Chapter 7 Langkah Pertama Menuju Kesuksesan
Hari-hari berlalu. Almira mulai terbiasa dengan kehidupan barunya. Ia bekerja paruh waktu di sebuah kafe kecil, tempat yang sama di mana Maya bekerja sebagai barista.
Di sana, ia belajar membuat kopi, menyapa pelanggan, dan paling penting belajar tersenyum dengan tulus. Bukan senyuman yang dipaksakan di depan kamera, melainkan senyuman dari hati yang perlahan pulih.
Suatu sore, saat kafe sepi, Almira dan Maya duduk bersama, ditemani secangkir kopi hangat.
"Mir, kamu itu pintar," kata Maya tiba-tiba, "Aku lihat kamu sering baca buku digital marketing. Kamu punya bakat di situ."
Almira tersenyum, "Cuma iseng, May. Dulu waktu di rumah, aku sering baca. Tapi mana mungkin aku bisa jadi apa-apa sekarang? Aku kan cuma lulusan SMA."
"Hei, dengerin aku," Maya menatap Almira dengan serius, "Sukses itu bukan tentang selembar ijazah. Sukses itu tentang kemauan. Kamu punya kemauan yang besar, Mir. Aku lihat itu di matamu. Kamu punya api di sana."
"Api yang hampir padam," lirih Almira.
"Justru itu! Sekarang saatnya kamu nyalakan lagi," kata Maya penuh semangat, "Banyak kok, yang sukses dari nol. Mereka belajar otodidak. Kamu bisa mulai dari sana. Kamu bisa ambil proyek-proyek kecil. Lumayan kan buat nambahin uang jajan."
Kata-kata Maya bagai percikan api yang menyentuh sumbu yang hampir padam di hati Almira, "Aku tidak tahu harus mulai dari mana."
"Gampang! Kita mulai sekarang," Maya mengeluarkan ponselnya, "Aku punya beberapa kenalan yang butuh jasa digital marketing untuk usaha kecil mereka. Kita bisa coba tawarkan jasamu. Gratis dulu sebagai portofolio."
Almira ragu, "Hm, Apa aku bisa?"
"Tentu saja bisa," Maya tersenyum tulus, "Karena di dunia ini, tidak ada yang lebih kuat dari hati yang hancur, dan berani untuk mencoba bangkit. Kamu sudah jatuh, Mir. Sekarang satu-satunya pilihan adalah berdiri tegak dan terbang. Tidak ada jalan lain."
Dengan bimbingan Maya, Almira mulai mengambil proyek pertamanya. Sebuah akun Instagram untuk toko kue kecil. Ia bekerja keras.
Malam-malam yang dulu ia habiskan untuk menangis, kini ia habiskan untuk belajar, merancang konten, dan menganalisis data. Ia belajar bahwa kerja keras adalah satu-satunya bahasa yang dipahami oleh kesuksesan.
Suatu malam, Almira dan Maya melihat hasil kerja mereka. Akun Instagram toko kue itu mengalami lonjakan follower dan penjualan. Pemiliknya mengirimkan pesan, lalu mengucapkan terima kasih tak terhingga atas kerja keras Almira.
"Kita berhasil, May," bisik Almira, matanya berkaca-kaca.
"Kita berhasil," ulang Maya, ikut terharu.
Almira menatap Maya, air matanya tumpah. Bukan air mata kesedihan, melainkan kebahagiaan yang murni. "Maya, terima kasih. Kamu tidak hanya memberiku pekerjaan. Kamu memberiku kepercayaan. Kamu mengajariku bahwa hidup itu seperti kopi. Rasanya pahit di awal, tapi kalau kita tahu cara meraciknya hasilnya akan manis."
"Bukan aku, Mir," jawab Maya, mengusap bahu Almira, "Kamu sendiri yang meraciknya. Aku cuma memberimu cangkir kosong. Kamu yang mengisinya dengan kerja keras, keberanian, dan air mata."
Almira mengangguk, mengusap air matanya. Ia akhirnya tahu, bahwa tidak butuh nama besar, harta berlimpah, atau pengakuan dari keluarganya.
Ia hanya butuh satu hal, yaitu keyakinan pada dirinya sendiri. Dan keyakinan itu, perlahan namun pasti, mulai tumbuh di hati Almira. Ini adalah langkah pertamanya, langkah kecil yang akan membawanya terbang jauh lebih tinggi dari bayangan keluarganya.
Di sana, ia belajar membuat kopi, menyapa pelanggan, dan paling penting belajar tersenyum dengan tulus. Bukan senyuman yang dipaksakan di depan kamera, melainkan senyuman dari hati yang perlahan pulih.
