Bab 18 Pelarian Rahasia
Langit pagi itu mendung. Di luar apartemen, paparazzi masih menunggu dengan kamera besar siap menjepret setiap langkah Luna dan Adrian. Sejak kemenangan clutch epik itu, hidup mereka jadi buruan. Gosip makin liar, netizen makin heboh.
“aku nggak bisa keluar beli mie instan aja tanpa difoto,” keluh Luna sambil menutup gorden jendela.
Adrian berdiri di sampingnya, menatap ke luar. “kita butuh tempat sembunyi. Kalau terus kayak gini kamu nggak akan bisa latihan dengan tenang.”
“kamu ada ide?”
Adrian tersenyum kecil. “aku punya tempat. Desa kecil, dua jam dari kota. Nggak ada paparazzi, nggak ada wartawan. Hanya sawah, pohon, dan udara segar.”
Luna menoleh curiga. “kamu yakin itu bukan setting drama politik lagi? Aku males kalau tiba tiba ada rapat dewan muncul di sawah.”
Adrian tertawa. “percaya deh. Aku cuma mau bawa kamu kabur sebentar.”
Beberapa jam kemudian, mereka sudah berada di mobil Adrian, melewati jalan panjang penuh pepohonan. Luna duduk di kursi penumpang, memakai hoodie hitam dan masker, mencoba menutupi identitas. Adrian mengemudi dengan tenang, tapi sesekali melirik ke arah Luna yang sibuk memainkan HP.
“apa yang kamu baca?” tanya Adrian.
“komentar netizen. Ada yang bilang aku pasangan paling norak abad ini.”
Adrian menghela napas. “dan kamu peduli?”
Luna menoleh padanya, tersenyum tipis. “peduli sih. Tapi lebih peduli sama kamu. Kamu kuat banget ya. Aku udah hampir gila kalau sendirian.”
Adrian melirik sekilas, lalu tersenyum hangat. “kamu tau nggak, kamu justru bikin aku makin kuat.”
“hai,” kata Luna pelan.
“hai,” balas Adrian.
Mobil melaju semakin jauh dari hiruk pikuk kota. Jalanan berganti dengan hamparan sawah hijau. Burung beterbangan di langit. Angin berembus lebih segar.
“wah ini indah banget,” kata Luna sambil membuka jendela, membiarkan angin menerpa wajahnya.
“aku janjiin kan, nggak ada wartawan di sini. Cuma kita.”
Mereka sampai di rumah kayu sederhana di tepi sawah. Rumah itu milik kakek temannya Adrian, sekarang kosong tapi terawat.
“wow,” Luna menatap sekeliling. “ini beneran kayak drama pedesaan.”
“yaudah anggap aja kita lagi syuting drama romantis,” kata Adrian sambil menurunkan barang bawaan.
Luna terkekeh. “drama romantis di mana tokoh cowoknya politisi gagal main game, tokoh ceweknya gamer miskin. Rating bisa meledak.”
“selama aku sama kamu, aku nggak peduli rating.”
Luna berhenti sejenak, lalu menatapnya dengan senyum malu. “kamu tuh bisa banget bikin aku uwuw gini.”
Hari itu mereka berdua jalan jalan di desa. Anak anak kecil menyapa mereka tanpa peduli gosip internet. Ada nenek nenek yang menawari buah jambu. Semua terasa damai.
Di tepi sawah, Luna berdiri menatap langit. “aku baru sadar, di sini nggak ada yang peduli aku gamer atau kamu politisi. Rasanya enak banget.”
Adrian berdiri di sampingnya, memasukkan tangan ke saku. “iya. Di sini kamu cuma Luna. Dan aku cuma Adrian.”
“hai,” kata Luna sambil tersenyum.
“hai,” jawab Adrian.
Mereka tertawa kecil.
Malam tiba. Lampu minyak menyala di ruang tamu rumah kayu. Adrian sedang mencoba menyalakan api di perapian kecil, tapi gagal total.
“serius kamu nggak bisa nyalain api?” tanya Luna sambil menahan tawa.
“hei aku politisi, bukan koki.”
“kamu bahkan kalah sama bocah pramuka. Sini aku coba.”
