Bab 2 Streamer 800K
Setelah kejadian no scope pertama yang bikin hidup Luna jungkir balik dalam semalam, dunia maya seperti mendadak jatuh cinta pada gadis yang bahkan tidak punya kursi gaming. Jangan bayangkan dia langsung kaya raya ya, karena kenyataannya masih jauh. Tapi tiba tiba sebuah pintu baru terbuka, pintu bernama streaming.
Awalnya Luna cuma iseng. Dia menyalakan kamera HP jadul yang ditempel di atas tumpukan buku lalu menghubungkannya ke laptop yang kalau kepanasan bisa bikin suara kayak mesin cuci. Dengan pencahayaan seadanya, wajahnya muncul di layar. Rambut diikat asal, kaos longgar, wajah polos tanpa make up. Tapi entah kenapa justru itu yang bikin orang betah nonton.
“hai” kata Luna sambil canggung melambai ke kamera.
“kok ada orang ya” kata Luna lagi setelah melihat ada sepuluh penonton.
Sepuluh. Ya ampun. Buat sebagian orang mungkin kecil. Tapi buat Luna yang biasanya ngomong sama tembok kamar kos, sepuluh itu terasa seperti stadion penuh.
Jam berganti hari, hari berganti minggu. Entah siapa yang mulai duluan, entah kenapa klip no scope viral itu masih terus dibagikan, dan setiap kali ada orang yang penasaran lalu klik link, mereka menemukan si gadis polos yang main game sambil sesekali nyanyi kecil atau ketawa ngakak ketika tembakan meleset.
Komentar pun bermunculan di chat
“lucu banget sumpah” kata seseorang dengan username aneh
“mainnya serius juga dong jangan ketawa mulu” kata penonton lain
“aku jatuh cinta sama tawa kamu” kata yang lain lagi
Luna hanya bisa tertawa. “kalian ini aneh” kata Luna sambil menggeleng.
Kamu mungkin bertanya apa istimewanya seorang streamer yang bahkan tidak punya lighting layak, yang suaranya kadang pecah karena mic murahan. Jawabannya sederhana. Kejujuran. Tidak ada topeng, tidak ada gimmick, tidak ada editan. Hanya Luna apa adanya. Dan itu justru bikin orang betah.
Jumlah penonton terus naik. Dari puluhan jadi ratusan. Dari ratusan jadi ribuan. Dan tahu tahu suatu malam angka di pojok layar menunjukkan sesuatu yang bikin Luna berhenti main.
“wah serius nih delapan ratus ribu followers” kata Luna dengan suara gemetar.
Coba bayangkan delapan ratus ribu orang. Kalau disuruh baris di lapangan bola, mungkin satu kota penuh. Dan semua itu menonton seorang gadis miskin di kamar kos sempit. Kadang dunia memang suka bercanda.
Tentu saja semakin besar yang menonton semakin banyak pula drama. Ada fans tulus yang selalu kasih semangat. Ada juga haters yang bilang ia hanya jual muka imut. Ada yang nyinyir bilang “pasti ada sugar daddy”. Luna biasanya tidak peduli, tapi ada kalanya komentar komentar itu masuk ke hati.
“aku bukan boneka siapa siapa” kata Luna pelan di depan kamera suatu malam.
Chat mendadak banjir dukungan
“kami percaya sama kamu”
“abaikan aja haters”
“semangat kak luna”
Dan begitulah caranya, perlahan Luna mulai punya tekad. Kalau awalnya dia hanya main untuk kabur dari kenyataan, sekarang dia mulai melihat tujuan. Juara dunia. Kedengarannya konyol memang. Tapi bukankah hidup justru menarik karena ada mimpi yang terasa mustahil.
Nah di bagian ini aku sebagai penulis ingin menoleh ke kamu pembaca. Pernah kan kamu punya mimpi yang orang lain bilang mustahil. Jangan buru buru menyerah, siapa tahu justru itu yang akan jadi jalanmu.
Balik ke Luna. Di balik tawa imut dan gaya polos, dia menyimpan ambisi keras kepala. Setiap malam setelah streaming selesai, dia tidak langsung tidur. Dia membuka catatan strategi, menonton rekaman pemain pro, mengulang ulang taktik. Laptop tuanya hampir meledak, tapi semangatnya lebih keras daripada suara kipas yang meraung.
Dan di tengah semua itu, ada seseorang yang diam diam masuk ke chat. Bukan sembarang orang. Username nya sederhana, tapi donasi yang ia kirim cukup besar untuk ukuran streamer baru.
“hai” kata username itu di chat.
“wah ada donatur baru ya” kata Luna sambil tersenyum. “makasih banyak”
Penonton langsung heboh
“wah gila sultan baru nongol”
“donasinya lebih gede dari gajiku sebulan”
“siapa tuh kok misterius”
Luna hanya bisa tertawa lagi. “jangan bikin gosip aneh aneh deh” kata Luna.
