Sidang Skripsi; I Hate You
Lantai bawah bengkel keluarga Roni selalu punya aura nyaman yang khas. Meski tidak sebersih kafe, tempat itu jadi titik temu para personel Skylight kalau tidak sedang jamming di studio lantai atas. Meja dan bangku panjang tempat Stella bertemu anggota lainnya itu adalah saksi ratusan diskusi, tawa, dan kadang curhat.
Hari itu, Stella datang membawa sekotak besar takoyaki dari kios favoritnya. Wajahnya semringah.
“Woy! Ini harus kalian coba! Sumpah, enak banget. Garing di luar, lumer di dalem,” serunya sambil menjatuhkan diri di antara Roni dan Reiza.
Roni tertawa kecil, “Kamu bawa satu toko, Beb?”
Stella menjawab dengan menyuapi Roni sebutir takoyaki pakai tusukannya. “Coba dulu baru komentar.”
“Lumayan,” ujar Roni sambil mengunyah.
Tak lama, muncullah Fandi dengan kemeja santai menuju kea rah mereka.
“Sini, bos!”, seru Reiza.
Stella menoleh. Sudah lama sekali ia tidak melihat lelai itu. Kadang hanya di story Instagram, kadang di foto yang Reiza kirim di grup Skylight kalau Reiza sedang di RS. Tak aada yang berubah, gaya berpakaiannya, ekspresinya, mungkin hanya potongan rambutnya yang sedikit berbeda.
Fandi ragu sejenak tapi akhirnya ikut duduk di sisi Reiza. Matanya sempat bertemu mata Stella, dan seperti biasa—sedikit canggung muncul di udara. Stella memilih tidak menggubris, kembali fokus ke takoyakinya.
“Nih, kamu cobain juga, Rei!”, ucap Stella sambil menyodorkan sebutir Takoyaki di depan Reiza. Reiza pun segera menerima dengan mulutnya.
“Hmm iya enak. Rasanya kayak bakwan!”, seru Reiza
“Dih kayak bakwan katanya”
Tapi Reiza, dengan kepalanya yang penuh ide jahil, tak tinggal diam.
“Stell, Fandi pengen disuapin juga,” celetuknya sambil cengengesan.
Stella langsung melotot. Menendang kaki Reiza.
“Eh gak usah kok”, ucap Fandi kikuk.
“Tuh kan anak orang takut”, ujar Stella sambil kembali melototi Reiza.
Roni hanya tersenyum tipis.
Kemudian dengan cepat Stella merogoh kantong plastik di sebelahnya, mengeluarkan kotak kecil berisi sisa takoyaki dan menyodorkannya ke Fandi. “Nih. Ambil sendiri. Aku bukan mamamu.”
Fandi hanya mengangguk singkat, menahan senyum kecil di sudut bibirnya. Reiza terkekeh dan kembali menatap laptop di pangkuannya. Ia tampak mengedit video untuk channel band mereka.
“Kenapa sih dulu gue kepikiran jadi dokter,” gumamnya tiba-tiba. “Apa nyerah aja ya, ngeband full-time, bantuin bengkel bokap?”
Stella menoleh cepat, ekspresinya serius. “If you quit, I’ll quit.”
Roni langsung menoleh dengan mata menyipit, lalu berdehem keras. Stella terdiam. Ia tahu itu kode dari Roni.
“Hehe enggak kok, Beb. Ini aku semangat bentar lagi skripsiku selesai. Trus lanjut co-ass. Kan kamu bilang ntar di undangan nikah kita namaku ada gelar drg-nya”, ucap Stella dengan nada lembut.
Reiza menatap Stella jijik. Pura-pura muntah.
“Apa sih sewot aja!”, Stella melirik Reiza.
Setelah jeda sejenak, Roni berkata santai, “Iya, Beb. Pokoknya jangan dengerin Reiza. Hari ini ngomong nyerah, besok tahu-tahu ambil spesialis dia.”
Reiza menyeringai. “Kalau gak mager”
“Dosen pembimbing kamu siapa, Stel?”, tanya Fandi tiba-tiba.
“Hah? Iya. Dospemku Pakde. Maksudnya dokter Ali”, jawab Stella cengengesan.
“Pakde pakde. Sok akrab banget. Pakdenya Fandi itu bukan pakde lo”, cibir Reiza.
“Ya abis gimana ya. He’s so kind, so humble, and patient. Gak suka ngomel-ngomel kayak..”, sindir Stella.
Roni segera menyikut lengan Stella begitu mengerti ia sedang menyindir Fandi. Sementara Fandi hanya tersenyum tipis tanpa merasa tersinggung dengan sindiran Stella.
