Bab 9 Chemistry Awkward
Ada hal yang tidak pernah Luna bayangkan sebelumnya. Bahwa kamar kecil yang dulu cuma jadi markas seorang streamer miskin sekarang setiap malam dihuni oleh seorang anggota dewan muda yang serius latihan main FPS. Yes betul Adrian. Politisi sixpack dengan wajah standar tapi semangatnya bikin orang nggak tega untuk nggak ketawa. Dan entah kenapa semakin hari Luna jadi makin terbiasa dengan keberadaannya.
“hai” kata Luna ketika Adrian masuk lagi malam itu sambil membawa laptopnya yang entah kenapa selalu lowbat.
“hai” kata Adrian sambil senyum lebar.
Luna menghela napas. “kok kayaknya tiap malam kamu nongol mulu. Kamu nggak ada rapat atau sidang gitu” kata Luna.
“ada, tapi aku selesai lebih cepat. Latihan lebih penting” kata Adrian sok serius.
“penting dari siapa. Dari rakyat atau dari aku” kata Luna sambil melirik.
Adrian diam sebentar lalu nyengir. “dua duanya.”
Dan disinilah chemistry awkward itu mulai terasa. Karena Luna langsung salah tingkah, pura pura fokus buka game padahal kupingnya panas sendiri.
Chat di streaming pun langsung ngeh.
“ihihihihihi vibes nya beda nih guys”
“Luna blush confirm”
“fix canon. Politisi bukan cuma noob tapi juga bucin”
Luna buru buru mengibaskan tangan ke arah layar seakan bisa ngusir komen komen itu. “ah jangan halu kalian. Fokus match aja fokus match.”
Tapi kenyataannya memang makin susah untuk mengabaikan. Karena Adrian yang biasanya jadi bahan roasting lama lama menunjukkan sisi yang bikin Luna… nyaman. Misalnya malam itu ketika dia lagi latihan aim. Tangannya kaku, gerak mouse-nya aneh, tapi tiba tiba dia menoleh ke Luna.
“aku nggak ngerti kenapa setiap kali kamu main semua kelihatan gampang. Aku cuma bisa nembak tembok” kata Adrian sambil ketawa kecil.
“ya karena aku udah latihan bertahun tahun. Kamu baru seminggu” kata Luna.
Adrian mengangguk. “iya tapi aku serius. Kamu luar biasa.”
Luna terdiam. Ia menunduk. “jangan gitu ah. Aku biasa aja.”
“enggak. Kamu jenius. Aku bahkan kagum kamu bisa bertahan sejauh ini di tengah kondisi kamu. Aku tahu cerita kamu, aku tahu perjuangan kamu. Itu inspirasi buat aku juga.”
Luna mendadak salah tingkah lagi. Tangannya yang tadi sibuk pegang mouse jadi gemetar. “kamu ini ngomongnya kayak lagi kampanye aja” kata Luna mencoba bercanda.
Adrian tertawa. “kalau kampanye mah banyak janji. Kalau ke kamu, aku nggak janji janji. Aku cuma mau ada di sini.”
Bam. Chat langsung meledak.
“AAAAAAAA SWEET BANGET”
“aku ship mereka habis habisan”
“tolong nikahin aja besok”
Luna langsung tutup wajah dengan tangan. “astaga kalian jangan ikut ikutan” kata Luna.
Adrian malah makin santai. Dia mendekatkan kursinya ke arah Luna. Jarak mereka sekarang hanya sejengkal. “kalau aku beneran bikin kamu nyaman, itu salah ya” kata Adrian pelan.
Luna memalingkan wajah. “aku… nggak tahu.”
Dan di sanalah momen awkward itu terjadi. Suara keyboard dan mouse mendadak jadi sangat keras karena Luna mencoba menutupi degup jantungnya.
Beberapa hari berikutnya kebiasaan itu terus berulang. Adrian datang, mereka latihan bareng. Kadang Adrian masih jadi bahan roasting netizen. Misalnya saat dia salah lompat ke jurang padahal udah dipandu.
“lompat ke kiri” kata Luna.
“oke siap” kata Adrian.
Lalu dia malah lompat ke kanan dan mati.
“oh my God kamu kok bebal banget sih” kata Luna sambil ngakak.
“ya aku kan orang politik, terbiasa ambil jalan kanan” kata Adrian dengan muka serius.
Luna nggak bisa menahan tawa. “wah itu barusan lucu banget sumpah.”
Netizen makin gila.
“no scope vs no logic masuk season 2”
“please kasih dia skin badut aja”
Tapi meski kelihatan receh, ada sesuatu yang berubah. Karena setiap tawa itu bikin Luna makin nyaman. Dia terbiasa melihat Adrian datang dengan baju kasual, padahal di TV orang orang lihat dia selalu pakai jas rapi. Dia terbiasa mendengar tawa konyolnya, padahal di berita Adrian selalu bicara tegas.
