Bab 25 Debat Nasional
Hari debat nasional akhirnya tiba. Aula besar yang dihias bendera dan spanduk politik penuh sesak dengan wartawan, kamera televisi, pendukung masing masing calon, dan tentu saja para lawan politik yang siap menyerang. Adrian duduk di kursi panelis mengenakan setelan jas hitam yang rapi. Wajahnya tenang di luar tetapi dalam hati jantungnya berdebar cepat.
Luna duduk di kursi penonton baris depan bersama timnya. Meski ia berusaha tersenyum tetap saja perasaannya tidak tenang. Ia tahu Adrian pintar bicara tetapi kali ini lawannya bukan orang biasa. Ada beberapa politikus senior yang dikenal licin dan suka menyerang kehidupan pribadi lawan. Luna sudah mendengar rumor bahwa namanya akan dibawa bawa.
Debat dimulai dengan pertanyaan umum seputar visi misi. Adrian menjawab dengan mantap dan jelas. Suaranya tegas membuat banyak orang bertepuk tangan. Luna ikut bangga melihatnya begitu percaya diri.
Namun tidak lama kemudian salah satu lawan politik yang bernama Haris mulai melancarkan serangan. Dengan senyum tipis ia berkata. Adrian bicara tentang moral dan masa depan generasi muda. Tapi publik juga ingin tahu apakah benar Adrian dekat dengan seorang gamer wanita yang suka tampil terbuka di layar streaming. Apa itu pantas untuk seorang calon pemimpin bangsa.
Suasana langsung heboh. Wartawan berdesakan menulis. Kamera televisi fokus ke wajah Adrian. Sementara itu Luna merasa darahnya berhenti mengalir. Jelas jelas itu serangan yang ditujukan padanya. Ia menunduk malu.
Adrian menghela napas sebentar lalu tersenyum tipis. Saya kira kita sedang bicara soal masa depan bangsa bukan soal siapa yang saya sukai dalam kehidupan pribadi. Namun karena Anda menyinggung saya akan jawab jujur. Ya saya dekat dengan seorang pro player esports. Dia bekerja keras mengharumkan nama negara dengan prestasinya. Dan saya bangga padanya.
Kata kata itu membuat ruangan hening sesaat. Lalu sebagian penonton bertepuk tangan. Luna mendongak kaget. Ia tidak menyangka Adrian akan begitu terbuka. Wajahnya panas dan jantungnya berdebar tidak karuan.
Haris tidak menyerah. Ia tertawa sinis. Jadi Anda mengakui menjalin hubungan dengan seorang selebriti internet. Bagaimana rakyat bisa percaya pada calon pemimpin yang lebih sibuk mengejar cinta daripada memikirkan negara.
Adrian langsung menjawab dengan tatapan tajam. Justru karena saya mencintai seseorang saya tahu rasanya ingin melindungi dan berjuang. Kalau saya bisa melindungi satu orang yang saya cintai dengan sepenuh hati maka saya juga bisa melindungi jutaan rakyat dengan hati yang sama.
Sorakan dukungan meledak dari penonton. Luna menutup wajah dengan tangan. Ia tidak tahu harus merasa malu atau terharu. Kevin yang duduk di sebelahnya berbisik. Wah bosmu ini kalau jadi presiden kayaknya bakal baper nasional.
Debat terus berlanjut. Lawan lain mencoba menyerang dengan isu berbeda tetapi setiap kali nama Luna disebut Adrian selalu berbalik menjadikannya kekuatan. Ia menyebut esports sebagai industri masa depan yang mampu membuka lapangan kerja. Ia menceritakan bagaimana Luna melatih diri berjam jam demi kemenangan. Semua itu membuat citra Luna justru naik.
Namun ada satu momen yang membuat Luna benar benar ingin kabur dari ruangan. Moderator bertanya spontan kepada Adrian. Kalau benar Anda serius dengan hubungan ini apa yang akan Anda lakukan bila pasangan Anda lebih populer dari Anda.
Adrian tersenyum lebar. Itu mudah. Saya akan menonton streamingnya setiap malam sambil memberikan like dan donasi bintang.
Penonton tertawa keras. Bahkan lawan politik ikut tersenyum kecut. Luna langsung menunduk menutupi wajah dengan rambut. Ia ingin tanah menelannya saat itu juga.
Debat berakhir dengan sorakan dan tepuk tangan. Banyak media langsung menulis headline bahwa Adrian berhasil menjawab serangan dengan elegan. Wartawan mengerubungi pintu keluar untuk mencari foto Adrian dan Luna bersama.
Setelah selesai Adrian berjalan cepat menuju Luna. Ia menunduk sedikit sambil tersenyum. Kamu baik baik saja tanyanya. Luna mengangguk meski wajahnya masih merah. Kamu gila kenapa ngomong kayak gitu di depan semua orang bisiknya.
Adrian santai saja. Karena aku tidak mau mereka menjelekkanmu. Kamu berharga buatku.
Luna menggertakkan gigi lalu menarik lengannya menuju mobil. Kevin, Riko, Tasha, dan Bagas hanya bisa terdiam menahan tawa melihat tingkah mereka.
