Chapter 7 Sebuah Rahasia Dan Perjanjian
Malam semakin larut, dan Mahera tidak bisa tidur. Pikirannya terus berputar pada kata-kata Bu Haji Romlah di bawah pohon mangga. Bakso urat sebagai sumber energi, Itu sama sekali tidak masuk akal, tapi di kosan ini, hal-hal aneh menjadi normal.
Mahera bangkit, berjalan tanpa suara ke teras belakang. Ia merasa ada sesuatu yang terlewatkan.
Ia mencari-cari di sekitar area yang tadi digunakan untuk mengubur bakso. Matanya menangkap sesuatu yang tergeletak di bangku kayu, di bawah penerangan lampu teras yang redup. Sebuah buku tua, bersampul kulit kusam, tergeletak begitu saja.
Mahera mengambilnya dan melihat judulnya yang ditulis tangan dengan tinta pudar jurnal Romlah.
Dengan jantung berdebar, Mahera membuka buku itu. Halamannya sudah menguning, rapuh dimakan usia. Tulisan tangannya rapi, menceritakan kisah Bu Haji Romlah. Mahera mulai membaca, dan setiap kata yang ia baca membuka tabir misteri yang selama ini menyelimuti kosan.
Mahera berkata dalam hati, "Jurnal ini adalah cerita Bu Haji. Dia bilang, kosan ini sudah ada sejak lama, dan keluarganya adalah penjaga tempat ini. Mereka meninggal di sini, satu per satu karena sebuah penyakit aneh. Setelah itu, mereka tidak bisa meninggalkan tempat ini."
Mahera membalik halaman. Ia menemukan tulisan yang menjelaskan tentang kondisi mereka.
Isi Jurnal:
"Kami sudah tidak bisa makan. Kami tidak bisa merasakan apa-apa lagi. Kami hanya bisa merasakan energi yang tersimpan di dalam bakso urat. Bakso itu adalah pengikat kami dengan dunia ini. Tanpa itu, kami akan lenyap. Dulu, kami adalah penjaga kosan ini. Kosan ini sudah lama ada. Kami menjaga kosan ini dari musuh kami."
Mahera terbelalak, "Musuh? Siapa?" Ia membaca halaman berikutnya dengan terburu-buru, "Musuh kami adalah Hantu kelaparan. Mereka adalah jiwa-jiwa yang tidak tenang selalu haus akan energi kehidupan. Mereka akan melahap semua yang ada, termasuk kami. Kami tidak bisa melawan mereka, kami hanya bisa bertahan. Bakso urat adalah persembahan kami. Energi dari bakso itu mengusir mereka, setidaknya untuk sementara."
Mahera terdiam, napasnya tercekat. Ia baru sadar, selama ini, mereka bukan diganggu, melainkan tanpa sengaja telah berpartisipasi dalam "Operasi Bakso Urat" bagi kelangsungan hidup para hantu. Mereka bukanlah penghuni kosan, melainkan penjaga kosan. Dan mereka membutuhkan bantuan.
Tiba-tiba, Mahera mendengar suara langkah kaki dari lorong. Ia buru-buru menutup jurnal dan berpura-pura tidur. Suara langkah itu berhenti di depan kamarnya.
Mahera menahan napas. Pintu kamar Mahera terbuka perlahan. Di depannya, berdiri sesosok wanita berbaju putih dengan rambut panjang, hantu yang ia lihat di kampus. Hantu itu tidak tersenyum, matanya terlihat kosong. Hantu itu masuk, lalu menutup pintu di belakangnya. Mahera gemetar tidak bisa berkata-kata. Hantu itu menatapnya, lalu menatap jurnal di tangan Mahera.
"Jadi, kamu sudah tahu?" suara hantu itu berbisik, serak dan dingin. Mahera mengangguk pelan. Hantu itu tersenyum, "Bagus. Karena setelah ini, kamu tidak akan bisa lari."
Mahera bangkit, berjalan tanpa suara ke teras belakang. Ia merasa ada sesuatu yang terlewatkan.
