The Wedding
Stella duduk di ayunan rumah Niken sambil memainkan cincin di jari manisnya, senyum-senyum sendiri. Niken yang duduk di depan meja rias sambil mengoles skincare, melirik lewat cermin.
“Udah berapa kali senyum sendiri, Mbak Tunangan?” goda Niken.
Stella menutup wajahnya dengan bantal. “Aku malu banget sumpah. Gak nyangka aja.”
Kresna datang sambil membawa dua gelas minuman, satu ditaruh di meja dekat Stella. “Malu tapi seneng, kan?”
“Banget...” jawab Stella pelan, lalu mengangkat wajahnya, menatap dua sahabatnya, “Gila ya... dulu aku benci banget sama dia. Sekarang malah jadi calon suami.”
Niken ngakak. “Makanya, aku tuh udah bilang dari dulu: Fandi tuh ganteng!”
“Ganteng doang? Nope. He’s hot,” kata Stella sambil pasang wajah sok malu dan kembali nutup wajah pakai bantal. Kresna langsung batuk-batuk pura-pura, Niken tertawa terpingkal-pingkal.
Tapi tawa itu mereda saat Stella menghela napas.
“Tapi aku bingung banget... bilang ke Okan gimana. Dia masih sering chat, masih nanya-nanya kabar...”
“Aku tahu dia udah beda, aku tahu dia gak pernah bilang langsung. Tapi tetap aja, aku gak enak.”
Kresna dan Niken saling pandang.
“Ya gak harus kamu yang ngomong,” kata Kresna tiba-tiba, “Besok aku aja yang anterin undangan ke dia.”
Stella menoleh cepat. “Serius, Kres?”
“Serius. Aku yang anter. Aku temennya juga, aku bisa kasih tahu pelan-pelan. Biar kamu gak merasa bersalah atau kepikiran.”
Stella menatap Kresna lama, lalu mengangguk pelan.
“Makasih ya... Kres, Ken. Kalian berdua beneran the best lah.”
Niken langsung memeluk Stella dari samping. “Udah siap jadi nyonya dokter ganteng?”
“Hot, Ken. Dokter hot,” sahut Stella sambil ketawa, akhirnya merasa sedikit lebih tenang.
--
Senja di sebuah kedai kopi dekat rumah sakit.
Reiza sudah duduk duluan, masih pakai scrubs setengah dilepas dan digulung ke lengan. Ia melirik jam tangannya lalu menoleh saat Fandi datang dengan dua gelas kopi di tangan.
“Wih, tumben lo yang dateng duluan dan langsung bawain kopi. Ada angin apa, Fan?” godanya.
Fandi duduk di seberangnya, menyerahkan kopi sambil tersenyum kecil.
“Gue udah lamar Stella.”
Reiza terdiam beberapa detik. Matanya membesar. “Wait, what? Serius?”
Fandi mengangguk, tak bisa menyembunyikan senyum kaku bercampur gugupnya. “Resmi. Udah lamar, udah diterima.”
“Gila lo,” Reiza tertawa dan menepuk-nepuk meja, “Gue gak nyangka. Tapi kok ya pas banget. Dari dulu gue ngerasa ada ‘apa-apa’ di antara kalian berdua.”
Fandi nyeruput kopinya, lalu menatap Reiza serius.
“Gue tahu... gue telat. Mungkin dulu Stella gak akan pernah lihat gue kayak sekarang. Tapi sejak kehilangan Roni, sejak semua kekosongan itu, gue lihat Stella yang bertahan, dan gue jadi pengen ada di sisinya.”
Reiza menatapnya dengan senyum yang perlahan menjadi hangat.
“Gue bisa lihat itu, Fan. Lo beda sekarang. Lo lebih lembut... tapi tetap lo.”
Fandi mengangguk pelan.
“Gue gak mau nunggu lama juga. Gue pengen bangun keluarga. Dan Stella... dia orang yang bikin gue pengen pulang, bikin gue berani mikirin rumah.”
Reiza terdiam sejenak sebelum akhirnya berkata:
“Kalau lo bisa bikin dia bahagia, jagain senyumnya, dan jadi tempat dia pulang... gue dukung, Fan. Selalu.”
