Bangkit Dari Luka

Reads
1.3K
Votes
1
Parts
10
Vote
Report
Bangkit dari luka
Bangkit Dari Luka
Penulis Moycha Zia

Chapter 10 Kebangkitan Almira

Setelah pidatonya selesai, Almira dikerumuni banyak orang. Para pebisnis mendekat untuk mengucapkan selamat dan menjalin relasi. Di antara kerumunan itu, Tuan Brata dan Dito berusaha mendekatinya. Almira melihat mereka, namun ia berpura-pura tidak menyadari kehadiran mereka.

"Almira!" panggil Tuan Brata, suaranya terdengar tidak sabar.

Almira menoleh, tatapannya datar, "Maaf, Bapak siapa?"

Wajah Tuan Brata memucat. Dito maju, mencoba menahan emosinya, "Ini Papa, Mir! Kenapa kamu pura-pura tidak kenal?"

"Maaf, saya tidak punya Papa," jawab Almira, suaranya tenang, "Ayah saya sudah meninggal sejak lama. Saya hanya punya satu orang tua, Ibu Ratih, dan dia selalu ada untuk saya."



DUAR!!


Kata-kata Almira bagai tamparan keras di wajah mereka. Tuan Brata mencoba meraih tangan Almira, tapi Almira menjauh.
"Almira, Nak. Maafkan Papa," suara Tuan Brata bergetar. "Papa tidak tahu kalau kamu akan bisa sesukses ini."

Almira tertawa sinis, "Maaf? Maaf untuk apa? Maaf karena kalian membuangku? Maaf karena kalian menghancurkanku? Maaf karena kalian hanya kembali saat melihatku sukses?"

Dito maju, mencoba membela diri, "Kami tidak tahu, Mir! Kami pikir kamu hanya anak manja yang tidak bisa apa-apa tanpa kami. Kami bangga sama kamu."

"Bangga?" Almira menatap Dito, matanya berkaca-kaca, namun tidak ada air mata yang jatuh, "Kalian pikir dengan mengatakan kata bangga semua luka ini akan sembuh? Kalian pikir dengan kata maaf semua pengkhianatan ini akan hilang?"

"Almira, kita ini keluarga!" Tuan Brata mencoba meyakinkannya.

"Keluarga?" Almira tersenyum sinis, "Keluarga tidak akan memperlakukan satu sama lain seperti sampah! Keluarga tidak akan membiarkan anak mereka terluka. Kalian tidak pantas disebut keluarga!"

Almira mengambil napas dalam, mencoba menenangkan dirinya. Ia melihat ke sekeliling, dan matanya bertemu dengan Maya, yang berdiri di kejauhan, tersenyum bangga padanya. Almira merasa lebih baik.

"Saya datang ke sini bukan untuk berdebat dengan kalian," kata Almira, suaranya kembali dingin, "Saya datang ke sini untuk membuktikan satu hal, bahwa saya bisa berdiri di kaki saya sendiri. Tanpa nama kalian, harta kalian, dan yang paling penting, tanpa belas kasihan kalian."

Almira melangkah menjauh, mengabaikan panggilan Tuan Brata dan Dito. Ia berjalan menuju Maya yang langsung memeluknya erat. "Kamu hebat, Mir," bisik Maya, "Kamu benar-benar luar biasa."

"Aku tidak bisa melakukan ini tanpa kamu, May," kata Almira, suaranya bergetar, "Kamu adalah keluargaku. Ibu Ratih, kamu, dan semua orang di agensi. Kalian adalah keluargaku. Bukan mereka."

Di sana, di antara keramaian konferensi, Almira akhirnya merasakan arti kata keluarga yang sesungguhnya. Ia menatap ke masa depan yang cerah, tanpa bayangan masa lalu yang kelam. Ia telah bangkit, dan siap untuk menaklukkan dunia dengan kepala tegak, dan hati yang penuh cinta, bukan lagi kebencian.

****

Almira menatap Maya, mata mereka bertemu dalam sebuah momen yang penuh makna. Air mata yang selama ini ia tahan akhirnya tumpah, namun kali ini bukan air mata kesedihan, melainkan kelegaan yang mendalam. Ia merasa seolah semua beban yang ia pikul selama bertahun-tahun akhirnya terlepas.

