Video Klip Terakhir Sebelum Jas Dokter
Sore itu Stella duduk di teras rumahnya dengan laptop menyala di pangkuan dan ponsel yang bergetar terus-menerus. Notifikasi dari grup Skylight Band muncul lagi, dengan nama yang cukup mencolok:
Reiza:
Oke, sebelum mas vocalist ini resmi masuk dunia co-ass dan tenggelam sama pasien dan jaga malam, kita harus syuting video klip lagu baru!
Aku udah dapet lokasi, tinggal kita fix-in waktu. Jangan ada yang kabur, please!
Bayu:
Let’s gooo! Mumpung rambutku masih gondrong keren.
Raka:
Kita mau tema apa nih? Grunge? Dramatis? Atau yang gloomy-gloomy gitu?
Roni:
Aduh jadi mellow. Tapi oke, gaskeun. Lagu ini harus punya visual!
Ria:
Aku vote lokasi outdoor kayak terakhir. Andre bisa bantu set alat-alatnya.
Andre:
Siap, tanggal tentuin aja. Ntar aku urus izin lokasi dan teknisnya.
Stella tersenyum. Matanya berbinar melihat semangat yang mengalir di grup itu. Dengan cepat, ia ikut membalas:
Stella:
Aku siap! Kasih aku rundown aja, mau bantu apa pun. Ini bakal jadi video klip terbaik kita!
Lalu, jemarinya berhenti sejenak. Reiza akan co-ass. Yang artinya…
Fandi nggak akan jadi asdos lagi…
Senyum tipis muncul tanpa ia sadari. Perasaan lega mengalir perlahan, seperti beban yang terangkat diam-diam dari bahunya.
Yes… berarti nggak harus liat muka jutek itu di lab lagi.
Pikirannya melayang ke wajah datar dan komentar singkat Fandi yang sering membuat hatinya panas tanpa alasan jelas. Ia membayangkan kelas tanpa dia—lebih tenang, lebih damai, tanpa tekanan yang tak terlihat.
Stella:
(dalam hati)
Hidup kampusku akhirnya bisa bebas dari dinginnya udara ruang praktikum yang namanya Fandi.
Ia menarik napas panjang dan membalas satu pesan lagi:
Stella:
Jadi ini farewell project-nya Reiza sebelum pakai jas putih seumur hidup ya? Kita bikin keren, dong.
--
Studio Skylight yang berada di lantai dua bengkel milik keluarga Roni sore itu terasa lebih hangat dari biasanya. Tawa dan obrolan bersahutan, memenuhi ruangan yang biasanya hanya berisi dentuman musik dan suara gitar distorsi. Di sudut ruangan, keyboard Ria menyala, sementara Bayu sibuk menyetem bass-nya meski tak ada yang menyuruh.
“Jadi fix ya, syutingnya di Parangtritis?” Raka membuka pembicaraan sambil memainkan drum pad kecil di pangkuannya.
“Fix! Bukan Parangtritisnya sih. Tapi daerah situ, yang masih sepi. Pantainya dramatis, langitnya cakep pas sore. Pas buat vibe lagu kita yang mellow tapi estetik,” kata Andre mantap, memeluk clipboard berisi rundown.
“Masalahnya tinggal satu,” Roni menimpali dari pojok sofa, “Siapa yang jadi model?”
Seketika ruangan hening. Semua menatap satu sama lain dengan pandangan curiga.
“Bukan aku,” ucap Bayu cepat, mengangkat tangan seolah tak bersalah. “Mukaku nggak fotogenik.”
Raka menunjuk dirinya sendiri. “Aku biasanya pegang gitar doang. Nggak bisa ekspresif. Mukaku kaku kayak batu.”
Ria menoleh ke Stella. “Kamu deh, Stel. Kamu paling cocok.”
“Aku kan main biola. Masa jadi model juga?” Stella tertawa, tapi buru-buru menolak. “Lagian aku udah pernah ya jadi model di video yang sebelumnya.”
Semua kembali ribut—ada yang menyebut ide konyol, ada juga yang usul pakai talent profesional tapi langsung ditolak Andre karena bujet mepet.
“Udah! Gini aja,” kata Reiza, akhirnya angkat suara. “Model ceweknya Dewi aja, ya? Aku udah bilang ke dia juga soal konsepnya, dan dia oke.”
“Dewi?” tanya Roni. “Pacarmu itu?”
“Iya. Dia kan emang suka tampil di depan kamera, cocok banget,” kata Reiza santai.
Stella mengangguk cepat. “Setuju! Dewi tuh emang cocok. Manis, ekspresif. Vibenya pas banget.”
