Bab 20 Latihan Neraka
Hari itu matahari sudah tenggelam, tapi ruangan latihan masih penuh suara klik mouse dan dentuman keyboard. Udara di dalam gaming house seperti penuh listrik tegang, setiap orang yang duduk di depan monitor terlihat serius, seolah tidak ada dunia lain. Seleksi untuk tim internasional bukan sekadar uji kemampuan, tapi uji kesabaran, mental, bahkan kesehatan fisik.
Luna duduk tegak, matanya menatap layar dengan fokus tajam. Rambutnya yang biasanya dikuncir sekarang sudah sedikit berantakan, keringat menetes di kening meski ada pendingin ruangan. Tangannya bergerak cepat, penuh ritme, setiap klik mouse seperti dentuman peluru yang menentukan nasibnya.
Di belakangnya, Adrian duduk sambil membawa botol air mineral. Ia sudah tiga jam menunggu, tapi sama sekali tidak terlihat bosan. Matanya tidak lepas dari Luna, seakan energi gadis itu menular ke dirinya.
“jangan lupa minum,” kata Adrian sambil menyodorkan botol.
“nanti dulu, aku lagi war,” jawab Luna cepat tanpa menoleh.
Adrian terkekeh kecil. “kamu mau pingsan dulu baru minum?”
Luna menahan tawa, tapi konsentrasinya tetap penuh. “kamu tau nggak, kalau aku berhenti sedetik aja, bisa jadi ini headshot yang gagal. Dan kamu nggak mau lihat aku gagal kan.”
“aku mau lihat kamu sehat dulu,” Adrian menjawab lembut.
Akhirnya Luna menyelesaikan ronde. Ia menghela napas panjang, melepaskan headset, lalu langsung meneguk air mineral dari botol yang Adrian sodorkan.
“hai,” kata Luna pelan sambil menatap Adrian.
“hai,” jawab Adrian dengan senyum penuh sabar. “lihat, bahkan jenius pun butuh minum.”
Luna tersenyum, wajahnya lelah tapi matanya berkilau. “kamu kayak bodyguard plus perawat plus cheerleader sekaligus.”
“aku lebih suka disebut pasangan masa depan,” ucap Adrian setengah bercanda.
Luna hampir tersedak minumannya. “kamu jangan suka ngomong begitu tiba tiba.”
“kenapa? Bukannya kamu suka kalau aku serius?”
“aku ya aku suka sih,” Luna menunduk, pipinya merah, “tapi jangan bilang di depan tim lain, nanti mereka pada ngeledekin aku.”
Adrian tertawa kecil, lalu mengusap rambutnya dengan lembut. “biar aja. Biar semua orang tau kalau kamu nggak sendirian.”
Hari hari berikutnya makin gila. Latihan dimulai sejak pagi sampai larut malam. Setiap pemain harus menjalani sesi strategi, scrim melawan tim dari luar negeri, analisis replay, sampai tes stamina fisik.
Luna sering pulang dengan langkah gemetar, tapi Adrian selalu ada di sampingnya. Kadang dengan sekantong makanan hangat, kadang dengan sekedar pijatan ringan di bahunya, kadang hanya dengan duduk diam mendengarkan curhatnya.
Suatu malam, Luna jatuh terduduk di kursi setelah scrim berjam jam. Tangannya gemetar, matanya lelah. “aku nggak tau bisa kuat apa nggak. Rasanya kepala mau pecah.”
Adrian duduk di sampingnya, mengambil tangan Luna dan menggenggamnya erat. “kamu udah sejauh ini. Kamu pikir kamu akan berhenti di sini?”
“aku takut. Mereka semua kuat. Aku bahkan hampir kalah di ronde tadi. Kalau gagal, semua kerja keras ini percuma.”
“dengar,” kata Adrian pelan tapi tegas, “kamu bukan cuma pemain yang jago. Kamu pejuang. Kamu lahir dari rumah yang hampir roboh, kamu bertahan di dunia yang nggak ramah sama perempuan gamer, kamu udah buktiin kalau kamu bisa jadi yang terbaik. Jangan remehkan dirimu sendiri.”
Luna menatapnya, air mata menumpuk di sudut mata. “kamu ngomong gitu bikin aku mewek.”
Adrian tersenyum kecil, lalu menyeka air matanya dengan jari. “kalau kamu harus nangis, nangis aja. Aku di sini. Aku bakal tetap pegang tangan kamu.”
“hai,” kata Luna dengan suara bergetar.
“hai,” balas Adrian sambil menunduk, mengecup pelan keningnya.
Ada juga momen komedi yang membuat suasana latihan neraka itu lebih ringan. Suatu kali Luna sedang scrim serius, tapi tiba tiba koneksi timnya error. Adrian yang tidak tahu apa apa langsung panik, berdiri di belakangnya.
“komputer kamu kenapa? Harus aku telepon teknisi nggak? Harus aku protes ke panitia?”