Luna jongkok, mengambil korek, lalu dengan cekatan menyalakan api. Dalam hitungan detik, nyala kecil muncul.
“tadaaa. Begini caranya.”
Adrian menatapnya terpana. “kamu bukan cuma jenius FPS. Ternyata jenius survival juga.”
“aku belajar dari game. Ternyata berguna juga.”
“aku makin kagum.”
“jangan kagum. Kamu nanti jatuh hati.”
“aku udah jatuh.”
Luna langsung memukul lengannya pelan. “astaga, bisa nggak jangan ngomong gitu mendadak. Aku hampir meledak.”
Adrian tertawa. “aku serius. Aku jatuh hati tiap kali liat kamu.”
Luna menunduk, pipinya merah. “hai,” katanya pelan.
“hai,” balas Adrian sambil menatapnya lembut.
Mereka duduk di depan perapian, kehangatan api membuat suasana makin intim. Luna menyandarkan kepala ke bahu Adrian.
“tau nggak, aku bisa lupa dunia kalau kayak gini,” bisik Luna.
“itu artinya aku berhasil,” balas Adrian sambil merangkulnya.
“berhasil apa?”
“bikin kamu merasa aman.”
Luna terdiam, hatinya penuh. “aku nggak tau harus bilang apa.”
“nggak usah bilang apa apa. Cukup ada di sini.”
Luna menutup mata, mendengarkan detak jantung Adrian. Rasanya damai.
Keesokan paginya, mereka berdua bangun lebih awal. Luna keluar rumah, melihat matahari terbit di balik sawah.
“indah banget,” katanya sambil menarik napas panjang.
Adrian keluar membawa dua cangkir teh hangat. “lebih indah karena ada kamu.”
Luna memutar mata. “kamu tuh cheesy banget.”
“tapi kamu suka kan.”
Luna meneguk teh hangat, lalu menatapnya dengan senyum malu. “ya aku suka.”
Mereka berdua tertawa.
Hari hari berikutnya di desa dipenuhi momen manis. Mereka masak bareng, meski hasilnya berantakan. Mereka jalan di jalanan tanah sambil bercanda. Adrian sering mencoba ngajarin Luna cara mencangkul, tapi malah jatuh ke lumpur. Luna tertawa sampai terpingkal pingkal, lalu membantu membersihkan.
Di satu malam, mereka duduk di teras rumah kayu. Bintang bertaburan di langit. Suasana hening, hanya suara jangkrik menemani.
“hai,” kata Luna sambil menoleh.
“hai,” jawab Adrian.
“kamu bahagia nggak?”
Adrian menatap bintang, lalu kembali ke wajah Luna. “bahagia banget. Karena aku di sini sama kamu.”
Luna tersenyum, matanya berkilau. “aku juga. Aku merasa ini dunia yang aku mau. Bukan dunia gosip, bukan dunia politik. Cuma kita.”
Adrian menggenggam tangannya erat. “kalau kamu mau, aku bisa bikin dunia itu nyata. Dunia di mana cuma ada kita.”
Luna terdiam, matanya berkaca kaca. “kamu bikin aku takut sekaligus bahagia.”
“takut kenapa?”
“takut kalau semua ini cuma sementara. Tapi bahagia karena aku ngerasa kamu serius.”
Adrian menunduk, menyentuhkan keningnya ke kening Luna. “aku selalu serius soal kamu.”
Luna tersenyum, lalu menutup mata. “hai,” katanya sekali lagi, lirih tapi penuh cinta.
“hai,” balas Adrian dengan suara paling lembut yang pernah ia ucapkan.
Dan di bawah langit desa yang penuh bintang, dua hati itu semakin erat. Netizen, paparazzi, gosip, semua terasa jauh. Yang tersisa hanya mereka, dalam pelarian rahasia yang terasa lebih nyata daripada dunia mana pun.
“aku nggak bisa keluar beli mie instan aja tanpa difoto,” keluh Luna sambil menutup gorden jendela.
Adrian berdiri di sampingnya, menatap ke luar. “kita butuh tempat sembunyi. Kalau terus kayak gini kamu nggak akan bisa latihan dengan tenang.”