Stella tersenyum kecil, menatap takoyaki yang tersisa. Meski percakapan mereka ringan, hatinya tahu... sesuatu sedang berubah. Di sekitarnya. Di dalam dirinya.
--
Hari itu, langit Yogyakarta cerah dengan awan tipis menggantung, cukup bersahabat untuk hari sepenting ini. Stella melangkah ke ruang seminar FKG dengan jantung berdegup lebih cepat dari biasanya. Kemeja putih dan rok span hitam rapi membungkus tubuhnya, rambutnya disanggul sederhana. Senyumnya manis tapi gugup.
Beberapa teman sudah hadir lebih dulu. Niken, Kresna, Okan dan Felix duduk di kursi baris belakang, melambai semangat ke arahnya. Reiza mengirim stiker gif tepuk tangan di grup Skylight. Ria mengabari tak bisa hadir karena lembur, tapi berjanji menelepon setelah sidang. Roni—ah, Roni. Dia bilang ada meeting klien penting, tapi akan menyusul langsung ke kampus.
“Semangat ya, Stell,” ujar Kresna sambil menyodorkan minuman isotonik. “Kamu udah belajar mati-matian. Bisa, kok.”
Stella mengangguk. “Thanks, Kres.”
Tak lama, dosen penguji masuk. Dokter Ali, pembimbing Stella masuk. Stella menyiapkan pointer di tangan, siap menampilkan slide presentasinya. Tapi saat pintu kembali terbuka, tubuh Stella menegang. Fandi masuk. Rapi. Kemeja biru. Ia menatap Stella sebentar sebelum memberi hormat kecil ke para dosen di meja penguji.
Seketika jantung Stella tercekat. Apaan lagi ini? Ia sempat mengedarkan pandang mencari Roni—belum ada. Napasnya berat, tapi sidang harus dimulai.
Presentasi berjalan lancar. Stella berbicara dengan percaya diri, menjelaskan setiap poin dalam penelitiannya tentang pencegahan infeksi nosokomial. Slide demi slide ia kuasai. Beberapa pertanyaan dari dosen berhasil dijawab mantap. Ia nyaris merasa lega… sampai akhirnya giliran Fandi yang berbicara.
“Stella,” ucap Fandi, nada suaranya tetap tenang, profesional. Tapi tatapan matanya tajam—dan membuat Stella mendadak ingin melempar klikernya. “Saya ingin bertanya, dari hasil temuan yang kamu paparkan, bagaimana menurut kamu implementasi prosedur pencegahan infeksi pada unit IGD di rumah sakit kecil yang belum terakreditasi paripurna?”
Stella terdiam sepersekian detik. Ia tahu, ini bukan pertanyaan biasa. Ini jebakan. Subtil, rumit, dan menuntut analisa lapangan. Materi itu pernah dibahas Fandi saat praktikum, dan ia... tidak mendengarkan dengan baik waktu itu.
Stella menarik napas, menjawab semampunya. Tapi ia tahu jawabannya tak sempurna. Dosen lain tampak mengangguk mengerti. Tapi wajah Fandi datar, hampir tak menyisakan emosi.
Sidang selesai. Stella diminta menunggu di luar ruangan untuk keputusan dari dosen. Tak lama kemudian, Roni muncul tergopoh-gopoh, kemeja masih kusut karena terburu-buru.
“Maaf, Beb. Telat banget ya?”, ucap Roni panik.
“Udah selesai, tapi masih nunggu hasilnya”, jawab Stella lesu.
“Kok lemes gitu sih? Tadi lancar kan?”
“Iya lancar kok”, Stella tersenyum tipis.
“Toilet dimana ya? Kebelet nih”, tanya Roni sambil melirik sekitarnya.
“Itu di situ”, jawab Stella sambil menunjuk arah belakang Roni. Roni meninggalkan Stella sendiri.
Tak lama Fandi lewat di dekat Stella. Stella menatap tajam dan berdehem.
Dengan langkah rapi dan ekspresi tak terganggu, pria itu melintas begitu saja seolah tak terjadi apa-apa di ruang sidang tadi.
“Harus banget ya kayak gitu?” suaranya datar, tapi penuh tekanan.
Fandi menoleh, sedikit bingung. “Maksud kamu?”
“Pertanyaanmu tadi,” lanjut Stella. “Padahal nggak dateng juga lebih baik lho. Gak usah repot-repot muncul cuma buat bikin orang susah.”
Fandi terdiam. Ia tidak menyangka Stella akan menegurnya langsung seperti ini.
“Aku kira…” Stella menahan napas, mencoba tetap tenang. “Aku kira kita bisa... at least jadi temen. Karena kamu deket sama Reiza. Tapi ternyata kamu masih aja—mempersulit orang lain.”
