Bab 19 Kejutan Miskin
Hari itu udara terasa berbeda. Setelah beberapa hari bersembunyi di desa bersama Adrian, Luna mendadak merasa ingin pulang. Bukan ke apartemennya yang sering diintai paparazzi, tapi ke rumah lamanya rumah di mana ia dibesarkan, rumah yang selama ini jarang ia ceritakan pada siapa pun.
“aku mau nunjukin sesuatu,” kata Luna tiba-tiba saat mereka duduk di teras rumah kayu desa.
Adrian menoleh, sedikit heran. “sesuatu apa?”
“rumahku. Yang asli. Bukan apartemen, bukan gaming house, tapi tempat aku bener bener tumbuh.”
Adrian terdiam sejenak, lalu tersenyum. “kalau kamu siap, aku siap ikut.”
Perjalanan ke rumah lama Luna memakan waktu sekitar satu jam dari desa. Mobil Adrian melewati jalan kecil yang makin lama makin sempit. Pohon pohon bambu mengapit, udara lembap khas kampung mulai terasa.
Luna duduk dengan wajah tegang, sesekali menggigit bibir. Tangannya meremas tali tas yang ia pangku.
Adrian melirik sekilas. “kamu gugup?”
“aku takut kamu shock. Rumahku ya gitu deh.”
Adrian menenangkan dengan suara lembut. “hei. Aku nggak datang buat lihat bagus atau jeleknya. Aku datang karena itu bagian dari kamu.”
Luna menunduk, pipinya memerah. “hai,” katanya pelan.
“hai,” jawab Adrian sambil tersenyum hangat.
Mobil berhenti di depan sebuah rumah sederhana yang jelas sudah tua. Dindingnya terbuat dari papan kayu, sebagian lapuk. Atapnya bolong di beberapa tempat. Halaman penuh rumput liar. Pagar bambu miring ke samping, seperti menunggu waktu untuk roboh.
Adrian keluar dari mobil, menatap rumah itu dengan mata yang tak bisa disembunyikan keterkejutannya. Tapi bukan jijik atau meremehkan melainkan campuran iba, hormat, dan rasa kagum.
“ini rumahmu?” suaranya pelan, nyaris berbisik.
Luna mengangguk, tersenyum canggung. “yah. Welcome to my palace.”
Adrian berjalan pelan mendekati dinding, menyentuh kayu lapuknya. “aku nggak nyangka… kamu tumbuh di sini.”
“aku jarang cerita ke siapa pun. Malu juga. Dulu kalau hujan deras, aku harus taruh ember di mana mana buat nampung air bocor. Kalau angin kencang, aku sembunyi di bawah meja takut atap terbang.”
Adrian menoleh, matanya berkaca kaca. “Luna”
“tapi,” Luna melanjutkan dengan senyum getir, “di sinilah aku pertama kali main game. Warnet di kampung dekat sini. Aku kabur kabur dari rumah cuma buat nyobain komputer. Dari situ aku jatuh cinta sama dunia esports.”
Adrian menatapnya lama. “jadi semua perjuanganmu dimulai dari rumah ini.”
“iya. Rumah jelek ini yang bikin aku belajar keras, biar aku bisa keluar dari sini.”
Luna tertawa kecil, tapi suaranya bergetar. “aku nggak nyangka bisa jadi kayak sekarang. Tapi aku juga takut orang orang tau aku miskin, terus ngejek aku lagi.”
Adrian melangkah mendekat, menatap matanya dalam dalam. “kamu tau nggak apa yang aku lihat?”
“apa?”
“aku lihat gadis paling kuat yang pernah aku kenal. Kamu tumbuh di sini, tapi bisa sampai sejauh itu. Itu luar biasa, Luna.”
Air mata Luna menetes tanpa ia sadari. Ia buru buru menyeka dengan tangan. “jangan bilang aku cengeng.”
Adrian tersenyum, lalu meraih tangannya. “menangis bukan berarti lemah. Justru kamu udah terlalu kuat sampai lupa kalau kamu juga boleh rapuh.”
Luna terdiam, lalu pelan pelan menyandarkan kepala ke dada Adrian. Detak jantung pria itu terdengar jelas.
“hai,” bisik Luna.
