Dentistry Melody

Reads
2.3K
Votes
9
Parts
17
Vote
Report
Penulis Ekawati

Ban Kempes Dan Kebetulan


Waktu berlalu cepat. Stella kini sudah berada di semester 4. Kesibukan kuliah, praktikum dan laporannya semakin padat. Teman- temannya masih sama sejak awal kuliah. Kresna dan Felix yang selau membuat mereka tertawa, Niken sang primadona kampus yang selalu menjadi tempat curhat Stella. Dan, Okan yang masih berada di sisinya. Sebagai sahabat yang terkadang masih canggung.
Sementara itu, kesibukan dengan bandnya semakin renggang. Roni dan Reiza sedang sibuk dengan tugas akhirnya yang hamper selesai. Terkadang Stella lupa rasanya punya pacar. Berkirim pesan atau bahkan videp call sudah sangat ia syukuri.
Ruangan praktikum histologi hari itu dingin sekali, bukan karena AC, tapi karena suasana tegang menjelang ujian tengah semester. Stella duduk di kursinya, mengenakan jas lab dan kacamata pelindung, tangannya memegang preparat jaringan yang harus dia identifikasi.
Di sebelahnya, Niken sudah setengah panik membuka buku referensi sambil mencoret-coret catatan.
“Ini jaringan epitel apa ya, Stel?” bisik Niken.
Stella mendekat. “Simple cuboidal… kayaknya. Liat nukleusnya tuh, bulat dan satu lapis.”
Felix yang duduk di seberang meja menyahut sambil menekan mikroskopnya, “Yang ini jelas banget sel gobletnya, kayak mukanya Kresna kalau habis makan pedes.”
Kresna—yang sedang datang agak telat pagi itu—langsung protes sambil menyodok bahu Felix dengan pensil. “Woi, mulut bener-bener ya.”
Stella terkekeh. Meski padat, praktikum seperti ini jadi menyenangkan berkat mereka. Persahabatan yang tidak direncanakan, tapi lama-lama jadi tempat bersandar di tengah padatnya dunia kampus.
Namun tawa Stella langsung menghilang ketika Okan masuk ruangan.
Dia tidak telat, hanya kebagian shift berikutnya. Tapi entah kenapa, mata Okan langsung mencari Stella dan tersenyum kecil saat pandangan mereka bertemu. Senyum itu bukan senyum basa-basi. Ada sesuatu yang lebih… familiar. Terlalu familiar.
---
Parkiran Fakultas Kedokteran Gigi pagi itu mulai ramai. Mahasiswa berjejer di depan ruang praktikum, sebagian besar masih mengantuk sambil menenteng kotak alat dan jas lab.
Stella bergegas menuju mobilnya di deretan paling pinggir. Di tangannya sudah siap bunga kecil dan ucapan selamat. Hari ini Roni sidang skripsi. Sudah janji mau datang sejak seminggu lalu.
“Please, jangan telat. Jangan rusak pagi ini,” gumamnya, menekan tombol kunci. Lampu hazard mobil menyala pelan.
Tapi begitu ia berjongkok mengecek roda depan kiri, wajahnya langsung berubah masam. Ban kempes. Bukan sekadar kempes karena bocor pelan—ini seperti angin disedot habis semalaman.
“Gimana bisa? Perasaan tadi gak papa deh” gumamnya panik.
“Banmu?” suara itu terdengar dari arah belakang.
Stella menoleh cepat. Sosok berjaket denim kampus itu berdiri sambil menyandang helm, senyumnya setengah sinis, setengah sok perhatian.
“Okan?”
Ia menyeringai tipis. “Kayaknya udah waktunya ganti ban tuh, Stel.”
Stella menghela napas. “Aku mau ke teknik, Roni sidang. Mana buru-buru.”
“Kebetulan aku juga ke arah utara. Mau nebeng?” tawar Okan, suaranya dibuat setenang mungkin. “Nggak enak kan, pacar sidang kamu cuma dateng pas foto-foto doang.”

