21 Mei 1998
Pagi itu warung kopi Haji Darsa terasa lebih lengang dari biasanya. Matahari baru saja naik malu malu di balik gunung Cikuray, namun suasana hati orang orang belum sepenuhnya terang. Udara Garut masih membawa sisa bau asap dari pasar yang beberapa hari lalu sempat ricuh. Meja meja kayu masih basah oleh embun malam, dan Rahayu sibuk menyapu lantai sambil sesekali melirik ke arah pintu, seolah menunggu seseorang. Di hatinya masih tersisa degup cepat setiap kali mengingat genggaman tangan Arman di dapur malam itu. Ia tahu pertemuan singkat itu akan tersimpan lama di benaknya, seperti wangi kopi yang melekat di baju.
Haji Darsa duduk di kursi tua sambil menyalakan rokok kretek. Wajahnya tampak lelah tetapi juga lebih tenang dibanding sebelumnya. Ia sudah mengambil keputusan besar dengan membuka warung untuk mahasiswa dan korban kerusuhan tanpa bayaran, dan meski tabungannya menipis ia merasa damai. Namun pagi itu ada sesuatu yang berbeda. Dari radio butut yang diletakkan di pojok warung terdengar suara penyiar yang terbata bata, nada suaranya tegang. Semua kepala otomatis menoleh.
Penyiar radio mengumumkan kabar yang selama berminggu minggu ditunggu jutaan rakyat. Presiden Soeharto akhirnya menyatakan mundur dari jabatannya setelah tiga puluh dua tahun berkuasa. Suara itu seperti petir di siang bolong. Warung yang tadinya lengang langsung penuh dengan teriakan bercampur tangis. Ada yang bertepuk tangan, ada yang menutup wajah sambil terisak, ada pula yang berdiri tidak percaya.
Rahayu menjatuhkan sapunya, matanya basah. Ia menoleh ke ayahnya, ingin melihat bagaimana reaksi lelaki yang selama ini begitu keras itu. Haji Darsa terdiam beberapa detik, rokoknya nyaris jatuh dari bibir. Lalu ia menghela napas panjang, menunduk, dan tiba tiba tertawa kecil. Tawa itu kemudian berubah jadi tangisan yang ia sembunyikan dengan batuk batuk. Para pelanggan menatapnya dengan mata berkaca kaca.
Mahasiswa yang berkumpul di meja belakang berpelukan sambil meneriakkan kata kata yang selama ini mereka bawa di spanduk. Reformasi. Reformasi. Suara mereka pecah, tidak serapi teriakan di jalan, tetapi justru itulah yang membuatnya tulus. Beberapa bapak bapak ikut berdiri, menepuk bahu mereka, ada yang sambil bercanda berkata akhirnya uangku tidak habis buat beli spanduk lagi. Suasana berubah menjadi campuran aneh antara pesta kecil dan upacara doa.
Di tengah euforia itu, ada momen yang membuat hati Rahayu bergetar. Arman yang selama ini bersembunyi akhirnya muncul dari pintu belakang. Ia berjalan dengan langkah ragu, wajahnya masih menyimpan lelah. Begitu orang orang melihatnya, sorak sorai makin keras. Beberapa mahasiswa langsung merangkulnya. Rahayu menahan air mata, lalu tersenyum lebar. Arman menatapnya sekejap, cukup untuk mengirim pesan tanpa kata. Mereka berdua sama sama tahu, perjuangan belum selesai, tetapi hari ini mereka boleh merayakan kemenangan kecil.
Haji Darsa bangkit dari kursinya, menepuk meja keras keras hingga semua orang diam. Ia berkata dengan suara lantang meski bergetar, hari ini bukan hanya soal presiden turun atau tidak, tapi soal kita semua yang berani bermimpi. Warung ini hanyalah warung kecil, tetapi saksi bahwa rakyat kecil bisa tertawa, bisa menangis, bisa bersatu. Mulai hari ini kopi di sini gratis untuk siapa saja yang datang membawa kabar baik dan semangat baru. Orang orang bersorak, sebagian menyalami tangannya.