Yang jelas sejak malam itu, nama misterius itu sering muncul. Kadang cuma salam singkat, kadang kasih komentar kocak, kadang sekadar bilang semangat. Dan entah kenapa kehadirannya bikin Luna merasa ada yang memperhatikan lebih dari sekadar penonton biasa.
Di luar layar, kehidupan Luna tetap keras. Bayar kos, tugas kuliah, makanan hemat. Pernah suatu kali dia makan mie instan tiga hari berturut turut hanya karena gajian donasi belum cair. Tapi anehnya semua terasa lebih ringan. Karena di dalam dirinya kini ada keyakinan bahwa dia tidak sendirian.
Luna semakin serius. Ia mulai ikutan turnamen online, kecil kecilan dulu. Setiap kali menang, penonton sorak sorai. Setiap kali kalah, ia malah bikin lelucon.
“ya ampun tangan aku kaku kayak es batu” kata Luna ketika salah pencet tombol.
Chat langsung ketawa berjamaah.
Kejujuran, itulah senjata Luna. Dan itulah yang membuat delapan ratus ribu orang rela begadang hanya untuk menonton seorang gadis sederhana yang bermimpi menjadi juara dunia.
Namun dunia ini tidak pernah sesederhana itu. Karena dari balik layar, ada orang orang yang sudah memperhatikan. Termasuk si donatur misterius tadi. Dan percayalah, nanti kamu akan tahu siapa dia dan bagaimana kehadirannya bakal mengubah seluruh hidup Luna.
Untuk sekarang cukup kita tahu bahwa Luna sedang berada di titik awal perjalanan yang akan membawa dia ke puncak, tapi juga ke jurang. Antara tawa, air mata, cinta, dan bahaya.
“terima kasih ya semuanya udah nonton” kata Luna malam itu sambil melambaikan tangan ke kamera.
Chat meledak dengan emotikon hati dan kata kata semangat.
Dan mungkin, hanya mungkin, di antara ribuan pesan itu, ada satu pesan yang sebenarnya ditujukan bukan hanya untuk semangat, tapi untuk sesuatu yang lebih dalam.
Awalnya Luna cuma iseng. Dia menyalakan kamera HP jadul yang ditempel di atas tumpukan buku lalu menghubungkannya ke laptop yang kalau kepanasan bisa bikin suara kayak mesin cuci. Dengan pencahayaan seadanya, wajahnya muncul di layar. Rambut diikat asal, kaos longgar, wajah polos tanpa make up. Tapi entah kenapa justru itu yang bikin orang betah nonton.
“hai” kata Luna sambil canggung melambai ke kamera.
“kok ada orang ya” kata Luna lagi setelah melihat ada sepuluh penonton.
Sepuluh. Ya ampun. Buat sebagian orang mungkin kecil. Tapi buat Luna yang biasanya ngomong sama tembok kamar kos, sepuluh itu terasa seperti stadion penuh.
Jam berganti hari, hari berganti minggu. Entah siapa yang mulai duluan, entah kenapa klip no scope viral itu masih terus dibagikan, dan setiap kali ada orang yang penasaran lalu klik link, mereka menemukan si gadis polos yang main game sambil sesekali nyanyi kecil atau ketawa ngakak ketika tembakan meleset.
Komentar pun bermunculan di chat
“lucu banget sumpah” kata seseorang dengan username aneh
“mainnya serius juga dong jangan ketawa mulu” kata penonton lain
“aku jatuh cinta sama tawa kamu” kata yang lain lagi
Luna hanya bisa tertawa. “kalian ini aneh” kata Luna sambil menggeleng.
Kamu mungkin bertanya apa istimewanya seorang streamer yang bahkan tidak punya lighting layak, yang suaranya kadang pecah karena mic murahan. Jawabannya sederhana. Kejujuran. Tidak ada topeng, tidak ada gimmick, tidak ada editan. Hanya Luna apa adanya. Dan itu justru bikin orang betah.
Jumlah penonton terus naik. Dari puluhan jadi ratusan. Dari ratusan jadi ribuan. Dan tahu tahu suatu malam angka di pojok layar menunjukkan sesuatu yang bikin Luna berhenti main.
“wah serius nih delapan ratus ribu followers” kata Luna dengan suara gemetar.
Coba bayangkan delapan ratus ribu orang. Kalau disuruh baris di lapangan bola, mungkin satu kota penuh. Dan semua itu menonton seorang gadis miskin di kamar kos sempit. Kadang dunia memang suka bercanda.
Tentu saja semakin besar yang menonton semakin banyak pula drama. Ada fans tulus yang selalu kasih semangat. Ada juga haters yang bilang ia hanya jual muka imut. Ada yang nyinyir bilang “pasti ada sugar daddy”. Luna biasanya tidak peduli, tapi ada kalanya komentar komentar itu masuk ke hati.
