2. My All
"All?"
Allan merasakan ada tangan yang menyentuh bahunya. Ia menoleh, kedua alisnya terangkat, tampak sedikit kaget. "Nadia? Kamu ada kelas siang?"
Wanita yang dipanggil Nadia itu tersenyum manis. "Nggak, All. Aku numpang wifi-an di kampus, Seventeen comeback," balasnya senang sampai-sampai kedua matanya menyipit. "Sekalian mau download Going Seventeen juga, buat stok tontonan di kos."
"Oh ... memanfaatkan fasilitas kampus dengan maksimal, ya?" Allan tertawa ramah, yang dibalas anggukan semangat dan tawa kecil dari Nadia. "Seventeen rajin comeback, ya? Syukurlah jadinya bikin kamu makin bahagia," ungkapnya tulus.
Nadia itu gebetannya Allan. Semenjak ia gagal seminar proposal lalu, ia mengabaikan Nadia. Memang karena ia sibuk dan sedih, tetapi alasan sebenarnya lebih besar karena perasaan malu di dalam dirinya. Pasalnya wanita itu hadir menjadi peserta seminar proposal Allan, dan menyaksikan sendiri kegagalan Allan, serta bagaimana ia dipermalukan oleh kedua pengujinya di ruangan.
Masih teringat jelas di benak Allan, ekspresi dari kedua pengujinya itu yang seakan-akan mengatakan, "Proposal bodoh dan tidak masuk akal apa ini?" Sayangnya hal itu tidak hanya sekadar tergambar di ekspresi wajah mereka, tetapi benar-benar keluar dari mulut pengujinya.
Allan waktu itu hanya terdiam. Ia mencuri pandang ke seluruh peserta seminar yang hadir (mayoritas juniornya). Mereka semua menatap Allan sedih dan prihatin, termasuk Nadia. Nadia itu junior satu tingkat di bawahnya, meskipun dari segi umur mereka seumuran. Bukan hanya malu pada gebetan, ia juga khawatir jika seminar proposalnya membuat para junior menjadi trauma.
"Iya, rajin banget, yang unit juga ada." Nadia tersenyum lebar, ia selalu bersemangat ketika membahas grup idola asal Korea Selatan itu. Ia tahu jika Allan sebelumnya tidak mengerti sama sekali tentang K-Pop, meskipun pria itu suka menonton drama korea. Namun, usaha pria itu untuk mau belajar tentang hobinya membuat hatinya menghangat. "Oya, All ...."
Nadia tersenyum kecil, ia seperti menunggu momen untuk melanjutkan ucapannya. Sedangkan Allan menatapnya, menunggu.
"Kamu tahu, 'kan, kalau dulu aku gap year setahun?" Nadia memastikan Allan mendengarkan ucapannya baik-baik. Ia menatap pria itu tulus. "Aku udah kerja keras selama tiga tahun di SMA supaya bisa masuk kedokteran, tapi waktu itu mamaku pergi dari rumah, jadi aku gak mikirin kuliah sama sekali karena sibuk nyariin mama."
Allan menatap serius, ia sudah pernah mendengar cerita ini sebelumnya dari gadis itu karena sempat menanyakan alasan gadis itu menunda masuk kuliah selama satu tahun.
"Walaupun akhirnya kandas, aku tetap belajar keras setiap harinya untuk persiapan ujian tulis tahun depan. Tapi pas mendekati hari H, papa bangkrut dan kami terpaksa pindah. Aku gak sempat ngurus beasiswa karena beliau masuk rumah sakit, jadi aku sibuk. Lagi-lagi kedokteran itu mustahil untuk aku." Ia tersenyum tipis. "Mama bilang aku ambil jurusan ini aja, Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Katanya mudah, dan banyak waktu luang jadi aku bisa ngurusin papa, uang kuliahnya juga lebih murah. Aku turuti asal mama gak pergi lagi. Ya, meskipun beliau masih sering pergi-pergi, sih. Seenggaknya masih pulang."
"Maaf, aku gak tau," kata Allan tidak enak. "Pasti berat banget, ya?"
Kedua alis Nadia terangkat, ia tertawa kecil. "Aku maksudnya ceritain hal ini bukan untuk buat kamu merasa gak enak begitu. Bentar, aku belum selesai." Ia berdeham, kemudian berbicara hati-hati, "Dari semua kejadian itu, aku belajar satu hal ... usaha bakalan mengkhianati hasil."
