Dentistry Melody

Reads
2.3K
Votes
9
Parts
17
Vote
Report
Penulis Ekawati

Meet Them Again

Stella mengikuti langkah Raka disebuah bengkel mobil di tepi Jalan Magelang yang cukup luas. Beberapa pegawai mobil itu tampak sibuk melakukan pekerjaannya.
"Mau ketemu siapa sih Ka?", tanya Stella sambil mengejar langkah temannya itu.
"Sini deh", ujar Raka sambil terus berjalan ke bagian belakang bengkel itu.
Sementara itu beberapa anak muda sedang duduk di bangku yang ada di belakang bengkel itu. Tempat itu tampak rapi dan rindang dengan adanya beberapa tanaman di sana.
"Woy, Ka!", seru seorang pemuda yang sedang duduk di bangku itu. Sementara yang lain menoleh ke arah mereka berdua.
Stella berjalan di belakang Raka sambil melihat ke arah orang-orang itu. Wajah mereka tampak familiar.
"Hai, Stel", sapa seorang pemuda sambil tersenyum.
Stella masih terdiam mencoba mengingat wajah itu.
"Oh my god. Kalian!", seru Stella.
"Sini Stell!", ajak satu-satunya perempuan di kelompok itu.
"Ria! Kamu makin cantik aja sih", ucap Stella sambil merangkul gadis yang ternyata bernama Ria itu.
Stella menyipitkan matanya sambil memperhatikan seorang lelaki tampan di depannya.
"Yang ada tahi lalatnya, kamu Reiza!", tebak Stella.
"Alhamdulillah masih inget", jawab lelaki bernama Reiza itu.
"Roni dimana?", tanya Stella.
"Tuh", jawab Reiza sambil menunjuk ke arah seorang yang sangat mirip dengannya.
Roni berjalan ke arah mereka.
"Hai, La. Apa kabar?", sapa Roni sambil tersenyum manis.
"Hai, Ron. Baik. Ya ampun kalian udah pada gede ya", ujar Stella sambil tertawa.
"Iya kamu juga. Inget dulu kamu masih kek biting. Mana item lagi", ledek Reiza.
"Ish enak aja! Sumpah ya ga berubah resenya", protes Stella sambil menendang kaki Reiza.
Yang lain hanya tertawa melihat tingkah mereka berdua.
"Nah itu mereka berdua udah dateng", ujar Raka ketika dua orang pemuda datang mendekat ke arah mereka.
"Kok ada Bayu juga?", tanya Stella kepada Raka.
"Oh iya aku ajak dia juga tapi tadi katanya lagi rapat OSIS anak kelas XI", jawab Raka.
"Hai kak Stel", sapa Bayu. Dia adalah adik kelas Raka dan Stella.
"Hai guys! Udah lengkap nih ya?", tanya seorang pemuda yang baru datang.
"Oh ya Stella kenalin ini Andre cowokku. Ndre ini Stella", ucap Ria.
"Hai. Stella"
"Andre", keduanya bersalaman.
Ketujuh anak muda ini tampak sangat akrab. Raka, Ria, Reiza, Roni dan Stella adalah teman sejak SD. Mereka sama-sama belajar musik di lembaga yang sama. Roni dan Reiza adalah saudara kembar. Roni lahir beberapa menit sebelum Reiza. Menurut kebiasaan orang Jawa, Reiza-lah kakaknya. Sementara Ria adalah saudara sepupu mereka.
"Oke kita mulai aja ya", Andre duduk di antara mereka dan membuka pembicaraan.
"Pertama kita ucapin selamat datang buat Stella. Jadi aku ini manager mereka Stel, masih band ala-ala sih. Nah kita ngundang kamu ke sini tujuannya buat ngajak kamu gabung", lanjut Andre.
"Iya Stel. Kita mau bikin band kita tuh agak beda gitu. Ada yang main biola", tambah Reiza.
"Mang eak, Rei?", Stella kembali meledek Reiza.
