Pacar Baru Okan
Siang itu, kantin kampus ramai. Meja panjang di pojok belakang dipenuhi suara tawa dan piring beradu. Niken sibuk mengaduk es teh jumbo, Okan masih terdiam dengan ponselnya,Kresna nyemil kerupuk, dan Felix—seperti biasa—jadi penyebar kabar gosip tercepat.
“Eh, kalian semua udah tahu belum?” katanya tiba-tiba, dengan ekspresi penuh sensasi.
“Apaan lagi sih, Lix?” ujar Kresna malas.
Felix mencondongkan tubuhnya, menurunkan suara setengah berbisik. “Okan jadian, bro! Sama adek tingkat. Namanya Alya. Imut-imut, anak debat.”
Sontak semua menoleh.
Niken langsung, “Serius?”
Felix mengangguk cepat. “Tadi gue lihat dia dianterin Okan naik motor. Pegangan pinggang, dong. Sweet banget. Mereka duduk di taman, deket deh kayak yang lagi jatuh cinta baru-baru.”
Stella yang semula hanya menyendok nasi pelan, langsung terdiam sejenak.
“Oh ya?” katanya, mencoba terdengar biasa.
“Wah, keren dong. Selamat ya, Okan,” ucapnya cepat, senyumnya hangat. Tulus, atau setidaknya terlihat begitu. “Akhirnya punya yang baru.”
Okan hanya menoleh sekilas. Bibirnya mengangkat sedikit, mengangguk ke arah Stella.
“Thanks.”
Lalu Alya muncul, menghampiri Okan sambil tertawa pelan dan menepuk lengannya. Mereka terlihat dekat, nyaman.
Stella mengikuti momen itu dengan tatapan sekilas. Lalu cepat-cepat menunduk lagi ke makanannya.
Ada sesuatu yang… aneh. Kosong. Bukannya cemburu. Tidak. Ia mencintai Roni. Ia bahagia dengan Roni. Ia tidak mau kembali ke masa lalu. Tapi tetap saja, melihat Okan tertawa dengan orang lain, bukan dirinya—menyisakan ruang hampa kecil yang belum pernah ia sadari ada. Seperti membuka laci yang lama tak disentuh dan menemukan sesuatu yang pernah ia simpan, lalu lupa.
Ada rasa kehilangan yang tak punya nama. Tapi bersamaan dengan itu, ada juga rasa lega. Akhirnya, Okan bisa benar-benar lepas dari bayang-bayangnya. Dan itu… mungkin yang terbaik untuk mereka berdua.
--
Langit sore mewarnai pelataran SMA Cakrawala dengan cahaya keemasan. Okan berdiri di balik pagar lapangan basket, menyandarkan tubuh pada tiang besi, memperhatikan anak-anak berseragam olahraga yang tengah latihan. Suara bola memantul, teriakan pelatih, dan tawa para siswa seakan mengembalikannya ke masa lalu—masa ketika ia masih berlari di lapangan itu dengan semangat yang tak pernah habis.
Seorang pria bersuara lantang berdiri di sisi lapangan, meniup peluit sambil memberi instruksi.
“Mas Gery?” panggil Okan, setengah yakin.
Sang pelatih menoleh, lalu menyipitkan mata, mencoba mengenali. Begitu tatapan mereka bertemu, wajahnya langsung berseri.
“Okan! Lah, ini anak hilang dari mana aja?” seru Mas Gery sambil menghampiri dan menepuk bahunya.
“Haha, nostalgia aja, Mas. Tiba-tiba kepikiran ke sini.”
“Wah, ini nih mantan MVP kita, lho, Tam!” seru Mas Gery ke arah salah satu siswa yang berdiri di dekatnya sambil membawa botol air. “Okan ini dulu MVP turnamen se-DIY pas tahun terakhirnya di sini. Lincahnya kayak setan.”
Anak itu, Tama, menatap Okan dengan rasa ingin tahu.
“Sekarang kuliah di mana, Mas?” tanya Tama sopan.
“UGM,” jawab Okan sambil tersenyum.
“Wah, keren. Angkatan berapa?”
“Angkatan 23”
Tama tampak berpikir sejenak, lalu matanya membulat. “Lho… berarti sama kayak Kak Lala dong?”
Okan mengernyit. “Kak Lala?”
“Iya, Kakakku. Tapi nama aslinya sih Stella. Kuliah di KG UGM. Kalau Mas Okan jurusan apa?”
Okan terdiam sesaat.
“Oh…” hanya itu yang keluar dari mulutnya. Tapi dadanya seperti tersenggol sesuatu. Nama itu, Stella masih punya gema dalam pikirannya, entah sebagai bayang-bayang masa lalu atau… sesuatu yang belum selesai.
“Sama. Aku juga KG. Sekelas kok sama Stella”, lanjut Okan.
Tama tertawa kecil, nggak sadar ketegangan kecil yang baru terjadi. “Wah bisa kebetulan banget. Kak Lala juga suka basket, tapi dia nggak jago. Paling suka cuma nonton.”