"Nah, kan! Bener!" seru Allan. Ia menyipitkan mata, kesal karena teringat Ricky. "Eh, maaf. Lanjut-lanjut."
"Iya, emang benar. Jadi ... kamu jangan menyalahkan diri sendiri, ya? Kamu udah berjuang keras sebelumnya, kegagalan itu bukan karena kamu kurang berusaha, tapi emang karena takdirnya aja." Ia tersenyum. Kali ini ia terlihat dewasa. "Ada hal-hal yang di luar kendali kita, untuk nunjukin kalau kita emang makhluk yang terbatas meskipun sudah berjuang keras."
"Allah mau nunjukin kalau Dia satu-satunya yang berkusa, ya?"
"Hm, bisa jadi? Tapi kalau menurut aku, supaya kita bisa belajar ikhlas dan tidak sombong. Kata-kata usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil itu sangat sombong dan angkuh jika diucapkan oleh manusia ...," ia menjeda sebentar ucapannya, "dan nirempati."
"Maksud kamu?" tanya Allan bingung. "Oya, kabar papa sama mama kamu gimana? Maaf, ya, aku selama ini kurang perhatian," akunya sedih.
"Oh, santai. Alhamdulillah papa gak sakit-sakitan lagi, soalnya udah di surga. Kalau mama alhamdulillah sejahtera, karena nikah sama duda kaya raya," jawabnya riang. "Aku senang karena papa gak perlu menderita karena sakit dan karena perilaku mama lagi."
"H-ha?" Allan bingung, ia ragu-ragu. "Ka-kamu gak apa-apa sekarang?"
"Nggak. Ayah tiriku gak punya anak, mereka cuman punya aku. Jadi aku bisa hidup berkecukupan." Nadia menunjuk proposal di tangan Allan. "Kamu sabar, ya, tetap menghibur diri." Ia berbisik pelan, "Supaya tetap waras."
Allan terpelongo. Gadis itu seperti tidak ada beban, rasanya ada yang aneh. Atau memang hanya perasaan Allan saja? Apa memang orang-orang akan santai dan baik-baik saja dengan kisah hidup yang seperti itu? Ah, mungkin ini maksud dari status dan komentar-komentar yang ditulis oleh para penggemar K-Pop di media sosial. Sewaktu ia mempelajari mengenai hobi gebetannya itu, ia banyak membaca opini bahwa orang yang terjerumus ke dalam dunia K-Pop dan betah menyukai serta mengikuti suatu grup idola itu karena butuh pelarian dari permasalahan hidup yang berat. Mungkin karena itu Nadia selalu antusias dan terlihat bahagia jika sudah fokus membicarakan tentang Seventeen, grup idola kesukaannya.
Terhanyut di dalam pemikirannya sendiri, Allan refleks mengangguk. Nadia yang melihat itu menatapnya heran.
"Kamu mikirin apa?" tanyanya penasaran.
Allan menggeleng kuat. "Gak ada! Aku nanti nonton video musik Seventeen yang baru rilis juga, ya? Aku bantu like, comment, and share heehee."
Mata Nadia berbinar. "Wah, makasih!" serunya dengan senyuman yang merekah.
Allan sangat menyukai senyuman itu. "Gak perlu berterima kasih, aku pun juga jadi penggemar Seventeen sekarang."
Nadia mengangguk semangat. "All, jadi kamu jangan menghindar dari aku lagi, ya? Jangan tiba-tiba menghilang?"
Allan terdiam sebentar, lalu tersenyum kecil. "Maafin aku, ya, Nad," ucapnya tulus.
"Iya, My All."
Mereka berdua saling tatap, kemudian tersenyum malu.
"Apa??? All?"
Allan merasakan ada tangan yang menyentuh bahunya. Ia menoleh, kedua alisnya terangkat, tampak sedikit kaget. "Nadia? Kamu ada kelas siang?"
Wanita yang dipanggil Nadia itu tersenyum manis. "Nggak, All. Aku numpang wifi-an di kampus, Seventeen comeback," balasnya senang sampai-sampai kedua matanya menyipit. "Sekalian mau download Going Seventeen juga, buat stok tontonan di kos."
