Romance Reloaded

Reads
3.5K
Votes
0
Parts
30
Vote
Report
Penulis TJOE 21

Bab 21 Sasaeng Level Up

Pagi itu suasana rumah Luna terasa lebih sepi dari biasanya. Rumah sederhana yang hampir roboh itu berdiri di gang kecil penuh motor berderet dan suara anak kecil bermain kelereng. Luna baru saja selesai streaming semalam sampai larut dan bangun dengan wajah masih kusut serta rambut acak acakan. Ia berjalan ke depan rumah hanya untuk mengambil udara segar sambil menguap panjang.

Seorang kurir tiba tiba datang menghampiri membawa sebuah paket berwarna cokelat. Luna agak heran karena ia tidak merasa membeli apapun. Kurir hanya tersenyum lalu memberikan paket itu tanpa banyak bicara. Luna menerima dengan perasaan bercampur aduk lalu menutup pintu pelan.

Di dalam rumah ia menaruh paket itu di meja kayu yang sudah agak retak. Tangannya ragu ragu membuka lakban. Hatiku berdegup kencang kata Luna dalam hati seolah sedang akan membuka misteri. Begitu kardus terbuka isinya membuatnya merinding. Sebuah boneka lusuh dengan mata yang ditusuk jarum dan sebuah kertas kecil yang bertuliskan huruf acak agak berantakan seolah ditulis dengan terburu buru.

Luna terdiam cukup lama. Ia bukan tipe orang yang gampang takut karena terbiasa menghadapi netizen julid setiap hari tapi kali ini rasanya berbeda. Bulu kuduknya berdiri dan udara seolah semakin dingin. Ia menutup kardus kembali dan meletakkannya jauh dari meja seolah benda itu bisa meledak kapan saja.

Baru beberapa menit kemudian pintu rumah diketuk dari luar. Adrian muncul dengan kemeja santai digulung di lengan dan senyum sedikit canggung. Politisi muda itu memang sering datang sejak ia mulai membantu mendanai tim Luna.

Pagi pagi sudah ketemu muka kusut begini ucap Adrian sambil menahan tawa kecil. Luna memelototinya. Kalau tidak ada urusan penting jangan bikin lelucon di rumahku kata Luna ketus. Adrian mengangkat kedua tangan seolah menyerah lalu matanya menangkap kardus yang disembunyikan setengah di bawah meja.

Apa itu tanya Adrian penasaran. Luna akhirnya menarik napas lalu menunjukkan isinya. Begitu Adrian melihat boneka tusuk jarum wajahnya langsung berubah tegang.

Ini sudah level lain kata Adrian. Ada orang yang sengaja mengirim ancaman fisik begini. Luna mencoba tersenyum walau agak kaku. Biasa saja fans lebay jawabnya. Adrian mendekat lalu menatapnya serius. Tidak ini bukan fans biasa ini sasaeng.

Luna merasa geli dengan kata sasaeng karena biasanya hanya ia dengar di berita idol Korea. Tapi kenyataannya sekarang dialami sendiri. Adrian langsung mengambil ponsel dan menelepon seseorang. Ia mengatur agar ada bodyguard tidak resmi yang siap menjaga rumah Luna.

Aku tidak butuh penjaga kata Luna mencoba menolak. Adrian mendekat lalu menatap tepat ke matanya. Aku lebih tenang kalau ada yang menjaga. Kamu boleh jago headshot di game tapi ini dunia nyata. Kalau ada orang gila tiba tiba menyerang kamu tidak bisa no scope pakai senjata sungguhan.

Luna spontan tertawa terbahak. Kamu benar benar lucu. Politisi ngomong soal no scope. Kamu bahkan tidak bisa membedakan recoil sama reload. Adrian tersenyum malu sambil menggaruk kepala. Setidaknya aku bisa reload hatimu kalau lagi kosong ucapnya asal.

Luna langsung melempar bantal kecil ke arah Adrian. Dasar garing katanya. Tapi tawa kecil akhirnya keluar dari mulutnya juga. Ketegangan akibat paket misterius tadi sedikit mencair.

Setelah itu Adrian memutuskan untuk membereskan kardus tersebut. Ia membungkusnya kembali dan bilang akan melaporkannya ke pihak berwajib. Luna mengangguk tapi tetap merasa tidak enak.

Kamu tidak takut reputasimu kena karena kasus ini tanya Luna sambil menatapnya. Adrian hanya mengangkat bahu. Reputasi bisa diperbaiki tapi kalau kamu kenapa napa aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri jawabnya serius.

Kalimat itu membuat Luna tiba tiba terdiam. Jantungnya berdetak lebih cepat. Ia berusaha menutupi wajah yang memerah dengan mengambil gelas air dan minum cepat cepat. Adrian hanya tersenyum melihat reaksi itu.

Siangnya mereka duduk di teras rumah. Anak anak kecil di gang menatap penasaran karena ada pria berotot dengan wajah serius duduk di rumah hampir roboh itu. Salah satu anak kecil berbisik wah kayak bodyguard film film. Luna tertawa mendengar itu.

