Bangkit Dari Luka

Reads
1.3K
Votes
1
Parts
10
Vote
Report
Penulis Moycha Zia

Chapter 4 Tekad Sang Almira


Almira kembali ke rumah, kehidupannya terasa seperti reruntuhan. Rambutnya basah, gaun mahalnya lusuh, dan riasan di wajahnya luntur oleh air mata. Ia tidak lagi peduli dengan penampilannya. Hatinya jauh lebih hancur dari sekadar gaun dan riasan.

Di ruang tamu, Tuan dan Nyonya Brata sedang menikmati teh. Dito duduk di sofa lain, bermain ponsel. Mereka melihat Almira, namun tidak ada yang bertanya apa yang terjadi. Mereka hanya melirik, lalu kembali ke kesibukan masing-masing.

Almira berdiri di depan mereka, dadanya terasa sesak. Ia harus melakukannya. Ia harus bicara, "Ayah .. Ibu .." suaranya serak.

Tuan Brata mendongak, alisnya bertaut, "Ada apa, Almira? Jangan berbuat onar. Tamu-tamu sudah pulang."

"Aku tidak berbuat onar," kata Almira, suaranya mulai naik, "Aku cuma mau tanya, kenapa? Kenapa kalian membenciku sebegitu dalam? Kenapa?"

Nyonya Brata meletakkan cangkirnya dengan kasar, "Apa-apaan ini? Tiba-tiba kamu jadi sok dramatis. Bukankah dari dulu sudah jelas? Kau itu anak pembawa sial! Kau aib keluarga ini!"

Kata-kata itu bagai racun yang menyebar di nadinya. Almira tidak bisa lagi menahannya, "Aib? Aku yang aib, atau kalian yang tidak pernah mau menerimaku?" Ia menatap satu per satu, "Ayah! Aku ini putri kandungmu! Apa salahku? Kenapa kalian begitu jahat padaku?"

Tuan Brata bangkit, wajahnya memerah, "Jaga bicaramu! Jangan berani-beraninya kamu meninggikan suaramu di depanku! Aku sudah beri kamu segalanya! Harta, rumah mewah, pendidikan terbaik. Apa lagi yang kamu mau?!"

Air mata Almira kembali mengalir, kali ini bukan karena kesedihan, melainkan amarah yang meledak, "Harta? Pendidikan? Kalian pikir itu cukup? Aku tidak butuh itu semua! Aku hanya butuh kasih sayang! Setitik saja! Kenapa kalian tidak pernah bisa memberikannya?!"

"Hentikan drama ini," Dito akhirnya angkat bicara, matanya dingin dan meremehkan, "Kau pikir dunia hanya berputar di sekitarmu? Kami sudah muak denganmu. Kami sudah muak harus berpura-pura di depan orang lain seolah kau bagian dari keluarga ini. Tapi pada kenyataannya, kau bukan siapa-siapa."

Almira menatap Dito, lalu beralih ke Ayah dan Ibunya. Ia akhirnya mengerti. Bukan karena melakukan kesalahan, tapi karena mereka memang tidak pernah menginginkannya.

"Cukup," kata Almira, suaranya kini tenang, namun penuh tekad. Ia menyeka air matanya dengan punggung tangan, "Kalian benar. Aku memang bukan siapa-siapa di keluarga ini."

"Bagus kalau kamu sadar," sahut Nyonya Brata sinis.

Almira mengangguk, sorot matanya berubah. Dari sorot mata yang penuh harap, kini menjadi sorot mata yang dingin dan mematikan.

"Mulai sekarang, aku bukan lagi Almira Brata Qeenza. Aku bukan lagi putri kalian. Aku bukan lagi adikmu, Dito," katanya, dengan setiap kata terucap penuh ketegasan, "Karena sebuah keluarga tidak diukur dari nama yang sama. Sebuah keluarga diukur dari cinta. Dan kalian tidak punya itu. Aku sudah selesai berharap. Aku sudah selesai menjadi boneka kalian."

Tuan Brata dan Nyonya Brata terkejut melihat perubahan pada diri Almira. Mereka melihat api di matanya, api yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.

"Mulai hari ini, aku akan pergi. Aku akan tunjukkan pada kalian dan dunia, bahwa aku bisa berdiri di kakiku sendiri," lanjut Almira, "Tanpa harta kalian. Tanpa nama kalian. Dan yang paling penting, tanpa kasih sayang kalian yang tidak pernah ada."

Almira berbalik, menaiki tangga. Ia mengambil koper kecilnya, memasukkan beberapa pakaian dan dokumen penting. Ia menatap kamar mewah itu untuk terakhir kalinya, tidak dengan penyesalan, melainkan dengan perasaan lega. Ia menulis sebuah pesan di secarik kertas.

“Aku tidak akan pulang. Karena rumah bukanlah sebuah bangunan, melainkan hati tempat kita bisa merasa aman. Dan hati kalian, bukan rumahku.”

Dengan langkah mantap, Almira meninggalkan rumah yang terasa seperti neraka membawa tekad yang membara di dalam hatinya. Ia pergi, bukan untuk lari, tapi untuk bangkit.

Almira pergi bukan untuk menyerah, tapi untuk memulai hidup baru. Sebuah kehidupan yang akan membuktikan bahwa ia bisa menjadi Ratu, tanpa harus dilahirkan di singgasana.

Other Stories
Anak Singkong

Sebuah tim e-sport dari desa, "Anak Singkong", mengguncang panggung nasional. Dengan strat ...

DARAH NAGA

Handoyo, harus menjaga portal yang terbuka agar mahkluk dunia fantasy tidak masuk ke bumi. ...

After Meet You

kacamata hitam milik pria itu berkilat tertimpa cahaya keemasan, sang mata dewa nyaris t ...

Nina Bobo ( Halusinada )

JAM DINDING menunjukkan pukul 12 lewat. Nina kini terlihat tidur sendiri. Suasana sunyi. S ...

Queen, The Last Dance

Di panggung megah, di tengah sorak sorai penonton yang mengelu-elukan namanya, ada air mat ...

Mak Comblang Jatuh Cinta

“Miko!!” satu gumpalan kertas mendarat tepat di wajah Miko seiring teriakan nyaring ...

Download Titik & Koma