“Tinggal model cowoknya,” ujar Ria sambil menenggak teh dalam botol plastik.
Reiza tersenyum penuh rahasia. “Besok gue bawa. Cowok ganteng. Tenang aja, cocok banget buat jadi pasangannya Dewi di video ini.”
Raka langsung tertawa. “Cowok ganteng? Bawa dari mana, Za? Surga?”
“Penasaran nih,” kata Stella, setengah bercanda, setengah waspada. “Jangan-jangan kamu suruh Bayu pake wig.”
Bayu langsung protes, “Aku auto cabut dari band kalau suruh jadi cowok galau jalan di pantai.”
Tawa kembali meledak. Sore itu dipenuhi canda dan semangat.
--
Langit pantai berwarna biru pucat dengan semburat awan tipis menggantung di cakrawala. Angin laut mengibaskan rambut Stella yang berdiri di tepi pasir, memandangi gulungan ombak yang menghantam pantai. Kamera dan tripod sudah terpasang. Raka sedang menyusun set speaker, Bayu dan Roni mengangkat kabel-kabel panjang, sementara Andre sibuk mengecek urutan pengambilan gambar di tablet.
“Hari gini Reiza belum dateng juga,” gumam Ria sambil membetulkan lensa kacamata hitamnya. Ia duduk di matras bersama Stella, menyesap minuman kaleng dingin.
“Katanya jam sembilan dia sampai,” kata Roni sambil memasang mic ke salah satu stand.
“Udah hampir setengah sepuluh.”
Stella hanya diam, menatap jalanan yang mengarah ke pantai. Tak lama, dari kejauhan, sebuah mobil putih berhenti. Pintu belakang terbuka, Reiza keluar duluan sambil melambai ke arah mereka.
“Itu dia!” seru Raka dari dekat kamera.
Dewi turun dari sisi penumpang depan. Gaun pantai warna putih bergoyang ditiup angin. Ia tampak anggun dan siap tampil.
Lalu… pintu belakang di sisi lain terbuka.
Seseorang turun perlahan dengan wajah yang sangat familiar jaket denim, wajah tenang, langkah kaku. Stella mendadak menegang.
“…itu…” bisiknya tanpa sadar.
Ria memicingkan mata, “Eh, itu… Fandi?”
Stella langsung menoleh ke mereka berdua dan berbisik dengan nada jengkel campur geli,
“What the hell… dibilang bawa cowok ganteng malah bawa robot.”
Ria tertawa geli, terbatuk karena tak siap.
“Beb!” tegur Roni pelan, menahan senyum. “Jangan gitu sih”
“Serius deh, Beb. Reiza tuh apa nggak punya temen lain selain manusia kaku kayak dia? Padahal FK tuh gudangnya cowok ganteng” bisik Stella lagi, kali ini sambil membalikkan badan seolah tak mau terlihat menatap.
Reiza, Dewi, dan Fandi akhirnya tiba di titik kumpul. Reiza langsung menyapa dengan semangat.
“Sorry telat! Perjuangan narik model cowok ini luar biasa, bro,” katanya sambil menepuk punggung Fandi.
Fandi terlihat canggung, tapi tetap berusaha tersenyum ke arah anak-anak Skylight.
“Eh, hai. Aku Fandi,” ucapnya ke grup kecil itu. “Dipaksa Reiza buat ikut… katanya ini demi seni.”
Bayu berbisik ke Raka, “Seni yang bikin awkward, nih.”
Roni mengangguk ramah. “Thanks udah dateng, Fan. Serius, bantu banget.”
Fandi mengangguk pelan. Tapi saat matanya bertemu dengan Stella, ia terdiam sejenak. Ria yang melihat langsung mundur setengah langkah, pura-pura sibuk membereskan kamera. Stella membalas tatapan itu dengan anggukan seadanya, lalu segera menoleh ke arah lain. Robot ini lagi… batinnya kesal. Hari itu, angin laut pun terasa... sedikit lebih ribut dari biasanya.
--
Sinar matahari mulai meninggi ketika seluruh kru dan personel band berkumpul membentuk lingkaran kecil di tengah pasir hangat. Stella berdiri di sebelah Roni, memegang botol air mineral, sementara pandangannya sesekali melirik Fandi yang sedang duduk agak jauh bersama Dewi.
Andre melangkah ke tengah dengan clipboard di tangan dan ekspresi serius khas manajer mereka.
“Oke guys, perhatiin dulu. Aku jelasin konsep video klipnya.”
Semua langsung memusatkan perhatian.
“Judul lagunya, seperti yang kalian tahu, Bukan Untukku. Liriknya bercerita tentang seseorang yang diam-diam mencintai, tapi akhirnya harus merelakan karena orang yang dia cinta memilih orang lain.”