Fandi menatap sahabatnya dan tersenyum kecil. “Makasih, Za.”
“Tapi janji satu hal,” ujar Reiza sambil menunjuk ke Fandi, “Kalau lo bikin dia nangis, gue gak peduli lo sahabat atau bukan. Gue yang turun tangan.”
Fandi tertawa. “Lo pikir gue gak takut lo? Gue lebih takut Stella nangis karena gue.”
Mereka berdua tertawa, lalu diam sebentar, menikmati senja yang mulai memerah.
Reiza mengangkat gelas kopinya.
“To Stella. Dan lo. Calon suami sah yang paling gak diduga-duga.”
Fandi mengangkat gelasnya, membenturkan pelan.
“To Stella.”
--
Sore itu, Okan baru saja memarkir motornya di halaman rumah. Debu tipis menempel di helm yang langsung ia lepas, meletakkannya di atas jok. Langkahnya lelah, bahunya jatuh. Hari itu pasien datang bertubi-tubi di klinik. Ia hanya ingin istirahat.
Tapi matanya menangkap sesuatu di rak sepatu depan pintu. Sebuah amplop putih krem dengan tulisan tangan formal:
Kepada Yth.
drg. Okan Pradipta
Tanpa ada catatan lain.
Okan mengerutkan kening. Ia membalik amplop itu. Tidak ada pengirim. Tapi surat itu rapi, wangi samar seperti bunga melati. Ia mengambil ponsel. Ada pesan dari Kresna beberapa jam lalu.
Kresna:
“Bro, tadi aku taruh undangan di rak sepatumu ya. Aman.”
Hanya itu. Tidak ada penjelasan lebih. Undangan apa?
Dengan pelan, ia membuka amplopnya. Dan begitu membaca nama yang tertera di dalam, detak jantungnya seolah berhenti sejenak.
________________________________________
Dengan memohon rahmat Tuhan Yang Maha Esa,
kami bermaksud menyelenggarakan pernikahan putra-putri kami:
drg. Stellananda Chandra Putri
&
dr. Fandi Kurniawan Hasto
________________________________________
Jantung Okan berdegup keras. Matanya terpaku. Jari-jarinya menggenggam erat undangan itu. Dunia di sekelilingnya terasa membisu, meski suara burung sore dan motor lewat masih ada di kejauhan.
Ia terduduk di anak tangga depan rumah. Tak sadar, ia mengembuskan napas panjang, seperti mencoba mengusir sesak di dadanya.
Stella. Dan Fandi.
Bukan hanya temannya. Tapi orang yang dulu pernah sangat ia harapkan. Yang sempat ia kira… masih ada ruang.
Okan tertawa miris.
“Jadi ini alasannya kenapa akhir-akhir ini dia selalu senyum-senyum di story…”
“Aku telat lagi.”
Tangannya meremas undangan itu pelan, tapi tak sampai merusaknya. Masih ada sesuatu yang terlalu berharga di dalamnya, walau rasanya perih. Ia tatap kembali nama Stella. Nama yang sudah ia simpan terlalu lama dalam hati.
Galau? Jelas.
Tapi lebih dari itu—Okan benar-benar merasa kehilangan…walau sejak awal, mungkin memang bukan miliknya.
--
Di sebuah ruangan dengan beberapa cahaya lampu rias, Stella tampak cantik dengan polesan make up di wajahnya. Kebaya putih melekat di badannya. Ria dan Niken tampak antusias menghampiri sahabatnya itu.
Sementara itu di luar, sebuah taman dengan dekorasi pernikahan yang elegan, semua tamu sudah duduk bersiap menyaksikan prosesi akad nikah. Reiza dengan pakaian beskap berwarna hijau emerald tampak duduk di kursi saksi dengan senyum yang sesekali mengembang di wajahnya. Hari ini kedua sahabatnya akan menikah, dan ia yang akan menjadi saksinya. Pak Chandra, ayah Stella duduk di samping penghulu yang sudah hadir. Sesekali ia merapikan bajunya yang sebenarnya sudah rapi. Ia tampak tegang, hari ini akan menikahkan putrinya. Fandi, salah satu bintang utama hari ini juga tidak kalah tegang. Dengan beskap berwarna putih dan blangkon di kepalanya ia tampak begitu tampan. Penghulu mulai membuka acara.