"Oh ... memanfaatkan fasilitas kampus dengan maksimal, ya?" Allan tertawa ramah, yang dibalas anggukan semangat dan tawa kecil dari Nadia. "Seventeen rajin comeback, ya? Syukurlah jadinya bikin kamu makin bahagia," ungkapnya tulus.
Nadia itu gebetannya Allan. Semenjak ia gagal seminar proposal lalu, ia mengabaikan Nadia. Memang karena ia sibuk dan sedih, tetapi alasan sebenarnya lebih besar karena perasaan malu di dalam dirinya. Pasalnya wanita itu hadir menjadi peserta seminar proposal Allan, dan menyaksikan sendiri kegagalan Allan, serta bagaimana ia dipermalukan oleh kedua pengujinya di ruangan.
Masih teringat jelas di benak Allan, ekspresi dari kedua pengujinya itu yang seakan-akan mengatakan, "Proposal bodoh dan tidak masuk akal apa ini?" Sayangnya hal itu tidak hanya sekadar tergambar di ekspresi wajah mereka, tetapi benar-benar keluar dari mulut pengujinya.
Allan waktu itu hanya terdiam. Ia mencuri pandang ke seluruh peserta seminar yang hadir (mayoritas juniornya). Mereka semua menatap Allan sedih dan prihatin, termasuk Nadia. Nadia itu junior satu tingkat di bawahnya, meskipun dari segi umur mereka seumuran. Bukan hanya malu pada gebetan, ia juga khawatir jika seminar proposalnya membuat para junior menjadi trauma.
"Iya, rajin banget, yang unit juga ada." Nadia tersenyum lebar, ia selalu bersemangat ketika membahas grup idola asal Korea Selatan itu. Ia tahu jika Allan sebelumnya tidak mengerti sama sekali tentang K-Pop, meskipun pria itu suka menonton drama korea. Namun, usaha pria itu untuk mau belajar tentang hobinya membuat hatinya menghangat. "Oya, All ...."
Nadia tersenyum kecil, ia seperti menunggu momen untuk melanjutkan ucapannya. Sedangkan Allan menatapnya, menunggu.
"Kamu tahu, 'kan, kalau dulu aku gap year setahun?" Nadia memastikan Allan mendengarkan ucapannya baik-baik. Ia menatap pria itu tulus. "Aku udah kerja keras selama tiga tahun di SMA supaya bisa masuk kedokteran, tapi waktu itu mamaku pergi dari rumah, jadi aku gak mikirin kuliah sama sekali karena sibuk nyariin mama."
Allan menatap serius, ia sudah pernah mendengar cerita ini sebelumnya dari gadis itu karena sempat menanyakan alasan gadis itu menunda masuk kuliah selama satu tahun.
"Walaupun akhirnya kandas, aku tetap belajar keras setiap harinya untuk persiapan ujian tulis tahun depan. Tapi pas mendekati hari H, papa bangkrut dan kami terpaksa pindah. Aku gak sempat ngurus beasiswa karena beliau masuk rumah sakit, jadi aku sibuk. Lagi-lagi kedokteran itu mustahil untuk aku." Ia tersenyum tipis. "Mama bilang aku ambil jurusan ini aja, Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Katanya mudah, dan banyak waktu luang jadi aku bisa ngurusin papa, uang kuliahnya juga lebih murah. Aku turuti asal mama gak pergi lagi. Ya, meskipun beliau masih sering pergi-pergi, sih. Seenggaknya masih pulang."
"Maaf, aku gak tau," kata Allan tidak enak. "Pasti berat banget, ya?"
Kedua alis Nadia terangkat, ia tertawa kecil. "Aku maksudnya ceritain hal ini bukan untuk buat kamu merasa gak enak begitu. Bentar, aku belum selesai." Ia berdeham, kemudian berbicara hati-hati, "Dari semua kejadian itu, aku belajar satu hal ... usaha bakalan mengkhianati hasil."
"Nah, kan! Bener!" seru Allan. Ia menyipitkan mata, kesal karena teringat Ricky. "Eh, maaf. Lanjut-lanjut."