Stella mengangguk pelan. Ia sudah hapal liriknya—dan rasa di balik lirik itu. Lagu itu diciptakan Reiza hanya seminggu setelah mereka semua liburan ke pantai beberapa bulan lalu. Saat itu, belum ada yang tahu inspirasi di baliknya. Sekarang, ia sedikit curiga.
“Yang jadi pasangan di sini adalah Fandi dan Dewi,” lanjut Andre sambil menunjuk ke mereka. “Kalian berdua akan berperan sebagai sepasang kekasih yang sedang menikmati hari di pantai.”
Fandi langsung mengangkat alis, sedikit panik. “Eh… yang bener?”
Dewi tersenyum tenang. “Santai aja, kita cuma pura-pura, kan.”
“Betul,” kata Andre. “Sementara Reiza akan muncul di beberapa adegan—kadang berdiri jauh, kadang menatap kalian dari kejauhan, atau sekadar lewat, tanpa kalian sadari.”
Reiza mengangkat alis dan tersenyum sinis. “Typical sad boy.”
Stella terkekeh mendengar perkataan Reiza.
“Terus yang lain?” tanya Bayu.
“Kalian tetap tampil sebagai band. Ada scene kita mainin lagu ini di tebing batu, sunset-an, slow motion. Estetik,” Andre menyeringai.
Raka berseru, “Mantap!”
“Pokoknya, vibe-nya mellow tapi visualnya kuat. Main perasaan tapi gak lebay. Kamera akan banyak pakai angle tersembunyi buat tangkap emosi Reiza, dan shot-shot dekat untuk tangkap chemistry pasangan ini,” jelas Andre sambil melirik Fandi dan Dewi, lalu cepat-cepat menambahkan, “Pengangan tangan dikit gak papa ya guys. Sama fokus ke ekspresi dan gestur kecil.”
“Hmm ya. Jangan banyak-banyak ya Fan”, ucap Reiza.
Fandi mengangguk pelan, meski matanya sempat melirik ke arah Stella. Ia bisa merasakan tatapan perempuan itu sekilas ke arahnya, lalu buru-buru berbalik.
Stella sendiri hanya mendesah pelan. Lagu tentang cinta bertepuk sebelah tangan, diperankan oleh dua orang yang kelihatan gak punya chemistry sama sekali. Tapi ia diam. Ini proyek terakhir Reiza sebelum co-ass. Ia tak ingin merusak momen.
“Alright, posisikan alat, kostum siap, make-up touch up dikit. Kita syuting scene pertama dalam dua puluh menit!” seru Andre.
Dan begitu semua mulai bergerak, Stella melirik sekali lagi ke arah Fandi dan Dewi—pasangan "sandiwara" yang akan jadi pusat video.
“Camera rolling—three, two, one… action!”
Deburan ombak menjadi latar alami ketika Dewi dan Fandi mulai berjalan menyusuri pantai. Dewi tampak luwes, sesekali tertawa kecil, menyibak rambut yang tertiup angin. Fandi, meski sedikit kaku, mencoba menyesuaikan langkahnya. Ia mengangguk, tersenyum… dan itu saja sudah cukup untuk kamera.
Dari kejauhan, Reiza berdiri setengah tersembunyi di balik batu karang, tatapannya kosong namun dalam, mengikuti langkah pasangan itu. Lagu Bukan Untukku mengalun pelan dari speaker monitor, menyatu dengan suasana sore yang temaram.
Andre berdiri di belakang kamera, puas.
“Bagus, bagus! Ambil dari angle samping kiri sekarang. Fandi, coba pas kalian duduk nanti, lirik Dewi sebentar lalu cepat alihkan pandangan. Kayak orang yang gak yakin ini cinta beneran.”
“Oke,” sahut Fandi pendek.
Stella duduk di balik layar monitor bersama Roni dan Ria, menyimak pengambilan gambar sambil mengunyah biskuit. Ia tak bicara banyak, hanya sesekali mengangguk ketika Andre meminta pendapat.
“Yah, boleh juga,” gumam Stella pelan.
Ria mencibir kecil. “Tumben komentarnya gak pedes.”
“Ya, masih mirip robot, tapi paling enggak softwarenya mulai di-update.”
Roni tertawa. “Kalian kalau nggak saling sindir kayaknya gak hidup ya.”
Setelah beberapa scene selesai, Andre mengumumkan istirahat. Kru mulai membongkar set untuk scene band berikutnya, sementara Fandi berjalan pelan ke arah meja air minum. Di sanalah Stella sedang berdiri, membuka botol minum sambil mencari tisu.