Stella di ruang rias tak kalah nervous. Ia menggenggam tangan Ria dan Niken.
“Ri, Ken. Deg-degan banget nih aku. Sumpah nih aku beneran nikah?”, keluh Stella.
“Udah rileks aja. Tuh Fandi yang seharusnya lebih deg-degan”, Ria mencoba menenangkan.
Prosesi akad nikah segera dimulai. Pak Chandra menjabat tangan Fandi dengan mantap.
“Saya nikahkan anak kandung saya Stellananda Chandra Putri dengan engkau Fandi Kurniawan Putra dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan logam mulia seberat sepuluh gram dibayar tunai”
“ Saya terima nikahnya Stellananda Chandra Putri binti bapak Chandra Hakim dengan mas kawin tersebut tunai”, ucap Fandi dalam satu nafas.
“Bagaimana saksi? Sah?”, tanya sang penghulu.
“Sah!”, para saksi kompak menjawab.
Semua tamu undangan tampak lega dan berbahagia. Stella dan Fandi kini resmi menjadi pasangan suami istri.
Stella berjalan dengan Niken dan Ria disampingnya. Semua tamu undangan menoleh ke pengantin wanita. Beberapa tampak menggunakan ponselnya untuk mengabadikan momen ini.
“Ken, aku malu banget nih ketemu mas Fandi”, bisik Stella.
“Dih apaan malu. Kayak baru ketemu aja”, bisik Niken. Sementara Ria hanya tersenyum.
Stella menatap satu-persatu orang di depannya. Reiza yang tersenyum lebar, orang tua dan adiknya, Tama yang tampak terharu, serta teman-temannya. Dengan jantung berdebar ia menatap Fandi yang kini telah menjadi suaminya. Lelaki itu tampak tersenyum menyambut Stella. Sesekali ia mengusap matanya yang berbinar menahan tangis. Rasanya Fandi masih tidak percaya, wanita yang dahulu diam-diam ia cintai itu kini menjadi istrinya.
Sementara itu di depan cermin dekorasi bertuliskan Stella & Fandi, Okan terdiam melihat pantulan dirinya yang mengenakan kemeja bermotif batik. Pandangannya lalu berpindah ke arah Stella yang sedang tersenyum menatap Fandi. Semua orang di tempat itu tampak bahagia. Kecuali, dirinya. Okan melangkahkan kakinya. Bukan untuk bergabung bersama para tamu, melainkan meninggalkan tempat itu. Dadanya terlalu sesak untuk menyaksikan moment ini. Wanita yang ia cintai, ia usahakan, bahkan ia tunggu bertahun-tahun kini resmi menjadi istri orang lain.
Stella kini duduk di pelaminan, bersanding dengan Fandi. Di hadapan mereka, para tamu datang silih berganti mengucapkan selamat, membawakan senyuman dan pelukan hangat. Fandi menggenggam tangan Stella erat, seolah tak ingin melepasnya barang sedetik. Sesekali mereka saling pandang dan tersenyum—masih terpesona dengan kenyataan bahwa hari ini mereka telah menjadi suami istri.
Di tengah kebahagiaan itu, Stella sempat menoleh ke arah pintu masuk, berharap sekilas bisa melihat Okan. Tapi yang ia temukan hanya deretan tamu yang tak dikenalnya. Ia menatap Niken yang kini hanya bersama Kresna dan Felix yang menyempatkan datang dari Surabaya. Tanpa Okan di sana. Ia menarik napas, mencoba mengusir perasaan ganjil yang sempat singgah. Hari ini bukan untuk kesedihan, batinnya. Hari ini adalah tentang bahagia.
Tak lama kemudian, Reiza datang menghampiri mereka di pelaminan. Ia menyodorkan tangan ke Fandi dan Stella.
"Selamat ya, kalian berdua," ucap Reiza tulus, "akhirnya juga ya, Fan. Gak sia-sia kamu sabar."