“hai,” balas Adrian sambil mengusap rambutnya.
Mereka masuk ke dalam rumah. Lantai papan berderit di setiap langkah. Dinding penuh bekas coretan lama. Ada meja reyot di sudut ruangan, di atasnya tergeletak boneka beruang kecil yang warnanya sudah pudar.
“itu boneka kesayanganku waktu kecil,” kata Luna sambil menunjuk. “aku namain dia Bear Bear. Nggak kreatif ya.”
Adrian tersenyum hangat. “justru itu lucu.”
Luna mengambil boneka itu, meniup debunya, lalu mendekapnya erat. “aku sering tidur sambil nangis sambil peluk dia. Dia satu satunya yang ngerti aku waktu kecil.”
Adrian mendekat, lalu menepuk pelan kepala boneka itu. “makasih ya Bear Bear, udah jaga Luna selama ini. Sekarang aku gantian.”
Luna langsung menoleh, wajahnya merah padam. “kok kamu ngomong sama boneka.”
“serius. Dia pahlawan sebelum aku datang.”
Luna tertawa kecil di sela air matanya. “kamu aneh banget.”
“tapi kamu suka kan.”
“ya aku suka.”
Malam itu mereka duduk di ruang tamu rumah tua, hanya diterangi lampu minyak kecil. Hujan turun di luar, bunyinya menimpa atap bolong. Sesekali tetesan air jatuh ke lantai.
Luna menghela napas. “kayak nostalgia. Dulu tiap hujan aku harus lari cari ember. Sekarang pun masih sama.”
Adrian berdiri, mengambil panci di dapur, lalu menaruhnya di bawah bocoran air. “nah, aku juga bisa jadi bagian dari nostalgia kamu.”
Luna tertawa, lalu menatapnya dengan mata berbinar. “kamu serius mau terjebak sama aku di rumah roboh gini?”
“kalau sama kamu, bahkan rumah roboh pun jadi istana.”
Luna terdiam, hatinya bergetar hebat. Ia menggenggam tangan Adrian erat.
“kamu bikin aku takut lagi,” katanya lirih.
“takut kenapa?”
“takut kehilanganmu.”
Adrian menatapnya penuh keyakinan. “aku nggak kemana mana. Aku ada di sini. Aku milik kamu.”
Air mata Luna jatuh lagi, kali ini tanpa ia tahan. Adrian mengusapnya lembut, lalu menarik Luna ke pelukannya.
“hai,” kata Luna dengan suara bergetar.
“hai,” jawab Adrian sambil mengecup keningnya pelan.
Pagi datang. Matahari masuk lewat celah dinding. Rumah tua itu masih berdiri, meski rapuh.
Luna duduk di teras, memeluk lutut, melihat ke jalan kecil yang dulu sering ia lewati untuk ke warnet. Adrian duduk di sampingnya, membawa dua gelas teh hangat.
“aku jadi sadar sesuatu,” kata Luna.
“apa?”
“rumah ini jelek. Tapi dari sinilah aku belajar arti mimpi. Aku nggak akan malu lagi.”
Adrian menatapnya bangga. “itu yang aku tunggu dari kamu. Kamu nggak perlu sembunyi. Justru dari sini kamu jadi luar biasa.”
Luna tersenyum, lalu menatap Adrian. “makasih ya. Kamu selalu bikin aku berani.”
“dan kamu selalu bikin aku jatuh hati.”
Luna menunduk, pipinya merah. “hai,” katanya lirih tapi manis.
“hai,” balas Adrian dengan senyum penuh cinta.
Mereka berdua duduk berdampingan, di depan rumah yang hampir roboh tapi penuh kenangan. Bagi Luna, ini bukan lagi rumah miskin memalukan. Ini jadi saksi bahwa cinta dan keberanian bisa tumbuh di mana saja bahkan dari tempat yang paling rapuh sekalipun.
Dan bagi Adrian, hari itu ia semakin yakin: gadis bernama Luna bukan sekadar gamer yang ia kagumi. Ia adalah rumah, tempat hatinya ingin selalu pulang.
“aku mau nunjukin sesuatu,” kata Luna tiba-tiba saat mereka duduk di teras rumah kayu desa.
Adrian menoleh, sedikit heran. “sesuatu apa?”