“Eh… ini…” Fandi tiba-tiba menyodorkan tisu gulung dari kantong belakangnya. “Kamu nyari ini, kan?”
Stella menoleh cepat. “Oh eh, iya. Makasih.”
Saat ia mengambil tisu, tangan mereka bersentuhan sebentar. Sekilas. Tapi cukup lama untuk membuat Fandi langsung menarik tangannya dan berdeham pelan.
Stella juga reflek menarik tangannya, sedikit memalingkan wajah. “Sorry. Kaget.”
“Iya… nggak apa-apa,” ucap Fandi, salah tingkah, mencoba tersenyum tapi hasilnya malah seperti menahan batuk.
Roni dan Reiza, yang duduk tak jauh sambil menyesap air kelapa, memperhatikan dengan saksama. Reiza mengangkat alis pelan ke arah Roni. Roni hanya membalas dengan helaan napas dan anggukan kecil. Iya, aku lihat juga.
“Besok-besok aku gak usah ajak dia lagi deh Ron,” gumam Reiza.
Roni tersenyum tipis. “Santai aja kali.”
Sementara itu, Fandi kembali duduk di kursi lipatnya, tapi pandangannya tak lepas dari Stella yang kini tertawa kecil bersama Ria. Tak ada senyum palsu, tak ada ekspresi defensif seperti saat di kampus. Hanya Stella yang lepas, bebas. Dan untuk pertama kalinya, Fandi menyadari… ia ingin melihat sisi itu lebih sering.
Langit sore mulai beranjak gelap ketika syuting memasuki penghujungnya. Sunset scene selesai lebih cepat dari jadwal karena awan mendadak menebal. Setelah membereskan alat dan properti, kru dan pemain mulai bersiap pulang.
“Guys, foto dulu yuk!”, teriak Andre.
Semua anggota Skylight merapat untuk berfoto. Termasuk Dewi dan Fandi yang menjadi model mereka.
--
“Eh,” suara Reiza memecah obrolan kecil di antara mereka. Ia mendekati Stella dan Roni, tangannya menggenggam kunci mobil. “Gue… kayaknya mau ada urusan sebentar sama Dewi. Jadi gue bareng dia dulu. Fandi… bareng mobil kalian aja ya.”
Roni mengangguk santai. “Oke, gak masalah.”
Namun Stella langsung menoleh cepat, memelototi Reiza dengan ekspresi tak percaya. “Rei. Serius?”
“Mau kemana? Jangan macem-macem ya Syahreiza!”, cibir Stella sengaja dengan suara keras.
Dewi hanya tersenyum. Seolah sudah hafal tingkah Reiza dan Stella.
Reiza hanya tersenyum penuh arti, lalu membisikkan sesuatu ke Roni. Roni mengangguk paham, tak berkata apa-apa, tapi Stella tahu betul ada konspirasi kecil di balik itu.
“Tenang,” ucap Reiza sambil menepuk bahu Fandi. “Orang ini bisa dipercaya kok.”
Fandi mengangguk pelan. “Kalau gak keberatan, aku yang nyetir aja ya? Biar lo bisa istirahat.”
“Boleh,” jawab Roni, lalu menyerahkan kunci mobilnya.
Stella, yang sudah berjalan lebih dulu ke arah mobil, mendesis pelan. “Ada aja kelakuan lu Reiza…”
Perjalanan pulang dimulai. Roni duduk di kursi penumpang depan, sementara Stella duduk di kursi belakang, menempelkan pipi ke jendela. Ia sengaja tidak membuka obrolan apa pun. Sementara itu, Fandi menyetir dengan hati-hati, sesekali bertukar obrolan ringan dengan Roni.
“Pantai tadi lumayan bagus ya. Tapi anginnya parah,” kata Fandi.
“Parangtritis emang begitu. Tapi bagus buat footage,” jawab Roni.
“Lagunya bagus, by the way. Liriknya dalem.”
Roni tersenyum, menoleh sekilas. “Terinspirasi dari cerita nyata, katanya.”
“Gue tebak... Reiza? Tapi pengalaman sama yang mana ya?” tanya Fandi.
Roni tertawa kecil. “Lu mulai peka juga ternyata.”
Dari kursi belakang, Stella hanya mendengarkan dalam diam. Suara mereka seperti jauh, sayup-sayup, dibalut deru mesin dan hembusan AC mobil. Ia menyandarkan kepala ke kaca, matanya mulai terasa berat setelah seharian di bawah matahari.
Fandi sempat menoleh lewat kaca spion dalam, sekilas melihat Stella yang kini memejamkan mata. Napasnya mulai teratur. Ia tertidur. Fandi menarik napas pelan, lalu kembali menatap ke depan. Tapi diam-diam, hatinya seperti… hangat.