Fandi membuka mulut, hendak menjelaskan. Tapi Stella lebih dulu menatapnya tajam, penuh emosi.
“Kalau kamu pikir aku nggak belajar, kamu salah. Aku kerja keras buat hari ini. Tapi kamu—kamu bikin semua jadi nggak menyenangkan.” Napasnya memburu. “Dan kalau kamu pengen tahu... sekarang, aku beneran..”
Lalu, dengan suara yang lebih lirih tapi penuh kepastian, Stella mengucapkannya.
“I hate you.”
Beberapa mahasiswa di sekitar mereka mulai melirik, menyadari ketegangan yang memancar di udara. Fandi diam. Wajahnya menegang—bukan karena marah, tapi karena kata-kata itu... menohok lebih dalam dari yang ia bayangkan.
Roni muncul dari arah belakang Stella. Ia sempat mendengar apa yang baru saja Stella ucapkan ke Fandi. Stella tidak menunggu jawaban Fandi. Ia melangkah pergi, meninggalkan Fandi dan Roni berdiri di tengah koridor yang kini terasa sunyi, meski ramai.
“Kenapa sih Fan? Kok sampai kayak gitu?”
“Sorry Ron. Cewek lo marah banget ke gue. Tadi gue bikin dia kesel waktu sidang”, terang Fandi.
“Oh, ya udah gak papa. Lagi PMS kali, ntar juga baikan”, Roni tersenyum menenangkan Fandi. Ia kemudian menyusul Stella setelah berpamitan pada Fandi.
“Stella! Udah dipanggil masuk!”, teriak Niken penuh semangat.
Stella dinyatakan lulus. Roni kemudian Niken bergantian memelukknya. Sambutan dan ucapan selamat tak henti diterima dari teman-temannya. Tapi dalam dada Stella masih tersimpan sisa amarah setelah kejadian tadi.
Fandi berdiri mematung di lorong kampus. Langkah Stella menjauh, suara hak sepatunya bergema sebentar sebelum menghilang ditelan keramaian. Tapi di telinga Fandi, yang bergema hanyalah satu kalimat:
“I hate you.”
Ia menghela napas pelan. Tangannya mengepal di saku celana. Pandangannya kosong menatap dinding yang penuh tempelan informasi akademik, tapi tak satu pun huruf terbaca jelas.
Sakit. Bukan karena nada marah Stella, tapi karena… kata itu. Benci.
Ia tahu pertanyaannya saat sidang tadi sulit. Tapi itu bukan niat untuk mempermalukan. Ia hanya… melakukan apa yang selama ini diajarkan: objektif, profesional. Tapi entah kenapa, dengan Stella, semua terasa tidak sesederhana itu.
Ia berjalan perlahan, melewati taman kecil di belakang gedung. Angin sore menyentuh wajahnya, dan untuk pertama kalinya sejak lama, Fandi merasa lelah bukan secara fisik… tapi batin. Di bangku taman itu, ia duduk. Menunduk. Kedua tangannya mengusap wajah. Menatap langit yang perlahan berubah jingga.
“Maaf,” bisiknya pelan. “Aku... nggak tahu kalau kamu bakal ngerasa seberat itu.”
--
Mesin mobil belum dinyalakan. Udara dari luar masuk lewat jendela yang sedikit terbuka, membawa aroma rumput basah dan suara burung sesekali. Mobil Roni terparkir rapi di sudut area parkir kampus, di bawah pohon mahoni besar yang daunnya berguguran.
Stella duduk bersandar di kursi penumpang, matanya masih menatap kosong ke depan. Mulutnya mengerucut, ekspresi kesal belum juga surut.
"Dia tuh niat banget ya, Beb," gerutunya, nada suaranya masih meninggi. "Ngapain juga dateng kalau akhirnya cuma buat nyulit-nyulitin orang?"
Roni menghela napas pendek, mencoba tetap tenang. Tangannya menggenggam kemudi dengan stabil. "Beb... itu sidang. Wajar kalau ditanya kritis. Lagipula, kamu bisa jawab, kan?"
Stella menoleh cepat. "Iya, tapi dia! Dia! Harus banget nanya yang kayak gitu? Dia tahu aku panik."
"Ya mungkin dia cuma... terlalu perfeksionis," ujar Roni hati-hati. "Atau... mungkin dia percaya kamu mampu."
Roni mengambil sesuatu dari belakang. Sebuah bucket bunga besar berisi mawar putih dan satu lagi, sebuah boneka teddy bear yang bahkan terlihat lebih besar dari tubuh Stella.
"Ini buat kamu," katanya sambil tersenyum hangat. "Selamat ya, akhirnya melewati sidang juga."
