Romance Reloaded

Reads
3.5K
Votes
0
Parts
30
Vote
Report
Penulis TJOE 21

Bab 14 Dunia Yang Bertabrakan

Politik dan game, dua dunia yang seharusnya tak ada hubungannya, tiba-tiba saling menabrak seperti dua kereta di jalur yang sama. Luna tidak pernah membayangkan namanya akan masuk ke ruang rapat dewan, tempat para pria berjas berdiskusi dengan suara tinggi tentang masa depan negara. Tapi kenyataannya, hari itu namanya diputar di layar proyektor, lengkap dengan potongan foto dirinya yang sedang memegang trofi turnamen.

“ini bukti bagaimana generasi muda dimanfaatkan hanya untuk kepentingan citra” kata salah satu anggota dewan dengan nada sinis. “anak ini, Luna, hanya seorang gamer. Dan sekarang kita lihat bagaimana dia dipakai untuk membangun popularitas politik tertentu.”

Luna yang duduk di bangku tamu tercekat. Rasanya ingin berteriak membela diri, tapi ia tak berhak bicara di forum itu.

Adrian yang berdiri di podium mengetukkan tangannya ke meja. “cukup. Jangan sebut namanya seolah dia tidak punya harga diri. Luna bukan boneka, bukan alat, dan bukan korban politik murahan kalian. Dia seorang atlet esports yang berjuang dengan keringatnya sendiri.”

Ruang rapat riuh. Beberapa bertepuk tangan kecil, sebagian lainnya menggerutu.

Luna menunduk, berusaha menyembunyikan wajah yang memanas. Hatinya campur aduk—antara marah, takut, dan entah kenapa juga tersentuh. Adrian berdiri di sana, menantang semua orang, hanya untuk melindungi namanya.

Selesai rapat, mereka keluar lewat lorong panjang. Luna bergegas mengejar Adrian.

“hai” kata Luna dengan suara pelan tapi jelas.

Adrian menoleh. “hai. Kamu nggak apa-apa?”

“aku yang harusnya tanya. Kamu tadi berani banget.”

Adrian menghela napas. “kalau aku diam, mereka akan injak nama kamu sampai hancur. Aku nggak mau itu terjadi.”

Luna menggigit bibir. “tapi dengan kamu pasang badan, mereka malah makin benci ke kamu.”

Adrian tersenyum kecil. “biar aja. Biar aku yang tanggung. Kamu nggak perlu ikut terbakar.”

Mereka berhenti di teras gedung dewan. Sore hari, matahari condong ke barat, cahaya keemasan menyorot wajah Adrian. Luna menatapnya lama.

“kenapa kamu selalu begini sih” kata Luna lirih.

“begini gimana?”

“selalu bikin aku ngerasa penting. Selalu bikin aku bingung, antara pengen marah sama pengen… ya, kamu tau lah.”

Adrian mendekat setengah langkah. “aku tau.”

Jarak mereka hanya tinggal beberapa sentimeter. Suara kota di luar seolah hilang, hanya detak jantung mereka yang terdengar.

“hai” bisik Luna lagi.

“hai” jawab Adrian lembut. “kalau dunia ini terlalu bising, kita bikin dunia kecil kita sendiri.”

Luna merasa dadanya bergetar. Ia ingin menyangkal, tapi justru tersenyum. “kamu pinter banget ngomong.”

“bukan pinter. Aku cuma jujur.”

Malamnya, Luna kembali ke apartemen dengan pikiran penuh. Notifikasi di ponselnya tidak berhenti. Ada yang membela, ada yang menghina.

“Luna cuma dipakai buat gimmick politik.”
“Kasihan, bakatnya malah jadi korban.”
“Adrian cuma numpang eksis lewat gamer cantik.”

Luna mendesah keras. Ia menutup layar dan menjatuhkan diri ke sofa.

Tak lama kemudian pintu diketuk. Adrian muncul dengan plastik berisi makanan.

“hai” kata Luna begitu pintu terbuka.

“hai” kata Adrian sambil tersenyum. “aku bawa martabak, favorit kamu.”

Mereka duduk berdua di meja kecil. Luna menyuap martabak dengan malas, wajahnya masih kusut. Adrian menatapnya sambil menyandarkan dagu di tangan.

“kenapa murung?”

“aku benci rasanya jadi bahan gosip. Rasanya aku nggak punya kendali atas hidupku sendiri.”

Adrian meletakkan tangannya di atas tangan Luna. “dengar ya. Kamu lebih dari gosip itu. Kamu pemain hebat, kamu punya mimpi. Jangan biarkan dunia mereka mencuri dunia kamu.”

Luna menoleh. Pandangan Adrian begitu serius, tapi juga lembut.

“kamu sadar nggak sih, kamu sering banget bikin aku tenang. Padahal aku pengen marah terus.”

Adrian tertawa kecil. “berarti aku obat marah kamu.”

“lebih kayak virus. Karena tiap kamu ngomong manis, aku jadi nggak bisa mikir jernih.”

Adrian pura pura kaget. “wah, berarti aku berbahaya.”

“banget.” Luna tersenyum tipis.

Mereka larut dalam keheningan yang hangat. Lampu kota berkilau dari jendela, suara kendaraan jauh di jalan raya menjadi latar.

Luna akhirnya bersandar di bahu Adrian. “aku nggak tau gimana masa depan kita. Politik itu kotor, esports juga keras. Tapi anehnya, kalau kamu ada di sini, aku ngerasa bisa jalan terus.”

Adrian menoleh, menatap wajah Luna dari dekat. “aku nggak janji dunia akan gampang. Tapi aku janji nggak akan lepas tangan.”

Luna menghela napas panjang, lalu tersenyum. “hai.”

“hai.”

“kamu tau nggak, setiap kali aku bilang hai ke kamu, itu sebenernya aku lagi bilang terima kasih.”

Adrian membalas senyum. “kalau gitu, setiap kali aku jawab hai, itu artinya aku selalu ada buat kamu.”

Dan di malam yang kacau karena politik kotor, dunia mereka bertabrakan tapi juga menemukan keseimbangannya sendiri—sebuah ruang kecil di mana gosip, rapat dewan, dan headline tak bisa masuk. Hanya ada Luna dan Adrian, dua orang yang sedang belajar bagaimana cara mencintai di tengah badai.

Other Stories
Bad Close Friend

Denta, siswa SMA 91 Cirebon yang urakan dan suka tawuran, tak pernah merasa cocok berteman ...

Cinta Satu Paket

Renata ingin pasangan kaya demi mengangkat derajat dirinya dan ibunya. Berbeda dari sahaba ...

Hati Yang Beku

Jakarta tak pernah tidur: siang dipenuhi kemacetan, malam dengan gemerlap dunia, meski ada ...

Mother & Son

Zyan tak sengaja merusak gitar Dana. Rasa bersalah membawanya pulang dalam diam, hingga na ...

Deru Suara Kagum

Perlahan keadaan mulai berubah. Pertemuan-pertemuan sederhana, duduk berdekatan , atau sek ...

Tea Love

Miranda tak ingin melepas kariernya demi full time mother, meski suaminya meminta begitu. ...

Download Titik & Koma