Suatu sore, saat kafe sepi, Almira dan Maya duduk bersama, ditemani secangkir kopi hangat.
"Mir, kamu itu pintar," kata Maya tiba-tiba, "Aku lihat kamu sering baca buku digital marketing. Kamu punya bakat di situ."
Almira tersenyum, "Cuma iseng, May. Dulu waktu di rumah, aku sering baca. Tapi mana mungkin aku bisa jadi apa-apa sekarang? Aku kan cuma lulusan SMA."
"Hei, dengerin aku," Maya menatap Almira dengan serius, "Sukses itu bukan tentang selembar ijazah. Sukses itu tentang kemauan. Kamu punya kemauan yang besar, Mir. Aku lihat itu di matamu. Kamu punya api di sana."
"Api yang hampir padam," lirih Almira.
"Justru itu! Sekarang saatnya kamu nyalakan lagi," kata Maya penuh semangat, "Banyak kok, yang sukses dari nol. Mereka belajar otodidak. Kamu bisa mulai dari sana. Kamu bisa ambil proyek-proyek kecil. Lumayan kan buat nambahin uang jajan."
Kata-kata Maya bagai percikan api yang menyentuh sumbu yang hampir padam di hati Almira, "Aku tidak tahu harus mulai dari mana."
"Gampang! Kita mulai sekarang," Maya mengeluarkan ponselnya, "Aku punya beberapa kenalan yang butuh jasa digital marketing untuk usaha kecil mereka. Kita bisa coba tawarkan jasamu. Gratis dulu sebagai portofolio."
Almira ragu, "Hm, Apa aku bisa?"
"Tentu saja bisa," Maya tersenyum tulus, "Karena di dunia ini, tidak ada yang lebih kuat dari hati yang hancur, dan berani untuk mencoba bangkit. Kamu sudah jatuh, Mir. Sekarang satu-satunya pilihan adalah berdiri tegak dan terbang. Tidak ada jalan lain."
Dengan bimbingan Maya, Almira mulai mengambil proyek pertamanya. Sebuah akun Instagram untuk toko kue kecil. Ia bekerja keras.
Malam-malam yang dulu ia habiskan untuk menangis, kini ia habiskan untuk belajar, merancang konten, dan menganalisis data. Ia belajar bahwa kerja keras adalah satu-satunya bahasa yang dipahami oleh kesuksesan.
Suatu malam, Almira dan Maya melihat hasil kerja mereka. Akun Instagram toko kue itu mengalami lonjakan follower dan penjualan. Pemiliknya mengirimkan pesan, lalu mengucapkan terima kasih tak terhingga atas kerja keras Almira.
"Kita berhasil, May," bisik Almira, matanya berkaca-kaca.
"Kita berhasil," ulang Maya, ikut terharu.
Almira menatap Maya, air matanya tumpah. Bukan air mata kesedihan, melainkan kebahagiaan yang murni. "Maya, terima kasih. Kamu tidak hanya memberiku pekerjaan. Kamu memberiku kepercayaan. Kamu mengajariku bahwa hidup itu seperti kopi. Rasanya pahit di awal, tapi kalau kita tahu cara meraciknya hasilnya akan manis."
"Bukan aku, Mir," jawab Maya, mengusap bahu Almira, "Kamu sendiri yang meraciknya. Aku cuma memberimu cangkir kosong. Kamu yang mengisinya dengan kerja keras, keberanian, dan air mata."
Almira mengangguk, mengusap air matanya. Ia akhirnya tahu, bahwa tidak butuh nama besar, harta berlimpah, atau pengakuan dari keluarganya.
Ia hanya butuh satu hal, yaitu keyakinan pada dirinya sendiri. Dan keyakinan itu, perlahan namun pasti, mulai tumbuh di hati Almira. Ini adalah langkah pertamanya, langkah kecil yang akan membawanya terbang jauh lebih tinggi dari bayangan keluarganya.
Other Stories
Kasih Ibu #1 ( Hhalusinada )
pengorbanan seorang ibu untuk putranya, Angga, yang memiliki penyakit skizofrenia. Ibu rel ...
Kepingan Hati Alisa
Di sebuah rumah sederhana, seorang wanita paruh baya berkerudung hitam, berbincang agak ...
Menantimu
Sejak dikhianati Beno, ia memilih jalan kelam menjajakan tubuh demi pelarian. Hingga Raka ...
Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster
Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...
Aparar Keparat
aparat memang keparat ...
Aku Pamit Mencari Jati Diri??
Seorang anak kecil yang pernah mengalami perlakuan tidak mengenakan dalam hidupnya. Akibat ...