“kamu ada ide?”
Adrian tersenyum kecil. “aku punya tempat. Desa kecil, dua jam dari kota. Nggak ada paparazzi, nggak ada wartawan. Hanya sawah, pohon, dan udara segar.”
Luna menoleh curiga. “kamu yakin itu bukan setting drama politik lagi? Aku males kalau tiba tiba ada rapat dewan muncul di sawah.”
Adrian tertawa. “percaya deh. Aku cuma mau bawa kamu kabur sebentar.”
Beberapa jam kemudian, mereka sudah berada di mobil Adrian, melewati jalan panjang penuh pepohonan. Luna duduk di kursi penumpang, memakai hoodie hitam dan masker, mencoba menutupi identitas. Adrian mengemudi dengan tenang, tapi sesekali melirik ke arah Luna yang sibuk memainkan HP.
“apa yang kamu baca?” tanya Adrian.
“komentar netizen. Ada yang bilang aku pasangan paling norak abad ini.”
Adrian menghela napas. “dan kamu peduli?”
Luna menoleh padanya, tersenyum tipis. “peduli sih. Tapi lebih peduli sama kamu. Kamu kuat banget ya. Aku udah hampir gila kalau sendirian.”
Adrian melirik sekilas, lalu tersenyum hangat. “kamu tau nggak, kamu justru bikin aku makin kuat.”
“hai,” kata Luna pelan.
“hai,” balas Adrian.
Mobil melaju semakin jauh dari hiruk pikuk kota. Jalanan berganti dengan hamparan sawah hijau. Burung beterbangan di langit. Angin berembus lebih segar.
“wah ini indah banget,” kata Luna sambil membuka jendela, membiarkan angin menerpa wajahnya.
“aku janjiin kan, nggak ada wartawan di sini. Cuma kita.”
Mereka sampai di rumah kayu sederhana di tepi sawah. Rumah itu milik kakek temannya Adrian, sekarang kosong tapi terawat.
“wow,” Luna menatap sekeliling. “ini beneran kayak drama pedesaan.”
“yaudah anggap aja kita lagi syuting drama romantis,” kata Adrian sambil menurunkan barang bawaan.
Luna terkekeh. “drama romantis di mana tokoh cowoknya politisi gagal main game, tokoh ceweknya gamer miskin. Rating bisa meledak.”
“selama aku sama kamu, aku nggak peduli rating.”
Luna berhenti sejenak, lalu menatapnya dengan senyum malu. “kamu tuh bisa banget bikin aku uwuw gini.”
Hari itu mereka berdua jalan jalan di desa. Anak anak kecil menyapa mereka tanpa peduli gosip internet. Ada nenek nenek yang menawari buah jambu. Semua terasa damai.
Di tepi sawah, Luna berdiri menatap langit. “aku baru sadar, di sini nggak ada yang peduli aku gamer atau kamu politisi. Rasanya enak banget.”
Adrian berdiri di sampingnya, memasukkan tangan ke saku. “iya. Di sini kamu cuma Luna. Dan aku cuma Adrian.”
“hai,” kata Luna sambil tersenyum.
“hai,” jawab Adrian.
Mereka tertawa kecil.
Malam tiba. Lampu minyak menyala di ruang tamu rumah kayu. Adrian sedang mencoba menyalakan api di perapian kecil, tapi gagal total.
“serius kamu nggak bisa nyalain api?” tanya Luna sambil menahan tawa.
“hei aku politisi, bukan koki.”
“kamu bahkan kalah sama bocah pramuka. Sini aku coba.”
Luna jongkok, mengambil korek, lalu dengan cekatan menyalakan api. Dalam hitungan detik, nyala kecil muncul.
“tadaaa. Begini caranya.”
Adrian menatapnya terpana. “kamu bukan cuma jenius FPS. Ternyata jenius survival juga.”
“aku belajar dari game. Ternyata berguna juga.”
“aku makin kagum.”
“jangan kagum. Kamu nanti jatuh hati.”
“aku udah jatuh.”
Luna langsung memukul lengannya pelan. “astaga, bisa nggak jangan ngomong gitu mendadak. Aku hampir meledak.”