Mas Gery terkekeh. “Tapi dia supporter paling heboh.”
Okan tersenyum samar, kenangan tentang Stella di pinggir lapangan dengan pita rambut dan senyum lebar, hari terakhir mereka bertemu di SMA, hingga janji yang sempat mereka ucap di pinngir lapangan ini -- membanjiri pikirannya seketika.
Beberapa menit kemudian, Okan berpamitan. Ia berjalan pelan ke arah gerbang sekolah. Sebelum melangkah keluar, ia menoleh sekali lagi ke bangunan tua itu. Tangannya merogoh ponsel, mengangkatnya, dan memotret gerbang bertuliskan: SMA Cakrawala Yogyakarta.
Malamnya, Instagram Story miliknya menampilkan:
Foto gerbang SMA Cakrawala, diambil dari bawah langit senja.
Dengan Backsound Bunga Maaf – The Lantis
“Andai angin mengulang sebuah masa yang tlah usang”
Tak ada nama. Tak ada keterangan.
Tapi untuk mereka yang pernah bersama di masa itu adalah bentuk luka paling jujur yang bisa ditampilkan.
--
“Eh, liat story-nya Okan nggak sih barusan?” suara Kresna memecah suasana ruang diskusi yang tadi hening.
Mereka baru selesai mengerjakan laporan praktikum dan sedang istirahat sambil buka-buka ponsel. Beberapa gelas kopi plastik kosong berjejer di meja, menandakan waktu yang sudah cukup lama mereka habiskan bersama.
“Kenapa emangnya?” tanya Felix santai.
Kresna mengangkat alis, lalu memutar ponsel menghadap ke mereka. Di layar terlihat story Instagram Okan, foto gerbang SMA Cakrawala diambil dari sudut bawah, langit senja sebagai latar. Lagu Bunga Maaf dari The Lantis mengalun sebagai backsound.
“Galau banget, cuy. Padahal baru jadian sama si Alya. Kok malah nostalgia ke SMA?” ujar Kresna, separuh tertawa. “Aneh banget…”
Niken yang duduk di ujung meja mendadak terdiam. Matanya menatap layar ponsel Kresna beberapa detik lebih lama daripada yang lain. Lambat, namun pasti… ia menoleh pelan ke arah Stella yang duduk di sebelahnya.
Tatapan Niken tak bertanya. Ia hanya menatap. Dalam. Seolah memahami, seolah menghubungkan potongan-potongan yang mulai jelas.
SMA Cakrawala.
Itu sekolah Stella.
Dan Okan? Ia tak pernah bercerita kalau ia adalah alumni sekolah yang sama.
Stella sendiri tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya duduk diam, menatap kosong ke arah layar laptop yang belum ia sentuh sejak tadi. Senyumnya tidak muncul. Matanya tidak berkedip.
Mungkin... hanya dia yang tahu apa rasanya melihat kenangan ditayangkan oleh seseorang yang dulu sempat berarti, lalu pergi, lalu datang lagi—dengan orang lain di sisinya.
Okan, yang duduk tidak jauh dari mereka, merasa sorot mata tiba-tiba berubah ke arahnya. Ia terkesiap sedikit. Tak berniat mengundang topik itu jadi bahan gosip, apalagi di hadapan Stella.
“Ah itu… iseng doang,” katanya buru-buru, mencoba terdengar santai. “Tadi abis lewat depan SMA, nostalgia aja. Nggak ada maksud apa-apa.”
Suasana jadi canggung.
Kresna cengar-cengir, belum sadar arah pembicaraan mulai masuk ranah pribadi. Sementara Felix, hanya terdiam melihat Okan kemudian Stella. Dia satu-satunya orang yang paling tahu kisah mereka berdua.
Niken masih diam, lalu perlahan menepuk bahu Stella pelan tanpa berkata apa pun. Isyarat bahwa ia tahu, tapi memilih tidak menekan. Tidak kali ini.
Dan Okan? Ia menyesap kopinya tanpa rasa. Menyadari, kadang diam lebih memalukan daripada omelan.
--
Hari itu kampus sedang ramai. Banyak mahasiswa berkumpul di koridor lantai dua, beberapa antri untuk konsultasi, lainnya menunggu giliran praktikum. Stella baru saja keluar dari ruang dosen, menggenggam map berisi laporan.
Ia berjalan santai bersama Niken, membahas hasil bimbingan, sampai tiba-tiba langkah mereka terhenti karena seseorang datang dari arah berlawanan. Seorang mahasiswi dengan rambut panjang dan gaya modis menghampiri. Senyumnya tampak manis, tapi tatapan matanya menusuk bukan ke Niken, tapi langsung pada Stella.
“Alya,” ucap Niken, sedikit kaget, lalu tersenyum sopan.
Alya membalas anggukan kecil, lalu menoleh pada Stella. “Kak Stella, ya?”