“aku bukan boneka siapa siapa” kata Luna pelan di depan kamera suatu malam.
Chat mendadak banjir dukungan
“kami percaya sama kamu”
“abaikan aja haters”
“semangat kak luna”
Dan begitulah caranya, perlahan Luna mulai punya tekad. Kalau awalnya dia hanya main untuk kabur dari kenyataan, sekarang dia mulai melihat tujuan. Juara dunia. Kedengarannya konyol memang. Tapi bukankah hidup justru menarik karena ada mimpi yang terasa mustahil.
Nah di bagian ini aku sebagai penulis ingin menoleh ke kamu pembaca. Pernah kan kamu punya mimpi yang orang lain bilang mustahil. Jangan buru buru menyerah, siapa tahu justru itu yang akan jadi jalanmu.
Balik ke Luna. Di balik tawa imut dan gaya polos, dia menyimpan ambisi keras kepala. Setiap malam setelah streaming selesai, dia tidak langsung tidur. Dia membuka catatan strategi, menonton rekaman pemain pro, mengulang ulang taktik. Laptop tuanya hampir meledak, tapi semangatnya lebih keras daripada suara kipas yang meraung.
Dan di tengah semua itu, ada seseorang yang diam diam masuk ke chat. Bukan sembarang orang. Username nya sederhana, tapi donasi yang ia kirim cukup besar untuk ukuran streamer baru.
“hai” kata username itu di chat.
“wah ada donatur baru ya” kata Luna sambil tersenyum. “makasih banyak”
Penonton langsung heboh
“wah gila sultan baru nongol”
“donasinya lebih gede dari gajiku sebulan”
“siapa tuh kok misterius”
Luna hanya bisa tertawa lagi. “jangan bikin gosip aneh aneh deh” kata Luna.
Yang jelas sejak malam itu, nama misterius itu sering muncul. Kadang cuma salam singkat, kadang kasih komentar kocak, kadang sekadar bilang semangat. Dan entah kenapa kehadirannya bikin Luna merasa ada yang memperhatikan lebih dari sekadar penonton biasa.
Di luar layar, kehidupan Luna tetap keras. Bayar kos, tugas kuliah, makanan hemat. Pernah suatu kali dia makan mie instan tiga hari berturut turut hanya karena gajian donasi belum cair. Tapi anehnya semua terasa lebih ringan. Karena di dalam dirinya kini ada keyakinan bahwa dia tidak sendirian.
Luna semakin serius. Ia mulai ikutan turnamen online, kecil kecilan dulu. Setiap kali menang, penonton sorak sorai. Setiap kali kalah, ia malah bikin lelucon.
“ya ampun tangan aku kaku kayak es batu” kata Luna ketika salah pencet tombol.
Chat langsung ketawa berjamaah.
Kejujuran, itulah senjata Luna. Dan itulah yang membuat delapan ratus ribu orang rela begadang hanya untuk menonton seorang gadis sederhana yang bermimpi menjadi juara dunia.
Namun dunia ini tidak pernah sesederhana itu. Karena dari balik layar, ada orang orang yang sudah memperhatikan. Termasuk si donatur misterius tadi. Dan percayalah, nanti kamu akan tahu siapa dia dan bagaimana kehadirannya bakal mengubah seluruh hidup Luna.
Untuk sekarang cukup kita tahu bahwa Luna sedang berada di titik awal perjalanan yang akan membawa dia ke puncak, tapi juga ke jurang. Antara tawa, air mata, cinta, dan bahaya.
“terima kasih ya semuanya udah nonton” kata Luna malam itu sambil melambaikan tangan ke kamera.
Chat meledak dengan emotikon hati dan kata kata semangat.
Dan mungkin, hanya mungkin, di antara ribuan pesan itu, ada satu pesan yang sebenarnya ditujukan bukan hanya untuk semangat, tapi untuk sesuatu yang lebih dalam.
Other Stories
Devil's Bait
Dari permainan kartu tarot, Lanasha meramal lima temannya akan mengalami kejadian aneh hin ...
The Museum
Mario Tongghost, penangkap hantu asal Medan, menjadi penjaga malam di Museum Bamboe Kuning ...
Kita Pantas Kan?
Bukan soal berapa uangmu atau seberapa cantik dirimu tapi, bagaimana cara dirimu berdiri m ...
Dentistry Melody
Stella ...
Awan Favorit Mamah
Hidup bukanlah perjalanan yang mudah bagi Mamah. Sejak kecil ia tumbuh tanpa kepastian sia ...
After Meet You
kacamata hitam milik pria itu berkilat tertimpa cahaya keemasan, sang mata dewa nyaris t ...