Adrian tertawa. “aku serius. Aku jatuh hati tiap kali liat kamu.”
Luna menunduk, pipinya merah. “hai,” katanya pelan.
“hai,” balas Adrian sambil menatapnya lembut.
Mereka duduk di depan perapian, kehangatan api membuat suasana makin intim. Luna menyandarkan kepala ke bahu Adrian.
“tau nggak, aku bisa lupa dunia kalau kayak gini,” bisik Luna.
“itu artinya aku berhasil,” balas Adrian sambil merangkulnya.
“berhasil apa?”
“bikin kamu merasa aman.”
Luna terdiam, hatinya penuh. “aku nggak tau harus bilang apa.”
“nggak usah bilang apa apa. Cukup ada di sini.”
Luna menutup mata, mendengarkan detak jantung Adrian. Rasanya damai.
Keesokan paginya, mereka berdua bangun lebih awal. Luna keluar rumah, melihat matahari terbit di balik sawah.
“indah banget,” katanya sambil menarik napas panjang.
Adrian keluar membawa dua cangkir teh hangat. “lebih indah karena ada kamu.”
Luna memutar mata. “kamu tuh cheesy banget.”
“tapi kamu suka kan.”
Luna meneguk teh hangat, lalu menatapnya dengan senyum malu. “ya aku suka.”
Mereka berdua tertawa.
Hari hari berikutnya di desa dipenuhi momen manis. Mereka masak bareng, meski hasilnya berantakan. Mereka jalan di jalanan tanah sambil bercanda. Adrian sering mencoba ngajarin Luna cara mencangkul, tapi malah jatuh ke lumpur. Luna tertawa sampai terpingkal pingkal, lalu membantu membersihkan.
Di satu malam, mereka duduk di teras rumah kayu. Bintang bertaburan di langit. Suasana hening, hanya suara jangkrik menemani.
“hai,” kata Luna sambil menoleh.
“hai,” jawab Adrian.
“kamu bahagia nggak?”
Adrian menatap bintang, lalu kembali ke wajah Luna. “bahagia banget. Karena aku di sini sama kamu.”
Luna tersenyum, matanya berkilau. “aku juga. Aku merasa ini dunia yang aku mau. Bukan dunia gosip, bukan dunia politik. Cuma kita.”
Adrian menggenggam tangannya erat. “kalau kamu mau, aku bisa bikin dunia itu nyata. Dunia di mana cuma ada kita.”
Luna terdiam, matanya berkaca kaca. “kamu bikin aku takut sekaligus bahagia.”
“takut kenapa?”
“takut kalau semua ini cuma sementara. Tapi bahagia karena aku ngerasa kamu serius.”
Adrian menunduk, menyentuhkan keningnya ke kening Luna. “aku selalu serius soal kamu.”
Luna tersenyum, lalu menutup mata. “hai,” katanya sekali lagi, lirih tapi penuh cinta.
“hai,” balas Adrian dengan suara paling lembut yang pernah ia ucapkan.
Dan di bawah langit desa yang penuh bintang, dua hati itu semakin erat. Netizen, paparazzi, gosip, semua terasa jauh. Yang tersisa hanya mereka, dalam pelarian rahasia yang terasa lebih nyata daripada dunia mana pun.
Other Stories
Dream Analyst
Frisky, si “Dream Analyst”, bersama teman-temannya mengalami serangkaian kejadian meny ...
Seoul Harem
Raka Aditya, pemuda tangguh dari Indonesia, memimpin keluarganya memulai hidup baru di gem ...
Cahaya Dalam Ketidakmungkinan
Nara pernah punya segalanya—hidup yang tampak sempurna, bahagia tanpa cela. Hingga suatu ...
Kabinet Boneka
Seorang presiden wanita muda, karismatik di depan publik, ternyata seorang psikopat yang m ...
Kesempurnaan Cintamu
Mungkin ini terakhir kali aku menggoreskan pena Sebab setelah ini aku akan menggoreskan p ...
Manusia Setengah Siluman
Reno tak pernah tahu apa itu arti punya orang tua. Ia seorang yatim piatu yang berjuang hi ...