"Iya, emang benar. Jadi ... kamu jangan menyalahkan diri sendiri, ya? Kamu udah berjuang keras sebelumnya, kegagalan itu bukan karena kamu kurang berusaha, tapi emang karena takdirnya aja." Ia tersenyum. Kali ini ia terlihat dewasa. "Ada hal-hal yang di luar kendali kita, untuk nunjukin kalau kita emang makhluk yang terbatas meskipun sudah berjuang keras."
"Allah mau nunjukin kalau Dia satu-satunya yang berkusa, ya?"
"Hm, bisa jadi? Tapi kalau menurut aku, supaya kita bisa belajar ikhlas dan tidak sombong. Kata-kata usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil itu sangat sombong dan angkuh jika diucapkan oleh manusia ...," ia menjeda sebentar ucapannya, "dan nirempati."
"Maksud kamu?" tanya Allan bingung. "Oya, kabar papa sama mama kamu gimana? Maaf, ya, aku selama ini kurang perhatian," akunya sedih.
"Oh, santai. Alhamdulillah papa gak sakit-sakitan lagi, soalnya udah di surga. Kalau mama alhamdulillah sejahtera, karena nikah sama duda kaya raya," jawabnya riang. "Aku senang karena papa gak perlu menderita karena sakit dan karena perilaku mama lagi."
"H-ha?" Allan bingung, ia ragu-ragu. "Ka-kamu gak apa-apa sekarang?"
"Nggak. Ayah tiriku gak punya anak, mereka cuman punya aku. Jadi aku bisa hidup berkecukupan." Nadia menunjuk proposal di tangan Allan. "Kamu sabar, ya, tetap menghibur diri." Ia berbisik pelan, "Supaya tetap waras."
Allan terpelongo. Gadis itu seperti tidak ada beban, rasanya ada yang aneh. Atau memang hanya perasaan Allan saja? Apa memang orang-orang akan santai dan baik-baik saja dengan kisah hidup yang seperti itu? Ah, mungkin ini maksud dari status dan komentar-komentar yang ditulis oleh para penggemar K-Pop di media sosial. Sewaktu ia mempelajari mengenai hobi gebetannya itu, ia banyak membaca opini bahwa orang yang terjerumus ke dalam dunia K-Pop dan betah menyukai serta mengikuti suatu grup idola itu karena butuh pelarian dari permasalahan hidup yang berat. Mungkin karena itu Nadia selalu antusias dan terlihat bahagia jika sudah fokus membicarakan tentang Seventeen, grup idola kesukaannya.
Terhanyut di dalam pemikirannya sendiri, Allan refleks mengangguk. Nadia yang melihat itu menatapnya heran.
"Kamu mikirin apa?" tanyanya penasaran.
Allan menggeleng kuat. "Gak ada! Aku nanti nonton video musik Seventeen yang baru rilis juga, ya? Aku bantu like, comment, and share heehee."
Mata Nadia berbinar. "Wah, makasih!" serunya dengan senyuman yang merekah.
Allan sangat menyukai senyuman itu. "Gak perlu berterima kasih, aku pun juga jadi penggemar Seventeen sekarang."
Nadia mengangguk semangat. "All, jadi kamu jangan menghindar dari aku lagi, ya? Jangan tiba-tiba menghilang?"
Allan terdiam sebentar, lalu tersenyum kecil. "Maafin aku, ya, Nad," ucapnya tulus.
"Iya, My All."
Mereka berdua saling tatap, kemudian tersenyum malu.
"Apa??? All?"
Other Stories
Nona Manis ( Halusinada )
Dia berjalan ke arah lemari. Hatinya mengatakan ada sebuah petunjuk di lemari ini. Benar s ...
Lam Biru
Suatu hari muncul kalimat asing di layar laptop Harit, kalimat itu berupa deskripsi penamp ...
Tea Love
Miranda tak ingin melepas kariernya demi full time mother, meski suaminya meminta begitu. ...
Pra Wedding Escape
Nastiti yakin menikah dengan Bram karena pekerjaan, finansial, dan restu keluarga sudah me ...
Bukan Cinta Sempurna
Meski populer di sekolah, Dini diam-diam mencintai Widi. Namun Widi justru menjodohkannya ...
Autumn's Journey
Henri Samuel, penulis yang popularitasnya meredup, mendapat tugas riset ke Korea Selatan. ...