Luna tertawa meski kesal. “bukan gitu, cuma lag. Jangan heboh kayak gitu. Kamu kayak orang tua murid yang lihat anaknya ujian.”
“ya emang aku orang tua muridnya. Murid paling jenius yang pernah ada.”
“astaga Adrian, kamu bisa bikin aku malu kalau ngomong begitu.”
“malu kenapa? Semua orang juga harusnya tau.”
Luna akhirnya menutup wajah dengan kedua tangan sambil tertawa, sementara Adrian hanya menatapnya dengan senyum puas.
Malam terakhir latihan, sebelum pengumuman siapa yang lolos seleksi, Luna dan Adrian duduk di balkon kecil gaming house. Angin malam berhembus lembut, bintang bintang bertaburan di langit.
Luna menatap langit, napasnya panjang. “besok hari penentuan. Aku nggak tau siap apa nggak.”
Adrian menatapnya, lalu meraih tangannya. “aku percaya kamu siap. Bahkan kalau dunia nggak percaya, aku tetap percaya.”
“kamu nggak takut kalau aku gagal? Kalau ternyata aku bukan apa apa?”
“kalau kamu gagal, kamu tetap Luna. Dan itu cukup buat aku.”
Luna menoleh, matanya berkaca kaca. “kamu tau nggak kalau kamu ngomong kayak gitu, aku jadi makin jatuh hati.”
Adrian tersenyum lembut. “itu kabar bagus buat aku.”
Luna tertawa kecil, lalu menyandarkan kepalanya ke bahu Adrian. “hai,” bisiknya.
“hai,” jawab Adrian, menautkan jarinya dengan jari Luna.
Mereka berdua duduk lama tanpa banyak kata, hanya suara malam menemani. Latihan neraka sudah hampir berakhir, tapi yang tersisa di hati Luna justru rasa damai. Ia tahu, apapun hasilnya nanti, ia tidak lagi sendirian.
Karena ada seorang pria yang dengan sabar, tanpa pamrih, selalu ada di sisinya. Dan itu membuatnya yakin: kali ini ia akan menembak lebih dari sekadar musuh di layar. Ia akan menembak ke arah mimpinya, dengan cinta sebagai peluru paling kuat.
Luna duduk tegak, matanya menatap layar dengan fokus tajam. Rambutnya yang biasanya dikuncir sekarang sudah sedikit berantakan, keringat menetes di kening meski ada pendingin ruangan. Tangannya bergerak cepat, penuh ritme, setiap klik mouse seperti dentuman peluru yang menentukan nasibnya.
Di belakangnya, Adrian duduk sambil membawa botol air mineral. Ia sudah tiga jam menunggu, tapi sama sekali tidak terlihat bosan. Matanya tidak lepas dari Luna, seakan energi gadis itu menular ke dirinya.
“jangan lupa minum,” kata Adrian sambil menyodorkan botol.
“nanti dulu, aku lagi war,” jawab Luna cepat tanpa menoleh.
Adrian terkekeh kecil. “kamu mau pingsan dulu baru minum?”
Luna menahan tawa, tapi konsentrasinya tetap penuh. “kamu tau nggak, kalau aku berhenti sedetik aja, bisa jadi ini headshot yang gagal. Dan kamu nggak mau lihat aku gagal kan.”
“aku mau lihat kamu sehat dulu,” Adrian menjawab lembut.
Akhirnya Luna menyelesaikan ronde. Ia menghela napas panjang, melepaskan headset, lalu langsung meneguk air mineral dari botol yang Adrian sodorkan.
“hai,” kata Luna pelan sambil menatap Adrian.
“hai,” jawab Adrian dengan senyum penuh sabar. “lihat, bahkan jenius pun butuh minum.”
Luna tersenyum, wajahnya lelah tapi matanya berkilau. “kamu kayak bodyguard plus perawat plus cheerleader sekaligus.”
“aku lebih suka disebut pasangan masa depan,” ucap Adrian setengah bercanda.
Luna hampir tersedak minumannya. “kamu jangan suka ngomong begitu tiba tiba.”
“kenapa? Bukannya kamu suka kalau aku serius?”
“aku ya aku suka sih,” Luna menunduk, pipinya merah, “tapi jangan bilang di depan tim lain, nanti mereka pada ngeledekin aku.”
Adrian tertawa kecil, lalu mengusap rambutnya dengan lembut. “biar aja. Biar semua orang tau kalau kamu nggak sendirian.”
Hari hari berikutnya makin gila. Latihan dimulai sejak pagi sampai larut malam. Setiap pemain harus menjalani sesi strategi, scrim melawan tim dari luar negeri, analisis replay, sampai tes stamina fisik.
Luna sering pulang dengan langkah gemetar, tapi Adrian selalu ada di sampingnya. Kadang dengan sekantong makanan hangat, kadang dengan sekedar pijatan ringan di bahunya, kadang hanya dengan duduk diam mendengarkan curhatnya.
