Dentistry Melody

Reads
2.3K
Votes
9
Parts
17
Vote
Report
dentistry melody
Dentistry Melody
Penulis Ekawati

Highschool Love

Lapangan basket sore itu riuh. Sorak-sorai teman-teman kelas menggema di tribun kecil sekolah. Okan, yang dikenal jago basket, bergerak lincah di antara rekan-rekannya. Keringat menetes di pelipis, napasnya teratur, tatapannya tajam mengikuti arah bola.

Namun, semuanya buyar ketika dari seberang lapangan, seorang siswi baru lewat. Stella. Rambutnya tergerai, langkahnya santai sambil menunduk memeluk buku ke dada. Sekilas saja, tapi cukup untuk membuat konsentrasi Okan pecah. Matanya mengikuti Stella yang berjalan menuju gedung kelas, tak lagi peduli pada permainan.

“Kan! Bola!” teriak seorang temannya.

Terlambat. Bola melayang deras ke arahnya, Okan refleks mengangkat tangan tapi tak sempat menangkap. Bola menghantam dadanya, membuatnya terhuyung.

“Hahaha! Fokus, Kapten!” ejek salah satu pemain lain.

Suara tawa riuh terdengar dari sekeliling. Okan mengusap dadanya, mencoba tersenyum menutupi malu. Tapi matanya masih sempat melirik ke arah Stella yang kini sudah menghilang di balik pintu kelas.

--

Beberapa hari setelah kejadian itu, Okan akhirnya memberanikan diri. Ia menunggu Stella di depan kelas Stella. Saat melihat gadis itu keluar, ia langsung melangkah cepat.

“Stel, bentar,” panggil Okan sambil menepuk pelan bahunya.

Stella menoleh, agak heran. “Hai, Kan. Kenapa?”

“Udah mau pulang ya?” Okan mencoba santai, meski jantungnya berdebar kencang. Mereka berjalan berdampingan menuju gerbang sekolah, angin sore berembus ringan. Suasana canggung sesaat, sampai akhirnya Okan membuka percakapan.

“Kamu nanti mau kuliah di mana? Udah kepikiran?” tanyanya sambil melirik Stella.

Stella menghela napas, lalu tersenyum kecil. “Papa pengennya aku lanjut FKG. Aku juga mikirnya gitu sih. Kayaknya seru jadi dokter gigi.”

Okan terkekeh. “Seru? Yang ada kamu bakalan sibuk banget. Belajarnya kan banyak.”

“Ya, tapi aku suka. Kayaknya cocok sama aku.”

Okan mengangguk, matanya berbinar. “Aku dukung deh, asal jangan lupa nonton aku main basket ya.”

Stella tertawa kecil. “Iya, iya. Katanya dua minggu lagi pertandingan terakhir kalian, ya?”

“Iya,” Okan menepuk-nepuk bola basket yang ia bawa. “DBL terakhir sebelum lulus. Aku harus main maksimal, soalnya setelah ini mungkin fokus ke kuliah juga. Pengen kasih kenangan terakhir buat tim.”

Stella memperhatikan wajah serius Okan, lalu tersenyum samar. “Semoga menang, ya. Aku doain.”

--

Angin sore menyapu helaian rambut Stella yang tergerai bebas. Ia duduk di bangku kayu dekat lapangan basket, membiarkan sinar matahari keemasan menyusup lewat sela daun. Okan datang dari arah lapangan, masih mengenakan seragam olahraga, dengan botol air setengah kosong di tangannya.

“Aku tahu kamu suka nonton basket cuma kalau aku yang main,” goda Okan sambil duduk di sebelah Stella.

Stella meliriknya dengan senyum kecil. “Nggak juga. Aku cuma lagi cari angin.”

“Dan anginnya kebetulan di sini?” Okan menyeringai. “Pas banget ya sama jadwal aku latihan.”

Stella tertawa pelan. “Kepedean banget.”

