Tugas Akhir Vs Tugas Akhirat

Reads
101
Votes
0
Parts
2
Vote
Report
Tugas akhir vs tugas akhirat
Tugas Akhir Vs Tugas Akhirat
Penulis SETIGA

1. Pret!!!

"Percayalah, bahwa usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil!"

Sebelah alis Allan terangkat, sedangkan yang satunya lagi berkerut. Bibirnya sedikit mayun, dengan hidung kembang-kempis. Sesaat kemudian, ia berseru, "Pret!!!" sambil merobek selebaran yang sedari tadi dipegang.

"Piciyilih, bihwi isihi tidik ikin pirnih mingkhiiniti hisil," ejeknya diikuti mulut yang maju ke depan. Ia menghamburkan ke udara robekan-robekan dari selebaran itu, kemudian merebahkan dirinya di atas kasur yang hanya muat untuk satu orang. Selebaran itu ia dapati dari pria random tiga puluhan yang berpakaian rapi dengan jas dan sepatu hitam mengkilap.

Allan tidak membaca keseluruhan isi dari selebaran. Pasalnya, dari tagline yang tercetak tebal dan huruf miring di selebaran itu (satu kalimat tadi yang dibacanya), dan gambar pria itu dengan ekspresi pura-pura antusias (terpancar aku semangat serta bahagia) persis seperti yang dijumpainya tadi, ia sudah tahu apa yang terjadi:

ikut seminar, beri mereka uang, lalu berakhir MLM (Multi Level Marketing).

Sebelah tangan Allan terangkat, ia melihat jam tangan digitalnya yang menunjukkan pukul dua siang. Sebentar lagi ia harus kembali ke kampus untuk menemui dosen pembimbingnya. Siapa tahu kali ini dosennya itu sudah mau ditemui.

"Lan! Allan! Lo di kamar, 'kan?"

Mata Allan menyipit. Kepalanya sedikit terangkat untuk menatap kesal ke arah pintu. Suara menyebalkan yang tidak senang didengar, namun harus didengarnya setiap hari karena selain ia dan pemilik suara itu satu kelas dan satu lingkup pertemanan, kamar kos mereka juga bersebelahan.

"Gak ada orang! Kamarnya kosong!" balas Allan malas.

Suara pintu yang dibuka kasar terdengar, seiring dengan embusan napas Allan yang berat. Sudah ia duga, bahwa temannya itu memang suka seenaknya.

"Udahlah, Lan, istirahat dulu. Lo baru gagal seminar proposal tiga minggu yang lalu, loh. Tenangin diri, sabar," petuahnya, ia nyelonong masuk kemudian duduk di kursi dekat meja belajar. Matanya menangkap camilan roti kering di meja, kemudian memakannya tanpa permisi. "Mending kayak gue, gue aja—"

"Gak ngapa-ngapain dan main-main doang," sela Allan.

Temannya itu mengernyit. "Eh, gue ini sabar. Gak kayak lo yang gedebag-gedebug ujung-ujungnya malah gagal. Mending kayak gue." Ia menunjuk Allah dengan roti kering di tangan. "Lo udah berjuang segitunya percuma, lo gagal dan artinya sama aja kayak diam di tempat. Buang-buang waktu dan uang. Mendingan kayak gue, 'kan?"

Ada rasa sakit di kepala Allan yang tiba-tiba menjalar. Ia duduk, kemudian mengambil botol minum di lantai untuk dimasukkan ke dalam tasnya. "Gue ke kampus dulu, Ric."

"Dengerin wejangan gue. Gak bakalan rugi lo ngedengerin kata-kata mister Ricky." Ia berkata bangga. "Lihat ... gue bisa menyikapi hidup dengan bijak."

"Apa sih, Monyet." Allan berdiri. Lama-lama mendengarkan bacotan temannya itu bisa meningkatkan stres. Sudah cukup di kampus saja mereka bertemu.

"Lan, dengerin gue bentar," cegat Ricky. "Daripada lo stres, mending ikutan seminar sama gue. Judulnya, 'Mengejar Kesuksesan', usaha gak bakalan mengkhianati hasil, gimana?"

Alis Allan bertaut. Kata-kata barusan terdengar familier. Ia menatap wajah temannya yang terlihat semringah. "Makasih."

Ricky berdiri, ia berucap semangat, "Narasumber kita nanti itu orang hebat, Lan! Dia dari nol, loh, pe-wa-ris! Bukan perintis! Inspiratif banget! Orang-orang kayak lo ini butuh motivasi tahu!" serunya berapi-api. "Dia jamin kita bakalan bisa sukses juga kayak dia! Udahlah, ini saatnya kita bangkit. Gue cuman nawarin ke lo, Lan, karena gue cuman mau sukses bareng lo doang."

"Gue lebih percaya ngepet daripada seminar-seminar begituan," tolak Allan mentah-mentah. Ia melempar kunci kosannya ke arah Ricky. "Kalau lo udah selesai makan camilan gue, kunci kamar. Gue mau pergi." Ia pun berjalan cepat tanpa menghiraukan temannya yang tidak masuk akal itu.

------***------

Mata Allan menyisir deretan mahasiswa yang duduk di sekitar ruang dosen. Mereka duduk rapi sekali, terlihat frustrasi dengan map berisi lembaran kertas tebal di tangan. Ia juga sudah siap dengan proposal di tangan, dan berharap bertemu satu orang yang dikenalnya di sini agar bisa mengeluh bersama.

"All???"

Other Stories
Puzzle

Ros yatim piatu sejak 14 tahun, lalu menikah di usia 22 tapi sering mendapat kekerasan hin ...

Nestapa

Masa kecil Zaskia kurang bahagia, karena kedua orangtua memilih bercerai. Ayahnya langsung ...

After Meet You

kacamata hitam milik pria itu berkilat tertimpa cahaya keemasan, sang mata dewa nyaris t ...

Makna Dibalik Kalimat (never Ending)

Rangkaian huruf yang menjadi kata. Rangkaian kata yang menjadi kalimat. Kalimat yang mungk ...

Cahaya Dalam Ketidakmungkinan

Nara pernah punya segalanya—hidup yang tampak sempurna, bahagia tanpa cela. Hingga suatu ...

Download Titik & Koma