Stella masih ragu. “Aku bawa bunga, Kan. Nggak lucu kalau jatuh di jalan.”
“Nggak bakal. Pegangan aja yang kenceng,” kata Okan sambil.
Stella akhirnya menurut. Duduk di jok belakang dengan posisi agak kaku. Ia tak sadar, saat ia sibuk panik soal ban, Okan sempat menekan sesuatu di saku jaketnya, penutup pentil ban kecil yang sejak pagi sudah ia cabut diam-diam sebelum Stella tiba.
Motor melaju meninggalkan parkiran FKG. Stella tak tahu, “kebetulan” Okan yang lewat saat itu bukanlah kebetulan sama sekali.
---
Sepuluh menit kemudian, motor mereka berhenti di depan taman Fakultas Teknik. Di kejauhan, banner sidang skripsi tergantung anggun di balkon gedung lantai dua.
Stella turun. “Makasih ya. Serius deh, tadi panik banget.”
Okan tersenyum. “Santai. Untung aku lewat. Eh... semoga sidangnya lancar ya buat Roni.”
Stella hanya mengangguk, lalu berjalan cepat menuju lobi. Langkahnya ringan, tak tahu bahwa pagi itu dimulai dengan sedikit manipulasi kecil dari masa lalu.
Okan memandangi punggung Stella yang menjauh, lalu menghela napas, memperhatikan gadis itu berlari menghampiri laki-laki lain, seolah berkata dalam hati:
"Maaf, Stel... Kadang orang butuh sedikit alasan supaya bisa dekat lagi."
----
Stella hampir kehabisan napas ketika sampai di depan aula kecil tempat sidang skripsi Roni baru saja selesai. Beberapa mahasiswa tampak berkerumun, memberikan selamat. Di antara mereka, seorang cowok tinggi dengan rambut sedikit acak berdiri santai dengan tangan di saku.
“Stel!”
Raka melambaikan tangan. Ia mengenakan hoodie abu-abu dan jeans belel, gaya yang nggak pernah berubah sejak SMA. Tapi ada sesuatu di wajahnya yang... menyeringai kelewat percaya diri.
“Kamu udah dari tadi?” tanya Stella sambil mengatur napas.
“Ya iyalah. Aku kan temen paling suportif,” katanya bangga. “Datang sebelum Roni bahkan selesai baca slide kedua. Kamu kemana aja?”
“Ban mobilku kempes. Untung ada temenku tadi yang anterin,” jawab Stella sekenanya.
“Oh..”, Raka hanya mengangguk. Dalam hatinya ia sudah tahu kalau teman yang Stella maksud adalah Okan. Ia sempat melihat mereka berboncengan ketika di depan loby tadi.
“Sebenernya sih aku ada misi tambahan ke kampus teknik ini.”, Raka kembali berbicara.
“Misi apaan?” alis Stella terangkat.
“Jalan-jalan. Siapa tahu ketemu cewek teknik yang pinter nyolder tapi juga suka musik. Kan keren tuh, pacaran sambil nyolder ampli.”
Stella tertawa kecil, geli. “Kamu tuh ya…”
“Hei!” suara berat itu terdengar dari belakang aula. Roni muncul, masih pakai jas almamater, wajahnya sumringah dan sedikit berkeringat. “Kalian beneran datang!”
“Beb!” Stella langsung menghampiri dan menyerahkan map kecil berisi kartu ucapan dan bunga yang sempat dia jaga erat-erat di motor.
Roni menerimanya dengan ekspresi tersentuh. “Lucu banget sih ini. Kayak kiriman fans.”
“Kalo fansnya pacar sendiri, ya wajar kan?,” kata Stella sambil tersenyum.
“Eh, bagus ya sidangnya,” Raka menyela. “Dosenmu ada yang serem, tapi kamu jawabnya mantep. Kayaknya kamu udah siap jadi arsitek yang bangun gedung dan rumah buat Stella.”
Roni menyikut Raka. “Ssst, belum waktunya itu.”