Okan menatapnya serius sejenak. “Karena kamu selalu kasih aku alasan buat jadi pede.”

Suasana tiba-tiba sunyi. Hanya suara cicit burung dan pantulan bola dari kejauhan yang terdengar.

“Kamu serius atau lagi ngelawak?” gumam Stella.

“Serius,” kata Okan pelan.

“Stella, kalau aku kuliah nanti, aku mau tetap bisa lihat kamu tiap hari. Mungkin itu kenapa aku mulai nyiapin semua dari sekarang.”

Stella menoleh. “Nyapin?”

“FKG UGM,” jawab Okan mantap. “Aku mau ke sana. Kayak kamu.”

Stella terdiam. Matanya menatap langit yang mulai menguning. Ada sesuatu dalam suaranya waktu ia menjawab.

“Okan…”

“Hmm?”

“Gak usah janji-janji yang kamu sendiri belum tentu bisa tepati.”

Okan tersenyum, meski matanya tampak sedikit sendu. “Aku nggak janji. Aku cuma kasih tahu rencanaku.”

Dan saat itu, Stella percaya.

"Btw kok belum pulang?",

"Iyanih tadi janjian mau berangkat ke bimbel sama Sani tapi malah dia sakit perut trus pulang duluan"

"Oh gitu. Masih lama gak ke bimbelnya?"

"Lumayan sih sejaman lagi"

"Stel, aku mau bilang sesuatu ke kamu. Sebenarnya mau bilang kemarin tapi malah belum jadi", Okan tampak kikuk. Jantungnya berdebar, tapi berusaha untuk terlihat tenang.

"Bilang aja Kan. Apaan sih?", tanya Stella penasaran.

"Stel, I think I have crush on you. Would you be my girlfriend?", Okan tampak salah tingkah. Ia merasa lega tapi masih belum sepenuhnya lega karena masih penasaran dengan jawaban Stella.

Stella tersenyum nyaris tertawa mendengar perkataan Okan. Dalam hati ia pun sangat senang. Tetapi masih ragu untuk menjawabnya.

"Okan.. I like you too, but..", jawab Stella ragu. Sementara Okan tampak gembira dan juga penasaran.

"Iya?"

"Kita jadiannya ntar pas kita udah lulus aja gimana? Soalnya aku tuh udah janji sama aku sendiri kalau gak akan pacaran dulu sampe lulus SMA. Papa aku juga sensi banget, kepo banget kalau aku deket sama cowok"

"Oh gitu ya”, Okan tampak sedikit kecewa. “Yaudah deh.Yang penting aku udah tau perasaan kamu Stell. Gimana kalau kita jadiannya pas udah lulus?", tawar Okan.

"Well.. nice idea. Hahaha", ujar Stella diselingi tawanya.

"Tapi aku boleh kan ngechat kamu. Trus nyariin kamu kalau aku gak liat kamu di sekolah?"

"Iya boleh", Stella tertawa kecil.

"And promise me, you won't date anyone else. Sampe lulus. Deal?", tanya Okan sambil menyodorkan tangannya untuk bersalaman dengan Stella.

"Deal" jawab Stella sambil menjabat tangan Okan. Keduanya tersenyum.

"Aku udah tanya Bu Maya wali kelasku kalau acara kelulusan kita tanggal 3 Mei. Aku pasang reminder HP nih yah. Jadian sama Stella", ucap Okan sambil mengetik di ponselnya.

"Aku pasang juga di HP kamu ya", Okan meminta HP Stella. "Jadian sama Okan. Di sini", ucap Okan sambil mengetikkan sesuatu di HP Stella.

"Hahaha. Apa coba", Stella tertawa melihat tingkah Okan.

"Aku anterin ke tempat bimbelnya ya? Please, jangan nolak", paksa Okan.

"Iya deh", jawab Stella.