"Kamu pantas mendapatkan semua ini, Mir. Lebih dari pantas," bisik Maya, suaranya tulus, "Kamu sudah membuktikan bahwa harga diri lebih mahal dari harta. Bahwa ketulusan lebih berharga dari permata. Bahwa kamu bisa menciptakan takdirmu sendiri, tanpa menunggu uluran tangan siapa pun."

Almira mengangguk, isaknya masih pecah. "Aku tidak akan sampai di titik ini tanpamu, May. Kamu dan Ibu Ratih, kalian memberiku keluarga yang selama ini aku cari. Kalian tidak hanya memberiku tempat untuk pulang, tapi juga alasan untuk berjuang."

Di kejauhan, Tuan Brata dan Dito masih menatap Almira, wajah mereka dipenuhi penyesalan. Mereka melihat bukan lagi seorang anak yang bisa mereka kendalikan, melainkan seorang wanita yang berani, kuat, dan mandiri. Mereka melihat sebuah cermin yang memantulkan kegagalan mereka sebagai orang tua dan sebagai manusia.

Almira memeluk Maya dengan erat, membiarkan dirinya merasakan kehangatan yang tak pernah ia dapatkan dari keluarganya sendiri. Di pelukan itu, ia menyadari bahwa penderitaan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan sebuah babak yang harus dilalui untuk mencapai kedewasaan. Bahwa kecewa dan patah hati bukanlah hukuman, melainkan bekal untuk menjadi pribadi yang lebih kuat.

Almira melepaskan pelukan itu, mengusap air matanya. "Pulang, May," bisiknya, "Aku ingin pulang ke rumahku."

Mereka berjalan keluar dari gedung konferensi, meninggalkan gemerlap lampu dan bisik-bisik yang penuh kekaguman. Almira melangkah dengan mantap, menembus malam yang dingin. Ia tidak lagi peduli dengan apa yang orang lain pikirkan tentang dirinya. Ia hanya peduli pada satu hal, bahwa telah menemukan arti sejati dari kebahagiaan.


Kebahagiaan sejati bukanlah tentang seberapa banyak harta yang kita miliki, melainkan tentang seberapa tulus hati kita berjuang untuk menjadi versi terbaik dari diri sendiri.


Di ujung jalan, Almira menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya, menatap gedung yang menjulang tinggi, di mana ia baru saja menyampaikan pidatonya. Di sana, ia meninggalkan semua masa lalu, semua rasa sakit, dan semua luka. Ia telah memilih untuk memaafkan, bukan untuk mereka, tetapi untuk dirinya sendiri.


Karena hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan dengan kebencian. Lebih baik menggunakannya untuk membangun cinta, harapan, dan masa depan yang cerah.


Almira dan Maya masuk ke dalam mobil. Almira menyalakan mesin dan melaju. Ia tidak menuju rumah keluarga Brata yang mewah, tetapi menuju sebuah kosan sederhana, tempat di mana ia menemukan kehangatan, kasih sayang, dan arti dari sebuah keluarga yang sesungguhnya. Dan di sanalah, di tempat yang tidak pernah ia duga, Almira menemukan rumahnya.



_TAMAT_


Other Stories
Mak Comblang Jatuh Cinta

“Miko!!” satu gumpalan kertas mendarat tepat di wajah Miko seiring teriakan nyaring ...

Death Cafe

Sakti terdiam sejenak. Baginya hantu gentayangan tidak ada. Itu hanya ulah manusia usil ...

Di Bawah Langit Al-ihya

Tertulis kisah ini dengan melafazkan nama-Mu juga terbingkailah namanya. Berharap mega t ...

FILOSOFI SAMPAH (Catatan Seorang Pemulung)

Samsuri, seorang pemulung yang kehilangan istri dan anaknya akibat tragedi masa lalu, menj ...

Melupakan

Agatha Zahra gadis jangkung berwajah manis tengah memandang hujan dari balik kaca kamarn ...

Cinta Harus Bahagia

Seorang kakak yang harus membesarkan adiknya karena kematian mendadak kedua orangtuanya, b ...

Download Titik & Koma