"Wah parah nih bocil malah ngeledek", protes Reiza. Sementara Stella tertawa.
"Hah? Kalian yakin mau ngajak aku gabung?"
"Yakin dong, La. Kalau gak ngapain kita ajak kamu ke sini?", tambah Roni.
"Tawaran menarik sih. Cuma kan..", ujar Stella ragu.
"Pasti kamu mau bilang kelas XII sibuk belajar. Mau masuk UGM ya?", tebak Raka.
"Nah tuh tau", jawab Stella.
"Don't worry. Nih ada Kak Reiza mahasiswa kedokteran umum UGM dan Kak Roni mahasiswa arsitektur UGM yang bakalan bantuin kamu belajar", ucap Raka sambil menepuk pundak Roni dan Reiza.
"Hah? Demi?", Stella tampak terheran-heran.
"Biasa aja gak usah terpesona gitu", ujar Reiza.
"Dih!", Stella menatap Reiza sinis.
"Nanti aku kasih buku-buku yang dulu buat aku latihan sama catetan cara aku belajar deh, La", ucap Roni.
"Ih mau! Mau banget! Sumpah sih kalian gila keren banget"
"Rencana mau ambil jurusan apa, La?", tanya Roni.
"Hmm mau kedokteran gigi sih kalau bisa"
"Nice choice! Nanti aku daftar panitia ospek ya biar bisa ngospek kamu. Hahaha", Reiza kembali menggoda Stella.
"Awas ya kamu Rei!", ucap Stella jengkel. Sementara Reiza dan yang lainnya hanya tertawa.
--
"Tadi ke sini sama Raka ya Stel?", tanya Roni.
"Iya tadi naik TJ berdua. Motor dia lagi di bengkel katanya".
"Aku anterin aja ya pulangnya. Itu Raka biar sama Bayu".
"Eh gak usah. Ntar aku pesen ojol aja"
"Gak papa. Sekalian aku mau ketemu Papa kamu"
"Hah! Mau ngapain?"
"Mau ngelamar kamu. Hahaha. Gak, cuma say hi aja kok. Lama gak ketemu"
"Emang kenal gitu?"
"Kenal dong. Kan beberapa kali ketemu pas aku anterin Ayahku mancing di tempat kalian"
"Oh. Yaudah deh. Mayan deh hemat ongkos ojek. Hehehe"
Roni mengemudikan mobil sedannya menuju rumah Stella.
"Kamu tuh sekarang semester empat berarti ya Ron?"
"Iya, bener"
"Kenapa gitu pilih masuk arsitektur?"
"Hmmm. Tadinya sih karena suka ngegambar ya. Tapi ternyata di arsi tuh jauh lebih challenging. Tugasnya gila. Hampir gak pernah tidur kalau lagi banyak tugas"
"Trus masih sempet ngeband gitu?"
"Sempetin aja sih. Tuh Reiza yang sibuk juga sempet aja. Jadi macam short escape aja sih buat kita"
"Gila sih emang kalian tuh", kata Stella diselingi tawanya.
Mobil yang dikemudikan Roni memasuki halaman rumah Stella. Ayah Stella tampak berada di depan rumahnya.
"Tuh Papaku udah di rumah. Ntar kamu yah Ron yang bilang semuanya. Males aku dibawelin"
"Hahaha siap. Kamu masuk aja"
"By the way, makasih ya udah anter aku"
"Sama-sama", jawab Roni sambil tersenyum.
Stella dan Roni turun dari mobil dan menyapa Ayah Stella.
"Loh kok bareng Mas Roni pulangnya?"
"Hehe. Iya om"
Stella langsung masuk ke dalam rumah, sementara Roni berbincang dengan Ayah Stella. Stella mengintip kebersamaan keduanya dari balik jendela. Mereka berdua tampak akrab berbincang di teras rumahnya hingga akhirnya Roni berpamitan pulang.