Namun suasana haru itu tidak lepas dari kelucuan khas warung kopi. Seorang bapak tua yang setengah tuli salah dengar pengumuman radio, ia mengira yang lengser itu lurah pasar. Ia berteriak girang karena menganggap pajak kiosnya akan dihapus. Semua orang tertawa terbahak bahak, bahkan Haji Darsa sampai menepuk lututnya. Rahayu menggelengkan kepala sambil menahan senyum, merasa warung ini benar benar rumah segala rasa.
Menjelang siang, semakin banyak orang datang. Ada pedagang yang membawa kue untuk dibagikan gratis, ada ibu ibu yang memasak sayur asem lalu menuangkannya ke panci besar di warung. Tiba tiba warung yang biasanya hanya menyajikan kopi sederhana berubah seperti pesta rakyat. Anak anak berlarian sambil meniup seruling bambu, mahasiswa bernyanyi dengan gitar butut, dan bapak bapak ikut berjoget seadanya. Semua larut dalam perayaan sederhana.
Di tengah keramaian itu, Arman mendekati Haji Darsa. Ia menunduk hormat, lalu berkata terima kasih karena sudah mengizinkan warung ini jadi rumah kami. Haji Darsa menatapnya tajam sebentar, lalu menepuk bahunya. Ia berkata dengan suara berat jangan kau pikir aku merestui hubunganmu dengan anakku hanya karena kau pandai berpidato. Tetapi kali ini matanya tidak lagi menyimpan amarah, melainkan rasa bangga. Rahayu yang berdiri di dekatnya tersipu malu, namun dalam hatinya tahu bahwa ayahnya mulai luluh.
Sore hari, langit Garut berwarna jingga. Warung masih ramai, tapi suasananya lebih lembut. Orang orang duduk sambil menatap ke luar, seakan menunggu masa depan yang belum jelas. Rahayu duduk di dekat Arman, jarak mereka hanya sejengkal. Ia berbisik pelan, apa yang akan kau lakukan setelah ini. Arman tersenyum lelah, katanya perjuangan masih panjang, reformasi baru saja lahir dan harus dijaga. Tapi ia juga menatap Rahayu dengan mata yang lembut, menambahkan aku ingin tetap bisa datang ke warung ini bukan hanya untuk berjuang, tapi juga untukmu.
Ucapan itu membuat wajah Rahayu merona. Ia menunduk sambil menggenggam cangkir kopi panas. Hatinya berdesir, seakan semua jerih payah, semua ketakutan, semua tangis selama berminggu minggu terbayar lunas oleh satu kalimat sederhana.
Haji Darsa memperhatikan dari jauh, menghela napas panjang. Ia tahu putrinya sudah tumbuh dewasa, ia tahu hatinya tidak bisa ia kunci selamanya. Ia tersenyum kecil sambil menyalakan rokok lagi. Dalam hatinya ia berdoa semoga cinta yang lahir di tengah gejolak ini bisa tumbuh dengan kokoh, seperti pohon kopi yang tetap berdiri meski diterpa badai.
Malam pun turun. Warung tidak sepi, justru makin ramai. Lampu petromak bergoyang ditiup angin, menerangi wajah wajah penuh harapan. Seorang mahasiswa berdiri di kursi lalu berteriak, hari ini kita menang, tetapi besok kita harus lebih kuat. Semua orang bersorak setuju. Rahayu dan Arman saling berpandangan, tahu bahwa perjalanan belum selesai, namun malam ini mereka boleh memeluk kemenangan.
Haji Darsa mengangkat cangkir kopinya tinggi tinggi. Ia berkata dengan suara lantang mari kita rayakan bukan dengan mabuk, bukan dengan amarah, tetapi dengan kopi dan doa. Semua orang menirukan gerakannya, mengangkat cangkir masing masing. Suara tawa dan nyanyian mengisi udara Garut malam itu, bercampur dengan rasa lega yang tak bisa diungkap kata.
Warung kopi kecil di pinggir alun alun itu menjadi saksi sejarah, tempat di mana rakyat kecil menyambut hari baru dengan tangis, tawa, pelukan, dan segelas kopi hangat.