Suatu malam setelah latihan panjang, Luna menyandarkan kepalanya di meja. “capek banget” kata Luna.
Adrian menoleh. “mau aku beliin makan?”
“serius mau” kata Luna.
Adrian langsung berdiri. “oke tunggu, aku pesen makanan favorit kamu. Ayam geprek level lima kan.”
Luna mendongak kaget. “kok kamu tahu.”
Adrian hanya tersenyum. “aku memperhatikan.”
Dan itu cukup untuk bikin Luna bengong.
Makanan datang. Mereka makan bareng di kamar sempit itu, sambil nonton replay game. Luna terkekeh melihat adegan Adrian mati konyol.
“liat tuh liat. Kamu jatuh ke jurang lagi. Aduh” kata Luna sambil ketawa.
Adrian ikut ketawa tapi menatap Luna lama. “asal kamu senyum gini, aku rela jatuh seribu kali.”
Luna mendadak tersedak ayamnya. “hah apaan sih kamu” kata Luna sambil batuk.
“aku serius” kata Adrian sambil menepuk pelan punggung Luna biar berhenti batuk.
Dan tangan itu terasa hangat.
Kamar yang biasanya dingin mendadak terasa berbeda. Luna tahu dirinya harus jaga jarak. Tapi hati kecilnya sudah mulai menyerah.
“hai” kata Luna lirih.
“hai” kata Adrian sambil tersenyum lembut.
Untuk pertama kalinya sejak kontrak rahasia itu dibuat, Luna merasa kedekatan mereka bukan cuma soal bisnis. Ada sesuatu yang tumbuh. Sesuatu yang bahkan netizen pun mulai sadari. Chemistry itu nyata meski awkward, meski penuh tawa, meski penuh gagal aim.
Di akhir malam, sebelum Adrian pulang, ia berkata pelan. “aku janji akan terus ada di sini. Bukan cuma sebagai sponsor. Tapi sebagai seseorang yang peduli sama kamu.”
Luna menunduk, tidak menjawab. Tapi senyum tipis di wajahnya sudah cukup jadi jawaban.
Dan kita tahu. Ini baru awal dari kisah yang akan lebih rumit lagi.
“hai” kata Luna ketika Adrian masuk lagi malam itu sambil membawa laptopnya yang entah kenapa selalu lowbat.
“hai” kata Adrian sambil senyum lebar.
Luna menghela napas. “kok kayaknya tiap malam kamu nongol mulu. Kamu nggak ada rapat atau sidang gitu” kata Luna.
“ada, tapi aku selesai lebih cepat. Latihan lebih penting” kata Adrian sok serius.
“penting dari siapa. Dari rakyat atau dari aku” kata Luna sambil melirik.
Adrian diam sebentar lalu nyengir. “dua duanya.”
Dan disinilah chemistry awkward itu mulai terasa. Karena Luna langsung salah tingkah, pura pura fokus buka game padahal kupingnya panas sendiri.
Chat di streaming pun langsung ngeh.
“ihihihihihi vibes nya beda nih guys”
“Luna blush confirm”
“fix canon. Politisi bukan cuma noob tapi juga bucin”
Luna buru buru mengibaskan tangan ke arah layar seakan bisa ngusir komen komen itu. “ah jangan halu kalian. Fokus match aja fokus match.”
Tapi kenyataannya memang makin susah untuk mengabaikan. Karena Adrian yang biasanya jadi bahan roasting lama lama menunjukkan sisi yang bikin Luna… nyaman. Misalnya malam itu ketika dia lagi latihan aim. Tangannya kaku, gerak mouse-nya aneh, tapi tiba tiba dia menoleh ke Luna.
“aku nggak ngerti kenapa setiap kali kamu main semua kelihatan gampang. Aku cuma bisa nembak tembok” kata Adrian sambil ketawa kecil.
“ya karena aku udah latihan bertahun tahun. Kamu baru seminggu” kata Luna.
Adrian mengangguk. “iya tapi aku serius. Kamu luar biasa.”
Luna terdiam. Ia menunduk. “jangan gitu ah. Aku biasa aja.”
“enggak. Kamu jenius. Aku bahkan kagum kamu bisa bertahan sejauh ini di tengah kondisi kamu. Aku tahu cerita kamu, aku tahu perjuangan kamu. Itu inspirasi buat aku juga.”
Luna mendadak salah tingkah lagi. Tangannya yang tadi sibuk pegang mouse jadi gemetar. “kamu ini ngomongnya kayak lagi kampanye aja” kata Luna mencoba bercanda.
Adrian tertawa. “kalau kampanye mah banyak janji. Kalau ke kamu, aku nggak janji janji. Aku cuma mau ada di sini.”