“rumahku. Yang asli. Bukan apartemen, bukan gaming house, tapi tempat aku bener bener tumbuh.”
Adrian terdiam sejenak, lalu tersenyum. “kalau kamu siap, aku siap ikut.”
Perjalanan ke rumah lama Luna memakan waktu sekitar satu jam dari desa. Mobil Adrian melewati jalan kecil yang makin lama makin sempit. Pohon pohon bambu mengapit, udara lembap khas kampung mulai terasa.
Luna duduk dengan wajah tegang, sesekali menggigit bibir. Tangannya meremas tali tas yang ia pangku.
Adrian melirik sekilas. “kamu gugup?”
“aku takut kamu shock. Rumahku ya gitu deh.”
Adrian menenangkan dengan suara lembut. “hei. Aku nggak datang buat lihat bagus atau jeleknya. Aku datang karena itu bagian dari kamu.”
Luna menunduk, pipinya memerah. “hai,” katanya pelan.
“hai,” jawab Adrian sambil tersenyum hangat.
Mobil berhenti di depan sebuah rumah sederhana yang jelas sudah tua. Dindingnya terbuat dari papan kayu, sebagian lapuk. Atapnya bolong di beberapa tempat. Halaman penuh rumput liar. Pagar bambu miring ke samping, seperti menunggu waktu untuk roboh.
Adrian keluar dari mobil, menatap rumah itu dengan mata yang tak bisa disembunyikan keterkejutannya. Tapi bukan jijik atau meremehkan melainkan campuran iba, hormat, dan rasa kagum.
“ini rumahmu?” suaranya pelan, nyaris berbisik.
Luna mengangguk, tersenyum canggung. “yah. Welcome to my palace.”
Adrian berjalan pelan mendekati dinding, menyentuh kayu lapuknya. “aku nggak nyangka… kamu tumbuh di sini.”
“aku jarang cerita ke siapa pun. Malu juga. Dulu kalau hujan deras, aku harus taruh ember di mana mana buat nampung air bocor. Kalau angin kencang, aku sembunyi di bawah meja takut atap terbang.”
Adrian menoleh, matanya berkaca kaca. “Luna”
“tapi,” Luna melanjutkan dengan senyum getir, “di sinilah aku pertama kali main game. Warnet di kampung dekat sini. Aku kabur kabur dari rumah cuma buat nyobain komputer. Dari situ aku jatuh cinta sama dunia esports.”
Adrian menatapnya lama. “jadi semua perjuanganmu dimulai dari rumah ini.”
“iya. Rumah jelek ini yang bikin aku belajar keras, biar aku bisa keluar dari sini.”
Luna tertawa kecil, tapi suaranya bergetar. “aku nggak nyangka bisa jadi kayak sekarang. Tapi aku juga takut orang orang tau aku miskin, terus ngejek aku lagi.”
Adrian melangkah mendekat, menatap matanya dalam dalam. “kamu tau nggak apa yang aku lihat?”
“apa?”
“aku lihat gadis paling kuat yang pernah aku kenal. Kamu tumbuh di sini, tapi bisa sampai sejauh itu. Itu luar biasa, Luna.”
Air mata Luna menetes tanpa ia sadari. Ia buru buru menyeka dengan tangan. “jangan bilang aku cengeng.”
Adrian tersenyum, lalu meraih tangannya. “menangis bukan berarti lemah. Justru kamu udah terlalu kuat sampai lupa kalau kamu juga boleh rapuh.”
Luna terdiam, lalu pelan pelan menyandarkan kepala ke dada Adrian. Detak jantung pria itu terdengar jelas.
“hai,” bisik Luna.
“hai,” balas Adrian sambil mengusap rambutnya.
Mereka masuk ke dalam rumah. Lantai papan berderit di setiap langkah. Dinding penuh bekas coretan lama. Ada meja reyot di sudut ruangan, di atasnya tergeletak boneka beruang kecil yang warnanya sudah pudar.
“itu boneka kesayanganku waktu kecil,” kata Luna sambil menunjuk. “aku namain dia Bear Bear. Nggak kreatif ya.”
Adrian tersenyum hangat. “justru itu lucu.”