“Tidur?” tanya Roni pelan, menoleh ke belakang.
Fandi mengangguk pelan. “Iya.”
“Capek dia. Tapi dia senang, tadi puas banget lihat hasil footage-nya.”
Fandi hanya tersenyum kecil.
Mobil melaju tenang di bawah langit malam Yogyakarta yang mulai sepi. Lampu jalan membentuk pola terang-remang di aspal. Stella masih tertidur, atau begitulah yang dikira Fandi dan Roni.
Tiba-tiba, Roni menoleh ke belakang. “Eh, gue lupa, mau mampir dulu ke minimarket. Haus banget.”
Fandi mengangguk, membelokkan mobil ke area parkir minimarket terdekat. Roni cepat-cepat turun sambil berkata, “Gue bentar ya!”
Begitu pintu tertutup, suasana mendadak hening. Stella membuka matanya perlahan, mengedip menyesuaikan pandangan.
“Udah sampai, Beb?” tanyanya pelan, setengah bangun dari posisi miring.
Fandi menoleh singkat, lalu kembali menatap jalan.Lagi-lagi canggung. “Eh, itu Roni mampir ke minimarket. Haus, katanya.”
“Oh.” Stella mengangguk kecil. Tapi suasana langsung berubah kikuk. Hening. Ia memainkan jari-jarinya di pangkuan, tak tahu harus berkata apa. Suara radio pun dibiarkan mati.
Fandi melirik ke kaca spion tengah. “Kamu tidur lumayan nyenyak.”
Stella tak menjawab, malah buru-buru kembali menyandarkan kepala ke kaca jendela. “Aku... masih ngantuk.”
Fandi mengangguk pelan, mencoba mengabaikan rasa canggung yang makin kental. Ia mengetukkan jarinya pelan di setir. Ingin bicara, tapi tak tahu harus memulai dari mana. Dan Stella, dalam diam, justru memilih... pura-pura tidur lagi. Lebih mudah begitu daripada harus menanggung percakapan yang terlalu datar atau terlalu rumit.
Tak lama kemudian, Roni kembali dengan minuman dan cemilan. “Lanjut yuk,” katanya riang sambil duduk kembali di depan. Fandi hanya mengangguk dan kembali menyalakan mesin.
Mobil berhenti pelan di depan sebuah gedung apartemen di kawasan Pogung, tak jauh dari kompleks UGM. Fandi melepas sabuk pengaman dan menoleh ke Roni.
“Thanks ya. Gue turun di sini aja.”
“Oke. Thanks juga ya,” balas Roni santai.
Fandi hendak turun, tapi sempat menoleh sekali lagi ke kursi belakang. Stella masih bersandar, matanya terpejam, pura-pura tertidur. Tapi ia tahu, ada detak berbeda dalam diam itu.
Pintu ditutup pelan. Fandi berdiri sejenak di trotoar depan apartemennya, menatap mobil yang masih diam di situ. Ia menarik napas panjang, membiarkan udara malam masuk ke dadanya.
Bayangan Stella dan Roni duduk bersama di kursi depan... bagai dua titik yang dekat tapi tak bisa disentuh olehnya. Dan entah kenapa, potongan lagu Bukan Untukku yang dinyanyikan Reiza siang tadi terputar begitu saja di kepalanya:
"Kamu indah, kamu nyata tapi bukan untuk diriku”
Fandi tersenyum kecil, getir.
“Lagu itu... kayaknya bukan tentang Reiza lagi,” gumamnya.
Lalu ia berbalik, melangkah masuk ke gedung apartemen, meninggalkan mobil yang mulai melaju perlahan ke arah lain dari dirinya.
--
Pagi itu, matahari bersinar lembut di langit Yogyakarta. Stella berjalan ringan menuju gedung kuliah, langkahnya riang. Rambutnya dikuncir asal, wajahnya cerah, bahkan sempat menyapa satpam dengan senyum penuh harapan.
“Hari ini aku bisa fokus. Tenang. Bebas dari makhluk paling menyebalkan se-FKG,” katanya sambil melangkah masuk ke kelas.
Niken yang duduk lebih dulu sudah tertawa saat Stella duduk di sebelahnya. “Masih gak percaya kamu secerah ini cuma karena satu orang gak muncul di kelas.”
Stella menyengir puas. “Reiza udah mulai co-ass! Artinya Fandi, si robot dengan mode ‘silent judgement’ itu, resmi pensiun dari perkuliahan kita. Tuhan itu Maha Adil, Ken.”
