Queen, The Last Dance

Reads
1.8K
Votes
0
Parts
11
Vote
Report
Penulis Moycha Zia

Chapter 10 Kembali Pada Panggung Impian

Hari pertunjukan tiba. Teater Bolshoi yang megah terasa begitu nyata, jauh dari impian masa lalu Queen. Ia berdiri di belakang panggung, jantungnya berdebar kencang.

Ia tidak mengenakan kostum balet, melainkan gaun sederhana berwarna putih gading. Sepatu balet pinknya tidak bersamanya, tetapi ia tahu bahwa semangatnya ada di sana.

Madame Isabella mendekat, tersenyum hangat. "Kamu siap?"

Queen mengangguk, tetapi matanya berkaca-kaca, "Saya takut, Madame. Saya takut mereka tidak akan mengerti."

"Mereka tidak perlu mengerti," kata Madame Isabella, "Mereka hanya perlu merasakannya. Tarianmu bukan tentang teknik, Queen. Tarianmu adalah tentang kebenaran. Ceritakan kisahmu."

Musik dimulai. Ini adalah lagu yang disusun khusus untuknya, melodi yang dimulai dengan nada-nada sedih, kemudian perlahan-lahan bertransisi menjadi nada-nada yang penuh harapan.

Queen melangkah ke panggung. Ribuan pasang mata menatapnya. Ia tidak memakai sepatu, kakinya telanjang di atas panggung yang megah.

Luka-luka di kakinya terlihat, dan ia membiarkan mereka menjadi bagian dari ceritanya.
Ia mulai menari. Tangannya meliuk, menceritakan kisah tentang kehilangan. Wajahnya yang dipenuhi ekspresi emosional, menyampaikan kepedihan yang ia rasakan.

Tarian itu adalah cerminan dari jiwanya yang hancur. Namun, saat musik berubah, gerakannya pun berubah. Ia mulai mengangkat kepalanya, lengannya terentang ke atas, seolah-olah ia sedang berjuang untuk bangkit.

Di tengah pertunjukan, ia jatuh ke lantai, seperti saat ia jatuh di ruang latihan. Tetapi kali ini, ia tidak menyerah. Ia bangkit, perlahan tapi pasti.

Gerakannya menjadi lebih kuat, lebih berani. Tarian itu kini menceritakan kisah tentang keberanian, tentang menemukan kekuatan di balik kepedihan.

Di belakang panggung, ibu Queen menyaksikan dengan air mata. "Dia menari dengan jiwanya," bisiknya kepada Madame Isabella.

"Ya," jawab Madame Isabella, matanya bersinar bangga, "Dia akhirnya mengerti bahwa tarian sejati tidak ada hubungannya dengan kesempurnaan. Tarian adalah tentang hidup. Dan hidup itu tidak sempurna, bukan?"

Pertunjukan Queen berakhir. Ia berdiri di tengah panggung, menundukkan kepalanya, napasnya terengah-engah.

Keheningan yang hening menyelimuti teater, seolah-olah penonton menahan napas.


Prok!


Kemudian, satu per satu, mereka mulai bertepuk tangan.


Prok! Prok! Prok!


Tepuk tangan itu berubah menjadi gemuruh, dan tak lama kemudian, seluruh teater memberikan standing ovation. Itu bukan tepuk tangan untuk balerina yang sempurna, melainkan untuk seorang gadis yang menunjukkan kepada mereka kekuatan untuk bangkit dari keputusasaan.

Queen melihat ke arah penonton, matanya penuh air mata. Ia tidak bisa melihat wajah mereka, tetapi ia bisa merasakan emosi mereka.

Queen, akhirnya menyadari bahwa ia telah kembali ke panggung impiannya. Tidak sebagai bintang balet, tetapi sebagai sesuatu yang jauh lebih besar, yaitu seorang seniman yang menginspirasi.


Other Stories
Conclusion

Liburan Dara ke kota Sapporo di Hokkaido Jepang membawanya pada hal yang tak terduga. Masa ...

Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra Di Samudra Hindia

Liburan kelulusan SMA membawa Cakra Abiyoga dan sahabat-sahabatnya ke Pantai Parangtritis. ...

Akibat Salah Gaul

Kringgg…! Bunyi nyaring jam weker yang ada di kamar membuat Taufiq melompat kaget. I ...

Death Cafe

Sakti terdiam sejenak. Baginya hantu gentayangan tidak ada. Itu hanya ulah manusia usil ...

Filosofi Sampah (catatan Seorang Pemulung)

Samsuri, seorang pemulung yang kehilangan istri dan anaknya akibat tragedi masa lalu, menj ...

Impianku

ini adalah sebuah cerita tentang impianku yang tertunda selama 10 tahun ...

Download Titik & Koma