Luna mengambil boneka itu, meniup debunya, lalu mendekapnya erat. “aku sering tidur sambil nangis sambil peluk dia. Dia satu satunya yang ngerti aku waktu kecil.”
Adrian mendekat, lalu menepuk pelan kepala boneka itu. “makasih ya Bear Bear, udah jaga Luna selama ini. Sekarang aku gantian.”
Luna langsung menoleh, wajahnya merah padam. “kok kamu ngomong sama boneka.”
“serius. Dia pahlawan sebelum aku datang.”
Luna tertawa kecil di sela air matanya. “kamu aneh banget.”
“tapi kamu suka kan.”
“ya aku suka.”
Malam itu mereka duduk di ruang tamu rumah tua, hanya diterangi lampu minyak kecil. Hujan turun di luar, bunyinya menimpa atap bolong. Sesekali tetesan air jatuh ke lantai.
Luna menghela napas. “kayak nostalgia. Dulu tiap hujan aku harus lari cari ember. Sekarang pun masih sama.”
Adrian berdiri, mengambil panci di dapur, lalu menaruhnya di bawah bocoran air. “nah, aku juga bisa jadi bagian dari nostalgia kamu.”
Luna tertawa, lalu menatapnya dengan mata berbinar. “kamu serius mau terjebak sama aku di rumah roboh gini?”
“kalau sama kamu, bahkan rumah roboh pun jadi istana.”
Luna terdiam, hatinya bergetar hebat. Ia menggenggam tangan Adrian erat.
“kamu bikin aku takut lagi,” katanya lirih.
“takut kenapa?”
“takut kehilanganmu.”
Adrian menatapnya penuh keyakinan. “aku nggak kemana mana. Aku ada di sini. Aku milik kamu.”
Air mata Luna jatuh lagi, kali ini tanpa ia tahan. Adrian mengusapnya lembut, lalu menarik Luna ke pelukannya.
“hai,” kata Luna dengan suara bergetar.
“hai,” jawab Adrian sambil mengecup keningnya pelan.
Pagi datang. Matahari masuk lewat celah dinding. Rumah tua itu masih berdiri, meski rapuh.
Luna duduk di teras, memeluk lutut, melihat ke jalan kecil yang dulu sering ia lewati untuk ke warnet. Adrian duduk di sampingnya, membawa dua gelas teh hangat.
“aku jadi sadar sesuatu,” kata Luna.
“apa?”
“rumah ini jelek. Tapi dari sinilah aku belajar arti mimpi. Aku nggak akan malu lagi.”
Adrian menatapnya bangga. “itu yang aku tunggu dari kamu. Kamu nggak perlu sembunyi. Justru dari sini kamu jadi luar biasa.”
Luna tersenyum, lalu menatap Adrian. “makasih ya. Kamu selalu bikin aku berani.”
“dan kamu selalu bikin aku jatuh hati.”
Luna menunduk, pipinya merah. “hai,” katanya lirih tapi manis.
“hai,” balas Adrian dengan senyum penuh cinta.
Mereka berdua duduk berdampingan, di depan rumah yang hampir roboh tapi penuh kenangan. Bagi Luna, ini bukan lagi rumah miskin memalukan. Ini jadi saksi bahwa cinta dan keberanian bisa tumbuh di mana saja bahkan dari tempat yang paling rapuh sekalipun.
Dan bagi Adrian, hari itu ia semakin yakin: gadis bernama Luna bukan sekadar gamer yang ia kagumi. Ia adalah rumah, tempat hatinya ingin selalu pulang.
Other Stories
Bahagiakan Ibu
Jalan raya waktu pagi lumayan ramai. Ibu dengan hati-hati menyetir sepeda motor. Jalan ber ...
Mewarnai
ini adalah contoh uplot buku ...
Bunga Untuk Istriku (21+)
Laras merasa pernikahannya dengan Rendra telah mencapai titik jenuh yang aman namun hambar ...
Way Back To Love
Karena cinta, kebahagiaan, dan kesedihan datang silih berganti mewarnai langkah hidup ki ...
My 24
Apa yang tak ia miliki? Karir yang gemilang, prestasi yang apik, istri yang cantik. Namun ...
Adam & Hawa
Adam mencintai Hawa yang cantik, cerdas, dan sederhana, namun hubungan mereka terhalang ad ...