Fandi tertawa, lalu menepuk bahu Reiza, “Lo saksi hidup, Za.”
Mereka bertiga saling pandang sejenak, lalu tertawa. Tawa lega. Tawa penuh syukur.
Dari kejauhan, Niken dan Kresna bersama Felix. Niken yang sedari tadi tak bisa berhenti senyum, menyikut pelan lengan Kresna.
“Gila ya, inget gak dulu Stella tuh benci banget sama Fandi?”
Kresna tertawa kecil, “Iya, dulu katanya Fandi itu nyebelin, sok pinter, suka ngegas... Sekarang? Jadi suaminya.”
“Fix. Dunia berputar,” balas Niken sambil terkekeh.
Di antara tamu, Tama si adik Fandi dengan sigap membantu fotografer membagikan bunga untuk foto bersama. Ia berlari-lari kecil ke sana-sini, penuh semangat.
“Eh Kak!” serunya pada Stella saat mendekat, “Seneng banget akhirnya kalian nikah. Tapi Kak Lala janji ya, Mas Fandi jangan diomelin kayak kalau ngomelin aku.”
Semua tertawa mendengar celetuk polos Tama.
Hari mulai berganti senja. Langit perlahan berubah jingga. Lampu-lampu taman menyala satu per satu, menambah hangat suasana. Musik pelan mengalun, membawa nostalgia. Band Skylight kembali tampil—kali ini hanya formasi kecil. Raka memetik gitar, Bayu duduk di cajon, dan Stella berdiri memegang biola.
Fandi berdiri di bawah panggung kecil, menatap istrinya yang tengah memainkan biola dengan mata terpejam. Saat lagu itu berakhir, Stella membuka mata dan tersenyum ke arahnya.
Hari itu, tak ada yang lebih sempurna bagi Fandi. Tak ada yang lebih damai bagi Stella. Dua hati yang dulu saling menjauh karena luka, kini bersatu dalam ikatan yang suci.
Dan meski tidak semua orang di tempat itu benar-benar bahagia hari ini, cinta tetap menang.
Hari itu, cinta menang.
--
Di kamar pengantin yang temaram dengan cahaya lampu kuning redup, Stella dan Fandi duduk bersisian di atas ranjang yang telah dihias bunga-bunga dan kelambu putih lembut. Keduanya masih dalam balutan pakaian adat pengantin yang kini sedikit berantakan karena hari panjang yang melelahkan.
Suasana sempat canggung. Stella menatap jari-jarinya, sesekali melirik Fandi yang duduk diam di sampingnya.
“Mas...” suara Stella pelan, “kita beneran nikah ya?”
Fandi menoleh sambil tersenyum. “Kayaknya iya. Buktinya kamu sekarang udah sah sekamar sama aku.”
Stella tertawa kecil, lalu menunduk lagi. “Aneh banget ya... barusan masih nangis pas akad, sekarang kita... di sini.”
Fandi tertawa pelan. Ia menggeser duduknya sedikit lebih dekat. “Kalau kamu canggung, bilang aja. Nanti aku keluar dulu, kasih waktu kamu tenang.”
Stella menggeleng. “Enggak. Aku cuma...” Ia menarik napas. “Mas, makasih ya udah ajakin aku nikah.”
Fandi menatapnya dalam. “Aku yang makasih. Kamu mau nerima aku.”
Stella tersenyum, lalu berkata pelan, nyaris berbisik, “Aku tuh... senang. Karena kalau aku kangen, sekarang nggak perlu nunggu dibales chat, nggak perlu video call, nggak perlu nungguin kabar... karena kamu ada. Di rumah. Tiap hari.”
Fandi mengulurkan tangan, menggenggam tangan Stella dengan hangat. “Dan kamu juga. Kamu rumahku, Stel. Tempat aku pulang.”
“Eh tapi aku udah siapin mental sih harus nahan kangen soalnya kamu masih residen”, lanjut Stella.
“Haha iya. Makasih ya”
Keduanya tersenyum dalam keheningan yang manis. Lalu Fandi berkata, “Tapi kayaknya aku boleh jujur ya.”
“Apa?”