Kedua remaja itu berboncengan motor menuju bimbel Stella. Dua remaja yang sedang jatuh cinta itu tampak bahagia. Perjalanan menuju bimbel terasa sangat cepat. Sampailah mereka di tempat bimbel.

"Thanks ya Kan", ucap Stella.

"Iya sama-sama. Semangat ya belajarnya"

"Kamu gak mau ikutan bimbel juga?"

"Mmm, nanti deh aku gabung juga"

"Okay. Ati-ati ya"

Stella melangkah ke gedung bimbel itu. Sementara Okan masih berada di atas motornya memperhatikan Stella sampai gadis itu masuk ke gedung itu.

----

Tiga hari berlalu sejak Stella bertemu Okan siang itu. Tiga hari pula Stella tak melihat lelaki itu di sekolah. Chat Stella pun tak dibalas atau bahkan dibacanya.

"Stel!", panggil Raka ketika melihat Stella keluar dari kelas mereka.

"Kenapa, Ka?", tanya Stella sambil melanjutkan langkahnya di koridor sekolah.

"Kamu masih deket-deket gak sih sama si Okan anak XII-5 itu?"

"Emang kenapa?"

"Udah denger belum kabarnya?"

"Gak denger apa apa. Emang ada apaaan?", tanya Stella tak sabar.

"Katanya nih dia di DO gara-gara gebukin anak SMA 45"

"Ah masa?!" Stella terkejut tidak percaya. Ia menghentikan langkahnya dan duduk di sebuah bangku di depan sebuah ruangan di sekolah itu.

"Dih parah masa kamu gak tau. Gak dianggap berarti sama Okan"

"Sumpah gak tau"

"Mangkanya Stell. Kamu kalau pilih cowok tuh yang bener aja deh. Jangan liat tampang doang. Tau sendiri kan dia anak geng sekolah. Mana cari validasi sampe di keluarin dari sekolah"

Stella hanya terdiam mendengar perkataan Raka, teman sekelasnya itu. Dalam hati ia berharap kabar itu tidak benar.

"Masa sih Okan kayak gitu, Ka?"

"Anak-anak basket aja pada gak suka sama dia. Gegara songong tuh anak"

"Dih dasar cowok-cowok rempong emang kalian"

"Enak aja ngatain cowok rempong"

"Buktinya pakai drama gak suka gak sukaan gitu"

"Bukan gitu, dimana-mana kan emang orang tuh dinilai dari karakternya, attitudenya"

"Siap deh", Stella menanggapi perkataan Raka.

"Udah, ga usah sedih. Ntar sore pulang sekolah aku ajak ketemu orang mau gak?", lanjut Stella.

"Siapa emang?"

"Ada deh pokoknya. Dijamin gak akan galau lagi"

"Ih kasih tau dulu lah", rengek Stella.

"Biar surprise"

"Yaudah deh"

"Tapi beneran mau ikut ya?", tanya Raka memastikan.

"Iya deh"

"Gitu dong"

Raka tampak senang dengan jawaban Stella. Keduanya lalu melanjutkan langkahnya menuju kantin sekolah.




Other Stories
Namaku May

Belajar tak mengenal usia, gender, maupun status sosial. Kisah ini menginspirasi untuk ter ...

Blek Metal

Cerita ini telah pindah lapak. ...

Kau Bisa Bahagia

Airin Septiana terlahir sebagai wanita penyandang disabilitas. Meski keadaannya demikian, ...

Cinta Satu Paket

Renata ingin pasangan kaya demi mengangkat derajat dirinya dan ibunya. Berbeda dari sahaba ...

DI BAWAH PANJI DIPONEGORO

Damar, seorang Petani, terpanggil untuk berjuang mengusir penjajah Belanda dari tanah airn ...

Melinda Dan Dunianya Yang Hilang

Melinda seorang gadis biasa menjalani hari-hari seperti biasa, hingga pada suatu saat ia b ...

Download Titik & Koma