Di dalam mobil Luna melipat tangan di dada. Kamu tahu tidak setelah ini gosipnya bakal makin parah. Adrian menoleh dengan senyum nakal. Bukannya lebih baik gosipnya jadi jelas. Mereka tidak perlu nebak nebak lagi.
Luna menghela napas panjang. Kamu membuatku gila. Adrian tertawa. Kalau kamu sudah gila berarti kita cocok.
Suasana yang awalnya tegang berubah jadi konyol. Luna mencoba marah tapi akhirnya ikut tertawa. Ia sadar apa pun yang terjadi Adrian tidak pernah membiarkannya sendirian.
Sampai di rumah Luna menatap Adrian sebelum turun dari mobil. Terima kasih sudah membela aku katanya pelan. Adrian menatapnya lembut. Itu bukan bela. Itu kenyataan. Aku bangga padamu.
Pipi Luna kembali memerah. Ia buru buru membuka pintu mobil dan berlari masuk rumah sebelum Adrian sempat menggoda lagi. Dari balik kaca Adrian melihatnya tersenyum kecil lalu melambaikan tangan.
Malam itu media sosial penuh dengan cuplikan debat. Potongan video saat Adrian berkata saya bangga padanya viral dan menjadi bahan pembicaraan. Banyak netizen yang awalnya meremehkan justru jadi simpati. Ada juga yang membuat meme tentang Adrian jadi donatur bintang setia di streaming Luna.
Luna hanya bisa menutup wajah dengan bantal sambil menjerit pelan. Sementara Adrian di rumah tertawa puas membaca komentar komentar. Ia merasa tidak menyesal sedikit pun karena sudah mengungkapkan perasaan di depan publik.
Hari hari berikutnya suasana tim esports Luna memang masih dingin tapi setidaknya mereka tahu Adrian tidak main main. Perlahan kepercayaan mulai tumbuh meski belum sepenuhnya pulih.
Bagi Luna satu hal jelas. Setelah hari itu ia tidak lagi bisa menganggap Adrian hanya sekadar orang yang hadir di sisinya. Ia adalah seseorang yang berani mempertaruhkan reputasi politik demi dirinya. Dan itu membuat hatinya semakin sulit berbohong.
Luna duduk di kursi penonton baris depan bersama timnya. Meski ia berusaha tersenyum tetap saja perasaannya tidak tenang. Ia tahu Adrian pintar bicara tetapi kali ini lawannya bukan orang biasa. Ada beberapa politikus senior yang dikenal licin dan suka menyerang kehidupan pribadi lawan. Luna sudah mendengar rumor bahwa namanya akan dibawa bawa.
Debat dimulai dengan pertanyaan umum seputar visi misi. Adrian menjawab dengan mantap dan jelas. Suaranya tegas membuat banyak orang bertepuk tangan. Luna ikut bangga melihatnya begitu percaya diri.
Namun tidak lama kemudian salah satu lawan politik yang bernama Haris mulai melancarkan serangan. Dengan senyum tipis ia berkata. Adrian bicara tentang moral dan masa depan generasi muda. Tapi publik juga ingin tahu apakah benar Adrian dekat dengan seorang gamer wanita yang suka tampil terbuka di layar streaming. Apa itu pantas untuk seorang calon pemimpin bangsa.
Suasana langsung heboh. Wartawan berdesakan menulis. Kamera televisi fokus ke wajah Adrian. Sementara itu Luna merasa darahnya berhenti mengalir. Jelas jelas itu serangan yang ditujukan padanya. Ia menunduk malu.
Adrian menghela napas sebentar lalu tersenyum tipis. Saya kira kita sedang bicara soal masa depan bangsa bukan soal siapa yang saya sukai dalam kehidupan pribadi. Namun karena Anda menyinggung saya akan jawab jujur. Ya saya dekat dengan seorang pro player esports. Dia bekerja keras mengharumkan nama negara dengan prestasinya. Dan saya bangga padanya.
Kata kata itu membuat ruangan hening sesaat. Lalu sebagian penonton bertepuk tangan. Luna mendongak kaget. Ia tidak menyangka Adrian akan begitu terbuka. Wajahnya panas dan jantungnya berdebar tidak karuan.
Haris tidak menyerah. Ia tertawa sinis. Jadi Anda mengakui menjalin hubungan dengan seorang selebriti internet. Bagaimana rakyat bisa percaya pada calon pemimpin yang lebih sibuk mengejar cinta daripada memikirkan negara.
Adrian langsung menjawab dengan tatapan tajam. Justru karena saya mencintai seseorang saya tahu rasanya ingin melindungi dan berjuang. Kalau saya bisa melindungi satu orang yang saya cintai dengan sepenuh hati maka saya juga bisa melindungi jutaan rakyat dengan hati yang sama.
Sorakan dukungan meledak dari penonton. Luna menutup wajah dengan tangan. Ia tidak tahu harus merasa malu atau terharu. Kevin yang duduk di sebelahnya berbisik. Wah bosmu ini kalau jadi presiden kayaknya bakal baper nasional.