Mereka bertiga tertawa, berdiri di bawah rindangnya pohon flamboyan yang menguning di halaman kampus teknik. Siang menjelang, cahaya matahari jatuh tegak, mewarnai momen kecil itu dengan hangatnya tawa, kenangan, dan masa depan yang belum mereka tahu akan berubah begitu drastis.
Roni merangkul Stella. “Makasih udah datang, Beb.”
“Selalu,” jawab Stella pelan. “Aku bangga banget sama kamu.”
----
Motor Roni melaju pelan menyusuri jalan keluar dari kompleks Fakultas Teknik. Stella duduk di jok belakang.
“Lega banget, Beb. Serius,” katanya sambil menatap langit yang berwarna biru. “Kayak nafas pertama setelah nahan napas empat tahun.”
Stella tersenyum kecil, masih fokus menyetir. “Kamu keren tadi. Jawaban kamu soal konsep ruang terbuka itu... aku ngerti walaupun aku anak gigi.”
“Hei, aku belajar keras buat bisa ngejelasin itu ke kamu,” kata Roni bangga. “Jadi kamu harus puji lebih dari sekali.”
Stella meliriknya sekilas. “Kamu keren, kamu hebat, kamu ganteng. Cukup?”
“Tambah satu lagi.”
“Dan kamu pinter cari pacar.”
Roni tertawa puas.
“Besok wisudanya bisa barengan sama Reiza dong?”, tanya Stella.
“Iya harusnya”
“Dih kompak banget sih kalian tuh. Aku iri tau. Punya adek laki satu aja udah macem Tom and Jerry kita”
Roni kembali tertawa.
Namun setelah tawa itu mereda, Stella melirik kaca spion, pikirannya kembali ke pagi tadi. Wajahnya sempat berubah sedikit. Ia mengerutkan dahi pelan.
“Beb...” katanya sambil tetap melihat ke jalan.
“Hm?”
“Aneh deh. Ban mobilku bisa-bisanya kempes pagi-pagi banget. Padahal aku parkirnya biasa aja semalem.”
Roni mengangkat alis. “Kamu tabrak apa gitu?”
“Enggak. Parkir di tempat biasa. Trus tiba-tiba pas mau jalan, ban belakang kempes total.”
Roni menoleh, sedikit serius. “Serius? Tumben ya. Itu udah dicek?”
“Belum,” jawab Stella cepat. “Tadi aku buru-buru banget. Untungnya… ya, ada yang nawarin tumpangan.”
“Siapa?”
Stella diam sejenak, lalu mengangkat bahu. “Teman kampus. Kebetulan lewat.”
Roni memperhatikan wajahnya di spion, tapi tak mengusut lebih jauh. Ia tahu kapan harus percaya pada diam Stella.
“Yaudah. Nanti aja kita urusin bannya. Biar pegawai bengkel yang urus. Aku bisa telepon mas Joko. Mereka biasa bantuin.”
Stella hanya mengangguk. Ada sesuatu di dadanya yang mengganjal—bukan karena Okan yang muncul pagi tadi, tapi karena dirinya sendiri tidak tahu kenapa dia menyembunyikannya dari Roni. Mungkin karena ia tahu… tidak ada hal yang penting terjadi. Tapi juga, mungkin karena ia takut jika ada.
“Aku anterin kamu dulu ya,” kata Roni memecah keheningan.
Stella mengangguk lagi, kali ini dengan senyum tipis. “Makasih udah mau nganterin padahal kamu yang habis disidang.”
“Apapun buat kamu, Beb,” ujar Roni sambil menggenggam tangan Stella di atas tuas persneling.
“Kita mampir makan dulu ya”, ajak Stella.
“Siap”
--
Okan duduk di bangku semen dekat taman belakang FKG, memutar-mutar botol minum kosong di tangannya. Beberapa mahasiswa hilir mudik, tapi dia tak peduli. Di hadapannya, sepiring roti bakar tinggal separuh, sudah dingin sejak tadi.