Felix di bangku belakang menyahut, “Tapi jangan-jangan dia nitip absen dulu—”
“Shhh! Jangan bawa energi negatif pagi-pagi!” potong Stella cepat, lalu sibuk membuka buku catatannya, percaya diri.
Namun, tak sampai dua menit kemudian, suara langkah masuk ke dalam kelas. Semua mata menoleh ke arah pintu. Masuklah seorang pria paruh baya berjas rapi—dokter Ali, dosen mereka untuk mata kuliah hari itu.
“Selamat pagi, semuanya,” sapa dokter Ali.
“Pagi, dok!”
Tapi kemudian, muncul sosok lain tepat di belakang dokter Ali. Tinggi. Rapi. Berjas putih. Membawa map dan clipboard. Stella yang tadinya siap menulis… langsung membeku.
“…No way…” gumamnya pelan.
Niken dan Felix melirik ke arahnya bersamaan. Fandi berdiri di depan kelas, sedikit mengangguk sebagai bentuk sapaan. Wajahnya seperti biasa—tenang, netral, tanpa dosa.
Stella langsung mengambil ponselnya di bawah meja, membuka kamera, klik! Foto Fandi tepat saat ia berdiri di dekat proyektor. Dengan ekspresi datar khasnya. Tanpa banyak kata, Stella mengirimkan foto itu ke chat pribadi Reiza disertai satu kalimat pendek:
REIZAAAAAA EXPLAIN THIS.
Tak lama, balasan masuk:
[Reiza]: WKWKWWKK co-ass ditunda dua minggu, Stell. Maaf ya, bro Fandi masih semangat ngajar.
Stella memelototi layar ponselnya, lalu mendongak menatap Fandi yang kini sedang mengatur laptop dosen. Ia mendesah panjang dan menjatuhkan kepalanya ke meja.
“Kenapa hidupku begini amat,” gumamnya.
Felix menahan tawa, sementara Niken dengan wajah iba menyentuh pundaknya. “Sabar ya. Dua minggu doang.”
“Dua minggu itu... tujuh ribu detik ketemu muka dia tiap hari,” bisik Stella putus asa.
Sementara di depan kelas, Fandi melirik ke arah Stella yang kepalanya tertunduk di atas meja, bibirnya menggumam tak jelas. Entah kenapa... ia justru tersenyum kecil.
--
Notifikasi grup Skylight meledak sejak pagi.
[Andre ]:
Video klip “Bukan Untukku” udah beres editan final! Keren banget, cuy. Aku udah upload di YouTube. Sekarang tugas kalian: promo serentak di semua sosmed. Ajak temen-temen repost!
[Ria]:
WAHHH GILAAA KEREN BANGET AKU MERINDING
[Bayu]:
Cieee kamera sinematik, warna tone-nya cakep banget. Siapa yang jadi model cowoknya sih, ganteng beut.
[Reiza]:
Ehem. Temen akyu. Jangan lupa tag band + model juga yaaa~
[Raka]:
Aku upload bentar lagi, caption-nya “lagu patah hati paling indah tahun ini ”
Semua langsung ramai membicarakan strategi unggahan. Ada yang siap posting di Instagram, TikTok, bahkan Facebook. Stella membuka folder video kiriman Andre. Ia putar ulang. Musik mengalun. Visual Dewi dan... Fandi. Terlalu banyak Fandi. Di setiap adegan. Di pantai, di tebing, senyum-senyum tipis... Stella menghela napas.
“Ya ampun. Kenapa sih harus dia?”
Ia menatap layar ponselnya gelisah.
[Stella] (privat chat ke Andre):
Dre, boleh gak sih aku upload versi yang dipotong dikit? Hehe. Yang agak ngeblur bagian cowoknya gitu…
[Andre]:
HAH? Kenapa emang? Itu bagian penting, Stell. Masa model cowoknya ilang? Lagian ganteng tuh Fandi, cocok banget vibes-nya.
[Stella]:
Tolong banget. Aku... takut banyak yang nanya. Temen-temen FKG-ku pada tahu dia. Ribet jelasin nanti wkwk.
[Andre]:
Ya udah. Tapi jangan aneh-aneh editnya. Paling gak potong aja pas bagian close-up. Tapi jangan bikin alurnya ancur yaa.
Stella langsung mengunduh file mentahnya dan buka aplikasi editing. Beberapa jam kemudian...
[Stella] mengunggah video di Instagram-nya dengan caption:
"Bukan Untukku" – lagu baru dari @skylight.official
Kita semua pernah patah hati, tapi musik selalu jadi penyembuh.
Full video di YouTube yaaa!