Debat terus berlanjut. Lawan lain mencoba menyerang dengan isu berbeda tetapi setiap kali nama Luna disebut Adrian selalu berbalik menjadikannya kekuatan. Ia menyebut esports sebagai industri masa depan yang mampu membuka lapangan kerja. Ia menceritakan bagaimana Luna melatih diri berjam jam demi kemenangan. Semua itu membuat citra Luna justru naik.
Namun ada satu momen yang membuat Luna benar benar ingin kabur dari ruangan. Moderator bertanya spontan kepada Adrian. Kalau benar Anda serius dengan hubungan ini apa yang akan Anda lakukan bila pasangan Anda lebih populer dari Anda.
Adrian tersenyum lebar. Itu mudah. Saya akan menonton streamingnya setiap malam sambil memberikan like dan donasi bintang.
Penonton tertawa keras. Bahkan lawan politik ikut tersenyum kecut. Luna langsung menunduk menutupi wajah dengan rambut. Ia ingin tanah menelannya saat itu juga.
Debat berakhir dengan sorakan dan tepuk tangan. Banyak media langsung menulis headline bahwa Adrian berhasil menjawab serangan dengan elegan. Wartawan mengerubungi pintu keluar untuk mencari foto Adrian dan Luna bersama.
Setelah selesai Adrian berjalan cepat menuju Luna. Ia menunduk sedikit sambil tersenyum. Kamu baik baik saja tanyanya. Luna mengangguk meski wajahnya masih merah. Kamu gila kenapa ngomong kayak gitu di depan semua orang bisiknya.
Adrian santai saja. Karena aku tidak mau mereka menjelekkanmu. Kamu berharga buatku.
Luna menggertakkan gigi lalu menarik lengannya menuju mobil. Kevin, Riko, Tasha, dan Bagas hanya bisa terdiam menahan tawa melihat tingkah mereka.
Di dalam mobil Luna melipat tangan di dada. Kamu tahu tidak setelah ini gosipnya bakal makin parah. Adrian menoleh dengan senyum nakal. Bukannya lebih baik gosipnya jadi jelas. Mereka tidak perlu nebak nebak lagi.
Luna menghela napas panjang. Kamu membuatku gila. Adrian tertawa. Kalau kamu sudah gila berarti kita cocok.
Suasana yang awalnya tegang berubah jadi konyol. Luna mencoba marah tapi akhirnya ikut tertawa. Ia sadar apa pun yang terjadi Adrian tidak pernah membiarkannya sendirian.
Sampai di rumah Luna menatap Adrian sebelum turun dari mobil. Terima kasih sudah membela aku katanya pelan. Adrian menatapnya lembut. Itu bukan bela. Itu kenyataan. Aku bangga padamu.
Pipi Luna kembali memerah. Ia buru buru membuka pintu mobil dan berlari masuk rumah sebelum Adrian sempat menggoda lagi. Dari balik kaca Adrian melihatnya tersenyum kecil lalu melambaikan tangan.
Malam itu media sosial penuh dengan cuplikan debat. Potongan video saat Adrian berkata saya bangga padanya viral dan menjadi bahan pembicaraan. Banyak netizen yang awalnya meremehkan justru jadi simpati. Ada juga yang membuat meme tentang Adrian jadi donatur bintang setia di streaming Luna.
Luna hanya bisa menutup wajah dengan bantal sambil menjerit pelan. Sementara Adrian di rumah tertawa puas membaca komentar komentar. Ia merasa tidak menyesal sedikit pun karena sudah mengungkapkan perasaan di depan publik.
Hari hari berikutnya suasana tim esports Luna memang masih dingin tapi setidaknya mereka tahu Adrian tidak main main. Perlahan kepercayaan mulai tumbuh meski belum sepenuhnya pulih.
Bagi Luna satu hal jelas. Setelah hari itu ia tidak lagi bisa menganggap Adrian hanya sekadar orang yang hadir di sisinya. Ia adalah seseorang yang berani mempertaruhkan reputasi politik demi dirinya. Dan itu membuat hatinya semakin sulit berbohong.
Other Stories
Aku Pamit Mencari Jati Diri??
Seorang anak kecil yang pernah mengalami perlakuan tidak mengenakan dalam hidupnya. Akibat ...
Final Call
Aku masih hidup dalam kemewahan—rumah, mobil, pakaian, dan layanan asisten—semua berka ...
Death Cafe
Sakti terdiam sejenak. Baginya hantu gentayangan tidak ada. Itu hanya ulah manusia usil ...
Menantimu
“Belum tidur Zani?” “Belum. Ngak bisa tidur.” “Hehe. Pasti ada yang dipikirin ...
Kepingan Hati Alisa
Menurut Ibu, dia adalah jodoh yang sudah menemani Alisa selama lebih dari lima tahun ini. ...
Ayudiah Dan Kantini
Waktu terasa lambat karena pahitnya hidup, namun rasa syukur atas persahabatan Ayudyah dan ...