Stella membelalak. "Beb... ini lucu banget." Stella memeluk erat boneka itu. Senyumnya perlahan mengembang, kekesalan tadi surut seperti ombak reda.
"Beb.." ucapnya pelan, matanya mulai berkaca-kaca.
"Aku tahu ini bukan kelulusan, belum wisuda, belum sumpah dokter, tapi ini salah satu tahap penting, kan?"
Stella mengangguk. "Iya. Dan aku mau kamu ada di semua tahap itu. Wisuda, yudisium, sampai sumpah dokter nanti... Kamu harus ada. Harus jadi orang pertama yang lihat aku pakai toga."
Roni tersenyum lembut. Ia menggenggam tangan Stella dengan hangat.
"Aku akan berusaha, La. Akan selalu berusaha."
Tapi di dalam hati, ada sesuatu yang bergetar. Ketakutan kecil yang sudah lama ia simpan—tentang waktu yang mungkin tak cukup panjang, tentang janji yang tak tahu bisa ia tepati sampai akhir. Namun ia tak menunjukkan itu. Yang terlihat hanyalah senyum dan tatapan penuh cinta.
Untuk sekarang, itu cukup.
--
Langit pagi itu cerah, seolah ikut merayakan hari bahagia Stella dan teman-temannya. Suasana di halaman utama kampus dipenuhi tawa, pelukan, dan kilatan kamera. Bunga-bunga, balon, boneka wisuda, dan selempang bertuliskan "Congrats!" bertebaran di mana-mana.
Stella mengenakan toga dengan selempang bertuliskan "S.KG" melingkar manis di dadanya. Di tangannya sudah penuh dengan bucket bunga dan hadiah dari teman-teman. Niken menggandeng lengannya, Kresna dan Felix berjalan di depan mereka sambil sibuk berfoto-foto dengan tongkat selfie.
Di tengah keramaian, Okan menghampiri mereka dengan senyum lebar, membawa bunga matahari satu tangkai.
“Congrats, Stell,” ucapnya, menyerahkan bunga itu.
Stella menerimanya sambil tersenyum. “Thanks, Okan. Selamat juga ya”
Sesaat mereka berbincang. Ringan. Tentang kelulusan, masa depan, dan cita-cita yang kini makin dekat. Tapi di sela obrolan itu, Stella menyipitkan mata, menoleh kanan kiri.
“Eh, Alya mana? Kok nggak keliatan?” tanyanya, sekilas melirik ke arah sekeliling.
Okan mengangkat bahu santai. “Kita udah nggak bareng lagi. Lama kok.”
“Oh…” Stella mengangguk pelan. Tak menyangka. Tapi juga tidak tahu harus merespons bagaimana.
Dari kejauhan, Roni memperhatikan. Ia baru datang dari arah pintu gedung utama, mengenakan kemeja putih bersih dan jaket abu-abu. Langkahnya tegap, tangan membawa kado besar berbungkus cokelat muda dan pita emas.
Melihat Stella sedang ngobrol dengan Okan, ada seberkas ragu di matanya. Tapi hanya sejenak. Ia kemudian melambaikan tangan dan memanggil.
“Stellaaa!”
Stella menoleh cepat, matanya langsung bersinar. Ia pamit pada Okan dan teman-teman.
“Guys, aku lanjut dulu ya. Mau bareng Roni.”
Okan hanya tersenyum kecil dan mengangguk.
Stella berlari kecil menuju Roni. Saat tangan mereka bertemu, dunia seolah mengecil, hanya ada mereka berdua dalam sorotan hari bahagia itu. Roni meraih tangan Stella erat dan membisikkan, “Kita rayakan hari ini, sampai kamu resmi jadi dokter nanti.”
Other Stories
Mozarella (bukan Cinderella)
Moza tinggal di Panti Asuhan Muara Kasih Ibu sejak ia pertama kali melihat dunia. Seseora ...
DARAH NAGA
Handoyo, harus menjaga portal yang terbuka agar mahkluk dunia fantasy tidak masuk ke bumi. ...
Cinta Rasa Kopi
Kesalahan langkah Joylin dalam membina bahtera rumah tangga menjadi titik kulminasi bagi t ...
Cinta Rasa Kopi
Kesalahan langkah Joylin dalam membina bahtera rumah tangga menjadi titik kulminasi bagi t ...
Tiada Cinta Tertinggal
Kehadiran Aksan kembali membuat Tresa terusik, teringat masa lalu yang ingin ia lupakan, m ...
Sweet Haunt
Di sebuah rumah kos tua penuh mitos, seorang mahasiswi pendiam tanpa sengaja berbagi kamar ...