Video yang Stella unggah terlihat mulus... kecuali satu hal: bagian Fandi hanya muncul sekilas, dan lebih sering terlihat dari belakang atau dalam transisi kabur. Seolah model cowoknya... tak pernah terlalu penting.
Tak lama kemudian...
[Niken] (komentar):
Eh… kok kayaknya ada yang disensor ya? Model cowoknya siapa sih sebenernya
[Felix]:
Fix deh, videonya beda dari yang di YouTube. Jangan-jangan ada... orang terlarang
Stella hanya membalas dengan emoji
Sementara itu, di suatu tempat, Fandi sedang menonton unggahan Stella. Alisnya naik sebelah. Kemudian ia senyum kecil. “Dipotong, ya? Dasar kamu…”
--
Suasana ruang duduk kecil di depan perpustakaan ramai oleh tawa. Niken, Felix, dan Kresna duduk melingkar, masing-masing memegang ponsel dan menatap satu layar yang sama: video klip lengkap Skylight – “Bukan Untukku”, versi yang diunggah oleh akun resmi band mereka.
“Eh! Eh! Pause!” seru Niken sambil menunjuk layar ponsel Felix. “Tuh! Itu kan... Fandi?!”
Felix ngakak, “Makanya! Dari tadi aku ngerasa kayak familiar. Tapi baru nyadar sekarang. Gila... beneran si Mas Asdos!”
Niken melirik ke arah Stella yang duduk di ujung bangku, tengah sibuk dengan laptopnya.
“Pantesan model cowok di video yang diunggah Stella gak pernah keliatan. Cuma pantai-pantai doang... ternyata disensor!”
Kresna menimpali, “Fix dia edit sendiri biar nggak kena interogasi.”
Stella mendongak, wajahnya datar. “Tuh kan. Bener kan. Kalian pasti heboh kalau tahu!”
Felix cengar-cengir, “Ya iyalah! Mana nyangka yang jadi model cowoknya Mas Robot!”
Stella mendengus kesal. “Lagian... itu Reiza juga ya, ada-ada aja idenya ngajakin dia. Udah tahu aku risih.”
Niken mencoba menahan tawa sambil menutupi mulutnya. “Tapi hasilnya keren loh. Aktingnya Mas Fandi... kaku, tapi pas! Cocok banget buat peran cowok jatuh cinta. Ini ceweknya siapa, Stell?”
“Dewi, pacarnya Reiza”, jawab Stella datar.
Di sisi lain, tak jauh dari mereka, Okan duduk santai di bangku sebelah, terlihat menonton video yang sama di ponsel Felix. Ia tidak banyak bicara. Matanya memperhatikan Stella yang masih mengomel kecil sambil mengetik di laptopnya. Senyumnya terbit perlahan. Bukan senyum mengejek. Lebih seperti... senyum mengerti.
Okan masih duduk di bangku panjang itu, satu tangan menopang dagu, tangan lain menggenggam ponsel yang memutar ulang video klip Bukan Untukku.
Di layar, adegan Fandi menatap tokoh wanita dengan sorot yang dalam. Lalu lirik lagu mengalun lirih, dibawakan suara Reiza:
"Kamu indah kamu nyata tapi bukan untukku..."
Sekilas, Okan melirik ke arah Stella yang kini sudah diam, entah karena bosan atau kelelahan menanggapi ledekan teman-temannya. Tapi jelas, wajahnya berubah sejak mereka tahu model cowok itu adalah Fandi.
Okan menyimpan ponselnya. Duduk tegak. Tatapannya lurus ke depan tapi pikirannya mengambang. Fandi. Lagi-lagi Fandi.
Sejak awal kemunculannya, Fandi hanya terlihat sebagai si dosen pembantu yang menyebalkan bagi Stella. Tapi sekarang... Entah mengapa nama itu mengganggu Okan. Padahal Stella tampak begitu tak suka dengan orang itu.
Okan menghela napas pelan.
Ia pikir, ia sudah selesai dengan semua ini. Apalagi sejak bersama Alya. Tapi kenapa... dadanya terasa sesak? Kenapa melihat Fandi di layar bersama teman-teman Stella membuat perutnya bergejolak aneh?
“Aneh,” gumamnya.
Felix menoleh. “Apa?”
Okan hanya menggeleng. “Nggak. Cuma... videonya bagus.”
Felix tertawa, “Iya, walau yang cowok itu ekspresinya datar kayak batu.”
Tapi Okan tak tertawa.
Matanya masih diam-diam menatap Stella, yang kini sedang memutar headphone ke telinga. Menyendiri. Seolah ingin menjauh dari dunia.
Dan saat itu, Okan sadar satu hal:
Perasaannya... ternyata belum selesai. Belum selesai meski Stella mungkin sudah.