Malam sudah tiba, Stella memandang layar ponselnya dengan pikiran yang bercampur aduk. Setelah sore tadi ia bersenda gurau dengan teman-temannya, kali ini ia kembali teringat Okan. Pesannya belum juga dibaca. Akun sosial medianya juga tidak ada pembaruan. Perkataan Raka siang tadi juga menghantui dirinya. Selama ini Stella mengetahui jika Okan memang akrab dengan anak-anak yang bergabung di gank sekolahnya. Namun mengingat sikap Okan selama ini kepadanya, rasanya tidak mungkin kalau Okan akan benar-benar melakukan seperti yang dikatakan Raka padanya. Ditengah lamunannya, tiba-tiba masuk pesan di ponselnya.
Stella membaca pesan itu dengan antusias.
Roni: aku kirim sesuatu ke rumah. Siap siap ya ke luar rumah
Penasaran dengan apa yang dikirimkan Roni, ia segera ke luar rumah. Tidak lama setelahnya seorang driver ojek online mendatanginya.
"Kak Stella ya?", kata si driver sambil menyerahkan dua tas kepada Stella.
"Iya, makasih mas"
Stella bergegas membalas pesan Roni.
Stella:udah sampai nih Ron, thank you
Stella kembali ke kamarnya dan membuka bungkusan tadi. Didapatinya kumpulan buku dan satu lagi berisi dimsum dan segelas boba. Stella kembali membuka pesan di ponselnya.
Roni: Sama-sama. Selamat belajar ya. Dimakan dimsumnya biar kuat belajarnya hehe.
Stella: Iya. Repot-repot lho
Roni: no worries
Stella tersenyum setelah membaca pesan dari Roni. Sejenak ia lupa dengan kesedihannya tentang Okan.
--
Suasana GOR UNY sore itu penuh riuh sorakan. Sekolah Stella masuk semifinal turnamen basket SMA se-DIY. Stella duduk di tribun, mengenakan jaket sekolah, rambutnya dikuncir kuda. Di pangkuannya, ada kantong plastik berisi air mineral dan roti cokelat—favorit Okan, yang katanya selalu dia makan sebelum tanding.
Di lapangan, pemain-pemain mulai berbaris. Stella berdiri, matanya menyapu barisan tim sekolahnya.
"Mana Okan?" gumamnya pelan.
Dia menoleh ke arah pintu masuk GOR. Tidak ada tanda-tanda Okan datang terlambat. Tak ada suara khas sepatu sneakers-nya yang selalu ia sengaja hentakkan saat masuk lapangan, pura-pura keren.
Peluit dibunyikan. Permainan dimulai. Tapi posisi guard yang biasanya ditempati Okan kini diisi cadangan.
Stella duduk kembali, pelan. Tangannya menggenggam erat roti cokelat itu, yang kini terasa dingin dan kempes. Pandangannya kosong ke arah lapangan, meski matanya mengikuti bola, pikirannya entah di mana.
Setelah pertandingan usai dan tim mereka kalah tipis, Stella turun dari tribun, menunggu sebentar di depan GOR. Beberapa siswa lewat, beberapa menyapa. Tapi tak satu pun menyebut nama Okan.
"Dia nggak datang, ya?" tanya Sani.
Stella hanya menggeleng pelan. "Nggak cuma nggak datang... kayaknya dia udah nggak di sini."
Beberapa hari kemudian, papan pengumuman sekolah memajang daftar siswa yang keluar atas permintaan sendiri.
Nama itu ada di sana. Okan Pradipta.
Stella berdiri diam menatapnya. Tak ada pesan, tak ada pamit.
Hanya kepergian yang pelan, diam-diam, dan menyisakan lubang kosong.
--
Hari-hari di sekolah terasa berbeda setelah Okan pergi. Meja kosong di kelas yang dulu jadi tempatnya duduk, kini tetap dibiarkan kosong, seolah tak ada yang benar-benar bisa menggantikan.
Stella tak pernah bertanya ke guru atau teman-temannya kenapa Okan keluar. Rasanya, kalau ia tahu pun, itu tidak akan membuat perasaan hilang ditinggal jadi lebih ringan.