“Dari tadi aku mikir... kamu tuh cantik banget hari ini. Tapi sekarang malah makin cantik.”
Stella memukul bahu Fandi pelan sambil tertawa malu. “Gombal!”
“Lho, itu testimoni jujur dari suami sendiri.”
Stella mengangguk pelan. “Suami ya... Kedengeran aneh tapi enak.”
“Dan kamu istri. Nggak ada yang lebih enak dari itu.”
Malam pun berjalan dengan penuh tawa, candaan ringan, dan kehangatan dua hati yang akhirnya bersatu setelah perjalanan panjang.
--
Pagi itu matahari menembus tirai jendela apartemen yang sederhana namun hangat. Stella baru saja selesai menyiapkan sarapan sederhana: roti panggang dan telur mata sapi. Aroma kopi menguar dari dapur kecil, menyatu dengan suasana pagi yang damai.
Fandi sudah rapi dengan kemeja biru muda dan celana bahan hitam, siap berangkat ke rumah sakit. Ia mengenakan jam tangan sambil menatap cermin, lalu melirik ke arah Stella yang duduk di sofa dengan piyama dan rambut masih sedikit acak-acakan.
“Sayang, aku berangkat dulu, ya?” ucap Fandi sambil mengambil tas kerjanya.
Namun langkahnya terhenti ketika Stella tiba-tiba bangkit, berdiri di depan pintu sambil bersedekap. Tatapannya serius namun matanya berbinar jahil.
“Gak boleh,” katanya.
Fandi mengerutkan kening, “Lho, kenapa gak boleh?”
“Aku masih kangen,” jawab Stella sambil cemberut. “Baru juga dua hari nikah, pagi-pagi udah ditinggal kerja. Aku juga gak rela kamu dipandangin sama perawat, dokter cewek, pasien. Sementar aku.. harus sabar sampai nanti malem”
“Apa sih kamu nih”
Fandi tertawa, berusaha membuka pintu tapi Stella lebih dulu memutar kunci dan menyembunyikannya di balik bantal sofa.
“Stel, aku ada diskusi pagi. Kalau telat nanti dimarahin konsulen,” kata Fandi sambil menahan senyum.
“Tanggung jawab suami juga kan membahagiakan istri.” Stella melipat tangan di dada. “Dan saat ini, istrimu butuh kamu di rumah.”
Fandi mendekat, mencubit pipi Stella pelan. “Aduh, manja banget. Ini pasti efek honeymoon belum habis.”
Stella menunduk lalu memeluk Fandi dari depan. “Iya... soalnya enak banget bisa bangun dan langsung lihat kamu. Rasanya belum rela aja kamu pergi. Pagi gini harusnya masih pelukan.”
Fandi menghela napas, lalu membalas pelukannya sebentar. “
Akhirnya Fandi menyerah duduk di sofa. “Oke, 10 menit lagi. Tapi setelah itu, aku harus pergi.”
Stella tertawa menang dan langsung duduk di pangkuan suaminya. “Deal. Tapi kamu harus gantiin waktu yang hilang nanti malam.”
Fandi tertawa kecil. “Istri siapa sih ini, manja banget...”
“Kan istri kamu,” balas Stella sambil menyandarkan kepalanya di dada Fandi, menikmati pagi sebagai pasangan suami istri yang mulai membangun rumah kecilnya dimulai dari apartemen sempit dan cinta yang besar.
Other Stories
Cinta Buta
Marthy jatuh cinta pada Edo yang dikenalnya lewat media sosial dan rela berkorban meski be ...
Deru Suara Kagum
Perlahan keadaan mulai berubah. Pertemuan-pertemuan sederhana, duduk berdekatan , atau sek ...
Kating Modus!
Kisah seorang pemuda yang mengikuti organisasi internal di kampusnya. Ia diberi mandat ole ...
Jatuh Untuk Tumbuh
Layaknya pohon yang meranggas saat kemarau panjang, daunnya perlahan jatuh, terinjak, bahk ...
Testing
testing ...
Hikayat Cinta
Irna tumbuh dalam keyakinan bahwa cinta adalah sesuatu yang harus ditemukan—pada seseora ...