--
Hari itu, udara pagi terasa lebih ringan dari biasanya. Stella baru saja selesai kuliah pagi dan berjalan santai ke bawah pohon besar di dekat kantin. Sambil menunggu Niken dan Felix yang masih di kelas, ia membuka ponselnya dan mengecek grup band Skylight.
Satu notifikasi muncul dari grup itu.
Reiza: “Guys, doakan aku ya. Hari ini resmi mulai co-ass. Bye-bye dunia bebas ”
Stella menatap layar beberapa detik. Matanya melebar. Senyumnya perlahan mengembang. “Yes!” serunya pelan, hampir tak terdengar.
Tanpa sadar, ia membalas di grup.
Stella: “Akhirnya! Selamat menyambut dunia baru, (soon to be) Dokter Syahreiza! ”
Ria: “Yeayyy akhirnyaaa”
Roni: “Gas terus, bro. Nanti kita rayakan pas video klip tembus seribu view!”
Stella tertawa kecil lalu menyimpan ponselnya. Di dadanya terasa lapang. Lega. Itu artinya… Fandi tidak akan mengajar lagi. Tidak akan muncul tiba-tiba di kelas. Tidak akan nyeleneh muncul saat praktikum. Tidak akan ada momen canggung atau tatapan-tatapan yang sulit diartikan.
“Akhirnya tenang juga,” gumam Stella, menatap langit biru di atasnya.
Ia bersandar di bangku kayu dan menghela napas panjang. Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu terakhir, kuliah kembali terasa seperti... kuliah. Bukan drama. Bukan teka-teki. Bukan perang batin.
Hanya... belajar.
--
Sudah beberapa minggu sejak Reiza resmi co-ass. Artinya, Stella tak lagi melihat Fandi di kelas, di lorong kampus, atau tiba-tiba muncul saat praktikum. Kampus terasa lebih ringan. Lebih tenang. Dan Stella mulai menikmati hidupnya kembali.
Ia mulai bangun pagi tanpa rasa malas. Fokus di kelas. Tertawa saat diskusi bersama teman-temannya. Tidak ada lagi yang sok dingin duduk di sudut ruangan dan mengomentari setiap gerak-gerik kelompoknya.
Tapi justru di tengah ketenangan itu, ada sesuatu yang terasa aneh.
Suatu siang, Stella duduk di kantin bersama Niken dan Felix. Mereka baru saja selesai kelas mikrobiologi, dan suasananya santai. Niken bercerita tentang video lucu, Felix menimpali dengan dramatis. Tapi Stella hanya tersenyum sesekali.
“Nggak seru, Stell. Kamu ngelamun mulu,” tegur Niken sambil menyodorkan keripik.
“Hah? Enggak, aku dengerin kok,” balas Stella cepat. Terlalu cepat.
Niken dan Felix saling pandang sejenak, lalu mengalihkan topik. Stella kembali menatap ke luar jendela. Hatinya gelisah, tanpa alasan yang bisa ia sebut.
Sore itu di kamar, Stella membuka lemari mencari buku. Tak sengaja ia menemukan map tugas lama. Salah satu laporan praktikum tertulis rapi di sudut: “Kelompok 3 – Pencegahan Infeksi”.
“Ah, ini...” gumamnya.
Ia tahu harusnya tidak dibuka, tapi tangannya sudah bergerak sendiri. Di lembar terakhir, ada komentar dengan tulisan tangan yang sudah familiar:
"Kalau kamu lebih sabar, kamu bisa lebih bersinar."
-F
Stella mengerutkan kening. Komentar itu bukan pujian. Tapi bukan hinaan juga. Fandi memang selalu begitu: ambigu. Dingin. Sok bijak. Dan yang paling menyebalkan, selalu terasa menghakimi.
Ia menutup map itu dengan napas panjang. Kesal sendiri. “Kenapa sih orang kayak dia bisa-bisanya ngikut terus di kepala?”
Other Stories
Balada Cinta Kamilah
Sudah sebulan Kamaliah mengurung diri setelah membanting Athmar, pria yang ia cintai. Hidu ...
Jatuh Untuk Tumbuh
Layaknya pohon yang meranggas saat kemarau panjang, daunnya perlahan jatuh, terinjak, bahk ...
Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster
Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...
Devils Bait
Berawal dari permainan kartu tarot, Lanasha meramal kalau Adara, Emily, Alody, Kwan Min He ...
Egler
Anton, anak tunggal yang kesepian karena orang tuanya sibuk, melarikan diri ke dunia game ...
I See Your Monster, I See Your Pain
Aku punya segalanya. Kekuasaan, harta, nama besar. Tapi di balik itu, ada monster yang sel ...