Kadang saat istirahat, saat ia duduk di bawah pohon akasia belakang sekolah, dia mendengar gema tawa Okan dari masa lalu. Suaranya yang selalu berisik kalau cerita soal pertandingan NBA, atau ketika ia datang tiba-tiba menggoda Stella. Semua itu sesekali datang seperti angin lau, menyentuh sebentar, lalu pergi sebelum sempat digenggam.
Namun Stella bukan tipe yang lama terjebak.
Dia mulai mengisi waktunya dengan lebih banyak belajar. Menghafal anatomi dasar, menyelesaikan soal-soal try out, dan mencari tahu sedikit tentang kuliah kedokteran gigi. Ia menyibukkan diri, mungkin untuk melupakan, atau sekadar untuk bertahan.
Di sela-sela itu, dia masih ikut latihan band. Meski frekuensinya berkurang karena persiapan UTBK, setiap kali masuk studio di atas bengkel keluarga Roni, semangatnya kembali utuh.
"Mainin lagu itu lagi yuk," kata Stella suatu sore, memegang biolanya.
Raka mengangguk, "Yang Roni tulis?"
"Iya. Yang judulnya belum jadi-jadi itu."
Mereka tertawa kecil. Suasana latihan selalu jadi tempat Stella bisa bebas. Di sana, tidak ada bayang-bayang Okan. Yang ada hanya musik, tawa teman-teman, dan suara biola yang perlahan menyatu dengan kenangan, bukan untuk menolak, tapi untuk berdamai.
Dan di suatu sore menjelang ujian, Stella mencoret kata-kata kecil di ujung buku catatannya:
"Aku nggak perlu lupa. Aku cuma perlu lanjut."
--
Sore menjelang malam, studio kecil di lantai dua bengkel keluarga Roni penuh tawa dan ketegangan. Anak-anak band duduk mengelilingi satu laptop yang ditaruh di atas ampli. Stella duduk di depan layar, lututnya ditarik ke dada, jari-jari gemetar di atas touchpad.
"Udah siap?" tanya Roni dari belakang, satu tangan menyentuh bahunya dengan santai.
Stella menengok sedikit, "Deg-degan banget, Ron."
Roni tersenyum, lalu jongkok di sampingnya. "Tenang aja. Kamu udah usaha segilanya. Kalau sistemnya adil, pasti kamu masuk."
"Kalau sistemnya nggak adil?"
"Kita teriak bareng ke Kemendikbud," jawab Roni, membuat semua tertawa.
Bayu sudah standby dengan keripik, Raka sibuk atur kamera HP buat dokumentasi, dan Andre siap upload ke Instagram story kalau hasilnya bagus.
Stella menarik napas, mengetik nomor pendaftaran dan tanggal lahir. Semua menunduk, menahan nafas, kayak lagi nonton penalti final Piala Dunia.
Halaman loading...
Loading...
"Selamat! Anda diterima di Program Studi Pendidikan Dokter Gigi Universitas Gadjah Mada."
"LOLOSSSSSS!!" Teriakan pecah bersamaan.
"Welcome to the jungle!", ucap Reiza yang tiba-tiba muncul.
Ria langsung melompat ke arah Stella, memeluknya dari belakang. Raka dan Bayu adu tos sampai bunyinya keras banget. Andre nyorakin kayak komentator bola.
Stella masih bengong, menatap layar. "Aku... masuk FKG? Beneran? Ini bukan mimpi, kan?"
Roni menarik napas panjang, lalu memeluk Stella dari samping, tangannya yang besar dan hangat melingkari pundaknya. "Bukan mimpi. Kamu beneran lulus. Kamu hebat banget, La."
Stella menoleh, matanya mulai berkaca-kaca. "Kalau nanti aku kuliah dan sibuk, kita masih bisa latihan, kan?"