Suatu malam, Luna jatuh terduduk di kursi setelah scrim berjam jam. Tangannya gemetar, matanya lelah. “aku nggak tau bisa kuat apa nggak. Rasanya kepala mau pecah.”
Adrian duduk di sampingnya, mengambil tangan Luna dan menggenggamnya erat. “kamu udah sejauh ini. Kamu pikir kamu akan berhenti di sini?”
“aku takut. Mereka semua kuat. Aku bahkan hampir kalah di ronde tadi. Kalau gagal, semua kerja keras ini percuma.”
“dengar,” kata Adrian pelan tapi tegas, “kamu bukan cuma pemain yang jago. Kamu pejuang. Kamu lahir dari rumah yang hampir roboh, kamu bertahan di dunia yang nggak ramah sama perempuan gamer, kamu udah buktiin kalau kamu bisa jadi yang terbaik. Jangan remehkan dirimu sendiri.”
Luna menatapnya, air mata menumpuk di sudut mata. “kamu ngomong gitu bikin aku mewek.”
Adrian tersenyum kecil, lalu menyeka air matanya dengan jari. “kalau kamu harus nangis, nangis aja. Aku di sini. Aku bakal tetap pegang tangan kamu.”
“hai,” kata Luna dengan suara bergetar.
“hai,” balas Adrian sambil menunduk, mengecup pelan keningnya.
Ada juga momen komedi yang membuat suasana latihan neraka itu lebih ringan. Suatu kali Luna sedang scrim serius, tapi tiba tiba koneksi timnya error. Adrian yang tidak tahu apa apa langsung panik, berdiri di belakangnya.
“komputer kamu kenapa? Harus aku telepon teknisi nggak? Harus aku protes ke panitia?”
Luna tertawa meski kesal. “bukan gitu, cuma lag. Jangan heboh kayak gitu. Kamu kayak orang tua murid yang lihat anaknya ujian.”
“ya emang aku orang tua muridnya. Murid paling jenius yang pernah ada.”
“astaga Adrian, kamu bisa bikin aku malu kalau ngomong begitu.”
“malu kenapa? Semua orang juga harusnya tau.”
Luna akhirnya menutup wajah dengan kedua tangan sambil tertawa, sementara Adrian hanya menatapnya dengan senyum puas.
Malam terakhir latihan, sebelum pengumuman siapa yang lolos seleksi, Luna dan Adrian duduk di balkon kecil gaming house. Angin malam berhembus lembut, bintang bintang bertaburan di langit.
Luna menatap langit, napasnya panjang. “besok hari penentuan. Aku nggak tau siap apa nggak.”
Adrian menatapnya, lalu meraih tangannya. “aku percaya kamu siap. Bahkan kalau dunia nggak percaya, aku tetap percaya.”
“kamu nggak takut kalau aku gagal? Kalau ternyata aku bukan apa apa?”
“kalau kamu gagal, kamu tetap Luna. Dan itu cukup buat aku.”
Luna menoleh, matanya berkaca kaca. “kamu tau nggak kalau kamu ngomong kayak gitu, aku jadi makin jatuh hati.”
Adrian tersenyum lembut. “itu kabar bagus buat aku.”
Luna tertawa kecil, lalu menyandarkan kepalanya ke bahu Adrian. “hai,” bisiknya.
“hai,” jawab Adrian, menautkan jarinya dengan jari Luna.
Mereka berdua duduk lama tanpa banyak kata, hanya suara malam menemani. Latihan neraka sudah hampir berakhir, tapi yang tersisa di hati Luna justru rasa damai. Ia tahu, apapun hasilnya nanti, ia tidak lagi sendirian.
Karena ada seorang pria yang dengan sabar, tanpa pamrih, selalu ada di sisinya. Dan itu membuatnya yakin: kali ini ia akan menembak lebih dari sekadar musuh di layar. Ia akan menembak ke arah mimpinya, dengan cinta sebagai peluru paling kuat.
Other Stories
Kukejar Impian Besarku
Ramon, Yongki,Dino,Jodi,Eka adalah sekumpulan anak band yg rutin manggung di sebuah cafe d ...
Keluarga Baru
Surya masih belum bisa memaafkan ayahnya karena telah meninggalkannya sejak kecil, disaat ...
Kuraih Mimpiku
Edo, Denny,Ringo,Sonny,Dito adalah sekumpulan anak band yang digandrungi kawula muda. Kema ...
Misteri Kursi Goyang
Rumah tua itu terasa hangat, sampai kursi goyang mewah dari tetangga itu datang. Saretha d ...
Devils Bait
Berawal dari permainan kartu tarot, Lanasha meramal kalau Adara, Emily, Alody, Kwan Min He ...
Teka-teki Surat Merah
Seorang gadis pekerja klub malam ditemukan tewas dalam kantong plastik di taman kota, meng ...