap biang masalah.
Ketika malam menjelang, listrik kembali padam. Hanya lampu petromak yang menerangi ruangan. Para pelanggan tetap bertahan, enggan pulang, mungkin karena suasana lebih hangat bila bersama. Ustaz Karna memimpin doa singkat memohon keselamatan negeri. Suara doa bergema, disusul isak kecil beberapa ibu yang duduk di pojok. Haji Darsa menunduk, hatinya semakin bergejolak.
Selepas doa, salah satu mahasiswa berdiri, suaranya serak tetapi tegas. Ia bercerita tentang temannya yang gugur di Jakarta. Tentang perjuangan yang belum selesai. Tentang harapan bahwa kelak bangsa ini tidak lagi dikendalikan oleh ketakutan. Warung hening mendengarnya. Dan Haji Darsa, untuk pertama kalinya sejak lama, merasa dadanya panas seperti bara.
Malam itu ia tidak bisa tidur. Ia teringat masa mudanya ketika ikut turun ke jalan menentang kenaikan pajak pasar, meski dulu perjuangannya hanya sebatas harga cabe dan retribusi gerobak. Ia ingat bagaimana rasanya ditangkap aparat, bagaimana rasanya dikejar ketika sedang berjualan. Ia menatap wajah istrinya yang sudah almarhum seolah mendengar bisikan lembut. Seakan istrinya berkata jangan takut berpihak pada kebenaran.
Keesokan harinya Haji Darsa mengambil keputusan besar. Ia berdiri di depan pintu warung dengan suara lantang. Mulai hari ini siapa saja mahasiswa dan korban kerusuhan boleh makan dan minum di sini tanpa bayar. Semua tertegun. Beberapa pedagang pasar saling pandang, ada yang terharu, ada yang khawatir. Rahayu menahan napas, tidak percaya ayahnya yang keras itu bisa berkata seperti itu.
Keputusan itu segera menyebar. Warung kopi Haji Darsa jadi ramai luar biasa. Mahasiswa yang biasanya hanya berani lewat kini singgah dengan lega. Mereka bisa minum kopi, makan gorengan, dan berdiskusi tanpa takut diusir. Beberapa korban kerusuhan dari pasar yang kehilangan lapak ikut duduk. Warung jadi seperti markas besar persaudaraan. Tentu saja suasana kadang berubah lucu. Ada pemuda salah sebut jargon, yang harusnya teriak reformasi malah teriak renovasi. Semua tertawa hingga perut sakit. Ada pula bapak bapak yang minta tambah kopi gratis sampai tiga kali, bikin Rahayu melotot kesal sambil berkata bapak ini korban kerusuhan apa korban ngantuk.
Namun di balik tawa itu, Haji Darsa tahu beban besar menanti. Persediaan beras dan gula cepat habis. Uang tabungan warung terkuras. Tapi anehnya ia merasa ringan. Setiap kali melihat wajah wajah lelah itu tersenyum kembali setelah makan sepiring nasi, ia merasa usahanya tidak sia sia. Ia merasa warung kecilnya menjadi saksi lahirnya sesuatu yang besar.
Suatu sore, Arman yang masih bersembunyi diam diam datang menemui Rahayu di dapur. Pertemuan itu berlangsung singkat karena ia tidak boleh terlihat banyak orang. Rahayu nyaris menjatuhkan nampan saking gugupnya. Arman menggenggam tangannya sebentar, berbisik terima kasih karena ayahmu jauh lebih berani dari yang kukira. Rahayu tersenyum, matanya berkaca kaca. Haji Darsa ternyata sempat melihat dari jauh, namun ia tidak lagi marah. Ia hanya menarik napas panjang, merasakan betapa cepat anak gadisnya tumbuh.
Malam berikutnya, warung kembali padam oleh listrik yang sering mati. Tapi kali ini berbeda. Ada semangat baru di sana. Mahasiswa menyanyi dengan gitar butut, bapak bapak menepuk meja mengikuti irama, ibu ibu tertawa melihat tingkah anak muda yang salah kunci lagu. Rahayu melayani dengan wajah bahagia, sementara Haji Darsa duduk di kursinya, menatap semua itu dengan mata berbinar.
Ia tahu mungkin warungnya tidak akan kaya raya. Ia tahu mungkin besok ia harus berhutang demi beli beras lagi. Tapi ia juga tahu, inilah pengorbanan yang harus ia lakukan. Bukan hanya untuk putrinya, bukan hanya untuk Arman, tetapi untuk sesuatu yang lebih besar, untuk harapan yang baru lahir dari tangis dan tawa rakyat kecil.
Dan di malam penuh nyala lampu petromak itu, Haji Darsa berbisik pada dirinya sendiri. Kalau warung kopi ini bisa jadi saksi perubahan, maka biarlah ia habis habisan. Asal kelak anak cucu bisa duduk di sini dengan tenang, minum kopi tanpa rasa takut, bercanda tanpa rasa cemas, ia rela. Rahayu mendengar bisikan itu, hatinya terenyuh. Ia menggenggam tangan ayahnya, senyum mengembang, seakan berkata pengorbananmu tidak akan sia sia.
Other Stories
Cinta Bukan Ramalan Bintang
Valen sadar Narian tidak pernah menganggap dirinya lebih selain sahabat, setahun kedekat ...
Baca Tanpa Dieja
itulah cara jpload yang bener da baik ...
Viral
Nayla, mantan juara 1 yang terkena PHK, terpaksa berjualan donat demi bertahan. Saat video ...
Separuh Dzarah
Saat salam terakhir dalam salat mulai terdengar, di sana juga akan mulai terdengar suara ...
Anak Singkong
Sebuah tim e-sport dari desa, "Anak Singkong", mengguncang panggung nasional. Dengan strat ...
32 Detik
Hanya 32 detik untuk menghancurkan cinta dan hidup Kirana. Saat video pribadinya bocor, du ...