"Bisa dong," kata Roni sambil menyenggol dahinya ke dahi Stella. "Band ini nggak bubar cuma gara-gara kamu jadi dokter. Justru kita harus punya lagu baru: Biola dan Bor Gigi."
Tawa pecah lagi, lebih keras dari sebelumnya.
Raka angkat tangan, "Besok rekaman!"
Bayu menambahkan, "Burjo dulu sekarang, rekaman besok, konser bulan depan!"
Stella tertawa. Roni berdiri, merangkul semua dari belakang. Dan untuk pertama kalinya, Stella tidak merasa takut dengan masa depan. Karena sahabat-sahabatnya ada di sekitar, dan mimpi-mimpinya tak lagi terasa jauh.
--
Sementara itu di suatu tempat yang lain. Seorang laki-laki duduk di sofa sebuah ruang tamu. Ruangan itu hening. Sebuah ruang tamu dengan cahaya lampu terang. Okan duduk di sofa coklat yang masih tampak kokoh. Ia mengenakan kaus abu lengan panjang, celana pendek. Di sampingnya, bersandar pada sandaran sofa, ada kruk aluminium—teman setianya sejak kecelakaan yang menimpanya.
Di pangkuannya, sebuah laptop terbuka. Layar menampilkan laman pengumuman hasil seleksi nasional. Tangannya bergerak lambat, sedikit kaku saat mengetik nomor peserta dan tanggal lahir.
Klik.
Loading...
"Selamat! Anda diterima di Program Studi Pendidikan Dokter Gigi Universitas Gadjah Mada."
Okan menatap layar itu. Lama. Tak ada sorakan. Tak ada pelukan. Hanya suara kipas angin berdetak pelan di pojok ruangan. Ia menunduk, menarik napas dalam, lalu bersandar ke sofa. Kepalanya menoleh ke kanan, menatap kruknya sejenak.
"Gigi, ya... Bukan mimpi doang ternyata," gumamnya pelan.
Ia mengusap wajahnya, lalu menatap langit-langit. Matanya kosong tapi ada sesuatu yang menekan dadanya dari dalam—bukan karena tidak senang, tapi karena rasa-rasa yang tertimbun lama: kehilangan, penyesalan, kerinduan.
Perlahan, ia menyentuh lengan kirinya—bekas luka panjang samar terlihat di balik kaus. Ia menggenggam ujung kruk, seolah mengingat betapa panjang perjalanan yang sudah ia tempuh untuk sampai ke titik ini.
Kemudian ia menoleh ke arah ponselnya yang tergeletak di meja. Nama Stella masih tersimpan di daftar kontak teratas, tak pernah dihapus. Tapi tetap tak pernah dihubungi. Okan menatap nama itu sebentar, lalu menatap kembali layar laptop.
"Ketemu lagi ya, Stel. Tapi... entah kamu masih ingat aku atau enggak."


Other Stories
Kidung Vanili

Menurut Kidung, vanili memiliki filosofi indah: di mana pun berada, ia tak pernah kehilang ...

Kelabu

Cinta? Apakah aku mencintai Samuel? Pertanyaan yang sulit kujawab. Perasaanku padanya sepe ...

Makna Dibalik Kalimat (never Ending)

Rangkaian huruf yang menjadi kata. Rangkaian kata yang menjadi kalimat. Kalimat yang mungk ...

Kado Dari Dunia Lain

"Jika Kebahagiaan itu bisa dibeli, maka aku akan membelinya." Di tengah kondisi hidup Yur ...

Aku Pulang

Raina tumbuh di keluarga rapuh, dipaksa kuat tanpa pernah diterima. Kemudian, hadir sosok ...

Menolak Jatuh Cinta

Maretha Agnia, novelis terkenal dengan nama pena sahabatnya, menjelajah dunia selama tiga ...

Download Titik & Koma