Ia mencari-cari di sekitar area yang tadi digunakan untuk mengubur bakso. Matanya menangkap sesuatu yang tergeletak di bangku kayu, di bawah penerangan lampu teras yang redup. Sebuah buku tua, bersampul kulit kusam, tergeletak begitu saja.
Mahera mengambilnya dan melihat judulnya yang ditulis tangan dengan tinta pudar jurnal Romlah.
Dengan jantung berdebar, Mahera membuka buku itu. Halamannya sudah menguning, rapuh dimakan usia. Tulisan tangannya rapi, menceritakan kisah Bu Haji Romlah. Mahera mulai membaca, dan setiap kata yang ia baca membuka tabir misteri yang selama ini menyelimuti kosan.
Mahera berkata dalam hati, "Jurnal ini adalah cerita Bu Haji. Dia bilang, kosan ini sudah ada sejak lama, dan keluarganya adalah penjaga tempat ini. Mereka meninggal di sini, satu per satu karena sebuah penyakit aneh. Setelah itu, mereka tidak bisa meninggalkan tempat ini."
Mahera membalik halaman. Ia menemukan tulisan yang menjelaskan tentang kondisi mereka.
Isi Jurnal:
"Kami sudah tidak bisa makan. Kami tidak bisa merasakan apa-apa lagi. Kami hanya bisa merasakan energi yang tersimpan di dalam bakso urat. Bakso itu adalah pengikat kami dengan dunia ini. Tanpa itu, kami akan lenyap. Dulu, kami adalah penjaga kosan ini. Kosan ini sudah lama ada. Kami menjaga kosan ini dari musuh kami."
Mahera terbelalak, "Musuh? Siapa?" Ia membaca halaman berikutnya dengan terburu-buru, "Musuh kami adalah Hantu kelaparan. Mereka adalah jiwa-jiwa yang tidak tenang selalu haus akan energi kehidupan. Mereka akan melahap semua yang ada, termasuk kami. Kami tidak bisa melawan mereka, kami hanya bisa bertahan. Bakso urat adalah persembahan kami. Energi dari bakso itu mengusir mereka, setidaknya untuk sementara."
Mahera terdiam, napasnya tercekat. Ia baru sadar, selama ini, mereka bukan diganggu, melainkan tanpa sengaja telah berpartisipasi dalam "Operasi Bakso Urat" bagi kelangsungan hidup para hantu. Mereka bukanlah penghuni kosan, melainkan penjaga kosan. Dan mereka membutuhkan bantuan.
Tiba-tiba, Mahera mendengar suara langkah kaki dari lorong. Ia buru-buru menutup jurnal dan berpura-pura tidur. Suara langkah itu berhenti di depan kamarnya.
Mahera menahan napas. Pintu kamar Mahera terbuka perlahan. Di depannya, berdiri sesosok wanita berbaju putih dengan rambut panjang, hantu yang ia lihat di kampus. Hantu itu tidak tersenyum, matanya terlihat kosong. Hantu itu masuk, lalu menutup pintu di belakangnya. Mahera gemetar tidak bisa berkata-kata. Hantu itu menatapnya, lalu menatap jurnal di tangan Mahera.
"Jadi, kamu sudah tahu?" suara hantu itu berbisik, serak dan dingin. Mahera mengangguk pelan. Hantu itu tersenyum, "Bagus. Karena setelah ini, kamu tidak akan bisa lari."
Other Stories
Institut Tambal Sains
Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...
Melinda Dan Dunianya Yang Hilang
Melinda seorang gadis biasa menjalani hari-hari seperti biasa, hingga pada suatu saat ia b ...
Lantas, Kepada Siapa Ayah Bercerita?
Asdar terpaksa menjalani perjalanan liburan akhir tahun ke kampung halaman sang nenek sela ...
Dia Bukan Dia
Sebuah pengkhianatan yang jauh lebih gelap dari perselingkuhan biasa. Malam itu, di tengah ...
Langit Di Atas Warteg Bu Sari
hari libur kita ngapain yaa ...
Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster
Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...