Stella mengangguk, bingung. “Iya”
“Alya,” jawabnya, singkat. “Pacarnya kak Okan.”
Nada suaranya datar, terlalu tenang untuk orang yang seharusnya tidak punya masalah apa pun. Tapi tatapan matanya, tajam dan menelusuri seakan menilai.
“Oh… hai,” jawab Stella sedikit canggung, tapi tetap ramah. “Nice to meet you.”
Alya hanya tersenyum tipis. “Ya… sama.”
Hening singkat. Lalu Alya menatap Stella sejenak, sebelum akhirnya berpamitan singkat ke Niken, dan berjalan pergi dengan langkah pelan tapi mantap. Begitu sosoknya menghilang di tikungan tangga, Stella menoleh ke Niken dengan alis mengernyit.
“Kenapa liatin aku gitu banget ya?”
Niken hanya mengangkat bahu. “Gak tau tuh.”
Stella masih termenung. Ia mencoba mengingat-ingat—apakah ia pernah melakukan sesuatu? Membuat masalah? Tapi sepanjang ingatannya, ia bahkan belum pernah berbincang dengan Alya sebelumnya. Dan dari cara Alya menatap… seolah Stella telah mengambil sesuatu darinya.
--
Sore itu, langit di atas kampus FKG berwarna jingga keemasan. Lapangan basket di depan gedung praktikum mulai ramai, sebagian mahasiswa berkumpul setelah kelas, melepas penat dengan canda dan obrolan ringan.
Kresna muncul dengan bola basket di tangan, memantulkannya beberapa kali dengan semangat.
“Eh, daripada bengong nunggu senja, mending kita main basket, yuk!” serunya.
Felix langsung berdiri, menggerakkan bahunya. “Fix. Tim cowok lawan cewek, siapa takut?”
“Gayamu,” Niken mencibir sambil tetap duduk di pinggir lapangan.
“Ayo!” kata Stella antusias, menyambar bola dari tangan Kresna lalu menggiringnya dengan gerakan seadanya. “Tapi aku nggak tanggung jawab kalau bolanya nyasar ke parkiran, ya.”
Mereka tertawa. Kresna menunjuk Okan yang berdiri di dekat pagar lapangan. “Kan! Ayo ikutan. Nggak seru nih tanpa si jagoan.”
Stella memutar tubuh dan melempar bola ke arah Okan. “Iya, masa udah berdiri di situ doang, nggak main juga.”
Stella menatap Okan seolah mengingatkannya pada masa lalunya. Saat ia menjadi atlet basket kebanggaan sekolahnya, kebanggaan Stella juga.
Bola memantul pelan dan berhenti di depan Okan. Ia menatapnya sebentar. Ekspresi wajahnya berubah, sekilas seperti ragu, seperti menahan sesuatu. Tangannya terulur, hampir mengambil bola itu. Tapi kemudian, seolah tersadar, ia menarik kembali tangannya dan menghela napas pelan.
“Wah, sori banget,” katanya sambil mengangkat tangan sedikit. “Baru inget, gue ada janji sama Alya sore ini.”
“Oh…” ucap Stella, cepat menyembunyikan ekspresinya. “Oke, nggak apa-apa.”
Felix yang melihat perubahan ekspresi Okan hanya diam, lalu berpura-pura mengikat tali sepatunya. Ia tahu Okan tidak sepenuhnya jujur. Okan tersenyum tipis, lalu menepuk bahu Kresna.
“Lain kali aja, ya.”
Kresna mengangguk santai. “Siap, bro.”
Okan melangkah pergi, meninggalkan lapangan dengan langkah tenang tapi ada jejak berat dalam gerak tubuhnya. Hanya Felix yang mengerti alasan di balik alasan—tentang kecelakaan itu, tentang jarak yang ia bangun antara dirinya dan basket sejak saat itu.
Dan Stella, yang menatap punggung Okan menjauh, tak bisa menahan rasa aneh yang mengendap. Ada sesuatu yang tak ia pahami dari sikap Okan… sesuatu yang terasa lebih dalam dari sekadar "janji sore bersama pacar."
Other Stories
The Fault
Sebuah pertemuan selalu berakhir dengan perpisahan. Sebuah awalan selalu memiliki akhiran. ...
Hati Yang Beku
Jasmine menatap hamparan metropolitan dari lantai tiga kostannya. Kerlap-kerlip ibukota ...
Cahaya Dalam Ketidakmungkinan
Nara pernah punya segalanya—hidup yang tampak sempurna, bahagia tanpa cela. Hingga suatu ...
Love Falls With The Rain In Mentaya
Di tepian Pinggiran Sungai Mentaya, hujan selalu membawa cerita. Arga, seorang penulis pen ...
Seribu Wajah Venus
Kisah-kisah kehidupan manusia yang kuat, mandiri, dan tegar dalam menghadapi persoalan hid ...
Autumns Journey
Akhirnya, Henri tiba juga di lantai sepuluh Apartemen Thamrin. Seluruh badannya terasa p ...