Haji Darsa duduk di kursi tua sambil menyalakan rokok kretek. Wajahnya tampak lelah tetapi juga lebih tenang dibanding sebelumnya. Ia sudah mengambil keputusan besar dengan membuka warung untuk mahasiswa dan korban kerusuhan tanpa bayaran, dan meski tabungannya menipis ia merasa damai. Namun pagi itu ada sesuatu yang berbeda. Dari radio butut yang diletakkan di pojok warung terdengar suara penyiar yang terbata bata, nada suaranya tegang. Semua kepala otomatis menoleh.
Penyiar radio mengumumkan kabar yang selama berminggu minggu ditunggu jutaan rakyat. Presiden Soeharto akhirnya menyatakan mundur dari jabatannya setelah tiga puluh dua tahun berkuasa. Suara itu seperti petir di siang bolong. Warung yang tadinya lengang langsung penuh dengan teriakan bercampur tangis. Ada yang bertepuk tangan, ada yang menutup wajah sambil terisak, ada pula yang berdiri tidak percaya.
Rahayu menjatuhkan sapunya, matanya basah. Ia menoleh ke ayahnya, ingin melihat bagaimana reaksi lelaki yang selama ini begitu keras itu. Haji Darsa terdiam beberapa detik, rokoknya nyaris jatuh dari bibir. Lalu ia menghela napas panjang, menunduk, dan tiba tiba tertawa kecil. Tawa itu kemudian berubah jadi tangisan yang ia sembunyikan dengan batuk batuk. Para pelanggan menatapnya dengan mata berkaca kaca.
Mahasiswa yang berkumpul di meja belakang berpelukan sambil meneriakkan kata kata yang selama ini mereka bawa di spanduk. Reformasi. Reformasi. Suara mereka pecah, tidak serapi teriakan di jalan, tetapi justru itulah yang membuatnya tulus. Beberapa bapak bapak ikut berdiri, menepuk bahu mereka, ada yang sambil bercanda berkata akhirnya uangku tidak habis buat beli spanduk lagi. Suasana berubah menjadi campuran aneh antara pesta kecil dan upacara doa.
Di tengah euforia itu, ada momen yang membuat hati Rahayu bergetar. Arman yang selama ini bersembunyi akhirnya muncul dari pintu belakang. Ia berjalan dengan langkah ragu, wajahnya masih menyimpan lelah. Begitu orang orang melihatnya, sorak sorai makin keras. Beberapa mahasiswa langsung merangkulnya. Rahayu menahan air mata, lalu tersenyum lebar. Arman menatapnya sekejap, cukup untuk mengirim pesan tanpa kata. Mereka berdua sama sama tahu, perjuangan belum selesai, tetapi hari ini mereka boleh merayakan kemenangan kecil.
Haji Darsa bangkit dari kursinya, menepuk meja keras keras hingga semua orang diam. Ia berkata dengan suara lantang meski bergetar, hari ini bukan hanya soal presiden turun atau tidak, tapi soal kita semua yang berani bermimpi. Warung ini hanyalah warung kecil, tetapi saksi bahwa rakyat kecil bisa tertawa, bisa menangis, bisa bersatu. Mulai hari ini kopi di sini gratis untuk siapa saja yang datang membawa kabar baik dan semangat baru. Orang orang bersorak, sebagian menyalami tangannya.
Namun suasana haru itu tidak lepas dari kelucuan khas warung kopi. Seorang bapak tua yang setengah tuli salah dengar pengumuman radio, ia mengira yang lengser itu lurah pasar. Ia berteriak girang karena menganggap pajak kiosnya akan dihapus. Semua orang tertawa terbahak bahak, bahkan Haji Darsa sampai menepuk lututnya. Rahayu menggelengkan kepala sambil menahan senyum, merasa warung ini benar benar rumah segala rasa.