Dari saku jaketnya, ia menarik ponsel, lalu membukanya hanya untuk memandangi satu foto—foto usang masa orientasi kampus. Stella tersenyum cerah, berdiri di tengah-tengah antara Felix dan Niken. Di ujung kanan, ada dirinya. Canggung. Tersenyum separuh.
Ia mengembuskan napas keras. “Bodoh banget, Kan…”
Seseorang duduk di sebelahnya. Felix. Membawa sepiring nasi goreng dan sebotol teh dingin. Ia mengintip ponsel Okan dan tersenyum iseng.
“Kon nek seneng tikung ae iku Stella”, goda Felix dengan logat khas Surabaya-nya.
Okan sedikit terkejut.
“Haha. Aku sek ketikung, Lix”, Okan tertawa datar.
Hari itu, untuk pertama kali Okan menceritakan kisahnya dengan Stella. Kisah yang bisa dikatakan berakhir sebelum dimulai. Alasan mengapa ia menghilang. Satu hal yang bahkan belum ia ceritakan langsung pada Stella.
“Parah sih. Aku gak nyangka kalau kamu ada cerita sama Stella. Walaupun yah kita semua udah tahu kalau kalian kayak emang ada sesuatu”, ucap Felix heran.
Okan hanya terdiam.
“Gak masuk kelas dokter Ali tadi?” tanya Felix kemudian.
“Skip. Gak mood.”
Felix makan sebentar sebelum menyipitkan mata, memperhatikan wajah temannya yang jelas-jelas tidak tenang. “Kenapa? Tumben ngelamun kayak orang abis nyolong.”
Okan tak menjawab. Ia hanya menggigit bibirnya sendiri. Tahu sekali kalau Felix bakal nyocok logika.
“Cuma… tadi pagi ketemu Stella,” akhirnya ia mengaku.
“Lah, emang kenapa? Ketemu doang kan?”
Okan diam sebentar. Menatap jauh ke arah lorong belakang FKG.
“Dia ban-nya kempes. Aku yang anter dia ke FT.”
Felix mengunyah pelan, lalu berhenti. “Kamu… yang anter?”
Okan mengangguk.
“Terus?”
“Terus ya… aku yang kempesin ban-nya.”
Felix membelalakkan mata. “Astaga. Kon serius, Kan?”
“Cuma dikempesin dikit. Biar dia gak bisa pergi sendiri. Aku udah lihat dia parkir di situ. Cuma... pengen dia butuh aku. Cuma sekali aja.”
Felix meletakkan sendoknya. Wajahnya menegang. “Gak gitu juga, Kan.”
Okan mengacak-acak rambutnya sendiri. “Iya tahu. Tapi aku gak tahu harus apa lagi. Dia… udah terlalu jauh. Aku cuma pengen ngobrol. Ngeliat dia lagi dari dekat. Ngeliat dia sebelum dia pergi terlalu jauh sama… orang lain.”
Felic menatapnya lama. “Kalau emang masih sayang, dekati baik-baik. Sebelum janur kuning melengkung. Jangan pakai cara-cara kayak... ngempesin ban.”
Okan mendengus lelah. “Aku gak mau jadi cowok yang kalah sebelum perang, Lix.”
“Tapi jangan jadi penjahat di cerita orang lain juga.”
Okan diam. Terdiam terlalu lama.
“Iya ntar aku bakal minta maaf ke dia nanti. Mungkin.”
Lalu, perlahan, ia berdiri, meninggalkan roti bakarnya. “Atau... mungkin cuma bakal diam. Seperti biasa.”

Other Stories
Bayang Bayang

Riel terus bereinkarnasi untuk keseimbangan Klan Iblis dan Klan Dewi. Tapi ia harus merela ...

O

o ...

Di Bawah Langit Al-ihya

Tertulis kisah ini dengan melafazkan nama-Mu juga terbingkailah namanya. Berharap mega t ...

Diary Superhero

lanjutan cerita kisah cinta superhero. dari sudut pandang Sefia. superhero berkekuatan tel ...

Membabi Buta

Mariatin bekerja di rumah Sundari dan Sulasmi bersama anaknya, Asti. Awalnya nyaman, namun ...

Flower From Heaven

Setelah lulus SMA, Sekar Arum tidak melanjutkan kuliah seperti dua saudara kembarnya, Dyah ...

Download Titik & Koma