Hantu Kos Receh

Reads
1.4K
Votes
1
Parts
10
Vote
Report
Penulis Moycha Zia

Chapter 6 Operasi Bakso Urat

Mahera dan Maizena duduk di teras kosan, keesokan harinya. Maizena masih terlihat waspada, sementara Mahera sudah memasang tampang serius, seperti seorang jenderal yang sedang merencanakan operasi militer. "Gue enggak mau lagi ke dapur," Maizena berbisik, memecah keheningan, "Terus gimana nasib kita kalau kelaparan?"

Mahera menepuk pundak Maizena, "Tenang. Kita butuh aliansi."

"Aliansi? Dengan hantu? Lo gila?" Maizena menatapnya horor, seolah Mahera baru saja mengusulkan untuk menjadi pengikut sekte sesat.

"Gue curiga," Mahera menimbang kata-katanya, "Hantu-hantu di sini punya semacam perjanjian sama Bu Haji. Mereka minta bakso urat, kan? Itu aneh. Hantu enggak makan. Jadi, mereka butuh bakso itu untuk sesuatu. Mungkin itu semacam ritual? Atausumber energi?"

Mahera mengeluarkan ponselnya, mencari-cari warung bakso terdekat. Ia memutuskan untuk mencoba peruntungan, Maizena bersedia ikut, tapi ia bersikeras harus ada senjata. Mahera mengangguk, lalu mengeluarkan sebuah toples berisi kerupuk dari tasnya, "Ini senjata kita. Kerupuk. Dijamin hantu mana pun bakal teralihkan perhatiannya." Maizena menatapnya bingung, tapi tidak protes.

Di warung bakso, Mahera membeli semangkuk bakso urat paling besar. Mereka membawanya kembali ke kosan berjalan dengan sangat hati-hati, seperti membawa bom. Di bawah pohon mangga, tempat Hantu Jemuran meninggalkan pesan, mereka meletakkan mangkuk bakso itu di tanah.

"Kami bawa bakso uratnya!" Mahera berseru, suaranya lantang, "Tunjukkan diri kalian, Hantu Jemuran!"

Tiba-tiba, dari balik pohon, muncul Hantu Jemuran dan teman-temannya. Mereka terlihat gembira. Mereka tidak memakan bakso itu. Sebaliknya, mereka mulai meletakkan mangkuk bakso itu di bawah tanah. Mereka melakukannya dengan hati-hati, seolah-olah mengubur harta karun.

"Mereka mengubur baksonya! Kenapa?!" Maizena berbisik, tidak mengerti.

Hantu-hantu itu hanya tertawa tidak ada yang menjawab. Tiba-tiba, Bu Haji Romlah muncul. Ia menatap mangkuk bakso yang dikubur itu, lalu mengangguk, "Bagus. Kalian sudah mengerti," katanya.

Mahera dan Maizena saling pandang. Mereka masih tidak mengerti. Bu Haji menoleh ke arah mereka, "Bakso itu bukan untuk dimakan. Itu adalah energi. Energi dari bakso urat akan mengikat mereka ke dunia ini. Energi itu yang membuat mereka bisa tetap ada di sini."

Mahera terdiam. Jadi, selama ini, mereka bukan diganggu, melainkan tanpa sadar telah berpartisipasi dalam operasi bakso urat bagi kelangsungan hidup para hantu. Mereka bukanlah penghuni kosan, melainkan penjaga kosan.

Other Stories
Lantas, Kepada Siapa Ayah Bercerita?

Asdar terpaksa menjalani perjalanan liburan akhir tahun ke kampung halaman sang nenek sela ...

Kastil Piano

Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...

Painted Distance (tamat)

Dara memutuskan untuk pergi ke Sapporo bukan hanya sekadar liburan. Perjalanannya di kota ...

Kacamata Kematian

Arsyil Langit Ramadhan naksir berat sama cewek bernama Arshita Bintang Oktarina. Ia berpik ...

Hellend ( Noni Belanda )

Sudah sering Pak Kasman bermimpi tentang hantu perempuan bergaun zaman kolonial yang terus ...

Setelah Perayaan Itu Usai.

Amara tumbuh di sebuah dusun kecil, ditemani sahabatnya, Angga. Setiap hari mereka lalui d ...

Download Titik & Koma