Kamu sekarang sudah jadi tontonan warga. Mungkin besok gosipnya berubah bukan politisi dan gamer cantik lagi tapi politisi tinggal di rumah hampir roboh katanya meledek. Adrian malah ikut tertawa. Tidak apa apa rumah hampir roboh asalkan orang di dalamnya membuatku betah.

Luna menghela napas lalu tersenyum kecil. Ia tidak terbiasa mendengar rayuan tapi diam diam merasa senang.

Sore hari Adrian mengajak Luna keluar sejenak untuk mengalihkan pikiran dari kejadian pagi. Mereka pergi ke kafe gaming kecil di kota. Begitu masuk beberapa pengunjung langsung mengenali Luna. Ada yang berbisik ada yang mencoba diam diam memotret. Adrian refleks berdiri agak dekat menutupi Luna seolah melindungi.

Jangan lebay kata Luna. Aku sudah biasa digosipin. Adrian menjawab pelan tapi aku belum biasa melihatmu diperlakukan seperti tontonan.

Mereka duduk di pojok kafe. Luna mencoba memainkan game arcade jadul sementara Adrian dengan wajah serius mencoba ikut. Ia memegang stik dengan canggung dan kalah telak dalam hitungan detik.

Wajahnya langsung kesal. Ini pasti mesin rusak katanya. Luna tertawa keras sampai hampir jatuh dari kursi. Tidak ini mesin normal. Yang rusak refleksmu.

Beberapa orang memperhatikan mereka. Ada yang tertawa melihat interaksi itu. Ada pula yang memotret diam diam lagi. Luna agak khawatir gosip baru akan muncul tapi Adrian tampak cuek.

Kalau gosip muncul lagi aku siap dituduh apa saja. Bahkan kalau ada yang bilang aku sengaja pura pura kalah main game demi bikin kamu senang biar saja.

Luna terdiam lalu tersenyum kecil. Kamu tidak perlu pura pura kalah. Kamu memang sudah kalah bahkan sebelum mulai. Adrian pura pura marah lalu berdiri seolah mau protes ke kasir. Luna langsung menarik lengannya sambil tertawa.

Malamnya mereka kembali ke rumah. Adrian mengantar sampai depan pintu. Udara malam terasa sejuk tapi jantung Luna justru berdebar kencang. Adrian berdiri agak lama seolah ragu ingin pamit atau ingin tetap di sana.

Luna akhirnya bicara duluan. Terima kasih sudah repot repot urus paket tadi. Adrian menatapnya serius. Aku tidak merasa repot. Aku hanya ingin memastikan kamu aman.

Hening sejenak membuat suasana jadi canggung. Lalu tiba tiba suara motor knalpot bising lewat gang membuat keduanya kaget. Mereka spontan tertawa bersamaan setelah itu.

Aku pulang dulu kata Adrian sambil melangkah mundur. Tapi jangan buka pintu untuk orang asing. Kalau ada paket lagi langsung hubungi aku.

Luna mengangguk. Dalam hati ia merasa ada sesuatu yang berubah. Ancaman sasaeng memang menakutkan tapi justru membuat hubungannya dengan Adrian semakin dekat. Ada rasa hangat yang tumbuh di balik semua kegaduhan ini.

Di dalam kamar Luna berbaring sambil memeluk bantal. Wajahnya masih terbayang saat Adrian bilang tidak bisa memaafkan dirinya kalau sampai ia celaka. Kata kata itu menempel di kepalanya. Ia menutup mata dan tersenyum kecil.

Sementara itu Adrian di mobil menatap boneka tusuk jarum yang ia simpan di jok belakang. Wajahnya tegang lagi. Ia tahu ini baru permulaan. Sasaeng itu jelas tidak akan berhenti begitu saja. Tapi di sisi lain hatinya sudah bulat bahwa ia akan selalu berada di sisi Luna entah sebagai sponsor politisi atau sekadar pria yang ingin melindunginya.

Malam itu langit penuh bintang seolah ikut menyaksikan awal dari cerita baru. Ancaman semakin nyata tapi begitu pula perasaan yang mulai tumbuh di antara mereka.

Other Stories
Cinta Rasa Kopi

Kesalahan langkah Joylin dalam membina bahtera rumah tangga menjadi titik kulminasi bagi t ...

Bunga Untuk Istriku (21+)

Laras merasa pernikahannya dengan Rendra telah mencapai titik jenuh yang aman namun hambar ...

Balada Cinta Kamilah

Sudah sebulan Kamaliah mengurung diri setelah membanting Athmar, pria yang ia cintai. Hidu ...

November Kelabu

Veya hanya butuh pengakuan, sepercik perhatian, dan seulas senyum dari orang yang seharusn ...

Rumah Rahasia Reza

Di balik rumah-rumah rahasia Reza, satu pintu belum pernah dibuka. Sampai sekarang. ...

First Snow At Laiden

Bunda Diftri mendidik Naomi dengan keras demi disiplin renang. Naomi sayang padanya, tapi ...

Download Titik & Koma