Bam. Chat langsung meledak.
“AAAAAAAA SWEET BANGET”
“aku ship mereka habis habisan”
“tolong nikahin aja besok”
Luna langsung tutup wajah dengan tangan. “astaga kalian jangan ikut ikutan” kata Luna.
Adrian malah makin santai. Dia mendekatkan kursinya ke arah Luna. Jarak mereka sekarang hanya sejengkal. “kalau aku beneran bikin kamu nyaman, itu salah ya” kata Adrian pelan.
Luna memalingkan wajah. “aku… nggak tahu.”
Dan di sanalah momen awkward itu terjadi. Suara keyboard dan mouse mendadak jadi sangat keras karena Luna mencoba menutupi degup jantungnya.
Beberapa hari berikutnya kebiasaan itu terus berulang. Adrian datang, mereka latihan bareng. Kadang Adrian masih jadi bahan roasting netizen. Misalnya saat dia salah lompat ke jurang padahal udah dipandu.
“lompat ke kiri” kata Luna.
“oke siap” kata Adrian.
Lalu dia malah lompat ke kanan dan mati.
“oh my God kamu kok bebal banget sih” kata Luna sambil ngakak.
“ya aku kan orang politik, terbiasa ambil jalan kanan” kata Adrian dengan muka serius.
Luna nggak bisa menahan tawa. “wah itu barusan lucu banget sumpah.”
Netizen makin gila.
“no scope vs no logic masuk season 2”
“please kasih dia skin badut aja”
Tapi meski kelihatan receh, ada sesuatu yang berubah. Karena setiap tawa itu bikin Luna makin nyaman. Dia terbiasa melihat Adrian datang dengan baju kasual, padahal di TV orang orang lihat dia selalu pakai jas rapi. Dia terbiasa mendengar tawa konyolnya, padahal di berita Adrian selalu bicara tegas.
Suatu malam setelah latihan panjang, Luna menyandarkan kepalanya di meja. “capek banget” kata Luna.
Adrian menoleh. “mau aku beliin makan?”
“serius mau” kata Luna.
Adrian langsung berdiri. “oke tunggu, aku pesen makanan favorit kamu. Ayam geprek level lima kan.”
Luna mendongak kaget. “kok kamu tahu.”
Adrian hanya tersenyum. “aku memperhatikan.”
Dan itu cukup untuk bikin Luna bengong.
Makanan datang. Mereka makan bareng di kamar sempit itu, sambil nonton replay game. Luna terkekeh melihat adegan Adrian mati konyol.
“liat tuh liat. Kamu jatuh ke jurang lagi. Aduh” kata Luna sambil ketawa.
Adrian ikut ketawa tapi menatap Luna lama. “asal kamu senyum gini, aku rela jatuh seribu kali.”
Luna mendadak tersedak ayamnya. “hah apaan sih kamu” kata Luna sambil batuk.
“aku serius” kata Adrian sambil menepuk pelan punggung Luna biar berhenti batuk.
Dan tangan itu terasa hangat.
Kamar yang biasanya dingin mendadak terasa berbeda. Luna tahu dirinya harus jaga jarak. Tapi hati kecilnya sudah mulai menyerah.
“hai” kata Luna lirih.
“hai” kata Adrian sambil tersenyum lembut.
Untuk pertama kalinya sejak kontrak rahasia itu dibuat, Luna merasa kedekatan mereka bukan cuma soal bisnis. Ada sesuatu yang tumbuh. Sesuatu yang bahkan netizen pun mulai sadari. Chemistry itu nyata meski awkward, meski penuh tawa, meski penuh gagal aim.
Di akhir malam, sebelum Adrian pulang, ia berkata pelan. “aku janji akan terus ada di sini. Bukan cuma sebagai sponsor. Tapi sebagai seseorang yang peduli sama kamu.”
Luna menunduk, tidak menjawab. Tapi senyum tipis di wajahnya sudah cukup jadi jawaban.
Dan kita tahu. Ini baru awal dari kisah yang akan lebih rumit lagi.
Other Stories
Kastil Piano
Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...
Curahan Hati Seorang Kacung
Setelah lulus sekolah, harapan mendapat pekerjaan bagus muncul, tapi bekerja dengan orang ...
Impianku
ini adalah sebuah cerita tentang impianku yang tertunda selama 10 tahun ...
Bisikan Lada
Kejadian pagi tadi membuat heboh warga sekitar. Penemuan tiga mayat pemuda yang diketah ...
Kepentok Kacung Kampret
Renata bagai langit yang sulit digapai karena kekayaan dan kehormatan yang melingkupi diri ...
Rembulan Di Mata Syua
Pisah. Satu kata yang mengubah hidup Syua Sapphire. Rambut panjangnya dipotong pendek sep ...