Menjelang siang, semakin banyak orang datang. Ada pedagang yang membawa kue untuk dibagikan gratis, ada ibu ibu yang memasak sayur asem lalu menuangkannya ke panci besar di warung. Tiba tiba warung yang biasanya hanya menyajikan kopi sederhana berubah seperti pesta rakyat. Anak anak berlarian sambil meniup seruling bambu, mahasiswa bernyanyi dengan gitar butut, dan bapak bapak ikut berjoget seadanya. Semua larut dalam perayaan sederhana.
Di tengah keramaian itu, Arman mendekati Haji Darsa. Ia menunduk hormat, lalu berkata terima kasih karena sudah mengizinkan warung ini jadi rumah kami. Haji Darsa menatapnya tajam sebentar, lalu menepuk bahunya. Ia berkata dengan suara berat jangan kau pikir aku merestui hubunganmu dengan anakku hanya karena kau pandai berpidato. Tetapi kali ini matanya tidak lagi menyimpan amarah, melainkan rasa bangga. Rahayu yang berdiri di dekatnya tersipu malu, namun dalam hatinya tahu bahwa ayahnya mulai luluh.
Sore hari, langit Garut berwarna jingga. Warung masih ramai, tapi suasananya lebih lembut. Orang orang duduk sambil menatap ke luar, seakan menunggu masa depan yang belum jelas. Rahayu duduk di dekat Arman, jarak mereka hanya sejengkal. Ia berbisik pelan, apa yang akan kau lakukan setelah ini. Arman tersenyum lelah, katanya perjuangan masih panjang, reformasi baru saja lahir dan harus dijaga. Tapi ia juga menatap Rahayu dengan mata yang lembut, menambahkan aku ingin tetap bisa datang ke warung ini bukan hanya untuk berjuang, tapi juga untukmu.
Ucapan itu membuat wajah Rahayu merona. Ia menunduk sambil menggenggam cangkir kopi panas. Hatinya berdesir, seakan semua jerih payah, semua ketakutan, semua tangis selama berminggu minggu terbayar lunas oleh satu kalimat sederhana.
Haji Darsa memperhatikan dari jauh, menghela napas panjang. Ia tahu putrinya sudah tumbuh dewasa, ia tahu hatinya tidak bisa ia kunci selamanya. Ia tersenyum kecil sambil menyalakan rokok lagi. Dalam hatinya ia berdoa semoga cinta yang lahir di tengah gejolak ini bisa tumbuh dengan kokoh, seperti pohon kopi yang tetap berdiri meski diterpa badai.
Malam pun turun. Warung tidak sepi, justru makin ramai. Lampu petromak bergoyang ditiup angin, menerangi wajah wajah penuh harapan. Seorang mahasiswa berdiri di kursi lalu berteriak, hari ini kita menang, tetapi besok kita harus lebih kuat. Semua orang bersorak setuju. Rahayu dan Arman saling berpandangan, tahu bahwa perjalanan belum selesai, namun malam ini mereka boleh memeluk kemenangan.
Haji Darsa mengangkat cangkir kopinya tinggi tinggi. Ia berkata dengan suara lantang mari kita rayakan bukan dengan mabuk, bukan dengan amarah, tetapi dengan kopi dan doa. Semua orang menirukan gerakannya, mengangkat cangkir masing masing. Suara tawa dan nyanyian mengisi udara Garut malam itu, bercampur dengan rasa lega yang tak bisa diungkap kata.
Warung kopi kecil di pinggir alun alun itu menjadi saksi sejarah, tempat di mana rakyat kecil menyambut hari baru dengan tangis, tawa, pelukan, dan segelas kopi hangat.
Other Stories
Institut Tambal Sains
Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...
Adam & Hawa
Adam mencintai Hawa yang cantik, cerdas, dan sederhana, namun hubungan mereka terhalang ad ...
Death Cafe
Sakti terdiam sejenak. Baginya hantu gentayangan tidak ada. Itu hanya ulah manusia usil ...
O
o ...
Menolak Jatuh Cinta
Rasa aneh sudah sembilan bulan lenyap, ntah mengapa kini kembali menyusup di sudut hatik ...
Sumpah Cinta
Gibriel Alexander,penulis muda blasteran Arab-Jerman, menulis novel demi membuat mantannya ...